Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Makan Malam


__ADS_3

Ken mengambil bebek panggang itu dan menggandeng tangan Mira. Mereka kembali ke restoran masakan China itu. Gadis itu masih ngambek mengekor pemuda itu di belakang sambil masih menggandeng tangannya.


Ken menemui pemilik restoran itu. "Maaf, Pak. Kami lapar sampai hampir mencuri bebek panggang milik Anda, tapi kalau Bapak berkenan, apa kami bisa makan makanan sisa yang Bapak miliki?" Ken menyerahkan bebek panggang itu pada pria paruh baya bermata sipit itu.


Pria itu mengambilnya sambil memperhatikan Ken. "Mmh, kalau seperti itu, kamu tidak akan selalu dapat makanan."


"Tidak apa-apa, Pak, yang penting malam ini kami bisa makan," ucap Ken sedikit tertunduk.


Pria itu memperhatikan Mira yang bersembunyi di belakang punggung Ken. "Itu adikmu?"


"Iya," jawab pemuda itu cepat.


"Sebenarnya, hari ini ada pesta di restoranku dengan banyak tamu tapi aku hanya punya pegawai terbatas sehingga saat pesta usai, cucian piring masih menumpuk. Aku tidak bisa memaksa pegawaiku untuk melakukan semuanya sehingga mereka pulang dengan masih meninggalkan banyak cucian. Bila kalian mau mencuci piring-piring itu, kalian boleh makan bebek ini. Bahkan masih ada sisa makanan lain di dapur, dan kalian bisa makan sepuasnya."


"Benarkah?" Ken membulatkan matanya. Mira bahkan mengintip dari balik punggung Ken.


"Iya. Asal kalian berdua membersihkan dapurku juga, setelah mencuci piring-piringnya."


"Ah, tentu saja, Pak. Akan kami lakukan." Pemuda itu tersenyum lebar. Ia menarik Mira ke samping dan membantu membungkukkan tubuhnya pada pria itu sebagai tanda terima kasih.


Pria itu terlihat senang. Ia meletakkan bebek panggang itu di atas sebuah piring dan lalu meninggalkan mereka.


"Lihat, kita bisa mendapat makanan dengan hidup jujur." Beri tahu Ken.


Mira berjalan seperti kelinci, sedikit melompat-lompat karena senang. "Iya, Kak."


"Ayo kita cuci piring-piring ini." Pemuda itu memandangi tumpukan piring di tempat cuci piring yang menumpuk banyak. Ia mengambil 2 celemek yang menggantung dan satu diberikan pada gadis itu.


"Sini, Kak, aku bantu ikat." Gadis itu mengikat celemek pemuda itu di belakang pinggangnya, begitu juga sebaliknya.


Keduanya kemudian saling bekerja sama membantu mencuci piring, tapi itu hanya di awal. Kemudian gadis itu sibuk merapikan piring untuk makan. Sepertinya ia tidak suka dengan tugas dapur sehingga Kenlah yang menyelesaikan pekerjaan mencuci itu sampai selesai. Mira hanya menunggu di meja makan sambil memperhatikan pemuda itu mencuci piring. "Sudah, Kak?"


"Ya, sudah." Pemuda itu membersihkan tangannya dengan kain lap. Ia kemudian menghampiri meja dan makan malam bersama gadis itu.


"Aku mau ujian, Kak. Do'ain ya?" sahut Mira yang sibuk menguliti bebek panggangnya.


Pria itu mengerut dahi. "Ujian? Ujian apa?"

__ADS_1


"Ujian ketentaraanlah, Kak."


"Oh, ada ya?"


"Ada, Kak. Biar aku naik levelnya."


"Iya, aku do'akan supaya kamu lulus."


"Terima kasih, Kak Ken!" Gadis itu tersenyum manis.


Ken teringat dirinya yang hanya lulusan SMA. Seandainya saja ia punya kesempatan untuk bisa sekolah lagi ... tapi kemudian ia teringat sesuatu. "Oiya, aku pernah bertanya padamu kenapa aku bisa pindah ke jaman ini 'kan, dan aku kini mendapatkan jawaban, bagaimana caranya aku bisa berlari lebih cepat. Bukan karena mengejar bus atau dikejar an*jing, atau juga dikejar-kejar penagih hutang, bukan. Karena itu semua bersifat sementara. Sebenarnya cara cepat untuk bisa lari adalah, ketika kita menjadi muda kembali."


Mira bertepuk tangan. "Betul, Kak Ken. Seratus!"


"Mmh. Karena itulah aku ada di tempat ini, tapi ... kenapa sampai sekarang aku belum pindah-pindah lagi ya? Rasanya tugasku sudah rampung semua."


Mira mengangkat bahu. "Barangkali, sebentar lagi, mungkin."


"Mmh." Ken menyuap nasinya.


Setelah makan, pemuda itu kembali mencuci piring dan membersihkan dapur. Mira sibuk membersihkan bekas make up-nya. Keduanya kemudian pamit pada pemilik restoran setelah merapikan dapur.


"Memang tidak ada tempat untuk kamu tidur?" Ken bertanya sekali lagi pada Mira karena merasa tempat itu tak layak untuk gadis itu pakai untuk tidur dan beristirahat.


"Masalahnya di situ tempat yang nyaman untukku, Kak. 'Kan warnet buka 24 jam."


"Mmh, ya sudah kita kembali ke sana."


Mereka kemudian memasuki warnet itu lagi dan mencari tempat di sudut. Sebentar kemudian, gadis itu sudah tertidur.


Cepat sekali dia tertidur. Mmh, pantas saja dia tidak mau aku mengikutinya. Dia sendiri untuk hidupnya saja susah, apalagi mau menanggung orang lain. Pasti sulit untuknya bernapas.


Mira, aku janji. Kalau hidupku sudah bisa aman dan nyaman, aku akan membawamu bersamaku. Ken tersenyum dan mulai melipat tangannya di atas meja. Ia meletakkan kepala di atasnya dan mulai memejamkan mata. Tidak butuh waktu lama, karena lelah bekerja, ia pun tertidur.


-----------+++-----------


Pagi yang cerah. Ken terbangun dengan tersentak. Sedikit bingung dengan keadaan sekitar hingga ingatannya kembali. Oh, kenapa aku lupa? Aku kan tidur dengan Mira. Ia menoleh pada kursi di sebelah yang dibatasi sebuah papan pendek. Gadis itu masih tertidur nyenyak di sana. Bahkan ia baru menggerakkan tubuhnya dan terbangun.

__ADS_1


Saat ia membuka mata, gadis itu melihat Ken tengah memandanginya dari arah samping. "Pagi, Kak," ucapnya dengan mata sedikit masih redup.


"Pagi." Pemuda itu mengucek-ngucek matanya dan menguap. Kembali ingatannya datang akan apa terjadi kemarin. Kini ia harus mengarungi kehidupan yang baru bersama Mira. "Eh, Kakak cari kerja dulu ya? Barangkali bisa dapat sarapan."


"Mmh?" Gadis itu mengangkat kepalanya. "Aku masih kenyang, Kak, karena semalam makanku banyak."


"Mmh? Aku coba cari dulu ya? Nanti aku segera pulang kok, mengabari."


Gadis itu masih menatap Ken. "Ya, sudah, tapi pelan-pelan saja." Ia kembali meletakkan kepalanya di atas lipatan tangan.


Ken melangkah keluar. Udara pagi itu sedikit dingin karena Amerika akan memasuki musim dingin. Dengan memasukkan kedua tangan di saku celana agar hangat, ia mulai melangkah ke area pertokoan yang letaknya kebetulan tak jauh dari sana. Ken melihat-lihat toko yang mungkin butuh pegawai.


Tak sengaja, mobil yang ditumpangi Vicky melintas di pinggir jalan itu. Ia sudah semalaman mencari pemuda itu dan tiba-tiba saja, pemuda itu ada di depan matanya. "Ken?"


Hugo pun yang menyetir mobil, melihatnya dan langsung menepi.


"Ayo, Hugo!" Pria bule itu langsung keluar dari mobil dan mendatangi pemuda itu. Hugo mengekor.


Ken yang melihat kedatangan Vicky dari arah depan, langsung berbalik. Ia tak mau berurusan dengan pria atau organisasi itu lagi.


"Ken!"


Suara Vicky tidak membuat langkah pemuda itu berhenti. Malah semakin cepat hingga ia terhentikan oleh tangan bule itu yang menarik tangannya.


"Ken!"


Pemuda itu terpaksa menoleh.


"Aku minta maaf."


Ken menepis tangan pria itu dengan kasar. "Aku maafkan tapi tolong jangan ganggu aku lagi!" ucapnya tegas.


"Eh, Jack ingin bertemu denganmu," sahut pria itu sedikit lunak.


"Katakan saja, aku sudah tidak ingin meneruskan. Beres 'kan?"


Vicky memberi kode Hugo untuk membawa pemuda itu. Ken langsung tahu dan lari saat itu juga.

__ADS_1


___________________________________________



__ADS_2