
"Kak Ken, jangan ke sini. Nanti Kak Ejiro marah bila Kakak ketahuan kemari!" Mira memperingatkan.
Ken sempat terpana dengan dandanan wanita itu yang begitu cantik dalam balutan baju pengantin berwarna merah menyala, tapi kemudian ia mengibaskan kepalanya agar bisa fokus dengan apa yang ingin ia bicarakan dengan Mira. "Oh, aku tidak mengerti kenapa dia begitu marah bila aku sedang bersamamu. Aku benar-benar tak mengerti." Pria itu mengungkapkan kebingungannya.
Mira menyentuh tangan Ken yang sedang menggenggam lengannya. Ia berusaha melepas diri dengan pelan. Perasaannya semakin terluka melihat kemarahan Ejiro pun pria ini tak mengerti.
Mungkin memang lebih baik ia menikah dengan orang lain saja dibanding menunggu pria itu mengucapkan kata cinta, karena kenyataannya itu hanya ada di dalam angan semata. "Sebaiknya kakak berbaikan saja dengan Kak Ejiro, apapun itu masalahnya," ucapnya dengan wajah datar.
Namun tangan Ken tak mau melepaskan genggamannya. Bahkan kini tangan yang satunya ikut campur untuk makin mengeratkan genggaman. Matanya seperti tak rela. "Jadi, apa kau akan bahagia menikah dengannya?" Matanya yang redup menandakan ia sudah berekspektasi hingga takut mendengar pengakuan Mira.
Pertanyaan apa ini? Apa dia tidak bisa melihat jelas bagaimana aku sedang berusaha melupakannya? Wanita itu mendorong pria itu menjauh karena kesal. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Ken. "Kakak ngomong apa sih?"
Namun tangan pria itu masih kuat menggenggamnya. Ia tak mau melepaskan. "Eh, Mira. Mmh ...." Ia bingung memulainya. "Apa kau ingat permintaanmu sewaktu kecil dulu?"
"Permintaan apa?" Sang wanita membalikkan tubuhnya menghadap pria itu dengan alis yang bertautan karena penasaran.
"Kau dulu pernah memintaku untuk menikah denganmu, kau ingat itu? Eh, maksudku kalau kau merasa tidak bahagia bersanding dengannya, aku bersedia menikah denganmu," ucap Ken mencoba peruntungannya.
Wanita itu tidak lantas merasa senang. '... kalau kau merasa tidak bahagia bersanding dengannya, aku bersedia menikah denganmu' itu maksudnya apa? Dia mengorbankan dirinya untukku?
Mira benar-benar kesal hingga memukuli tubuh pria itu bertubi-tubi. "Kakak ini bodoh atau apa? Jangan mempermainkan perasaan Mira, Kak! Kakak ... kau pikir pernikahan itu apa, Kak? Apa? Kenapa tidak ada yang mengerti perasaanku?" Wanita muda itu mulai menangis. "Kenapa semua orang tega mempermainkan perasaanku? Kenapa?" Ia meraung mengeluarkan seluruh isi hatinya.
Ken yang tidak tega melihat sang wanita menangis seperti itu, memeluknya dan mendekap erat. Awalnya masih ada perlawanan kecil yang masih ingin diluapkan, tapi kemudian takluk oleh pelukan hangat sang pria. Mira tak bisa tidak, ia sangat mengharapkan pelukan itu walau tidak bisa mendapatkan hatinya. Ia sudah pasrah.
"Maafkan Kakak ya? Kakak jadi membuatmu tambah sedih. Padahal kamu sudah mau menikah dengan calon suami yang sangat baik padamu itu." Ken mengusap kepala wanita itu lembut dan mengecup pucuk kepalanya. Tak ayal air matanya menetes. Mira telah menolaknya. Ia harus mulai tegar dari sekarang karena mungkin mereka tidak akan bertemu kembali. Dilepaskannya pelukan itu perlahan dan saat itu Mira melihat Ken menangis.
"Kak Ken, kenapa menangis?" Mira malah iba melihat pria itu menitikkan air mata. Ia ingin menghapusnya tapi pria itu menepis tangan itu pelan.
__ADS_1
Ken tertunduk. Ia menghapus air mata yang tak kunjung berhenti berderai. Ia juga malu terlihat wanita itu dengan kondisi terlemahnya. "Tidak apa-apa. Eh, aku hanya ...."
Mira yang tengah menghapus air matanya sendiri, kini melihat ke arah Ken dengan pandangan heran. Dia menangis terharu karena melepasku dengan pangeran itu 'kan? Apa begini Kakak yang melepas adiknya menikah, sebab Kak Ejiro tidak bertingkah berlebihan seperti ini padaku, batinnya curiga.
"Eh, Mira." Pria itu mulai terlihat bisa menguasai dirinya lagi walaupun bola matanya masih terlihat redup. Ia bergerak maju dengan sedikit ragu.
"Eh iya."
Air mata Ken telah terhenti tapi netranya menatap wanita itu seperti menginginkan sesuatu. Walaupun pelan, ia tengah mendekati Mira lagi tapi terbentur karena ia tengah berada di luar jendela. Ia kemudian melompat masuk.
Mira tentu saja terkejut. Apalagi pria itu terus mendekatinya, membuat wanita itu bergerak mundur.
Ken terlihat ragu-ragu dengan menggaruk-garuk belakang kepalanya tapi kemudian terus maju. Ia berusaha untuk menerangkan apa yang ada di pikirannya saat itu. "Aku eh, kemarin itu kau mengucapkan salam perpisahan dengan menciumku. Eh ...." Ia berdehem sebentar. "Aku ingin mencobanya lagi, apa boleh?"
Mira terkejut mendengarnya. Padahal ia mencium Ken agar pria itu mengerti apa yang coba disampaikannya saat itu. Itu bukan salam perpisahan yang sesungguhnya, tapi .... tak ayal Mira tergoda. Ya, sekali saja aku ingin mencobanya lagi.
Wanita itu terlihat kecewa.
"Maaf, aku merasa curang. Aku merasa curang pada calon suamimu. Kenapa aku masih saja tidak bisa menerima kenyataan kalau kau telah menolakku!" Pria itu berbicara dengan dirinya sambil melirik Mira.
"Eh?" Wanita itu terkejut.
"Eh, maaf Mira. Rasanya aku memang egois. Mencintaimu tapi tak terima saat kau menolakku." Ken menyatukan kedua tangannya. "Maaf."
"Apa?" Wanita itu masih melongo. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Kakak mencintaiku?" tanyanya memastikan.
"Maaf, maafkan aku yang egois ini. Aku memang Kakak yang payah." Pria itu masih menyatukan tangannya di depan dada dengan pandangan yang malu pada Mira atas kelakuannya. "Padahal dulu aku hampir tertawa mendengar keinginanmu itu tapi kini aku mengharapkannya. Ah, lupakan saja keinginan bodohku itu," ucapnya menertawakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Mira yang masih tak percaya, menarik kerah kimono pria itu dengan kasar.
"Eh, Mira. Maaf ...," sahut Ken yang takut akan kemarahan wanita itu jika tiba-tiba meledak. Ia terlanjur keceplosan bicara yang sesungguhnya pada wanita itu.
"Kakak sungguh-sungguh mencintaiku?" Netra wanita itu terbelalak mencari kepastian di kedua manik mata hitam milik Ken. Ia perlu meyakinkan diri.
"Eh, maaf." Pria itu menunduk.
"Kakak tidak bohong 'kan?" Kedua mata sang wanita kini membulat sempurna dengan senyum yang tanggung.
"Maafkan Kakak, Kakak egois. Kakak baru sadar Kakak mencintaimu, Mira. Maafkan Kakak. Kakak tak sengaja jatuh cinta padamu. Sungguh!" Ken memperlihatkan jari telunjuk dan tengah membentuk huruf v pada wanita itu.
Mira meloncat memeluk leher pria itu, membuat Ken terkejut. Sang wanita mengecup bibir pria itu. Lagi-lagi Ken kebingungan.
"Kakak harus tanggung jawab karena aku mencintaimu, Kak!" ucap wanita itu dengan berurai air mata, air mata bahagia.
"Eh, tentu Kakak akan bertanggung jawab. Eh?" Pria itu kembali terkejut mendengar jawaban yang tak ia perkirakan. "Kau ...." Ia mengira Mira menangis karena kecewa, tapi ternyata ....
"Aku mencintaimu, Kak, aku mencintaimu!" Mira tersenyum lebar dan mengecupi bibir Ken berkali-kali.
"Mira ... jadi kau ...."
"Aku mencintaimu, Kak. Kau harus bertanggung jawab. Kau harus mencintaiku seumur hidupmu!" teriak Mira dengan cahaya bintang di kedua manik mata abu-abu tuanya.
Mengembang senyum di bibir pria itu. "Tentu saja. Untuk itu aku berjanji akan mencintaimu untuk selamanya." Ken memiringkan kepala. Kali ini ia sungguh-sungguh mencium bibir merah ranum milik wanita itu. Mereka melakukannya dengan sepenuh hati, sepenuh janji-janji yang telah terucap.
Janji. Semoga janji itu semanis yang terdengar kala pintu depan terbuka dengan sekali terjangan. Keduanya terkejut dan menoleh. Ada Ejiro di sana dengan wajah garang menatap pada keduanya.
__ADS_1