
Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah gubuk di tepi hutan. Wanita itu mengetuk pintu rumah itu hingga penghuninya keluar.
"Gojo?" Ken terkejut.
Wanita itu mendorong dengan kasar tubuh sang pria Jepang ke arah pria di depannya hingga Gojo terpaksa menangkap tubuh Ken. "Urus dia, dia sudah mengganggu pekerjaanku!"
Ken mengenali suara itu walau terdengar sedikit tegas. "Mira?" Baru saja ia menoleh, wanita itu sudah pergi dengan meloncat-loncat ke atas pohon. "Mira ...."
Gojo menahan pria itu.
"Tapi Mira ...."
"Kau obati dulu tanganmu itu."
"Mengobati tangan ini gampang, tapi ...."
"Nanti aku beri tahu di mana dia tinggal. Ini sudah malam. Sebaiknya kau obati dulu lukamu, dan beristirahatlah. Kau bisa menemuinya besok." Bujukan Gojo ternyata ampuh untuk Ken. Pria berpakaian hitam-hitam itu akhirnya masuk ke dalam rumah.
Di sebuah dipan, sambil mengobati lukanya sendiri dengan tangan yang satunya, Ken mengobrol dengan Gojo. Pria Jepang itu merasa ada yang berubah dengan gadis itu dibanding sejak terakhir mereka bertemu. Ternyata, Mira sudah ada di zaman itu selama dua tahun. Padahal Ken baru berpisah satu minggu dengannya. "Dua tahun?"
"Banyak yang sudah terjadi dan dia sudah tidak seperti yang dulu lagi, Ken." Pembawaan Gojo yang tenang membuat Ken dan Mira
selalu cocok berteman dengan pria satu ini.
Selain Ken merasa seperti punya Kakak, pria berambut gelombang ini sangat sabar dan pintar membujuk.
"Selain sudah semakin dewasa tentunya," Sang pria Cina tertawa lepas.
Ken yang telah selesai mengobati dirinya itu, bertanya lagi dengan serius, sebab ia merasa gadis itu telah lebih dari sekedar berubah. Mira sudah berbeda. "Lalu apalagi?"
Kini Gojo mulai menampakan mimik seriusnya. "Apa kau yakin ingin menemuinya?"
"Kenapa?"
"Aku takut kau kecewa." Sang pria Cina menyipitkan matanya.
"Memang ada apa dengannya?"
Gojo menghela napas pelan. "Jangan terlalu naif mengenang masa lalu, sebab ada yang tidak ingin kembali ke masa lalu dengan merubah dirinya yang sekarang."
"Kau bicara apa sih, Gojo? Aku tidak mengerti." Ken melepas sapu tangan yang bergantung di lehernya.
"Mira. Sekarang dia adalah seorang pembunuh bayaran."
"Apa?" Ken syok mendengarnya. Ia terdiam sesaat. "Kau tak bohong 'kan, Gojo?" Pria itu mencoba mencari kebenaran di kedua manik mata coklat milik sahabatnya itu.
"Aku tak bohong, Ken. Aku di sini untuk menjaganya, memastikan ia tak apa-apa."
"Kenapa kau tak mencegahnya? Apa gunanya kau di sini?" Ken mulai marah. Ia bingung kenapa temannya itu malah membiarkannya.
__ADS_1
"Aku sudah menasehatinya tapi kalau itu sudah pilihannya, aku bisa apa."
"Cegah! Larang dia!" ucap Ken berapi-api.
Pria Cina itu tetap memperlihatkan wajah tenangnya. "Aku takut ia lari. Aku ditugaskan Ejiro untuk menjaganya. Lagipula ia mendapatkan guru yang hebat sehingga ilmu silatnya meningkat cepat. Sejauh ini belum ada yang bisa mengalahkan dia di perguruan tempat dia belajar. Dia juga murid kesayangan gurunya dan tempat itu sangat sulit didatangi, khususnya untukmu."
"Kenapa begitu?"
"Karena itu perguruan silat perempuan." Gojo tertawa terbahak-bahak.
"Gojo, aku serius," sahut Ken kesal.
"Aku juga serius. Tidak ada laki-laki yang bisa masuk ke sana kecuali aku. Itu pun kalau ada hal penting saja. Karena itu aku tinggal di sini."
Kali ini pria berpakaian koki itu percaya dengan apa yang dikatakan sang sahabat.
"Ya sudah, ganti pakaianmu dulu, atau kau mau mandi? Bak mandinya ada di luar."
Ken kemudian mandi dan berganti pakaian. Gojo ternyata telah menyiapkan kimono buat temannya itu.
"Dari mana kau dapatkan ini, Gojo?" Sang pria Jepang memperhatikan pakaian yang dikenakannya.
"Oh, aku hanya menyimpannya saja."
Sang pria Jepang melirik temannya itu. Ia tahu Gojo pasti memang berniat menyimpan kimono itu untuknya. "Terima kasih, Gojo."
"Mmh, selamat malam."
Pagi itu, Ken baru tahu ternyata Gojo pintar masak. Ia bahkan lahap makan masakan Cina buatan pria itu. "Dari mana kau belajar masak?"
"Aku sebenarnya tidak suka makan di luar. Jadi berharap mencari istri yang bisa masak di rumah atau aku sendiri yang masak untuk diri sendiri." Pria berambut gondrong itu mengunyah sebentar. "Ya, efek tinggal sendirian lama." Ia tertawa. "Apa kau tak ingin menikah, Ken?"
"Tapi aku tak punya pacar."
"Tidak juga gadis yang kau suka?" Gojo menyendok nasinya.
"Aku, pikiranku penuh dengan Mira belakangan ini, jadi aku belum sempat mencari."
Gojo mengangguk-angguk. "Atau mungkin kau pernah menemukannya tapi tak sadar?"
"Maksudmu?"
"Mmh, apa kau tahu rasanya jatuh cinta?"
"Tidak," jawab Ken dengan polosnya. "Memang seperti apa?"
"Mmh." Sang pria Cina mulai mendeskripsikannya dengan pandangan menerawang jauh. "Mungkin saat kau bicara dengannya, kau tidak merasakan apa-apa selain rasa senang, tapi saat ia menyentuhmu ...." Ia menggantung kalimatnya.
"Iya?" Ken masih penasaran.
__ADS_1
"Jantungmu yang bicara."
"Apa?"
Gojo pura-pura tak peduli dan menerus makannya. Ken terdiam. Ia pernah merasakan momen ini sebelumnya saat Mira mengeringkan rambutnya dan saat ....
"Pernah?" tanya Gojo tiba-tiba.
"Eh, tidak pernah ...." Namun wajah pria Jepang itu memerah. Ia jadi salah tingkah. Tidak mungkin itu. Mira adalah adikku. Adik kecilku dan aku sangat menyayanginya karena ... dia adalah adik kecilku.
"Oh ya, aku jadi ingat saat kita ke istana *****Lord***** Z waktu itu. Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan kepadamu, tapi mengingat kondisimu saat itu, aku jadi menahan informasi ini darimu."
"Informasi apa?" Ken kembali menyendokkan nasi ke mulutnya.
"Tentang keterangan Lucille waktu itu. Apa kau percaya, Lord Z membunuh Yumi?"
"'Kan begitu katanya."
"Tapi bagaimana caranya? Sedang pisau ada di tubuh Yumi."
"'Kan benar?" ucap pria Jepang itu lagi.
"Maksudku, lalu siapa yang membunuh Lord Z? Lucille membuat keterangan berbeda setelah itu. Katanya Yumi bunuh diri agar Lucille bisa membunuh Lord Z. Apa kau tak merasa aneh dengan kata-kata itu?"
Ken mulai menyadari keterangan Gojo. Ia yang saat itu terguncang tidak menyadari kata-kata wanita itu sebenarnya saling bertentangan dan tidak ada yang menyadarinya saat itu.
"Kalau benar Lucille yang membunuh Lord Z, kenapa pisau belatinya ada pada Yumi?"
"Oh, mungkin dia membunuh Lord Z dengan pisau yang lain." Ken sedikit lega, ia bisa menyimpulkannya dengan sempurna.
"Tidak, keduanya mati oleh belati yang sama."
"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu, Gojo?"
"Indera penciumanku tidak bisa dibohongi." Kau bisa tes pada pisau itu. Pasti ada 2 noda darah dari manusia yang berbeda. Juga aku mencium ada bau Lucille tertinggal di kedua belati itu."
"Jadi menurutmu, apa yang terjadi?"
"Lucille membunuh keduanya."
Ken membulatkan kedua matanya. Untuk beberapa saat ia kehilangan kata-kata hingga akhirnya ia bisa bicara. "Hati-hati, Gojo. Ini sudah tuduhan keji!" Ia bahkan tak tahu bagaimana meluapkan emosi. Seandainya tuduhan Gojo itu benar ....
"Indera penciumanku itu tidak bisa dibuktikan dengan alat apapun, tapi kalau seandainya kau percaya pada kata-kataku ...."
Ken sulit percaya, tapi ia berusaha melihat kenyataan. Bagaimana kalau ini kenyataan?
___________________________________________
__ADS_1
Visual Ken dengan baju kimono pemberian Gojo. Salam, ingflora💋