
"Pengemis palsu?" ulang Ejiro.
"Pasti itu dia. Ah, Pak Ken pasti telah ditipunya."
"Apa maksudmu?" Pria bercodet itu mengangkat satu alisnya.
Maka berceritalah Li Nuo mengenai pengemis buta waktu itu. Ejiro yang mendengarkan terkejut dibuatnya. Ia menatap pria itu. "Benarkah itu Li Nuo? Apa kau yakin dia adalah pengemis yang kamu lihat waktu itu? Kau tidak salah lihat 'kan Li Nuo?"
"Aku 100% yakin itu dia, Pak. Waktu itu laki-laki itu memakai rambut dan jenggot palsu, tapi kalau keduanya dilepas ...." Pria Cina itu memberi jarak kedua tangannya di depan sambil melihat pria itu, dengan menyisakan bagian matanya, dan ia menatapnya dengan mata sebelah tertutup. "Pasti dia, tak salah lagi."
Ejiro juga ingat pria yang membawa lari Ken memakai pakaian kumuh. "Bajunya lusuh ya?"
Li Nuo menoleh. "Eh, kok Bapak tahu?"
Jadi dia ... tapi kenapa dia ada di sini? Berarti ... Ken tidak jauh. Di mana ia menyembunyikan Ken kalau begitu? Sebaiknya aku ikuti saja dia, agar aku tahu, di mana ia menyembunyikannya. Memperkarakan dia sekarang hanya akan membuat ia kabur lagi, sebab ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi dan aku tak mampu mengikutinya. "Eh, 'kan pengemis."
"Oh, iya."
Mereka pun menyelesaikan belanja tambahkan untuk penginapan siang itu dan pria bercodet itu mengambil satu kuda yang menarik kereta yang mana biasanya dipakai dua.
"Aku ada urusan sebentar. Kau pulanglah dulu, nanti aku menyusul," ucap Ejiro pada pegawainya. Kemudian ia pun pergi. Ia kemudian menunggu pria itu di tempat terakhir kali ia melihat pria penculik Ken itu menghilang.
Benar saja, pria itu lewat di atap seperti yang ia sudah perkiraan. Kali ini pria bercodet itu bisa mengikutinya. Ia heran ketika pria itu bergerak ke arah hutan sebab ia sudah pernah pergi ke hutan untuk mencari Ken tapi hasilnya nihil. Apakah ada tempat yang terlewat yang belum ia periksa?
Ejiro terus mengikuti hingga tiba-tiba pria itu hilang dari pandangan. Ke mana perginya orang itu? Kenapa ia bisa kehilangan jejak pria itu lagi? Ah ....
Tiba-tiba dari arah belakang sudah tiba pria itu yang berdiri menghadapnya. Ejiro jelas terkejut karena tidak mendengar bunyi apa pun saat kedatangan pria itu.
Pria dengan wajah galak itu tersenyum miring menatap Ejiro. "Kenapa kau mengikutiku?" Rupanya ia telah mengetahui kalau sedang dibuntuti.
Pria bercodet itu tersenyum mengejek. "Kau bertanya mengapa? Kau juga pasti tahu kenapa aku mengikutimu."
"Oooh, pasti tentang temanmu itu ya?"
"Di mana kau sembunyikan dia? Kembalikan dia padaku!" titah Ejiro.
Pria berperawakan sedikit gemuk itu terkekeh. "Untuk apa aku mengembalikan dia padamu? Kau 'kan bukan keluarganya?"
"Apa kau keluarganya?" pria bercodet itu balik bertanya.
Pria dengan rambut sedikit kasar itu terlihat kesal. "Kalau kau menanyakan kabarnya, dia baik-baik saja."
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya langsung kalau dia baik-baik saja."
"Tidak perlu karena dia sedang latihan."
"Dia itu muridku, kenapa kau mengambilnya!" bentak Ejiro.
Odagiri kini tersenyum tak percaya. "Katanya teman tapi murid. Yang benar yang mana?"
"Kedua-duanya benar kok. Memangnya kenapa?"
"Ken lebih butuh guru yang lebih handal."
"Apa betul kau gurunya? Kenapa aku tak boleh bertemu dengannya?" Pria itu mempertanyakan apa yang ada di pikirannya.
"Itu tak penting. Nah, sekarang pergilah! Dia akan pulang setelah selesai berguru padaku."
"Bagaimana caranya aku percaya? Bertemu saja aku tidak boleh," ejek Ejiro lagi.
"Dia murid yang sangat penting bagiku. Karena itu aku tidak ingin ia pecah konsentrasi karena melihatmu. Aku tidak mau ia tiba-tiba ingin pulang karena bujuk rayumu."
"Hei! Tanpa membujuknya ia pasti ingin pulang. Aku lihat sendiri kau menculiknya. Untuk apa kau memaksakan kehendak baginya kalau yang bersangkutan tidak mau?"
"Heh, harusnya aku yang marah karena kau mencuri muridku satu-satunya."
"Dia juga muridku satu-satunya."
"Tapi dia penting bagiku."
"'Kan sudah aku bilang, ia juga penting bagiku."
"Jangan konyol! Orang sepertimu pasti banyak yang ingin belajar padamu. Lepaskan Ken. Dia tak cocok untukmu!" sarkas pria bercodet itu.
"Justru dia tak cocok untukmu! Dia harus belajar dari guru yang lebih hebat darimu!"
Ejiro benar-benar geram. "Kau tak tahu siapa Ken 'kan?"
"Kau tak tahu siapa aku 'kan?"
"Dia itu ...." Hampir saja pria bercodet itu mengatakannya tapi kemudian ia tahan sebab Ken masih berada dalam genggaman pria berbadan tegap itu. "Sebaiknya kau melepaskannya. Kalau dia tidak mau, jangan paksa dia."
"Aku sudah bilang, kau tak usah mengurusinya lagi. Ia aman bersamaku. Saat waktunya tiba, ia pasti akan pulang sendiri."
__ADS_1
"Tapi aku takut dia pergi lebih dulu, padahal aku ingin ikut dengannya." Ejiro menghela napas pelan.
"Apa maksudmu pergi lebih dulu? Ia takkan bisa pergi ke mana-mana karena ia terkurung."
'Apa? Kau mengurungnya? Katamu kau gurunya, tapi kenapa kau mengurungnya?" Pria bercodet itu menaikkan satu alisnya. "Kau bohong ya? Di mana kau mengurungnya?" Saat itu juga Ejiro menghunus pedangnya. "Kembalikan dia atau kau akan berurusan denganku!" Ia turun dari kudanya dan langsung menyerang. "Hiah!"
Odagiri menahan pedang dengan menghunus pedangnya segera, kemudian terjadilah pertempuran yang tidak terelakkan.
"Hiah ...!"
Kembali pria berambut kaku itu menangkis serangan yang bertubi ke arahnya, dengan pelan saja. Ejiro menyerang dengan emosi dan pria itu hanya menahan seadanya, bahkan terkesan sedang mengurusi banteng yang mengamuk dengan tangkisan yang sederhana.
Ejiro berhenti dengan terengah-engah karena serangannya satu pun tak ada yang bisa menyentuh tubuh pria berambut kaku itu.
Odagiri menurunkan pedangnya. "Sudah kukatakan, aku lebih cocok jadi gurunya dibanding dirimu. Di mana-mana orang pasti mencari guru yang lebih hebat daripada guru yang sebelumnya."
"Tapi apakah kau pernah meminta padanya?" ucap Ejiro masih sambil mengatur napasnya.
"Manusia butuh berkembang. Bukan begitu?" ledek pria berambut kaku itu.
"Kenapa kau memilihnya?" tanya Ejiro ingin tahu.
"Mmh, dia istimewa. Aku berharap ia kelak bisa menjadi pemimpin yang punya hati. Seharusnya kau bangga menjadi temannya, karena aku memilihnya jadi muridku dibanding yang lainnya."
"Tidak bisakah kau memberiku kesempatan melihatnya, agar aku yakin dia baik-baik saja?" pinta pria bercodet itu.
"Tidak bisa, karena ia pasti ingin kembali pulang." Odagiri melihat kegelisahan Ejiro padanya. "Begini saja. Aku bukan orang jahat. Ken pasti pulang, percayalah. Jadi tunggu saja ia kembali."
"Masalahnya, aku takut ia tidak pulang," ucap pria bercodet itu lemas.
"Kenapa? Apa ia akan pulang ke rumah orang tuanya?"
"Aku bahkan tidak tahu siapa orang tuanya."
"Lalu, sebenarnya ia mau pergi ke mana?"
"Itulah masalahnya, aku tidak tahu ia akan pergi ke mana."
Odagiri menghela napas kasar. "Kamu itu bodoh atau bagaimana? Begitu banyaknya manusia di dunia ini, kenapa harus dengan Ken?"
"Lalu, dirimu kau anggap pintar?" Kini Ejiro mengejek pria itu.
__ADS_1