
"Spiderman tidak bisa menempel tanpa jaring laba-laba. Tidak bisa bergelayutan di dinding kalau tidak ada jaring laba-labanya. Coba sini Kakak pegang ya, Kakak periksa." Pria itu pelan-pelan meraih bocah itu dalam gendongan. "Tuh, gak ada 'kan?"
"Iya," sahut bocah itu, menurut saja.
"Sekarang kita ke bawah, cari jaring laba-laba ya?"
"Iya."
"Pegang yang erat, soalnya Kakak gak punya jaring laba-laba."
"Iya."
Pria Jepang itu menggendong bocah itu hingga sampai ke bawah. Sorak-sorai penonton ketika aksi heroik itu selesai. Mereka bertepuk tangan.
Namun kemudian, bianglala bermasalah karena tak mau berputar. Ken menyerahkan Ethan pada Bing dan berjongkok pura-pura membetulkan. Padahal ia hanya perlu berkonsentrasi dan menyuruh bianglala itu bergerak lagi. Bianglala itu akhirnya berputar.
Ethan menunggu orang tuanya di bawah bersama pria Jepang itu.
"Nanti beli dulu jaringnya sebelum gelayutan ya? Ok?" ingat Ken pada bocah itu.
"Iya."
Kedua orang tuanya begitu terharu ketika tiba di bawah dan melihat anaknya selamat berkat bantuan pria itu. Wanita itu memeluk dan menciumi anaknya dengan senang.
"Terima kasih, eh, siapa namamu?" Ayah Ethan menyalami pria itu.
"Ken."
"Oh, Ken. Terima kasih ya, sudah menyelamatkan anakku."
"Tidak apa-apa, Pak. Sama-sama."
"Boleh aku memberi sesuatu?" Pria itu membuka dompetnya.
"Oh, tidak usah, Pak," tolak Ken.
"Tapi aku tak bisa begitu saja menerima bantuan. Tolong terimalah ini." Pria itu menyelipkan sejumlah uang ke tangan Ken.
Pria Jepang itu menoleh ke arah Bing sekilas yang melihat saja tanpa berkomentar. "Eh, maaf, begini, Pak. Saya ini karyawan baru, jadi tidak tahu peraturan di sini. Kalau Saya terima uang dari Bapak, Saya takut nanti mempersulit Saya bekerja di sini, Pak."
Ayah Ethan menoleh pada Bing. "Boleh 'kan? Aku tidak memberinya secara sembunyi-sembunyi, soalnya."
"Boleh kok!" sahut Bing dengan sopan.
"Tuh, boleh katanya. Terima saja. Kau tidak akan dipecat," ujar pria bule itu menggenggam tangan Ken.
__ADS_1
Ken sedikit kikuk dan malu, tapi saat menggenggam uang itu, pengunjung yang melihat kejadian itu iba pada Ken. Satu persatu datang dan memberikan uang sekedarnya untuk memberi semangat pria Jepang itu.
"Ini, aku tambahi. Semangat kerja ya?" Seorang wanita muda memberinya uang kertas.
Ken melongo. "Tapi ...."
"Ini untuk usahamu." Seorang pria muda kulit hitam.
"Eh?"
"Ini untukmu. Semangat kerja ya?" Seorang gadis bule bersama temannya.
"Eh, tapi ...."
"Semangat anak muda." Seorang nenek tua bertongkat.
Dan dalam sekejap, tangannya penuh dengan uang kertas bahkan koin dari beberapa orang yang bersimpati padanya. Pria Jepang itu kembali melongo.
Ayah Ethan hanya tersenyum padanya. "Rupanya, sirkus ini beruntung, kalau ada kamu."
Ken melirik Bing yang tertawa melihat dirinya yang kebingungan, juga terharu. Ia menatap ke semua orang yang ada di situ, dan membungkukkan tubuh pada mereka semua. "Terima kasih banyak!" Juga pada Ayah Ethan.
Pria itu menepuk-nepuk bahu Ken.
-----------+++----------
Ken keluar dari toko itu bersama pria tinggi itu dengan menenteng belanjaan yang ia beli sendiri. Setidaknya ia tidak harus pinjam pakaian orang lain walau ia hanya membeli pakaian seadanya.
Mereka kemudian pulang dengan menaiki motor Bing. Ketika sampai, Ken segera mandi dan bersiap untuk tidur. Ia harus memasuki karavan Bill si pawang binatang buas, karena dia akan tidur di sana. Ia mengetuk pintu.
Tak lama, seorang pria tampan dengan kancing kemeja terbuka dibagian dada, membuka pintu. Ia menatap Ken dengan seksama. "Kau Ken ya?"
"Eh, iya."
"Mmh, aku dengar kau yang jadi teman sekamarku, kini."
"Eh, iya." Ken memang baru mengenal Bill karena pria itu sangat sibuk. Pria berwajah Itali itu mengurus sendiri binatang sirkusnya bersama seorang asisten. Juga melatihnya hingga Ken baru bisa berkenalan dengan orang itu saat ini.
"Masuklah." Pria bule itu memberi jalan.
Ken masuk dengan membawa bungkusan pakaiannya. "Terima kasih."
Karavan itu cukup luas untuk mereka berdua, tapi tempat tidurnya hanya single? Ken tak melihat ada tempat tidur lain. "Eh, tempat tidurku?"
"Kau tidur di bawah."
__ADS_1
"Apa?"
"Kau tinggal tarik tempat tidurku di bawah."
Ken memperhatikan lagi. Ternyata ada tempat tidur satu lagi di bawah tempat tidur pria itu. "Oh, maaf."
"Itu juga ada lemari pakaian, kau tinggal taruh pakaianmu di sana." Pria itu menerangkan ruangan besar itu dan apa yang ada di sana. Ia juga memberi tahu peraturannya. "Jadi secara garis besar, karavan ini milikku. Alden dan kau hanya menumpang di sini."
"Oh, iya." Karena masih baru, pria Jepang itu mengiyakan saja semua yang dikatakan Bill. Ia tidak tahu siapa Bill sebenarnya.
"Jadi kau akan masuk tim akrobatik, mmh?" Ia melipat tangan di dada dan bersandar pada meja tempat Ken duduk.
"Eh, iya, Pak."
Pria berusia matang di sekitar 30an itu mengangguk-angguk. "Apa yang kau bisa?"
"Eh? Eh, itu ...." Sedikit kebingungan, pria Jepang itu menjawab. "Bergelantungan?"
Pria bermimik serius itu tiba-tiba tertawa. "Apa itu? Apa kamu berprestasi di sekolah? Begitu maksudmu?"
"Aku hanya bekerja sebagai OB," jawab Ken jujur.
Pria bule itu memperhatikan Ken dengan seksama. Ia hampir tak percaya mendengar penuturan pria Jepang itu. "Apa ini? Kenapa orang sepertimu bisa kerja di sini?"
"Eh, aku tidak tahu," jawab pria Jepang itu dengan lugu.
Bill menggerak-gerakkan tangannya agar Ken berdiri. Pria Jepang itu menurut saja. Bule itu langsung meraih lengan pria itu dan memeriksa ototnya. "Tanganmu cukup kuat."
Ken melongo.
Pria bule itu juga menyentuh pinggang pria itu.
"Eh?" Ken bergerak mundur karena merasa sangat aneh. Kenapa dia menyentuhku?
"Jangan salah sangka! Aku memeriksa ototmu!" Tak disangka, bule itu sangat galak. "Coba angkat baju kaosmu."
Dengan ragu-ragu, pria Jepang itu mengangkat baju kaosnya. Terlihatlah tubuhnya yang kurus.
Bill memperhatikan bentuk tubuh Ken. "Ototmu tidak terbentuk dengan baik. Ok, besok. Aku sendiri yang akan melatihmu."
"Apa?" Ken memperhatikan pria itu dengan seksama. "Bukankah kau adalah pelatih binatang buas?" Ken terdengar bingung.
Mata elang pria itu menatap Ken tajam walau pria itu tak bermaksud demikian. "Orang tahunya, aku ini pawang binatang buas tapi sebenarnya akulah yang mengajarkan seluruh anggota sirkus di sini akan keahliannya."
Pria Jepang itu tercengang. Ia langsung membungkukkan tubuhnya karena malu sebab telah salah sangka dengan bule ini. "Oh, maaf, maaf, aku tidak tahu, Guru."
__ADS_1
"Kau tidak harus menyembahku seperti itu, dasar orang Jepang!" Pria itu tersenyum. "Sekarang kau beristirahatlah. Aku akan memeriksa kandang binatangku dulu sebelum tidur." Ia kemudian pergi keluar.
Ken menghela napas panjang. Ia lemas. Kenapa ia bersikap tak sopan begitu kepada gurunya sendiri? Ia jadi resah dan merasa bersalah. Setelah menarik tempat tidurnya keluar, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang pendek itu.