Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Pembersihan Kota


__ADS_3

"Eh, Mira kapan akan bertemu denganku, Bu?" tanya Ken hati-hati.


Ibu tersenyum mendengar pertanyaan pria itu. "Mungkin sebentar lagi."


"Benarkah?" Wajah pria itu terlihat antusias. Ia kembali menyendok kuenya. "Oh, iya, Bu. Aku berkenalan dengan Ejiro. Satu lagi manusia setengah dewa, tapi dia tidak tahu siapa Ayahnya. Orang tuanya tidak menikah dan itu katanya terjadi karena 'kecelakaan'. Apa Ibu kira-kira bisa mencarikan siapa Ayahnya?"


"Apa kemampuannya?"


"Bisa mengeluarkan api dari tangannya."


Ibu tiba-tiba tersedak dan terbatuk. Ken sampai menuangkan teh ke cangkir Ibu. Wanita itu segera meminumnya.


"Ibu, pelan-pelan makannya." Pria itu mengusap-usap punggung wanita itu karena khawatir.


"Mmh, ya." Akhirnya wanita itu bisa bernapas lega. Kalau yang bisa mengeluarkan api hanya dia orangnya, tapi aku harus memastikan dulu benar tidaknya. Karena ini menyangkut nama baiknya. "Baiklah, akan ibu cari tahu."


Setelah pertemuan itu, Ken mulai melihat para pendekar dari berbagai tempat di kota itu yang kembali datang untuk membantunya. Bahkan, Sensei Odagiri dan Ejiro.


"Hei, ini pakaianmu. Jangan pakai pakaian itu, nanti Sensei marah." Ejiro melempar bungkusan kain pada pria berambut pendek itu. Sensei hanya tersenyum.


Ken melihat ke dirinya yang masih berpakaian Cina. "Eh, maaf. Aku tak punya baju ganti. Aku ganti baju dulu ya?" ucap Ken di depan Odagiri dengan kikuk. Ia kemudian kembali ke kamar.


Tak berapa lama, ia keluar. Setelah meyakini semuanya telah datang, Ken memulai pengarahannya bagaimana mengatasi keadaan darurat di kota kecil itu. Ia ternyata sudah menutup akses masuk dan keluar kota itu dan kini pembersihan warga.


Ia meminta para relawan untuk membunuh orang yang telah terjangkiti racun drakula itu, dengan tidak tergoda bujukan warga sekitar, sebab menyisakan satu saja, akan dengan cepat menularkan kepada warga lainnya. Ken juga memberi tahu ciri-ciri orang yang terkena racun itu beserta cara membunuhnya.


Relawan dibagi perkelompok yang disebar perdaerah. Kemudian mereka juga diberi satu pengawal dan satu tabib untuk menolong bila ada relawan yang terluka. Setelah pembagian kelompok, mereka pun berangkat.


Untung saja kota itu tidak terlalu besar. Dalam waktu singkat pembersihan kota berhasil dilakukan. Pembunuhan yang terpaksa dilakukan itu ternyata, tidak sebanyak yang diperkirakan. Ken yang terjun langsung ke lapangan, tidak menemukan banyak orang yang terkena racun itu di tempat ia melakukan penyisiran.


Tempatnya ternyata sporadis dan berhasil membuat salah satu kelompok menemukan biang keladinya. Sang bule drakula itu sendiri. Drakula itu berhasil dibawa ke rumah Menteri Pertahanan.


"Ivan." Ken bertemu langsung dengannya lagi. Pria itu telah terikat badannya dengan tali dengan wajah babak belur. Wajahnya ditutupi kain hitam dan pria berambut pendek itu menyingkapnya. "Kenapa kau kemari, Ivan?"


Pria bule itu tertawa. Ia mengenakan pakaian Cina agar tidak menjadi perhatian umum tapi tetap saja, wajah Eropanya tak bisa dibohongi. "Aku mendapat tumpangan kenapa tidak?"


"Siapa yang membawamu ke sini?"


"Menurutmu, siapa? Tak perlu dikatakan, aku pikir kau tahu soal ini, bukan?" Pria bule itu kembali tertawa.


Ken geram dan hampir menghunus pedangnya, tapi ditahan oleh Menteri Pertahanan.

__ADS_1


"Kita harus bawa dia pada raja, biar raja yang memberi hukuman."


Pria berambut pendek itu sudah gemas ingin membunuhnya, tapi ada peraturan yang mesti ia taati. Menteri Pertahanan ingin membawa drakula itu sebagai bukti, memang ada kasus itu di kota itu.


Ternyata ada relawan yang diserang dengan digigit karena jumlah mereka banyak di daerah itu, sehingga ia dalam perawatan tabib yang ikut dalam rombongan. Setidaknya Menteri Pertahanan melihat bagaimana mengerikannya mereka yang terkena racun itu. Relawan itu mengeluarkan taring saat kesakitan.


"Kita akan pergi ke istana 3 hari lagi karena raja sedang mengunjungi negri tetangga. Aku harap kau mau ikut pergi denganku menghadap raja," ucap Menteri itu pada Ken.


"Eh, apa itu perlu? Maksudku, apa aku harus ikut?"


"Tentu saja. Kau yang membasmi wabah ini, kaulah bintang utamanya, agar kau dapat hadiah dari raja."


"Ah, aku tidak perlu hadiah, Menteri."


"Setidaknya walau kamu tidak mengabdi pada raja, kau menerima hadiahnya."


Tiba-tiba terlihat rombongan pengawal yang datang dalam jumlah banyak sedang mengawal seorang gadis. Ken terkejut melihatnya. Apalagi salah seorang pengawal yang ia kenal betul, siapa dia. Dia adalah Gojo, dan gadis itu adalah ....


"Dia putriku. Kau belum pernah melihatnya 'kan? Namanya ...."


"Mira," jawab pria berambut pendek itu segera.


"Ah ...." Namun pria berambut pendek itu tak lagi menoleh pada lawan bicaranya. Lama tak bertemu, gadis itu terlihat semakin cantik saja di matanya.


"Dia pergi ke hutan katanya ingin berburu kijang. Sepertinya ini bukan hari mujurnya." Pria berjanggut itu menyoroti Ken yang menatap anaknya tak berkedip. "Anakku, walaupun dia wanita tapi dia tidak begitu bisa dengan pekerjaan wanita. Ia lebih suka belajar ilmu bela diri dan berburu."


"Aku tahu."


"Bagaimana kau tahu?" Pria berjanggut itu mengerut kening.


"Mmh?" Pria berambut pendek itu mulai sadar dan menoleh pada laki-laki di sampingnya. "Aku pernah berkenalan dengannya."


"Oh, begitu."


Saat itu, posisi Odagiri dan Ejiro berada di belakang mereka dan mendengar semuanya. Ken mendatangi rombongan itu dan menyambut gadis itu ketika hendak turun dari kuda, tapi kemudian diambil alih Gojo.


"Maaf, Tuan Ken, tapi hanya aku, pengawal pribadinya yang boleh dekat dengannya."


Pria berambut pendek itu cemberut melihat Gojo yang tersenyum meledeknya. Gojo membantu Mira turun dari kuda.


"Asal kau tak lupa padaku Mira. Aku sudah bilang menteri itu bahwa aku mengenalmu," sahut Ken dengan senyum lebar.

__ADS_1


"Cerdik," jawab gadis itu dengan senyum manisnya.


"Kau dapat buruanmu?"


Gadis itu tersenyum setengah tertawa. "Aku 'kan melakukan tugas sang Dewi."


Dari jauh, Ejiro memperhatikan mereka berdua, Mira dan Ken. Inikah gadis yang disukainya? Mereka sepertinya sudah lama kenal. Dari gerak tubuhnya terlihat bahwa mereka saling menyukai. Siapapun bisa melihatnya.


Mereka bertiga kemudian mendatangi Menteri Pertahanan.


"Menteri, kami sudah saling kenal sebelumnya. Bertemu lagi, seperti reuni," sahut Ken bangga.


Menteri itu melihat pakaian Mira yang kotor kena noda darah. "Mi La, kau sudah dapat kijangnya belum? Kenapa pakaianmu penuh dengan noda darah?"


"Oh, sebenarnya sudah dapat, Ayah, tapi kijangnya kabur ke jurang."


"Oh, begitu. Ya sudah, ganti pakaianmu sana."


Ken sebenarnya ingin mengikuti gadis itu tapi karena tugasnya belum selesai, terpaksa ia hanya bisa melihat gadis itu berlalu bersama rombongannya. Ia harus mengurusi tim yang sedang pergi memeriksa daerahnya, karena belum semuanya kembali dan melapor.


Sambil menunggu, ia beristirahat sejenak di kamarnya sambil ingin mengintip Mira, sebenarnya, tapi Ejiro mengikut. Akhirnya ia membawa Ejiro ke kediamannya yang berada di belakang rumah Menteri Pertahanan.


Ken mengintip dari jendela ke jendela kamar gadis itu. Tidak ada pergerakan yang berarti yang bisa ia lihat.


"Kau suka padanya ya?" tanya pria bercodet itu.


"Apa?" Ken menoleh. "Bukan begitu. Itu mereka temanku."


"Mereka?" Ejiro mengerut dahi.


"Mira dan Gojo. Gojo, pengawalnya yang terus membuntutinya itu."


"Teman?" Pria bercodet itu berpikir keras. "Maksudmu, mereka manusia setengah dewa juga, begitu?"


"Betul. Bahkan Mira adalah penjagaku."


"Apa?"


_________________________________________


__ADS_1


__ADS_2