Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Mabuk


__ADS_3

Lagipula, dibanding Mira, dunianya lebih tidak bisa dipercaya lagi. Manusia setengah dewa? Melompati jaman? Itu semua tidak bisa diceritakan pada manusia normal. Padahal, ia yakin dirinya waras.


Ken kembali fokus pada target di papan dart. Ia mengangkat panah kecil itu dan mengarah ke papan target. Pemuda itu melirik panah di tangan. Panah kecil, mendaratlah di tengah papan dart itu, batinnya. Lalu ia melempar panah itu yang melesat dan langsung menancap di tengah-tengah papan. Ia berhasil! "Yeii!" Pemuda itu meloncat-loncat kegirangan.


Vicky merengut. Alisnya terangkat satu. Bagaimana bisa anak ingusan ini dengan cepat, tahu tehnik melemparnya sedangkan cara melemparnya tadi saja sudah salah.


Ken menatap Mira dengan wajah teramat senang. "Aku bisa ... aku bisa!" Ia memeluk gadis itu sambil masih dengan melompat-lompat. "Terima kasih, Mira!"


Gadis itu pun tersenyum senang.


"Mira?" Kalimat itu keluar dari mulut pria itu.


Ken buru-buru melepas pelukan. "Eh, miracle(keajaiban) maksudku." Ia buru-buru meralatnya.


"Oh."


"Jangan lupa, kau ...."


"Aku tidak lupa." Pria bule itu mengangkat tangannya. Ia kemudian mulai meminum gelasnya sampai habis. Sialan, tapi kali ini kau takkan bisa beruntung 2 kali. "Ayo, yang kedua."


Ken mulai lagi. Fokus dan melirik ke arah panah kecil itu. Saat ia melempar panah itu, benda itu kembali melesat ke tempat yang sama. Bahkan menumpuk karena banyaknya panah yang terkumpul di tengah dengan papan dart sekecil itu.


Pria itu kesal. Bagaimana mungkin pemuda itu bisa beruntung dua kali? "Ok, ok, ok ...." Dengan terpaksa ia meminum gelas bir Ken, padahal satu gelas bir saja sudah cukup membuat tubuhnya kepanasan.


Ia bersusah payah menghabiskan bir itu hingga tegukan terakhir dengan sekali minum. Pakaiannya ikut basah karena terkena tumpahan bir. Ia mengusap mulutnya asal. "Nah, yang berikutnya!" ujarnya geram.


Ken sebenarnya cukup iba dengan pria itu. Sambil melirik Mira yang hanya diam sejak tadi, ia membujuk pria itu untuk pulang. "Eh, apa tidak sebaiknya ...."


Pria itu menyeringai menatap Ken. "Kau takut kali ini kau kalah, mmh? Keberuntungan tidak datang setiap saat, Ken."


"Oh, aku bukan ...."


"Kalau begitu buktikan, kalau itu bukan kebetulan. Kalau kau memang cerdas, dan tidak sebodoh seperti wajahmu itu." Pria itu tertawa. Sepertinya ia mulai mabuk. Ia kembali memesan 2 gelas besar bir.


Ken pun kesal dibilang punya wajah bodoh. Kau akan lihat ini bukan sebuah kebetulan. Ia menyingsingkan lengan kemejanya yang panjang. Kembali ia mengarahkan panah kecil itu pada papan dart. Bedanya, kali ini Vicky mengganggunya.


Pria itu tertawa. "Seberapa hebatnya sih kamu, melempar panah sekecil itu? Kali ini, pasti kau takkan bisa." Ia kembali tertawa.


Sambil menatap pria itu, Ken melempar panah itu dan ... kembali tepat sasaran.


Pria itu melongo. Matanya membulat sempurna. Ia mengucek-ngucek mata, karena tak percaya dengan penglihatannya.


Pemuda itu yang menatap ke arahnya tapi mampu melempar panah itu tanpa melihat? Hanya seorang profesor yang mampu melakukan itu. Ia sendiri bahkan belum bisa melakukan itu sampai kini. "Kau ...." Apakah ia sebenarnya seorang profesional pelemparan pisau?


"Sudah ya, aku ngantuk ingin pulang," pinta Ken.


"Belum karena kita akan memulai lagi dengan yang lain." Vicky mulai berdiri sempoyongan.

__ADS_1


"Aduh ... Kamu saja mabuk bagaimana mau mengerjakan yang lain?" Pemuda itu merengek kesal.


"Tidak, aku tidak mabuk." Namun saat bergerak pria itu hampir terjatuh kalau tidak ditolong Ken bersama Mira.


"Aduhh ...." Ken memegangi lengan pria itu.


"Sebenarnya, kita bisa bermain lempar pisau tapi kita tak punya apel untuk dijadikan sasaran."


"Iya, iya. Bagaimana kalau nanti saja." Ken membantu pria itu duduk.


"Ok, kalau begitu kita lempar panah lagi." Pria itu meminum sedikit birnya.


Ken menepuk dahi, karena pria itu bertahan dengan keinginannya. Diperhatikannya bagaimana pria itu melempar panah kecil itu dan Vicky hebat sekali karena dalam keadaan yang mulai mabuk ia masih bisa melempar panah kecil itu tepat sasaran, bahkan berturut-turut.


Pemuda itu sebenarnya kagum dengan kemampuan pria itu karena itu adalah kemampuan pria itu yang sesungguhnya, beda dengan dirinya yang mengandalkan kekuatan diri.


"Ok, aku sudah selesai. Kini giliranmu."


"Apa tidak sebaiknya ...."


"Jangan banyak menghindar! Kau pasti kali ini tidak bisa melakukannya lagi, iya 'kan?!" hardik pria itu geram.


Ken menoleh ke arah gadis di sampingnya yang juga menoleh kepadanya. Ia mengangkat bahu.


Ia hanya mengulang apa yang ia lakukan tadi dan bisa diduga, pemuda itu bisa melewati rintangan dengan mudah dan pria itu kini harus kembali meminum 2 gelas besar bir di hadapan.


"Kau tidak usah berbaik hati padaku!" Vicky mendorong pemuda itu dengan kasar hingga terjatuh di kursinya. Ia berusaha menerima kekalahan dengan meminum habis 2 gelas bir yang ada di atas meja. "Hah ...." Ia mengusap mulutnya yang basah. Kembali bajunya tersiram bir yang tumpah saat pria itu meminumnya.


"Sudah ya, Vick. Kita pulang," bujuknya.


"Tunggu sebentar aku mengantuk." Ia merebahkan kepalanya di atas meja di atas lipatan tangan.


Ken menoleh ke arah Mira. Masih ia lirik lagi pria itu, yang kepalanya sudah tidak bergerak lagi di atas meja, untuk sekedar memastikan. Ia kembali menoleh pada gadis itu. "Aku bersyukur kau tidak apa-apa. Bagaimana kau bisa keluar dari musium itu?"


Gadis itu tersenyum simpul. "Karena aku adalah aku."


"Hah?"


Gadis itu melebarkan senyum. "Kak Ken, sebaiknya kau kembali pulang dan membawa orang ini." Mira menunjuk pria itu dengan dagunya.


"Tapi kalau aku kembali ...."


"Tidak ada gunanya kakak menghindar karena mereka pasti akan menemukanmu. Kakak juga nanti tidak bisa melompat lagi ke jaman yang lain."


"Tapi setahuku, aku sedang berpikir untuk berlari lebih cepat tapi tahu-tahu aku malah bergabung dengan komplotan pencuri."


"Orang, bisa berlari cepat saat apa?"

__ADS_1


"Mmh ... dikejar an*jing?"


Gadis itu tersenyum. "Betul. Lalu apa?"


"Lalu apa ya?" Ken mengetuk-ngetuk dagunya. "Dikejar-kejar penagih hutang seperti kemarin itu?"


Gadis itu tertawa. "Iya, terus apalagi?"


Sedikit terkejut Ken melihat gadis itu tertawa. Terlihat manis, tapi kenapa sulit melihatnya tersenyum dan tertawa? Gadis itu kebanyakan memberikan ekspresi wajah datar padanya bahkan cenderung dingin.


"Kak Ken!"


"Eh?" Ken tersadar ia tengah melamun. "Iya, apa?"


Gadis itu merengut. "Itu lho! Kamu bisa berlari cepat saat apa?"


"Saat apa ya? Ketinggalan bus?"


Gadis itu kembali tertawa. "Kak Ken, kamu lucu sekali," ucapnya sambil menepuk lengan pemuda itu.


Ken menatap wajah gadis itu yang sangat belia. Gadis itu berusaha berdandan dewasa dengan berpakaian sedikit terbuka di bagian atas hanya agar ia terlihat cocok berada di tempat itu.


Entah kenapa, setiap bertemu dengannya, gadis itu mampu memberikan kegembiraan saat itu juga dengan hanya hadir di situ bersamanya. Mungkin karena mereka berasal dari dunia yang sama. "Aku lelah berpindah-pindah. Ini bukan aku. Bagaimana kalau aku ikut denganmu saja?"


Pertanyaan pemuda itu membuat Mira bingung menjawabnya.


"Bukankah kita sama? Kau juga pasti setengah dewa 'kan, atau seorang dewi seperti ibuku?"


Gadis itu seperti tercekat. "Kak Ken sebaiknya ...."


"Kau jangan menghindar. Kata ibuku, kau akan menjawab semua pertanyaanku." Kini Ken benar-benar penasaran dengan gadis di sampingnya itu.


Gadis itu terdiam. Wajahnya sedikit tegang. "Kakak tahu kenapa aku harus mengikutimu?"


"Tidak. Oh, mungkin karena kau bekerja pada ibuku?"


"Bukan."


Ken mengerut kening.


"Sebab kalau kau tidak menjalani takdirmu, hidupku mungkin tidak akan lama."


"Apa?"


________________________________________


__ADS_1


__ADS_2