Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Mengikuti Jalan Takdir


__ADS_3

Sebelum Ken yang sekarang sempat membalikkan tubuh, Gojo memanggilnya. "Eh, tunggu! Apa aku mengenalmu?"


Semua orang kini menatap ke arah pria misterius itu dan Gojo. Pria itu seperti kebingungan. "Masa?" ucapnya pelan. Aduh, Gojo. Kenapa lagi sih, bikin perkara saja, batinnya kesal.


Karena pria itu sudah dua kali disudutkan, Ken yang dulu minta maaf. "Ah, maafkan teman kami, Gojo." Ia beralih pada pria Cina itu. "Gojo, jangan begitu. Itu tidak sopan namanya!" Ken yang dulu mengingatkan dengan keras.


"Tapi aku merasa ...."


"Gojo!"


Ken yang sekarang kemudian menganggukkan kepala, dan buru-buru pergi.


"Tapi dia sangat mirip denganmu, Ken. Apa kamu tidak punya saudara, adik atau kakak?"


Kalimat itu terdengar oleh Ken yang sekarang yang membuat ia berhenti melangkah, tapi kemudian ia bergegas pergi.


"Ah, macam-macam saja kamu, Gojo. Aku 'kan anak tunggal." Namun tak ayal Ken yang dulu melirik ke arah mana pria misterius itu pergi. Pria itu masuk kembali ke dalam hutan.


Ken yang sekarang kemudian duduk di sebuah batu besar, lalu melihat rombongan itu membuka portal menuju istana Lord Z dengan kedua bola kristal yang ada. Ia kemudian melihat rombongan itu pergi dan menunggu mereka kembali.


Tentu saja, menunggu kali ini begitu menyesakkan karena ia tahu akan berakhir seperti apa. Dalam diam ia kembali meneteskan air mata. Pria itu kali ini tak berdaya, karena takdir sudah menentukan jalannya. Ia hanya berharap, tugas kali ini cepat berakhir.


Beberapa jam kemudian, Ken melihat rombongan itu datang. Ia bergegas masuk ke dalam pintu dan pura-pura baru keluar dari pintu itu. Ia menyambut rombongan itu. "Aku minta bola kristal itu kembali."


"Ini." Ken di waktu yang dulu, mengeluarkan bola kristal dari dalam tas yang ada di pinggang.


"Mayat itu, biar aku yang bawa. Aku akan berikan pada ayahmu," ucap Ken yang sekarang.


"Aku ikut," pinta Ken yang dulu.


"Tidak sekarang, belum saatnya kamu bertemu ayahmu."


"Tapi ...." Ken yang dulu, berpikir sejenak. "Baiklah. Kalau begitu, sampaikan saja salamku untuknya. Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan Yumi," ujarnya lirih. Ia tertunduk dan hampir menangis.

__ADS_1


" ... aku mengerti." Ken yang sekarang kemudian pamit. Ia menarik gerobak itu ke balik pintu. Setelah melewatinya, ia menutup pintu. Di saat itulah, sekali lagi ia memandangi mayat Yumi. Air matanya kembali tergenang. "Yumi ...." Ia kembali terkenang kata-kata terakhir Yumi padanya. 'Itulah artinya berteman. Kita saling tolong menolong. Bukankah begitu seharusnya 'kan, Ken? Aku tidak pernah menyesal pernah jadi temanmu.'


"Aku juga. Aku merasa terhormat, pernah jadi temanmu, Yumi. Walaupun aku tidak bisa membalas perasaanmu. Terima kasih, kau pernah jadi temanku." Ken membungkuk, memberikan penghormatan terakhirnya.


Setelah itu ia menghapus air mata dan membuka pintu sambil menegakkan tubuhnya. Ia menarik gerobak itu keluar. Ia kemudian menutup pintu portal dan kini mengetuk pintu rumah panti asuhan itu.


Saat itu hampir dini hari. Ryu membuka pintu dan melihat Ken bersama gerobak itu. Ken menceritakan segalanya. Ryu syok mendengar cerita Ken. Ia kemudian melihat kedua mayat itu.


Setelah kedua mayat dikremasi, Ken menemani ayahnya sebentar di panti asuhan. Mereka mengobrol setelah lama tidak bertemu. Ryu kemudian bercerita tentang kakaknya, Dunken. "Sebenarnya aku dan Dunken sangat dekat hingga aku mengenal ibumu. Aku bercerita padanya bahwa aku menyukai seorang Dewi. Tadinya ia tak percaya, tapi kemudian ia menjauh.


Lalu ia sempat punya pacar tapi yang kudengar, gara-gara pacarnya itu ia kehilangan pekerjaan. Kemudian aku menikah dan memilikimu. Kakakku itu sempat stres kehilangan pekerjaan dan kembali gembira setelah mendengar kamu lahir. Setelah itu dia menghilang di tragedi berenang di pantai itu dan praktis aku tak pernah mendengar kabar darinya lagi."


Ryu memandangi guci tempat abu kakaknya itu bersemayam, bersama dengan guci berisi abu Yumi di sampingnya, ia menatap nanar. "Untuk apa ia bersembunyi selama ini ya? Padahal, aku tidak butuh saudara yang sempurna. Cukup ada dan hidup dalam suka dan duka bersama, rasanya itu sudah sangat menyenangkan. Bukankah begitu, Ken?" Pria itu menoleh pada anaknya yang mulai terlihat dewasa.


Ken tersenyum dan mengingat kembali kehidupannya dulu bersama Yumi. Pasti dulu itu juga kamu begitu. Tidak ingin pertemanan kita rusak, karena hal lain 'kan, Yumi? Ia mengenangnya dalam hati. "Oh, ya. Mimi mana, Yah, kok gak kelihatan dari tadi? Apa dia sedang bermain dengan pengurus yang lain?"


"Oh, kau tidak tahu ya? Sejak ganti nama, ibumu mengambilnya." Ryu datang mendekat.


"Ganti nama?"


Ken terkejut. "Mira ...." Kini ingatannya kembali saat ia mengenal seorang gadis bernama Mira sebagai remaja tanggung yang menolongnya dari Yeti. Gadis itu menyebut namanya, Miracle. Juga saat ia heran kenapa gadis itu selalu menolongnya. Mira berkata bahwa suatu hari nanti pria itu akan menolongnya. Mira adalah Mimi. Kenapa ia tak menyadarinya dari awal? Uh! Kenapa bodohku tak juga sembuh ....


Ken segera berdiri. "Eh, Ayah. Aku pamit dulu. Aku ingin bertemu ibu."


Ryu memeluknya. "Hati-hati ya, Ken."


"Iya, Yah."


Setelah berpamitan, pria itu segera membuat pintu portal untuk kembali ke kayangan dengan bantuan bola kristal. Ia kemudian masuk dan menutup pintu. Ken membuka lagi dan kini sudah berada di dalam ruang kerja ibunya. "Ibu ... di mana Mira, Bu?"


Dewi Sri yang kedatangan anaknya demikian kaget karena pria itu langsung mencari Mira. "Kenapa kamu datang-datang tidak salam sama, Ibu?" tanyanya heran.


"Siang, Bu. Eh, apa ini siang?"

__ADS_1


Wanita itu tertawa. "Jadi apa maksud kamu, datang-datang langsung mencari Mira?"


"Kenapa Ibu tidak bilang kalau Mimi itu Mira?"


"Lho bukannya kamu yang memberi dia nama Miracle? Nama itulah yang dipakainya sampai sekarang."


"Aku tidak memberinya nama itu, Bu. Dia hanya salah mengartikan. Mungkin saat itu dia juga tidak tahu arti dari kata itu," kata pria itu, merengut kesal.


Ibu hanya mengangkat bahu. "Lalu, bagaimana?"


"Di mana dia sekarang, Bu aku ingin menemuinya."


"Ibu juga tidak tahu. Hanya Ejiro yang tahu. Tanyakan saja padanya."


"Eh, baiklah."


Sebelum Ken keluar dari ruangan itu, Dewi memanggilnya. "Eh, tunggu!"


"Ya?"


"Kembalikan bola kristal dan jaketnya dulu."


Sang pria melucuti jaket dan menyerahkan bersama bola kristalnya.


"Ok, selamat berjuang!"


Ibu bicara apa sih? Walaupun begitu, Ken pergi tanpa bicara apa-apa. Ia mencari Ejiro di ruangannya. "Ejiro!" Ia menemukan pria berpakaian kimono itu sedang memeriksa berkas-berkas. Pria berambut panjang itu melengos saat melihat Ken datang.


"Kau tahu di mana Mira berada?" tanya pria yang masih berpakaian koki itu mendekat.


"Tahu," jawab pria itu tak acuh.


"Katakan padaku, aku ingin menemuinya," imbuh Ken dengan senyum cemerlang.

__ADS_1


Ejiro hanya melirik sebelah mata. "Memangnya kamu siapa, menyuruhku begitu saja?"


__ADS_2