Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Bianglala


__ADS_3

"Kamu benar-benar tidak punya pengalaman ya?" tanya Lisa yang kemudian duduk di samping Ken.


"Bergelantungan pernah, tapi tidak setinggi itu. Jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya."


"Oh."


"Ken!"


Keduanya menoleh.


Lucille datang menyambangi. "Kau sudah makan malam?"


"Eh, belum," jawab pria itu sedikit malu.


"Ok. Kalau begitu, kau makan dulu. Ayo! Lisa, kau bagaimana?"


"Oh, sudah."


Pria Jepang itu mengikuti Lucille kembali ke area tempat tinggal para pemain sirkus. Mereka mendatangi sebuah tempat terbuka luas dengan beberapa buah meja kayu tertata di sana. Ken duduk di salah satu meja sementara wanita itu meminta seorang wanita yang duduk dekat kompor, menghidangkan makanan buat mereka. Wanita itu kemudian duduk di samping Ken.


Lucille melihat pakaian pria itu yang terlihat sedikit kotor oleh noda tanah. "Kau tinggal di mana? Kamu tidak ingin membawa barang-barangmu ke sini?"


"Eh?" Pria itu bingung bagaimana mengatakannya. "Aku ... berjalan jauh untuk mencari pekerjaan sampai aku lupa, aku telah meninggalkan semua barang-barangku di kota sebelumnya."


"Oh ... kau tak punya uang ya?" tanya wanita itu prihatin.


"Eh." Dalam kebingungan Ken mencoba tersenyum.


"Ya sudah, nanti kau bisa pinjam pakaian yang lainnya. Aku rasa Alden punya postur tubuh yang sama denganmu. Kenapa kau tak pakai saja miliknya?"


"Eh, baiklah."


"Tapi kau tak bohong 'kan?"


"Eh?" Wajah Ken sedikit pucat.


"Kau bukan pelarian atau buronan 'kan?" Lucille menerima piring makanan dari tukang masak itu. "Terima kasih, Berta."


Ken tertawa. Seandainya benar, mereka takkan bisa mengejarku sampai ke sini 'kan? "Oh, tidak."

__ADS_1


"Baguslah, kalau begitu." Wanita itu merobek roti dan memakannya bersama kari daging.


Ken sedikit sungkan duduk dengan wanita itu, entah kenapa. Perasaannya mengatakan, walaupun wanita itu memperlakukannya biasa saja, tapi ia merasa wanita itu menginginkan sesuatu yang lain dari dirinya. Padahal berulang kali ia berusaha mengabaikan perasaan ini, karena ia tak melihat buktinya.


"Mmh, sirkus ini berpindah-pindah, jadi kau harus ikut kami, ke manapun kami pergi."


Pria itu mengangguk-angguk sambil makan.


"Untuk sementara, kamu bantu-bantu yang lain ya? Jadi petugas tiketing, atau jualan popcorn atau yang lainnya."


"Baik, Bos."


Wanita itu tersenyum ketika Ken memanggilnya 'bos'. Baru beberapa saat ia makan, seorang pria bertubuh kerdil mendatanginya.


"Tempat meramalnya, ramai lagi, Bos. Di tunggu," sahut pria kerdil itu.


"Mmh, aku sudah makannya," ujar wanita itu sambil berdiri, menyelesaikan kunyahannya di mulut dan lalu minum. "Ayo, Bob!" Ia pergi bersama pria kerdil itu.


Ken akhirnya makan sendirian. Seusai makan malam, ia berkeliling melihat apa saja yang ada di sekitar sirkus itu. Setelah itu ia melihat ke arah luar area itu. Tempat sirkus itu sedikit jauh jaraknya dari tempat tinggal penduduk. Bahkan tempat tinggal penduduk sepertinya berada di daerah pinggir kota.


Sirkus ini termasuk sirkus yang bagus walaupun jumlah pemain dan pegawainya tidak banyak. Penontonnya pun banyak, terbukti dari penuhnya arena sirkus pada saat pertunjukan tadi. Mobil pengunjung pun banyak terparkir di depan area sirkus.


Ia berhenti di depan sebuah tempat meramal. Bukankah tadi katanya bos bekerja di tempat ramalan ini ya? Ken melihat antrian panjang, di depan tempat meramal itu. Hebat juga dia. Banyak rupanya yang ingin diramal olehnya. Bahkan ada yang datang berpasangan. Ken tersenyum lebar. Padahal, ramalan itu belum tentu benar. Contohnya, aku! Masa, pacarku akan diculik. Yang diculik malah temanku, Yumi. Sedang aku sendiri, tak punya pacar.


Saat mengingat itu, pria itu kembali sedih. Yumi, kau ada di mana? Bagaimana caranya aku mencarimu? Yumi, apa kau baik-baik saja? Tunggu aku. Tunggu aku jadi kuat dan akan menyelamatkanmu. Namun pria itu bahkan tidak bisa meyakinkan dirinya bisa bertemu lagi dengan Yumi, apalagi menyelamatkannya. Ia akan menyelamatkan temannya dengan apa? Sedikit pun tak ada ide yang terlintas di otaknya.


"Hei, kamu kenapa di sini?" tanya pria kerdil bernama Bob itu.


"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya jalan-jalan saja." Ken pun pamit, pergi ke tempat lain.


Sebenarnya lumayan menyenangkan berada di tempat sirkus itu. Mendengarkan musik yang mengembirakan, melihat keramaian, kerlap-kerlip lampu yang indah dan melihat wajah-wajah gembira orang-orang yang datang ke sana.


Ia teringat lagi waktu ia berada di Jepang waktu itu. Ada sirkus yang datang ke kotanya. Saat itu, ia menggendong Mimi dan pergi bersama Yumi dan juga teman-teman lainnya. Mereka saat itu sangat gembira, bahkan bermimpi ingin cepat dewasa dan bertemu dengan kehidupan impian mereka. Semua sepertinya baru kemarin.


Terdengar keributan di keramaian. Tepatnya arah bianglala. Ken tak tahu apa yang terjadi tapi ia mendengar orang-orang meributkan seseorang yang bergelantungan di atas, sementara bianglala itu dihentikan. Ia tidak tahu kenapa bianglala itu dihentikan tapi ia mengkhawatirkan orang yang bergelantungan di bianglala itu. Pria itu segera berlari ke sana. Ternyata petugasnya adalah Bing.


"Ada apa, Bing?" tanya Ken setelah sampai.


"Ada anak kecil yang bergelantungan. Anak nakal, biasa. Dia ingin tahu sampai turun dari kursinya, padahal ada orang tuanya di sana," terang Bing.

__ADS_1


"Tapi kenapa dihentikan, bianglalanya?"


"Takut terpeleset atau terjepit besi anak itu, bila bianglala itu dijalankan."


"Mmh ...." Ken mendongak ke atas.


Terdengar sang ibu memanggil-manggil nama anaknya tapi tak tahu harus berbuat apa.


"Biar aku ambil saja anaknya," ucap Ken pada Bing.


"Hati-hati."


"Iya." Pria itu mulai memanjat dari tengah. Satu persatu besi dinaikinya hingga akhirnya ia sampai ke tempat anak laki-laki itu. "Eh, ayo sini." Ken menyodorkan tangan.


"Ngak mau!" Anak bule berambut coklat itu malah memeluk besi di depannya.


"Eh, nanti jatuh, Dek."


"Ngak mau!"


Ken bingung.


"Ethan, turun, Sayang. Ibu takut kamu kenapa-kenapa, " isak ibu bocah itu dari atas.


"Aku jadi Spiderman, Bu!"


"Ethan ...." tangis ibu itu tak tahu harus berbuat apa.


"Ethan, naik ya, kamu, Sayang." Bahkan ayah si bocah ikut membujuknya dengan menyodorkan tangannya ke bawah tapi gara-gara itu, bianglala bergerak hingga semua ketakutan.


Di tempat Ken, bianglala itu bergerak turun. Eh, kenapa bergerak? Bukankah Bing menghentikannya? Ia menoleh ke bawah di mana Bing tengah berusaha agar bianglala itu tak bergerak, tapi gara-gara pergerakan ayah si bocah membuat bianglala itu bergerak lagi. Aduh, gimana ini?


Tiba-tiba Ken berkonsentrasi. Bianglala, tolong berhenti. Dan benda itu berhenti begitu saja.


Ia mendongak ke atas menatap kedua orang tua bocah itu. "Tolong jangan bergerak ya, nanti bianglalanya berputar. Berbahaya. Anak kalian bisa terjepit," pinta pria Jepang itu.


"Oh, maaf. Maaf, Pak. Kami cuma berusaha membantu," ucap ayah Ethan yang sedang berusaha meredam tangis istrinya.


Ken kembali beralih pada bocah yang sedang berkhayal jadi Spiderman itu. "Ethan, apa kau lupa membawa jaring laba-labamu?"

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2