Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Perkenalan


__ADS_3

Irish telah menaiki motor dan menggunakan helm. Ia memberikan satu helm lagi untuk pemuda itu, tapi Ken hanya menatap wanita itu dengan sorot mata masih berduka.


"Hish ...." Karena buru-buru, Irish kemudian turun dan memasangkan helm itu untuk Ken. Ia kembali naik ke atas motor dan menunggu.


"Ayo naik."


Ken naik motor sambil masih memegang bungkus makanan. Setelah itu, motor mulai di jalankan.


"Ken, pegangan, nanti kamu jatuh!" teriak wanita itu memperingatkan.


Perlahan tapi pasti, dengan satu tangan pemuda itu melingkarkan tangannya di pinggang Irish. Lalu merebahkan kepalanya pelan pada punggung wanita itu. Melihat keadaan Ken, wanita itu mempercepat laju motornya.


Mereka kemudian sampai ke sebuah taman. Ken kemudian turun, disusul wanita itu. Irish membawa pemuda itu ke dalam taman dan duduk di sebuah kursi taman yang panjang.


Malam itu, walau gelap, langit cerah bertabur bintang-bintang. Irish menikmati malam sejenak bersama pemuda itu. Ia merentangkan tangan di belakang sandaran kursi dan menoleh pada pemuda itu yang masih saja terdiam dengan raut wajah yang melankolis.


"Eh, apa kamu tidak lapar?"


Pemuda itu hanya menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke arah depan dengan sedikit tertunduk.


Wanita itu sedikit bergeser ke arah pemuda itu, tapi Ken bergeming.


"Mmh, aku juga punya adik. Dia sangat lucu. Kami tinggal hanya berdua karena orang tua kami meninggalkan kami dan tak kembali. Mungkin karena mereka terlalu miskin.


Mereka sering bertengkar dan lalu ibu meninggalkan kami. Kemudian ayah. Hanya adikku yang menjadi pemberi semangat aku mencari nafkah. Padahal aku sudah bekerja jadi orang baik-baik tapi itu saja tidak cukup.


Pada saat adikku sakit, tidak ada rumah sakit yang mau membantu kami hingga Tuhan mengambilnya. Sejak itu, aku tidak mau lagi jadi orang baik-baik. Orang baik-baik tempatnya ditindas." Wanita itu menoleh ke arah Ken. Ternyata pemuda itu sudah sedari tadi menoleh ke arahnya. kedua matanya sudah berkaca-kaca. "Ken ...."


Air mata pemuda itu mulai jatuh. Wanita itu segera menarik tubuh pemuda itu dan memeluk bahunya. Ken menangis dengan bersandar di bahu wanita itu. Cukup lama Irish memeluknya sampai tangis pemuda itu berhenti.


Setelah itu pemuda itu melepaskan diri dari pelukan wanita itu. Ia bergeser menjauh karena malu. Ken membersihkan sisa-sisa air matanya. "A-aku hanya rindu," kilahnya.


Irish menatap ke depan melipat kaki dan memeluknya sambil kembali menatap bintang-bintang. "Mmh."


Tak lama ia menoleh. "Kau tak lapar, Ken?"


"Eh, iya. Aku lapar." Ken mengeluarkan burger miliknya dan mulai menggigit roti itu. Ia memakannya dengan lahap sambil mengambil potongan kentang goreng yang masih ada di dalam bungkusan.


Irish juga mengambil kentang goreng milik Ken.


"Itu kentang gorengku!" teriak Ken sambil menggigit kentang goreng di tangan.


Irish kesal diteriaki seperti itu. "Salahmu! Gara-gara kamu aku meninggalkan makan malamku di atas meja."


Ken merasa bersalah. "Maaf. Ya sudah, ini kita makan berdua." Ia mendorong bungkusan berisi kentang goreng pada Irish.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum senang. "Terima kasih."


"Kau mau burger-ku? Aku bisa bagi dua." Pemuda itu bersiap-siap ingin membagi dua burger-nya.


"Eh, tidak usah. Ini saja. Toh, saat kembali, aku harus menghabiskan makananku juga."


Keduanya kembali menatap lurus ke depan memandangi luasnya langit yang gelap dan indah ditaburi bintang-bintang. Udara terasa sejuk membuat mereka bisa menikmati makan malam di tempat terbuka itu dengan santai.


-----------+++----------


Motor itu berhenti di depan sebuah toko pakaian.


"Kau bukannya tidak punya pakaian ganti?" tanya wanita itu.


Ken memeriksa dirinya yang belum berganti pakaian sejak kemarin. "Tapi aku tak punya uang un—"


"Aku akan belikan tapi kamu janji tak boleh lari dan harus menyelesaikan misi ini."


Ken terdiam. Seandainya saja ia bisa memilih ....


Wanita itu turun dan mengajak pemuda itu masuk ke dalam toko. Ken memilih pakaian sedang wanita itu juga belanja barang lainnya.


Tak lama mereka kembali naik motor untuk kembali ke gedung tempat mereka tinggal. Saat masuk, semua orang yang sedang beristirahat di ruang tengah, menoleh ke arahnya. Irish acuh dan menarik Ken menaiki tangga.


Wanita itu menoleh.


"Ke sini sebentar biar kita bisa saling berkenalan," sahut Jack dari ruang tengah.


Terpaksa wanita itu berbelok mendatangi ruang tengah sambil menarik pergelangan tangan pemuda itu. Vicky menatap keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan.


Mereka kemudian duduk mengelilingi meja makan.


"Aku Jack Firming pemimpin organisasi West Eagle(Elang Barat) ini. Anggota bisa berganti-ganti sesuai kebutuhan misi dan itu harus atas izinku."


Ia lalu menunjuk Hugo. "Ini Hugo Cortez, bagian melumpuhkan lawan."


Kemudian Vicky. "Ini Vicky Delano, si pelempar pisau."


Lalu, pria bule satu lagi. "Ini Ben Smith, penembak jitu."


Ia melirik Irish. "Lalu ini Irish Collington bagian penyamaran."


Pria berkulit hitam itu menoleh ke arah seorang lagi pria muda yang masih baru. Sepertinya keturunan India. "Dan kita kedatangan seorang lagi anggota baru. Devan Kumar, bagian komputer dan tekhnologi."


Ia melirik ke arah Ken. "Satu lagi yang masih sangat muda, Ken siapa namamu?" tanya Jack memastikan.

__ADS_1


Semua orang menoleh ke arah Ken.


"Ken Tachibana."


"Ok. Ken Tachibana." Pria kulit hitam itu memperkenalkan pemuda itu. "Dia yang akan memastikan, kita akan mendapat permata itu atau tidak."


"Apa?" Pemuda itu melongo. Ia menoleh ke arah Irish. "Tapi aku belum pernah melakukan apapun sebelumnya."


"Tenang saja, kita satu tim dan akan saling membantu untuk bisa mendapatkan permata itu," sahut wanita itu mencoba menenangkan Ken.


"Tapi, kenapa aku yang memastikan?"


"Karena kamulah yang akan mengambil permata itu, Ken," jawab wanita itu sambil tersenyum.


"Apa?" Ken menatap ke semua orang yang berada di situ. "Kenapa aku?" Ia kembali beralih pada wanita itu.


"Tenang saja, Ken. Kau ikuti saja seperti yang aku ajarkan saat latihan waktu itu dan semua pasti beres."


Ken menatap nanar pada wanita itu.


"Semua orang melakukan tugasnya masing-masing, demikian juga kamu, Ken."


"Ya, benar, seperti yang Irish katakan. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk di sini karena kalian melakukan tugas kalian masing-masing, kecuali kalau kalian tidak melakukannya sesuai yang diperintah maka akan berdampak buruk buat yang lainnya, terutama kamu, Ken," sahut Jack lugas.


Ken panik. Ia kembali berbisik. "Bagaimana kalau ...."


"Tidak ada kalau, Ken. Kamu pasti bisa." Kembali Irish mencoba menenangkan pemuda itu. Di bawah meja, wanita itu menggenggam tangan Ken erat.


Pemuda itu melirik ke bawah. Vicky menangkap gerakan keduanya yang membuat dirinya makin terbakar cemburu.


"Ok, sekian briefing-nya hari ini, dan besok akan diteruskan dengan rapat strategi yang akan kita lakukan berikutnya. Selamat malam." Lalu pria kulit hitam itu pun undur diri.


Irish kembali membawa Ken ke arah tangga.


"Nona ...."


Irish menoleh dengan senyuman sambil menahan tawa. "Kenapa kau memanggilku, 'Nona'? Memangnya kamu pelayanku? Lagipula umurku jauh lebih tua darimu."


"Eh, itu ...."


___________________________________________


Kuy, baca novel keren ini, yuk?


__ADS_1


__ADS_2