Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Lari!


__ADS_3

Ken terpaksa mengikutinya daripada terseret karena genggaman pria itu sangat kuat di lengannya. Pria bule itu membawanya menaiki tangga hingga sampai ke ruang kerja.


Di sana ada Ivan yang menunggunya. "Papi, kenapa dia di bawa ke sini?" tanyanya. Pria itu juga punya taring di giginya. "Hoagh ...."


Pria Jepang itu benar-benar bingung melihat keduanya. Kenapa kedua manusia itu seketika punya taring di mulutnya padahal sehari-hari tidak ada. Ada apa dengan tubuh mereka, apakah ini sebuah penyakit?


Edmon menutup pintu. "Bagaimana ini? Dia sudah terlanjur mengetahui siapa kita. Apa ... kita jadikan dia bagian dari kita saja, mmh? Hoaghh ...."


Ivan menatap Ken. Matanya memerah seperti berakar. "Ide bagus, Pi. Aku percaya padanya. Kita jadikan dia anak buah kita saja. Hoaghh ...."


"Mmh, benar juga."


"Tunggu, kalian sedang membicarakan apa?" Ken terlihat bingung. Lengannya masih dalam genggaman Edmon, tapi ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka berdua. "Rasanya aku pernah lihat orang seperti kalian, tapi di mana ya?" Ia mulai berpikir.


"Apa kau sudah pernah melihat orang seperti kami? Di mana?" tanya Edmon penasaran.


"Ah, di film."


"Di film?" Pada saat itu TV belum ditemukan, jadi tidak ada yang tahu tentang arti kata 'film'.


"Iya. Apa kalian vampir?" tanya pria Jepang itu dengan polosnya.


Pria bule itu dan anaknya saling berpandangan, kemudian keduanya menatap ke arah Ken.


"Dari mana kau tahu itu?" tanya Edmon lagi.


"Eh, itu ...." Pria Jepang itu baru menyadari ia kini tinggal di jaman yang masih jauh dari tekhnologi jadi mereka takkan mengerti, ditambah lagi ia sekarang berhadapan dengan seorang drakula. Oh, bukan. Dua orang drakula dan ini nyata!


Ken berusaha melepaskan diri tapi tak bisa. Genggaman pria paruh baya itu begitu kuat. Melihat Ken yang mulai ketakutan dan ingin melepaskan diri, keduanya berusaha mempercepat aksinya agar pria Jepang itu tidak kabur dari sana.


Ivan memegang bahu pria Jepang itu tapi dengan sigap Ken membenturkan kepalanya pada pria muda itu.


"Agh!" Keduanya mengaduh kesakitan.


Edmon terkejut tapi kalah cepat dengan pria Jepang itu yang bergerak memutar tubuhnya dan lalu menarik tangan pria bule itu yang kemudian ia banting ke lantai. Bule itu mengaduh kesakitan.


Kening Ken masih terasa sakit dan pusing, tapi ia harus segera keluar dari situ. "Maaf, Tuan." Namun saat bergerak, bule paruh baya itu meraih kakinya hingga ia jatuh terjerembab. "Ah!"


Kesempatan itu dipakai oleh Ivan untuk menindih pelayan itu dengan lututnya agar ia tak bisa bergerak.


"Ah, Tuan, lepas aku!" teriak Ken.

__ADS_1


Edmon juga segera berdiri dan ikut menindih pria Jepang itu. "Ivan, cepat gigit dia, hoaghh ...."


Pria muda itu menggigit bahu Ken hingga taring itu menembus kulitnya.


"Ahh, ampun ... lepaskan aku ...." Pria Jepang itu kesakitan dan mengiba.


Ivan tak peduli dengan rintihan Ken, ia kemudian menghisap darahnya.


Pria Jepang itu berusaha sekuat tenaga melepaskan diri tapi tak bisa karena keadaannya yang tertelungkup. Apalagi ia ditindih oleh dua orang sekaligus sehingga ia tak berdaya. Jalan satu-satunya ia terpaksa berteriak minta tolong. "Tolong ... tolong! Lepaskan aku, tolong!"


Pintu dibuka tiba-tiba. Ternyata Lucille datang dan melihat Ken berada di lantai dan ditindih oleh 2 orang keluarganya. Ia memang mendengar suara Ken yang berteriak, karena itu ia mencarinya. "Apa yang kau lakukan padanya, hei, hentikan!" teriak wanita itu dengan setengah terkejut. Ia benar-benar tak tahu apa yang terjadi.


Keduanya mendongak. Mulut Ivan penuh oleh darah dan menatap geram pada wanita itu karena mengganggu kesenangannya.


"Kamu ... kamu ...." Wanita itu terkejut dengan perubahan wajah keduanya yang terlihat seram dengan kedua bola mata mereka memerah menatapnya. "Kalian ini apa?" Dahinya berkerut.


"Lucille, kau keluar! Kau mengganggu pekerjaan kami!" hardik Edmon pada anak perempuannya tapi wanita itu tak mau pergi.


Wanita itu bahkan bergerak maju dan menendang keduanya dengan membabibuta, membebaskan Ken. "Pergi, dia milikku!" Ia kemudian membantu pria Jepang itu untuk duduk.


Tubuh Ken menggigil dan wajahnya pucat. "Terima kasih, Lucille."


Wanita itu begitu khawatir melihat banyak darah di bahu pria itu. "Ayo, kita pergi dari sini," ujarnya lirih.


Namun dari belakang pintu, istrinya datang. "Edmon, apa yang kau lakukan?"


"Jangan ikut campur urusanku, Gillian!"


"Jadi inikah sebabnya kau selalu dingin padaku?"


"Itu karena kau selingkuh. Lucille bukan anakku 'kan?"


Wanita itu berambut merah itu menoleh. Jadi dalam keluarga ini aku bukan anaknya?


"Ke-kenapa kau berkata begitu, Edmon?" Wajah wanita itu langsung pucat.


"Karena Lucille bukan drakula. Seperti diriku dan Ivan, hoaghh ...." tegas pria itu di depan istrinya.


Wanita paruh baya itu menatap nanah suaminya.


Lucille yang melihat Ivan ingin mendekati dirinya dan Ken, segera membawa pria Jepang itu keluar.

__ADS_1


"Hei, mau dibawa ke mana, dia? Berikan padaku!" teriak Ivan marah.


Wanita itu kemudian menyandarkan Ken yang terlihat lemas di dinding luar. "Sebentar, aku hadapi mereka dulu." Ia kemudian kembali masuk. Terdengar pertengkaran dan perkelahian hebat di dalam ruang tersebut dan pria Jepang itu masih menunggu.


Tiba-tiba datang kucing Gojo mendekatinya. "Ken, sst, ayo ikut aku, cepat!"


"Oh, Gojo ...," ucap Ken. Napasnya tersengal-sengal. Ia mengikuti kucing itu yang pergi menuruni tangga. Perlahan hingga tertatih dijalaninya menuruni tangga.


Mira muncul dari bawah dan menyambutnya menaiki tangga. "Kaak ...." Gadis itu membantunya menuruni tangga.


"Mira ..."


Sesampainya di bawah tangga, Gojo berubah manusia. Pinggangnya dibalut oleh taplak meja. Ia menyuruh Mira untuk mendudukkan pria itu di anak tangga.


"Mau apa kita di sini?" tanya Ken setengah sadar. Kondisi tubuhnya mulai menurun.


Gojo berjongkok di hadapan keduanya. "Ken, percayalah padaku. Kau akan selamat." Ia kemudian mengeluarkan dua buah jarum dan ditusukkan ke leher pria Jepang itu.


"Untuk apa itu, Kak?" tanya Mira.


"Ini jarum akupunktur agar racun tidak menyebar. Kalau tidak ia akan jadi drakula selamanya. Untuk sementara, ia mungkin agak berubah liar tapi jangan ditanggapi. Racun itu berusaha mempengaruhi dirinya, apalagi masih gerhana bulan merah jadi drakula masih akan buas sampai gerhana itu selesai. Ayo kita bawa pergi dari sini, Ken, sebelum pihak lain coba memanfaatkannya."


Ketiganya kemudian keluar lewat dapur. Gojo kemudian berubah menjadi kuda. "Mira, ayo naik. Letakkan Ken di depan agar tak mengganggumu." Kuda itu sedikit membungkuk.


Mira menaikkan Ken lalu dirinya dan kuda itu kembali berdiri tegak.


"Mira berpeganglah pada suraiku, aku akan berlari kencang."


Mira berpegangan pada rambut kuda itu dan seketika kuda itu berbelok arah. Kuda itu berlari sekencang-kencangnya membawa kedua orang itu mendatangi pintu gerbang.


"Ada apa ini?" tanya penjaga gerbang.


"Ada yang sakit, Pak. Tolong bukakan pintu gerbang ini," sahut Mira dari atas kuda.


"Tapi kalian harus izin dulu pada Tuan Edmon," jawab penjaga itu.


"Lihat, Pak. Bahunya sudah terluka. Biarkan kami lewat, Pak. Bukankah di dalam rumah dilarang keluar bila sudah jam 10, dan sekarang sudah jam 11 malam. Apa Bapak berani membangunkan Tuan Edmon sekarang, sebab Saya tidak berani, Pak."


Penjaga itu melihat bahu Ken yang terluka dan basah oleh darah. Akhirnya ia membukakan pintu gerbang itu untuk mereka.


__________________________________________

__ADS_1



__ADS_2