
Ia mengucek matanya sebelum turun dari ranjang. Sambil berpikir apa yang ingin ia kerjakan, pemuda itu bergerak ke pintu dan melangkah keluar.
Di luar, ternyata orang-orang mulai turun ke lantai 1 untuk sarapan. Irish melihat Ken berdiri di dekat pagar di lantai 2, langsung memanggilnya. "Ken, ayo turun sarapan!" Ia melambai-lambaikan tangannya.
Pemuda itu sambil merapikan rambutnya yang berantakan, menuruni anak tangga. Ia mendekati meja makan sambil menoleh ke arah sofa tempat ia membaringkan Vicky dan pria itu masih tidur di sana.
"Ini sarapanmu pagi ini." Irish menyodorkan bungkusan beserta segelas kopi dalam gelas plastik.
"Mmh." Ken menarik kursinya. Ketika duduk, ia baru menyadari, ia mendapat kopi. "Apa ini? Kopi?" Air mukanya menunjukkan rasa tidak suka. "Apa tidak ada coklat hangat atau jus dingin?"
Jack, Ben, Irish dan Devan yang sedang sarapan, memandanginya.
"Kenapa tidak sekalian minta susu coklat saja?" ledek Devan, si pria dengan kacamata.
"Aku 'kan tidak setua itu, harus minum kopi."
Komentar pemuda itu kembali mendapat lirikan tajam dari mereka yang tengah semeja bersamanya. Ken terpaksa diam. Ia menarik bungkusan di hadapannya yang terasa hangat. Ada sandwich roti croissant isi daging yang berukuran besar. Ia mulai menggigitnya.
"Hari ini kau akan latihan lagi Ken, tapi tak lama," ujar Irish.
"Tapi kita akan meeting dulu sebentar, karena waktunya sempit," sela Jack. "Aku harap, nanti malam kau sudah siap," ucapnya pada Ken.
Pemuda itu menghentikan makannya. "Apa? Nanti malam? Apa tidak terlalu cepat?"
"Memang ini untuk acara nanti malam, jadi, tidak bisa tidak, kau harus sudah siap."
"Apa? Aku ini bukan robot." Pemuda itu menatap semua orang di depannya. "Apa aku harus mencuri permata lagi di musium lainnya?"
"Tidak, ini sama sekali berbeda. Aku akan memasukkanmu ke sebuah rumah mewah dengan pengawasan yang ketat. Tak ada yang bisa masuk ke rumah itu dengan mudah, demikian juga kita, tapi nanti malam rumah itu akan mengadakan pesta sehingga keamanan rumah itu diperlonggar. Kau akan masuk saat pesta dan mengambil barang di brangkas."
Ken menggaruk-garuk kepalanya. "Kau sudah gila apa, menggantungkan masalah sulit ini padaku?" Pandangannya nanar seketika. "Cari orang lain saja!" Pemuda itu segera berdiri, tapi Irish menahan lengannya.
"Kami sudah mempertimbangkan dengan matang, kau pasti bisa melakukannya," sahut wanita itu.
Ken menepis tangan wanita itu dan hendak pergi.
__ADS_1
"Kau tak bisa menolaknya karena kamu anggota kami," ucap wanita itu dengan santai.
Pemuda itu kesal. Ia kembali, tapi hanya untuk mengambil sarapannya lalu pergi. Ia menghabiskan sarapan itu di kamarnya.
Baru saja ia selesai mandi, wanita itu menghampiri. Wanita itu sudah kembali seperti biasa, berada di dalam kamarnya tanpa permisi. Sepertinya pemuda itu memang tidak bisa punya privasi.
"Ayo, sekarang kita latihan."
Ken terpaksa mengikuti wanita itu ke sebuah ruangan. Itu ruang pertama kalinya ia pernah latihan. Apa ia harus mengulang latihannya waktu itu?
Pintu dibuka dan di dalam ruang itu lampu sudah menyala, dengan gorden yang tertutup di tiap jendelanya. Di salah satu sudut ruangan ada meja dengan sebuah kotak besi ditaruh di atasnya. Mereka mendatangi meja itu.
"Kau akan belajar membuka brangkas ini sekarang." Wanita itu menarik kursi yang berada di samping.
Ken menarik kursi yang berada di depan dan duduk menghadap kotak besi itu.
"Brangkas ini terkunci dan harus tahu nomor kuncinya agar bisa dibuka, tapi bisa juga terbuka dengan mendengarkan dari dekat saat nomornya diputar." Irish berdiri dari duduknya dan mencoba membuka pintu brangkas. " Nah, seperti ini 'kan terkunci." Ia beralih pada besi bulat di tengah pintu. "Kamu harus memutar ini untuk menemukan nomor kuncinya agar pintu bisa dibuka. Nomornya ada 10 angka."
"Wah, banyak sekali." Ken terkejut.
"Tapi kau tak perlu menghapalnya kalau kau bisa membuka pintu ini dengan hanya mendengarkan bunyinya."
"Kau bisa pakai alat ini." Wanita itu menyodorkan alat kedokteran yang sering dipakai dokter.
"Stetoskop?" Pemuda itu mengerut kening. "Tunggu." Ia berdiri dan lalu meletakkan telinganya menempel pada pintu besi itu. Ia kemudian memutar besi bulat di tengah pintu besi itu. "Aku bisa mendengarnya."
"Ok. Sebaiknya kamu putar dulu ia ke angka nol."
Ken menurut.
"Setelah itu, bukalah!"
Pemuda itu kembali menempelkan telinganya pada pintu besi itu. Pelan-pelan ia memutar besi bulat itu ke kanan hingga terdengar bunyi besi bergeser. "Satu."
"Ok ...."
__ADS_1
Walaupun halus, pemuda itu masih bisa mendengarnya. Ia kembali memutar besi bulat itu sampai ia mendengar suara besi bergeser lagi. "Dua."
Irish tersenyum.
Ken terus melakukannya hingga pada angka terakhir. "Sepuluh." Ia kemudian membuka pintu itu dengan mudahnya. "Oh, begitu." Pemuda itu kembali duduk.
"Tapi suaranya sangat halus, Ken. Kalau kau berada di ruangan yang sepi sih tidak apa-apa, tapi kita akan pergi ke sebuah pesta. Sunyi itu adalah permintaan yang mustahil." Wanita itu menyodorkan alat stetoskop itu pada Ken.
"Nanti saja. Eh, bagaimana kalau kuncinya sistem tombol?"
"Tombol?"
"Iya."
"Tapi setahuku, brangkas ini tidak ada yang sistem tombol."
Eh, sekarang tahun berapa sih? Belum ditemukan yang sistem tombol ya? "Oh, begitu? Eh, aku hanya memberi kemungkinan saja," elak Ken.
"Mmh, sebentar lagi kita akan meeting. Setelah itu kita akan bersiap-siap pergi." Wanita itu kembali menyodorkan alat itu.
"Ahhh ...," gerutu pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya sambil menerima stetoskop itu. Kenapa waktu begitu cepat, hah .... Ini tidak adil. Untuk khawatir saja, aku tidak punya waktu.
Mereka kemudian kembali keluar kamar. Ternyata, orang-orang masih berkumpul di meja makan. Hanya bedanya, ada Vicky di sana sedang ikut sarapan atau entah makan siang karena waktu sudah semakin bergeser ke siang hari. Pria bule itu menatap ke atas, ketika orang-orang yang mengajaknya bicara menatap ke arah Ken dan Irish di lantai 2.
"Kau benar pergi ke bar semalam itu?" tanya wanita itu pada Ken.
"Mmh? Iya." Pemuda itu melangkah mendahului lalu berbalik dan melangkah mundur. "Aku mau istirahat di kamar dulu. Beri tahu saja kalau akan mulai meeting." Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya yang tak jauh dari sana.
Pemuda itu masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. "Hah ...." Ia meletakkan stetoskop itu di samping. Ken menghela napas dan menatap langit-langit. Kemudian ia teringat sesuatu hingga merogoh kantung celana jinsnya.
Kalung koin yang bolong di tengah itu kini berada di sela-sela jemarinya. Pemuda itu meletakkan di depan dada dan mendekapnya. Tiba-tiba saja ia teringat Mira.
Mmh, entah kenapa aku merasa kita akan bertemu lagi di sana, Mira. Seperti katamu, kita bertemu hari ini. Pemuda itu tersenyum senang.
----------+++-----------
__ADS_1
Meeting kali ini membahas tentang teknis pekerjaan. Ternyata kali ini mereka memasuki rumah seorang milyuner yang tidak saja penjagaan pengawalannya ketat, tapi penjagaan tehnologinya juga cukup canggih, sehingga punya banyak jebakan untuk seorang pencuri.
Peta kondisi di dalam rumah juga diragukan, karena kemungkinan besar sudah dirubah dari denah awal rumah itu.