
Ken langsung berdiri dan menarik Mira pindah ke belakang tubuhnya saat ikut berdiri. "Ah, Kak Ejiro."
"Mira! Ayo pulang bersamaku," ucap mantan samurai itu dengan suara tegas.
"Kak, aku sudah tidak mau sembunyi-sembunyi. Restui saja kami," ujar Ken memohon.
"Kalau aku bilang tidak, tidak! Nah, serahkan Mira padaku." Wajah Ejiro menyorot tajam pada pria itu sambil menyodorkan tangannya.
"Kenapa kita jadi begini? Bukankah kita dulunya berteman? Apa yang kurang dariku hingga kau tak merestui pernikahan kami? Katakan biar aku bisa merubahnya," bujuk Ken.
Mira masih bersembunyi di belakang tubuh sang raja sambil sesekali mengintip kakaknya berbicara dengan Ken. Ia sangat khawatir. Ia sangat khawatir kalau Ejiro kali ini akan mencoba menikahnya kembali dengan orang lain lagi yang tidak ia kenal, dan ia tidak akan bisa menikah dengan pria pujaannya itu.
"Aku boleh 'kan tidak merasa yakin denganmu, karena aku kakaknya?"
"Eh, katakan tentang apa?" Ken bingung mendengarnya.
Pria berambut panjang yang dikuncir satu ke belakang itu menghela napas kasar sambil melipat tangannya ke depan. "Kau peragu, padahal kau laki-laki yang butuh tegas dalam bertindak."
Mira mengeluarkan kepalanya dari samping tubuh sang raja. "'Kan ada aku, Kak. Aku bisa membantunya berpikir. Dua kepala lebih baik dari pada satu 'kan? Bukan begitu?"
Dilihatnya Ejiro melotot karena ia ikut campur dalam pembicaraan keduanya. Wanita itu akhirnya kembali sembunyi dibalik tubuh Ken dengan wajah merengut kesal.
"A-aku terbuka untuk dikritik, dan akan mencoba berubah. Aku memang tidak sempurna tapi bukan berarti tidak bisa berubah. Apa ada lagi dari diriku yang tidak menyenangkanmu?"
"Pekerjaanmu itu yang tak pasti. Harus sering meninggalkan orang-orang terdekatmu dalam waktu yang lama."
"Lho, aku 'kan dipilih oleh ayahmu, Kak Ejiro, untuk melakukan tugas-tugas membuat bumi ini damai dari orang-orang setengah dewa yang ingin merusaknya. Aku bahkan tidak bisa memilih. Kau 'kan anaknya, sebagai teman, kenapa tidak kau usulkan saja itu pada ayahmu." Ken bahkan meminta tolong mantan samurai itu untuk membantu, sambil melipat tangan di dada.
Saat Ejiro ingin berbicara lagi, seseorang datang tepat waktu. "Ejiro, kenapa kamu tidak ingin adikmu menikah dengan Ken? Kurasa Ken punya segala-segalanya yang diinginkan Mira." Dewi Sri datang ke dalam tenda itu.
"Oh, Dewi Sri." Kakak Mira itu menundukkan kepalanya.
"Ibu." Ken terkejut.
"Mami!" Mira berlari dan meraih lengan wanita itu. Ia memeluk lengan itu dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang dewi.
"Tapi aku menyangsikan Ken bisa membahagiakan Mira, Dewi. Maaf, aku harus jujur."
"Apa cinta saja tidak cukup? Mereka saling menyayangi. Bukankah kau pernah merasakan tidak enaknya punya orang tua? Bukan karena aku orang tuanya, tapi aku yakin keduanya pasti akan berusaha membesarkan anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang. Lagipula, sejak kecil mereka sudah dijodohkan."
__ADS_1
"Apa? Dijodohkan?" Ken kembali terkejut, begitu pula Mira dan Ejiro.
Dewi tersenyum melihat keterkejutan mereka bertiga. "Iya? Memangnya kenapa Mira bisa jadi tentara ibu? Segala yang digariskan takdir pasti bertemu, bagaimanapun susahnya mereka terpisah."
"Jadi, aku dijodohkan ketika aku eh, ... umur berapa Ibu?" tanya sang raja kebingungan.
"Ketika kamu lahir Ken. Dewa matahari melihatmu dan dia begitu senang sehingga ia bicara padaku tentang sebuah janji. Kalau suatu saat ia bertemu dengan wanita yang dicintainya, bila anaknya lahir perempuan, ia ingin menjodohkannya padamu."
Ken melongo. Mira yang berdiri di samping Dewi Sri pun hampir tak percaya. Ejiro kini bingung mendengar penuturan ibu Ken.
"Nah, Ejiro. Apa kamu masih punya alasan untuk tidak merestui pernikahan mereka?"
"Aku ingin Ken punya pekerjaan tetap selain berpindah dimensi yang tidak jelas ini," gumam Ejiro pelan. Keinginan untuk memisahkan mereka sepertinya tinggal harapan. Setidaknya ia mengucapkan apa yang menjadi beban pikiran.
Kini Mira berani mendekati kakaknya Ejiro dengan bertelak pinggang di depannya. "Memang Kak Ejiro pikir Kak Ken orang miskin. Iya? Dia orang kaya, Kak, orang kaya! Lihat!" Ia meraih tangan Ken dan mengetuk-ngetuk punggung tangan pria itu. Terlihat koin emas berjatuhan dari telapak tangan Ken ke lantai. Ejiro dan Dewi Sri melongo.
"Wah, banyak ya?" Dewi Sri membelalakkan mata melihatnya karena koin emas itu terus berjatuhan. "Sebanyak apa ini?"
"Sebesar kapal perompak, Mami!" seru Mira kegirangan.
"Wah, banyak sekali," sahut sang dewi sambil tersenyum.
"Hah, sudahlah! Terserah kamu saja," ucap Ejiro pada akhirnya.
"Eh, benar, Kak? Terima kasih!" Wanita muda itu hampir terlonjak senang dan menatap Ken dengan pandangan terkejut lalu tersenyum lebar. Pria itu pun tersenyum bahagia.
"Kalau begitu, kita harus persiapkan untuk acara pernikahannya," sahut Dewi Sri lagi.
"Betul, betul!" Mira setuju dan mereka berempat melakukan rapat mengenai hal itu.
Di luar tenda suasana sunyi. Angin bahkan tak bertiup karena Dewi Sri menghentikan waktu. Entah berapa lama malam telah terhenti tapi ketika waktu mulai bergerak lagi, keempat orang itu telah pindah dimensi.
-------------+++------------
Ryu menatap wanita muda di depannya. "Kau ... Mira?" tanyanya tak percaya. "Gadis kecil yang sering mengikuti anak-anak panti bermain. Kalau gak diajak malah nangis."
Mira menahan tawa dengan senyum lebarnya.
"Yang sering mengadu karena tak punya sepatu, padahal belum sekolah dan tertidur dipelukan Bapak setelah selesai menangis, iya 'kan?"
__ADS_1
Wanita itu kembali tersenyum lebar. Ia menampakkan wajah malu-malunya pada Ryu karena ia tak ingat semua memori masa kecilnya. Ia berdiri di samping Ken yang mendampinginya menemui ayah pria itu.
Pak Ryu, ayah Ken menatapnya dengan mata terbuka lebar. Ia benar-benar takjub melihat perubahan ini. "Aku memang tak begitu mengerti dunia kalian tapi kalian memang benar-benar nyata," ucapnya lagi. Ia melirik anaknya. "Jadi kalian akan menikah di sini?"
"'Kan aku ingin pernikahanku dihadiri Ayah. Iya 'kan, Bu?" Ken melirik ibunya yang berdiri di samping Ryu.
Wanita itu tampak bahagia apa lagi bertemu dengan suaminya. Ia menggandeng suaminya dan tersenyum mesra. "Tentu saja. Sudah lama 'kan kita tidak bernostalgia?" tanyanya pada Ryu.
Pria itu malah terlihat gugup menjawab pertanyaan istrinya. "Eh, i-iya."
"Ayah enak sudah sah, 'kan aku belum," goda Ken pada ayahnya.
Ryu menggaruk-garuk kepalanya. "Wah, anak sekarang memang ya? Berani, bilang tidak tahan." Komentar Ryu yang geleng-geleng kepala.
"Wah, berarti Ayah sekarang sedang tidak tahan, tapi tidak berani ngomong sama Ibu ya?" ucap sang pria muda sedikit lantang.
Dewi Sri tertawa sedang pipi Ken dicubit keras-keras oleh ayahnya. Mira hanya tersenyum kecil.
"Aduh, Ayah sakit ...." Ken mengusap-usap pipinya yang memerah.
"Rasain ....” Ryu pun terkekeh.
"Sini, Kak Ken, sakit ya?" Mira mengusap-usap pipi prianya.
Ryu masih takjub melihat Mira dan keduanya. "Mereka beda umur yang jauh tapi lihat sekarang, mereka terlihat seumuran."
"Lho, memangnya kita tidak?" sahut Dewi Sri.
Pria itu menoleh pada wanita di sampingnya yang sudah lama tak pernah terlihat. Ada kerinduan yang lama terpendam yang kini mengeluarkan kekuatannya. "Eh?"
"Aku 'kan umurnya sudah ratusan tahun, Ryu."
"O ya?" Ryu terkejut. "Kau sudah ...." Matanya membulat sempurna.
"Tapi karena cinta, semua terlihat sempurna."
____________________________________________
__ADS_1
Visual Mira yang mendatang panti asuhan tempat ia tinggal sewaktu kecil. Salam, ingflora💋