
"Masalah Mira itu mudah, tapi ini, masalah ini selesaikan dulu." Ibu mengarahkan agar pria itu fokus.
"Masalah apalagi? Ibuu ...." Ken merengut.
"Coba fokus, Ken. Jangan terus-terusan seperti ini, jadi waktumu tak habis sia-sia."
"Apalagi sih, Bu? Aku sedang kesal. Lucille memegang kendali di sini, jadi aku tak bisa melakukan apa-apa." Ken menceritakan kegundahannya.
"Justru itu, Ibu bilang di sini agar kamu bisa fokus. Karena kamu tidak fokus itulah, segala sesuatu terjadi seperti ini. Lihat, wanita itu kini memegang kendali. Dia selangkah lebih maju darimu dengan menjebak Mira dan kamu di sini."
"Ya 'kan karena dia punya bola kristal itu yang dia curi dari Mira."
"Bukan itu saja. Dia fokus. Dia fokus dengan apa yang diinginkannya."
Ken mulai berpikir. "Fokus bagaimana?"
"Dia fokus dengan tujuannya. Dia melihat keadaan lalu bergerak."
"Itu karena dia menyukaiku, Bu. Aku sudah menolaknya berulang kali."
"Itu!" Wanita cantik berkulit putih itu mengangkat telunjuknya. "Dia punya tujuan sehingga dia menghitung langkahnya. Bagaimana denganmu? Apa tujuanmu? Apa kau tak lagi ingin mencari Yumi?"
Ken terdiam. Ia tersadar pengembaraannya mulai membuatnya lupa akan tujuan semula yaitu mencari Yumi. Kenapa ia jadi seperti ini? Apakah ia kesal dengan petualangannya? Atau malah sebaliknya, ia mulai nyaman dengan keadaannya yang sekarang? Ia tentunya tak bisa terus-terusan seperti ini karena bukan kehidupan seperti ini yang ia inginkan, tapi kenapa ia tak pernah fokus dengan apa yang diinginkan?
"Ken." Ibu menyentuh lengan anaknya itu hingga tersadar dari lamunan. "Fokuslah."
"Masalahnya aku tidak tahu apa yang aku inginkan, Bu," ucap pria itu berterus-terang.
"Bukan tidak tahu. Coba ingat-ingat, apa yang kamu inginkan untuk mengubah nasibmu? Kamu tidak mau selamanya begini 'kan?"
"Aku sebenarnya hanya ingin kembali ke kehidupanku yang lama di mana aku nyaman di sana."
"Kau ingin meninggalkan semua ini? Ibu, Gojo, Mira? Dengan kemampuanmu yang baru, apa kamu bisa hidup seperti dulu lagi?"
Netra Ken terlihat bingung.
__ADS_1
"Semua orang berkembang, Ken, tumbuh, dan bergerak dari posisinya sementara kau ingin tinggal. Kau ingin tinggal dengan kenangan? Ken ... orang-orang yang ada panti asuhan tidak selamanya ada di situ. Anak-anak itu, tidak selamanya kecil. Mereka suatu saat nanti tumbuh dewasa, mengarungi masalahnya, menikah lalu punya anak. Jadi kau akan kembali ke mana?
Selagi kau punya pilihan, pilihlah dengan baik. Jangan sampai kau kehilangan pilihan-pilihan itu sehingga kau tak punya pilihan selain menjalankannya."
Pria itu menatap wanita yang berada di sampingnya dalam keadaan diri yang masih ragu.
"Fokus. Cari tujuanmu." Wanita itu menatap balik pria itu agar Ken tahu apa yang harus ia cari, lalu, setelah itu Dewi Sri menggigit apel di tangan dan mengunyahnya.
Ken menatap keluar, di mana musim gugur menandakan musim akan berganti ke musim dingin. Kini ia telah pergi jauh dari kampung halamannya dan tak mungkin kembali. Sekarang saatnya ia menentukan langkah apa yang harus diambil guna membentuk masa depan sesuai dengan yang ia inginkan. Selagi ia bisa dan mampu, ia harus mengupayakannya. Mengupayakannya menjadi nyata.
Ken kembali ke posisi semula. Dewi Sri menyentuh tangan pria itu dengan tersenyum lebar. "Waktu berjalanlah!" Ia menjentikkan jemarinya.
Seketika suasana pasar yang dipenuhi orang-orang, kembali riuh. Lucille kembali memilah-milah buah yang ingin dibelinya dan Ken mengantar kepergian sang ibu yang berpakaian biarawati itu, dengan memandanginya hingga hilang di tengah keramaian. Ken tersenyum lebar.
"Hei, senyum-senyum. Kau tersenyum dengan siapa, hah?!" Lucille yang mengagetkan pria Jepang itu, mencari tahu siapa yang diperhatikanya dengan melihat keramaian yang dilihat pria itu. Namun ia tak menemukan siapa-siapa yang dikenalnya. "Kamu lihat siapa sih?"
"Tidak ada." Ken menggeleng pura-pura tidak mengerti.
"Ya sudah, nih." Wanita itu menyerahkan belanjaannya pada pria itu.
Di dalam kereta Lucille terlihat tersenyum senang. Mood-nya kembali membaik. Sejak tadi ia begitu kesal karena dinasehati Ken dan disebut sebagai manusia yang tidak punya perasaan dan tidak manusiawi.
Biar bagaimanapun kuatnya ia sebagai wanita, ia akan terluka bila yang bicara pria yang ia cinta. Hatinya bukan terbuat dari besi. Adalah sulit baginya saat Kenlah yang melukainya.
Berdalih ingin belanja ke pasar, Lucille sengaja membawa pria itu agar bisa jalan-jalan dengannya. Di rumah itu, ternyata sulit baginya bisa bersama dengan Ken. Saat ia kesal, ia ingin pria itu menghiburnya, tapi tak mudah. Hanya berjalan-jalan di pasar itulah, walau pria itu tidak bicara apa-apa, asalkan bisa berjalan-jalan bersamanya, wanita itu sudah merasa terhibur. Karena cinta, ia tak sanggup melepaskan pria itu.
------------+++-----------
Baru saja Ken keluar dari kamar mandi ketika didengarnya jendela kamar seperti diketuk seseorang. Ia menoleh dan melihat kucing kuning itu di sana. "Oh, Gojo." Ia membuka jendela dan membiarkan kucing itu masuk ke dalam kamar.
"Uuuh, dingin di luar menjelang malam."
Ken tersenyum lebar. Setelah menutup jendela, ia menggendong kucing itu dan meletakkannya di atas ranjang. Ia menyelimuti tubuh kucing itu dengan selimut tebal. "Mmh, bagaimana perasaanmu?"
"Mmh, menyenangkan. Hangat." Kucing itu menggosok-gosok tubuhnya pada selimut itu.
__ADS_1
Pria itu membiarkan kucing itu terus bergelung dalam selimut itu. "Mmh, kau sudah makan?"
"Sedikit. Aku lapar lagi."
"Baiklah, aku akan ambilkan dari dapur." Ken segera keluar dan tak lama kembali dengan sepiring apple pie dan segelas jus. "Apple pie-nya tadi aku hangatkan di kompor jadi pasti hangat di perut."
"Wah ... terima kasih." Kucing yang telah berubah menjadi pria berambut keriting itu, meraih piring yang disodorkan Ken, dan langsung memotong pie itu. Ia mencicipinya. "Rasanya lezat, atau memang aku yang sedang kelaparan?"
Ken tertawa saat bokongnya mendarat di tepi ranjang. Namun kemudian ia memperhatikan pakai pria China itu. "Hei, kau memakai pakaianku ya?"
"Kita seukuran hanya bajumu sedikit sempit." Terlihat baju kaos putih yang dipakai Gojo ketat di bagian dada.
Pria itu merengut dan pura-pura hendak memukul Gojo membuat pria berambut bergelombang itu tertawa terkekeh. Gojo menghabiskan makanannya dan kemudian menarik selimut untuk tidur.
"Gojo, apa kau tak bisa menjadi kucing lagi!?Tempat tidurku jadi sempit kalau begini," protes Ken.
Pria Cina itu berbalik memunggungi Ken. "Sudahlah. Seharian aku harus berada di luar sana. Coba aku mohon, biarkan aku tidur nyaman saat malam di kamar ini."
"Tapi aku juga seharian bekerja dan baru kembali malam juga."
Gojo berbalik. "Kau tidak mau aku di sini? Kalau tidak, aku balik kembali saja." Ia pura-pura beranjak berdiri tapi kemudian di tahan Ken.
"Eh, jangan ... Gitu aja ngambek."
Pria China itu memperhatikan wajah Ken dan menunjuknya. "Kau rindu padaku 'kan?"
Pria Jepang itu menepis jari Gojo. "Ih, menggelikan."
Keduanya tertawa.
__________________________________________
__ADS_1