
"Ow, jangan salah sangka. Kami datang membawa pesan perdamaian." Salah satu dari pria itu maju dan membungkuk dengan menyatukan tangan di depan wajah.
Ken memperhatikan keempat pria itu memakai baju biksu di balik baju dinginnya yang pendek. Kepala mereka juga botak di bawah topi dingin biksu mereka, sehingga Ken meyakini mereka memang benar adalah biksu. "Tolong aku! Dia tidak mau melepaskan aku sama sekali," teriak Ken.
"Warghh!!" Makhluk itu terlihat marah pada Ken karena berbicara pada keempat orang asing itu. Suaranya yang menggelegar itu menghembuskan napas kencang ke atas kepala pria itu hingga rambut pria itu berkibar-kibar saat makhluk itu marah.
"Sabar ya? Yeti ini betina dan baru kehilangan anaknya makanya saat bertemu denganmu ia sepertinya menyukaimu," terang salah satu biksu yang berada di belakang.
"Apa?" Ken menoleh pada makhluk itu. Bagaimana aku tahu dia betina atau bukan? Namun kemudian wajah pria itu memerah saat menyadari dada makhluk itu penuh. Karena tertutup bulunya yang lebat hingga ia tidak menyadarinya. "Jadi aku harus bagaimana?"
Tiba-tiba Yeti memperlihatkan giginya menyeringai marah. Ia memutar tubuhnya agar Ken menjauh dari mereka.
"Tenang ya, sahabat. Tenang. Kami ingin memberitahukan bahwa pria itu harus dikembalikan ke tempat asalnya. Dia tidak berasal dari sini. Keluarganya sedang menunggunya. Tolong kembalikan ia pada kami," bujuk biksu yang berdiri paling depan. Ia bergerak perlahan mendekati makhluk itu.
Makhluk yang bernama Yeti itu hanya meliriknya dengan wajah bengis, dan tiba-tiba tanpa diduga ia berlari ke arah yang berlawanan. Ken yang berada dalam pelukan makhluk itu merasakan dirinya seperti melayang terbang karena saking kencangnya makhluk itu berlari.
Ken mengintip ke belakang dan ternyata para biksu itu berusaha mengejarnya walau tetap tertinggal jauh karena makhluk itu sangat lincah berlari seperti seekor monyet melewati tebing dan bebatuan besar. Bahkan, para biksu itu tak lagi bisa mengejarnya karena hilang dari pandangan dan makhluk itu akhirnya membawa pria itu ke balik sebuah bukit.
Yeti kemudian menemukan sebuah ceruk untuk mereka beristirahat. Ia masih memeluk pria itu di tubuhnya padahal napasnya sudah tersengal-sengal. Ia kemudian duduk dan mengaso.
"Mmh ...."
Yeti mulai melihat wajah Ken. Ia tahu pria itu ingin mulai bicara padanya. Dengan lembut ia mengusap kepala pria itu.
"Maaf ... a-aku bicara kasar padamu ya?" Ken mencoba berusaha tersenyum pada makhluk yang berwajah menyeramkan itu. "A-aku tidak bermaksud mengasarimu, maaf."
Ia menelan ludahnya. Mungkin cara satu-satunya adalah bicara dari hati ke hati pada makhluk ini. "A-aku berterima kasih ... padamu karena ... kamu telah menolongku. Aku bersyukur telah mengenalmu. Kehilanganmu itu ...." Ken tak lagi bisa meneruskan. Ia juga merasakan hal yang sama sehingga ia tak kuasa untuk meneruskan kata-katanya.
Air matanya menitik. Jatuh pelan-pelan. "Aku tahu rasanya kehilangan ... rasa bersalah dan rasa kesepian dan rasa kesepian itu yang menyakitkan. Seolah dunia tak adil padamu. Kenapa harus kamu yang merasakan kehilangan ini."
Yeti kembali mengusap kepala pria itu tapi bedanya, kini makhluk itu menangis. "Hohhh!!" teriak Yeti membuat dinding-dinding ceruk itu bergetar. Tangisannya sangat menyayat hati.
Ken menyentuh bahu Yeti, menepuk-nepuknya, menenangkan. Ia tahu bagaimana getirnya merasa kehilangan orang yang disayangi dan ia butuh bahu untuk bersandar.
__ADS_1
Ken berusaha memeluk Yeti semampu yang tangannya bisa gapai dan menyandarkan kepalanya pada tubuh makhluk itu. Mereka saling berpelukan, untuk sesaat.
Ken kemudian mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah pilu Yeti itu. "Aku tahu ini menyedihkan, tapi apa selamanya aku harus ikut denganmu? Aku tak tahu cara hidup sepertimu. Apa ... bisakah aku pergi?"
"Waoh ...!" Yeti meraung pelan dan menatap Ken. Raut wajahnya dipenuhi kesedihan. Kembali ia mendekap erat pria itu dan mengusap kepalanya. Pelan tapi pasti, makhluk itu melepas Ken.
"Terima kasih."
Tiba-tiba makhluk itu kembali mendekat dan memeluk Ken tapi secepat itu pula makhluk itu pergi dan meninggalkan Ken sendiri. Yeti bergerak dengan sangat cepat dan lincah hingga dalam waktu sebentar saja, ia sudah berdiri di pinggir bukit melihat pria itu untuk terakhir kali dan menghilang dibaliknya.
Angin dingin bertiup di puncak itu saat Ken berjalan menuruni bukit. Poninya yang sedikit panjang, melambai ditiup angin.
Dari kejauhan terlihat rombongan para biksu yang sempat berbicara dengannya tadi. Mereka bergembira karena Ken dapat lepas dari kungkungan Yeti yang menahannya.
"Bisakah Anda ikut dengan kami? Pimpinan kami, Dalai Lama ingin bertemu dengan Anda," tanya seorang biksu pada Ken saat mereka bertemu.
"Mmh, baiklah." Lagipula Ken tidak tahu arah tujuannya kini, karena ia melompat ke jaman itu tanpa sebab yang jelas. Namun, kembali ia mempertanyakan pertemuan itu saat melihat mereka berjalan menuju ke sebuah bangunan besar dan megah di atas sebuah bukit kecil ketika mereka menuruni bukit. "Apa kita akan ke sana?" Ia menunjuk bangunan besar yang ada di depannya.
"Ya, kita akan ke sana," ujar salah satu biksu.
"Istana Potala."
Langkah Ken segera terhenti. "Apa? Istana? Se-sebenarnya aku akan bertemu siapa?"
"Dalai Lama, Tuan. Apa Tuan tidak tahu?"
"Tidak. Apa itu?"
"Dalai Lama adalah raja dan pimpinan tertinggi keagamaan kami."
"A-apa?" Ken terkejut. "Kenapa orang seperti itu mencariku?"
"Maaf, Tuan kami tidak tahu." Biksu itu menyatukan tangannya dan menunduk.
__ADS_1
"Eh, kamu tidak usah begitu terhadapku." Ken menggoyang-goyangkan tangan. Ia merasa bukan orang hebat yang mesti dihormati berlebihan seperti itu.
Setelah menuruni bukit udara mulai terasa panas. Para biksu mulai membuka jaketnya.
Tak lama mereka sampai ke istana lalu langsung masuk dan menghadap seorang pria. Pria itu juga berpakaian biksu, dan berkepala botak, tak ada bedanya seperti yang lainnya, tapi semua biksu yang datang bersama Ken memberi hormat padanya. Ken pun akhirnya juga memberi hormat pada pria itu.
Pria yang disebut Dalai Lama itu berpakaian sederhana dan duduk di sebuah bantal. Ia segera berdiri menyambut Ken saat pria Jepang itu memasuki ruangan. Pria itu memindai tubuh Ken dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Ken hanya bisa menundukkan kepala karena sungkan. Walau berpenampilan sederhana, ia sebenarnya sedang berhadapan dengan seorang raja.
"Maaf mengganggumu untuk datang kemari tapi kedatanganmu memang sudah ditakdirkan begitu."
"Mmh, apa?" Ken terlihat bingung.
"Kami butuh bantuanmu."
"Bantuan?" Ken semakin bingung karena ia hanya orang biasa, kenapa seorang raja meminta tolong padanya?
"Aku minta kau mengumumkan bahwa kaulah satu-satunya orang yang masih hidup dari kapal terbang India yang kecelakaan itu dan kamu tidak melihat apapun kecuali bangkai kapal dan orang-orang yang sudah mati."
"Maksudnya?"
"Jangan ceritakan tentang Yeti. Yeti adalah milik rakyat kami. Sebagian orang menganggapnya legenda dan biarkan itu seperti itu adanya. Kau boleh bercerita tentang apa saja tapi jangan cerita tentang Yeti kami karena mereka akan mengeksploitasinya."
"Oh," jawab Ken lugu.
"Sebentar lagi akan ada yang menjemputmu."
"Apa? Siapa?"
Belum selesai Ken dari keterkejutannya, terdengar suara derap langkah orang bergegas memasuki ruangan yang besar itu. Dari jauh terlihat rombongan orang berpakaian baju Tibet dengan dipimpin oleh seorang wanita di depannya.
Ken terkejut ketika melihat wajah wanita itu. "Oh, kau ...."
__ADS_1
___________________________________________