
"Iya, ayo!" ajak Lisa.
"Eh, tidak usah." Pria itu bergerak mundur.
"Gratis Ken!"
"Eh, tidak." Ken menggoyang-goyangkan tangannya.
Namun Lisa meraih tangan pria itu dan menariknya pada Lucille.
"Eh?"
"Coba lihat, Bos," tanya gadis itu memperlihatkan telapak tangan Ken yang diletakkan di atas meja di hadapan wanita itu.
Wanita itu mengeceknya.
"Barangkali hidupmu akan lebih baik, Ken di masa depan," sahut Lisa pada pria Jepang itu.
Ah, sialan! Entah dia bisa meramal atau tidak, tapi aku sudah cukup dan tak mau mendengar ramalan itu lagi. Ken melirik gelas yang berada di samping Lucille dan lalu berkonsentrasi. Gelas, jatuhlah .... Dan gelas itu jatuh ke samping hingga tumpah isinya membasahi baju bosnya itu.
"Ah!" Wanita itu terkejut dan mengangkat tangan.
Orang-orang yang berada di sekitarnya juga menghindar karena tidak mau terkena cipratan air. Untung saja bukan air panas. Ken dengan mudah menarik tangannya kembali.
"Ah, Bos! Bajunya basah. Padahal aku tadi gak menyentuh gelas itu lho, Bos," terang Lisa yang tangannya memang waktu itu dekat dengan gelas itu.
"Kamu sih, Lisa. Ceroboh! Kamu selalu ceroboh," sela Sin Hye.
Lisa hanya merengut kesal.
"Eh ... aku ke kamar dulu, ganti baju." Lucille bergegas ke karavan.
Ken pelan-pelan menjauh dan mendekati Berta. "Eh, maaf Bibi Berta. Aku minta sarapannya."
"Oh, iya. Sebentar ya? Kamu duduk saja di meja."
Ken kemudian sarapan tanpa gangguan yang berarti. Meminta benda bergerak dan berhenti. Makin banyak saja kegunaannya sihir ini. Tentunya untuk saat-saat terdesak seperti saat ini sebab kalau sering digunakan, orang pasti akan curiga. Ken tersenyum sendiri.
Ken kembali mendatangi tenda sirkus setelah mandi. Ia harus menyelesaikan latihan melangkah di atas bambu yang belum bisa ia taklukkan hingga berakhirnya latihan kemarin.
Namun saat masuk, ia tidak menemui bambu itu di manapun. Lalu ia harus latihan apa? Ketika ia masih mencari, sebuah suara membuatnya menoleh.
"Kamu cari bambu kemarin? Itu terlalu gampang." Itu suara Bill yang datang kemudian.
"Lalu aku harus apa, Pak?"
Bule itu menunjuk ke tiang tempat akrobat dan di sana, di bagian bawah, ada tali yang lain yang terhubung ke tiang yang satu lagi tetapi hanya setinggi 1 meter. "Itu latihanmu berikutnya."
"Tapi yang kemarin, aku belum bisa melangkah sampai ujung."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Yang ini sama saja, cuma yang ini tali bukan bambu yang lebih lebar. Tali inilah yang akan kamu lewati nanti."
"Tapi yang kemarin saja belum bisa, bagaimana aku ...."
"Lakukan saja, jangan dipikirkan. Seiring kau mengenal medan, kau juga akan bisa menguasai jalan di atas tali dengan cepat."
Walau dipikir bagaimanapun, apa yang dikatakan pria bule itu tak masuk akal, tapi Ken tak bisa menolak karena Bill adalah pelatihnya.
"Kau pakai sepatu ini. Ini bagus untuk belajar keseimbangan." Pria bule itu memperlihatkan sepatu dengan sol tipis. "Kau juga akan memakai tali pengaman dipinggang dan akan membawa tongkat ini."
Setelah memasang sepatu dan tali pengaman, Ken menaiki tiang dan mencoba berdiri di atas tali. Walau tak tinggi tapi kali ini ia menginjak tali tebal.
"Jangan panik, Ken. Biasa saja," terang Bill dari belakang.
Pria Jepang itu mengambil napas pelan dan mengeluarkannya. Ia mulai melangkah dengan kaki meraba-raba.
"Tegakkan badanmu!"
Ken menegakkan punggungnya. Ia menginjak tali dengan satu kaki.
"Tenang, Ken. Tenang."
Pria Jepang itu berusaha tenang dengan merentangkan tangan. Ia sanggup berdiri. Lalu ia mencoba melanjutkannya dengan kaki berikutnya tapi belum apa-apa ia sudah terjatuh ke jaring di bawahnya. "Ah!" Ia terombang-ambing di atas jaring.
"Sudah bagus, Ken! Ayo coba lagi!" teriak Bill dari atas.
"Kau nanti bergantian dengan tim akrobatik memakai tempat latihan, karena kalau tidak, kau bisa tertimpa pemain akrobat ketika sedang latihan di bawah, tapi waktu istirahatmu sekarang jadi banyak. Jadi manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. Kau sekarang, dapat waktu 2 jam pertama untuk latihan dan ini tongkatmu." Bill memberikan tongkat itu pada Ken. "Aku harus mengurus binatangku dulu." Ia kemudian turun dan keluar dari tenda itu.
Di sana hanya ada Bob, yang sedang latihan dengan anjing laut. "Semangat, Ken!" teriaknya dari bawah.
"Kau juga, Bob!" teriak Ken.
---------+++----------
Ken sedang beristirahat di pinggir arena sambil melihat Costa dan Lisa latihan di atas. Ia mengambil segelas air yang ia ambil dari dapur terbuka Berta. Selagi ia minum, ia melihat Lisa jatuh untuk kedua kalinya, tapi kali ini ....
"Aduhh ...."
Awalnya pria itu hanya melihat saja, tapi melihat Lisa tak kunjung bangkit dan wajahnya seperti menahan sakit, ia pun segera mendatangi. "Lisa, kamu kenapa?" Ia menaiki jaring.
"Sakiiiit. Kakiku sakit, Ken." Terlihat gadis itu memegangi kaki kanannya.
"Coba sini lihat." Pria itu menyentuh pergelangan kaki gadis itu.
"Aghh, sakiiit!" teriak Lisa setengah ditahan.
Pria itu menyentuh pergelangan kaki itu lembut. Ia tiba-tiba bisa melihat ada yang retak dan urat yang bergeser. "Tadi kakinya kamu duduki ya?"
"Tersangkut di jaring, kakiku, Ken." Gadis itu masih menahan nyeri.
__ADS_1
"Lisa!" Costa pun ikut turun.
Bob, si kerdil juga mencoba menaiki jaring tapi susah karena jaring letaknya lebih tinggi darinya.
"Eh, ini hanya terkilir biasa. Aku bisa betulkan, tapi kamu tahan ya?" ucap Ken pada Lisa.
"Eh, beneran nih, Ken? Sakit ya?" Gadis itu terlihat khawatir.
"Sedikit. Pegang lenganku. Kalau sakit, genggam saja erat-erat."
Lisa langsung meraih lengan pria Jepang itu.
"Siap?"
Gadis itu mengangguk. Saat itu juga Ken menggenggam pergelangan kaki Lisa. Tangannya berusaha menyatukan yang retak dengan sedikit ditekan. Ia bisa tahu gadis itu kesakitan, saat genggamannya terasa kencang, dan juga akhirnya berteriak yang setengah ditahan.
"Akh!"
Pelan-pelan genggaman itu kemudian mulai melunak.
Pria itu melepas pegangan. "Coba digerak-gerakkan kakinya."
Gadis itu mencoba menggerak-gerakkan telapak kakinya menggunakan pergelangan. "Hei, hilang! Cepat sekali!" teriaknya tak percaya.
"Iya, hanya terkilir, tapi kalau dibiarkan bisa bengkak dan lama sembuhnya."
"Terima kasih ya, Ken." Lisa memeluk pria itu karena senang.
"Tidak apa-apa."
Namun Costa cemberut. Gadis itu memeluk pria Jepang itu di depan matanya. Sebelumnya juga pria itu diajak untuk meramal nasibnya selagi sarapan. Ia melihat seolah-olah gadis itu lupa keberadaan pacarnya itu yang sudah hampir setahun jadian. Ia mulai merasa, Lisa mengistimewakan Ken.
Lisa melepas pelukan.
"Sudah, latihan lagi, sana." Ken kemudian turun dari jaring.
Bob memastikan kaki gadis itu kembali normal sebab, kalau tidak, mereka akan kehilangan lagi satu acara di dalam sirkus yaitu akrobat di udara.
-------------+++------------
Latihan Ken mulai ada kemajuan. Ia sudah mulai bisa jalan di tali hingga ke tengah. Ia ingin memberitahukan ini pada Bill saat pria itu datang, tapi kemudian, pria bule itu datang dengan membawa sepeda.
"Apa ini?" tanya Ken bingung.
"Sepeda. Kau tak lihat itu?"
"Iya, aku tahu, Pak, tapi ... apa aku akan naik sepeda itu di atas tali?"
"Iya, betul sekali!" Pria bule itu menjentikkan tangan di depan wajahnya membuat Ken mengetuk dahi karena seketika kepalanya pening.
__ADS_1