Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Tidak Tahu


__ADS_3

"Wah, bagaimana ini?" tanya pria Cina itu pada temannya.


"Aku tidak tahu. Bagaimana kalau kita bawa masuk saja dan berikan orang ini pada Suhu?"


"Mmh, begitu ya? Ayo!"


Ken yang pingsan kemudian digotong dan dibawa masuk ke dalam gedung itu. Suhu itu, lelaki tua yang menerima Ken, kemudian memeriksa tubuhnya.


"Di mana kalian menemukannya?" tanya pria tua itu. Pria berjanggut panjang berwarna putih itu dengan rambut yang juga memutih di kepala, memeriksa nadi pria Jepang itu.


"Di depan gedung ini, Suhu," sahut salah satu dari mereka.


"Benarkah? Kondisi tubuhnya tidak prima seakan kekuatan tubuhnya melemah demi melawan sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Mungkin dia pernah diracun tapi racunnya keluar dan belum sempat memulihkan diri, ia sudah terlanjur pergi."


Para pria anak muridnya itu saling berpandangan.


"Berarti, apa mungkin dia habis melakukan perjalanan jauh, seperti dari Jepang ke sini begitu, Suhu?" tanya pria tadi.


"Tidak mungkin habis perjalanan jauh, sebab tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan itu. Apa kalian melihat ada orang lain lagi di sana?"


"Tidak, Suhu. Di luar masih sepi."


"Mmh, tempat ini adalah daerah pegunungan. Tidak sembarangan orang bisa lewat sini. Berarti kita harus menanyainya ketika dia bangun nanti. Kita tunggu saja ia siuman."


"Baik, Suhu."


Setengah jam kemudian, Ken terbangun. Ia memandang bingung pada sekelilingnya. Di mana aku? Ia mencoba mengangkat kepala tapi kepalanya masih terasa pening. "Ah ...!" Ia menyentuh kepalanya dengan mata setengah terpejam.


"Oh, kau sudah bangun?"


Pria Jepang itu melirik ke samping. Seorang pria tua dengan rambut dan jenggot panjang yang sudah memutih, duduk dengan pakaian haifu di samping sebuah meja bulat, di dekat pintu masuk. Rambutnya yang panjang dikuncir setengah ke belakang. "Kau bisa bahasa Cina?"

__ADS_1


"Ah, eh, iya," jawab Ken kebingungan.


"Bagus." Pria tua itu berdiri dari duduknya. "Tapi kenapa kau begitu nekat datang ke sini dengan berpakaian Jepang seperti ini? Kau tak takut ditangkap orang China dan dijadikan tawanan? Masih bagus dijadikan tawanan. Bagaimana kalau kau dihajar di tengah jalan?"


"Ah, eh, mmh." Pria Jepang itu kebingungan menjawabnya. Ia tidak dalam kondisi prima sehingga ia tidak bisa berpikir. Yang ia tahu, ia tidak tahu kenapa harus berpakaian Jepang datang ke situ sedang ia mendatangi daratan China. Seakan ia sedang mendatangi sarang penyamun dan ia mengantarkan nyawanya sendiri. "Maaf. Maaf aku merepotkanmu," sesalnya sambil menunduk.


Pria tua itu mendatangi Ken ketika melihat wajah pria Jepang itu masih saja pucat. "Apa kau terkena racun hingga lari ke sini?"


Ken mengangkat kepalanya pelan. "A-aku hanya ingat, temanku sudah mengeluarkan racun itu tapi kemudian ... a-aku tidak tahu bagaimana menerangkannya ini." Ia terlihat bingung.


Melihat pria Jepang itu yang jujur menceritakan kondisinya, pria tua itu kemudian memaklumi. "Ya sudah. Coba kamu geser dulu tubuhmu ke depan."


"Apa?" Ken yang masih bingung, melakukan juga apa yang diperintahkan pria itu. Ia bergeser ke depan.


"Duduk bersila dan tegakkan punggungmu."


Pria Jepang itu menurut.


Pria Jepang itu dengan mata terpejam bisa merasakan gelombang arus hawa yang hangat yang masuk dari balik punggungnya. Arus itu kemudian mulai menyebar ke seluruh persendian tubuh. Arus itu kemudian menyejukkan membuat tubuh pelan-pelan pulih dan menjadi segar kembali.


Tak lama, pria tua itu mengakhiri bantuannya dengan menurunkan kedua tangan dengan ditutup dengan beberapa jurus untuk mengakhiri pengobatannya. Ia bergeser duduk menyamping. "Bagaimana?"


Ken membuka matanya. Walaupun masih sedikit pusing, tubuhnya lebih bugar dari sebelumnya. "Ah, terima kasih, Kek."


"Aku di sini dipanggil, Suhu," tegur pria tua itu.


"Ah, maaf, Suhu." Ken menundukkan kepala. Ia malu telah lancang memanggilnya kakek.


"Tidak apa-apa. Kau istirahat saja. Akan kubuatkan ramuan obat untuk penguat tubuhmu." Lelaki tua itu pun keluar dari kamar itu.


Pria Jepang itu menghela napas. Apalagi yang akan aku hadapi di sini? Ia melihat ruangan itu yang mirip seperti ruangan di rumah Cina kuno dengan beberapa ukiran di beberapa prabotnya yang sangat indah.

__ADS_1


Cinakah ... Ia kembali membaringkan tubuhnya pelan ke atas pembaringan. Apa yang aku harus lakukan di sini? Oh, iya. Suhu tadi, tapi apa dia guru pengobatan? Apa aku akan belajar pengobatan Cina di sini? Tidak apa-apa. Aku juga tertarik jadi dokter, jadi, kenapa tidak. Aku akan senang bisa mempelajarinya.


Tanpa sadar, karena kondisi tubuh telah membaik, Ken cepat tertidur hingga seseorang membangunkannya kembali. "Mmh?" Matanya terbuka pelan. Ia terkejut karena pria tua itu sudah berada di dekatnya dengan membawa semangkuk minuman herbal. Segera ia duduk agar terlihat lebih sopan. "Maaf, maaf. Maaf, Suhu."


Pria tua itu duduk di tepi tempat tidur sambil menyodorkan semangkuk obat pada Ken. "Minumlah." Ia membantu meminumkan obat itu padanya.


Ken merasakan pahit sehingga sempat terhenti di awal.


"Ini akan membantumu untuk cepat sembuh seperti sediakala," ucap pria itu dengan lembut.


Pria Jepang itu mau tak mau meminumnya lagi dengan cepat, sampai tandas. Ia merasakan lidahnya yang getir di akhir tapi ia tahan sehingga wajahnya saat menahan pahit terlihat jelas. "Ahhh."


Pria tua itu tersenyum lebar. "Bagus. Tidurlah. Nanti akan aku buatkan bubur untukmu."


Ken melirik pria tua itu. "Suhu, kenapa kau baik sekali padaku, padahal kau tidak mengenalku dan aku bangsa Jepang. Aku bahkan tidak ingat alasan kenapa aku di sini," ucap Ken sedikit berbohong.


"Jangan pikirkan itu. Aku pun jika tersesat di negeri orang juga pasti berharap begitu. Sudahlah, tidur saja." Setelah itu pria tua itu membantu menyelimuti Ken untuk tidur kembali. Kebaikhatian pria tua itu menerbitkan harap pria Jepang itu seandainya ia punya kakek.


"Terima kasih telah menolongku. Aku tak tahu, tanpa kau, aku akan jadi apa."


Suhu itu menyentuh bahu Ken. "Anggap saja, kau sedang beruntung."


Ken mengangguk. Setelahnya, ia tak dapat tidur lagi. Kondisi tubuh yang membaik ditambah terlalu banyak tidur membuat ia ingin sekali keluar tapi kalau ia keluar, apa orang-orang dilingkungan itu akan menerimanya? Ia masih ingat, sebelum pingsan tadi, ia sempat bertemu segerombolan pria yang langsung mengelilinginya. Apa Suhu telah menyelamatkannya dari serbuan pria-pria itu? Inilah yang ia tidak tahu.


Namun tetap saja ia penasaran. Ken menggeser kakinya dan coba menjejakkannya di atas lantai. Ia mencoba berdiri. Ternyata ia masih merasa tubuhnya limbung. Akhirnya ia kembali ke atas pembaringan.


Tiba-tiba terdengar bunyi mencurigakan di atas atap. Ken tidak tahu harus bereaksi apa. Tak lama terdengar keributan di luar sana. Ia masih bingung harus bagaimana sehingga ia menunggu. Tiba-tiba pintu kamarnya didobrak seseorang berpakaian ninja hitam dengan wajah tertutup setengah. "Oh, ada orang Jepang di sini."


Ken segera tahu bahwa orang itu adalah orang Jepang dari pakaiannya, tapi ada apa sebenarnya? Kenapa ada keributan di luar sana dan seorang ninja menerobos kamarnya? "Eh ...."


____________________________________________

__ADS_1



__ADS_2