
Pria itu memperhatikan wanita yang dipanggilnya ibu itu. Ia tak tega melihatnya sedih. "Ibu ... kenapa? Menyesal? 'Kan sudah berlalu, Bu."
Wanita itu menelah ludah sebelum menjawabnya. "Kamu?" Ia masih menunduk dan memainkan jemari Ken.
"Aku berusaha berpikir positif untuk tidak memberikan penilaian apapun yang terjadi di masa lalu. Aku tahu, aku tak di sana dan menghadapinya. Karena itu aku hanya ingin menikmati yang sekarang ada. Aku bersyukur ibu mencariku, bertanda ibu masih peduli padaku dan itu saja sudah cukup bagiku, Bu."
Ibu mengangkat wajahnya dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca. Ia memeluk leher anaknya dengan bangga. Ken pun senang mengetahui isi hati ibunya.
Setelah melepas pelukan, dewi Sri menghapus air matanya. Ken membantunya.
"Tolong belikan ibu kola dingin ya? Sama roti mungkin."
"Ok!" Ken tersenyum dan segera meluncur turun.
Dewi Sri memperhatikan anaknya yang pergi ke tempat penjual makanan terdekat. Ia begitu bangga pada anak satu-satunya itu. Kau mirip Ryu, Ken. Ayahmu. Sangat perhatian. Ibu sayang padamu.
Ken kembali lebih cepat. Ia menyodorkan bungkusan itu dan lalu naik ke atas. "Ibu lupa, Ibu belum menjalankan waktu. Jadi waktu aku ke sana, mereka belum bergerak, Bu. Aku terpaksa mengambil sendiri minumannya dan roti dan mengurus uangnya kembalian sendiri."
Dewi Sri tertawa.
"Aku bahkan memotong antrian. Mungkin mereka akan bingung dengan jumlah barang yang ada, karena sudah berkurang."
Wanita itu tertawa semakin kencang. Obrolan mereka kemudian mengalir begitu saja.
Ken meminum orange juice sambil melihat sekitar. Namun karena waktu dihentikan, bukan hanya pohon yang tidak bergerak, bahkan mobil di luar pun tidak bergerak sama sekali. Benar-benar seperti kota hantu. "Apa aku bisa melakukannya?" tanya pria itu penasaran.
"Apa? Menghentikan waktu? Entahlah. Kau mau coba?" Ibu menoleh.
"Apa yang aku harus lakukan?"
Dewi itu menatap Ken seperti merasakan sesuatu. "Rasanya kau belum bisa, Ken."
"Kenapa?"
"Aku melihat energimu belum penuh."
"Benarkah, tapi bagaimana caranya supaya penuh?"
"Ya, kau temukan wanita itu."
"Siapa? Yumi?"
"Bukan, orang yang kau cinta. Kalau kau menemukannya, energi dewamu penuh."
__ADS_1
"Benarkah, tapi bagaimana cara menemukan wanita itu?"
"Lewat perasaan, Ken. Perasaan bahwa dia wanita yang tepat untuk dicintai. Wanita yang ingin kau lindungi dan ingin berada di sisinya selamanya."
"Tapi aku belum pernah menemukan wanita seperti itu, Bu."
Dewi Sri tersenyum. "Kau pasti akan menemukannya, Ken. Pasti." Ia menepuk-nepuk tangan anaknya.
Tiba-tiba pria itu teringat sesuatu. "Oh, iya. Ibu tahu 'kan, aku kerja di sirkus. Ibu jenguk aku dong di sana sekali-sekali!" Ken tahu, sang ibu pasti lebih tahu apa yang dikerjakannya saat ini karena tentaranya, Mira tahu ke manapun ia pergi.
"Ibu tidak bisa. Kamu hati-hati saja di sana ya? Jangan sampai identitasmu bocor. Mungkin Mira yang akan mewakili ibu datang ke sana."
Ken langsung menggenggam tangan sang ibu dengan gembira. "Benarkah, Bu, Mira datang?" tanyanya memastikan.
"Doakan saja dia bisa datang tepat pada waktunya." Senyum Ibu.
Namun kemudian, wajah pria itu berubah murung. "Iya. Aku menyesal berjanji padanya akan kembali. Padahal pada kenyataannya aku sudah pindah ke dimensi lain."
Senyum sang Dewi masih terukir indah saat melihat anaknya terlihat berbeda ketika bercerita tentang Mira. Ia kemudian memandangi taman itu yang kini seperti lukisan karena terhenti waktu. "Ayo kita kerja lagi. Semangat!" Wanita itu meluncur turun.
Ken meminum dari sedotan, kola terakhirnya dan menyusul wanita itu turun.
"Kau kembali ke sirkus ya, ibu kembali kerja. Kalau ada waktu lagi, ibu tengok kamu." Wanita itu menepuk bahu Ken, memberi janji.
"Iya, iya, iya."
Ken melepas pelukan dan berjalan sejajar dengan sang ibu.
Wanita itu menjentikkan tangannya kembali. "Waktu berjalanlah!"
Seketika, waktu berjalan dengan semestinya. Para pemain skateboard dan sepatu roda terheran-heran karena kedua orang itu sudah melangkah jauh dari tempat itu.
"Ah, syukurlah. Tante itu sadar juga. Yok, main, yok!" ajak pria dengan anting di bibir itu bicara.
Ken terpaksa meninggalkan ibunya karena tak mau diantar. Ia segera pulang. Tentu saja tidak ada yang curiga ke mana ia pergi karena ia menghabiskan waktu dengan ibu pada saat waktu terhenti. Ia pulang sesuai jadwal.
-----------+++----------
"Pak, ini tinggi sekali. Bagaimana ini?" Ken hanya melihat ke bawah. Pasalnya, ia sekarang berada di posisi puncak di tempat Costa dan Lisa biasa latihan. Ia menoleh pada Bill.
"Hanya orang berani yang matinya sekali. Pengecut itu matinya berkali-kali."
"Tapi, Pak ...."
__ADS_1
"Kau mau mundur setelah apa yang kamu sudah upayakan?"
"Bukan begitu, Pak, tapi jantung ini gak kuat."
"Memang kamu ada masalah jantung?"
"Tidak."
"Kamu itu masih muda. Jangan membatasi diri di saat kamu mampu melakukannya. Lakukan saja, tanpa berpikir apa-apa. Terlalu banyak pertimbangan juga menghambat dirimu untuk maju dan punya kemampuan lebih dari ini. Bukannya kemarin kamu bilang gak masalah karena udah biasa gelayutan di tempat tinggi."
"Ini beda, Pak. Ini bukan gelayutan, tapi jalan di atas tali."
"Bedanya apa? Kau 'kan pakai tali pengaman."
"Kalau gelayutan, masih merasa aman tapi kalau berdiri beda lagi."
Bill mengerut kening. "Itu hanya perasaanmu saja."
Ken menelan ludah. Ia masih berpegangan pada besi di sampingnya, lalu menoleh lagi pada pria bule itu. "Bagaimana kalau aku jadi badut saja?"
"Justru kau akan mengenakan baju badut saat melakukannya. Kau tidak hanya berjalan dan naik sepeda tapi kau akan melakukan pertunjukan lucu di atas sini."
"Eh, bukan itu. Aku pakai baju boneka karakter lucu saja."
Bill menatap wajah pria Jepang itu lekat. "Mau sampai kapan kau akan menghindar terus, Ken?Ini sesuatu yang harus kau jalani karena memang pekerjaan inilah yang ada sekarang ini. Kau sedang menggantikan orang dengan pekerjaan ini. Kalau kau tidak mau, carikan orang yang bisa menggantikanmu melakukan pekerjaan ini, apa kau bisa?
Lagipula, kalau kau ingin jadi badut karakter boleh saja. Kau bisa memakainya nanti malam, tapi upahnya kecil." Bill kemudian melangkah menuruni tangga. Ia malas memaksa orang yang tidak ingin melakukan pekerjaannya.
"Aku akan mengurus binatang dulu. Jin Li hari ini akan tampil untuk pertama kalinya untuk pertunjukan dengan macan, menggantikanku," ucapnya tanpa menoleh.
Ken bingung. Ia kemudian duduk di atas besi itu. Ia benar-benar bimbang. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar sebentar agar bisa berpikir tenang.
Ia meminjam motor Bing dan berjalan berputar-putar tanpa arah tujuan hingga tanpa sadar ia mendatangi taman skateboard itu lagi. Pria itu kemudian berhenti di sana dan duduk di taman sambil memperhatikan orang-orang yang sedang bermain skateboard dan sepatu roda. Setidaknya tidak sesak terus-terusan berada di dalam tenda.
"Sendirian, Kak?"
Ken menoleh dan terkejut. "Mira?"
"Kenapa Kakak bengong sendirian di sini?"
Namun Ken begitu gembira hingga berdiri dari duduknya dan menggenggam kedua tangan gadis itu. "Kau akhirnya datang."
__________________________________________
__ADS_1