Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Kesempatan Itu


__ADS_3

"Dasar kepala batu. Ayo, cepat kita keluar dari sini!" Gojo segera membawa pria Jepang itu keluar dari situ.


Namun di tengah perjalanan, Ken kembali protes. "Kenapa kita berjalan ke arah rumahmu?"


"Memang kita pulang kok."


Ken berhenti melangkah dan mulai bertelak pinggang. "Gojo ...."


"Katanya kau percaya padaku. Kalau begitu percaya sajalah dengan apa yang aku lakukan."


"Memang kita mau apa pulang ke rumah?"


"Tidur siang."


"Gojo ...." Sang pria Jepang memiringkan kepalanya, merasa dipermainankan.


"Aku tidak bercanda, Ken. Aku ingin tidur siang dan mengumpulkan tenagaku."


"Lalu?" Ken menyipitkan kedua matanya.


"Kita bergerak malam."


"Bergerak?"


"Iya."


"Apa rencanamu, aku tidak mengerti."


"Ck!" Gojo mulai terlihat kesal. "Masa kau tidak sadar juga? Kapan terakhir kamu ketemu Mira?"


"Kemarin malam."


"Kau masih belum mengerti juga? Mira 'kan sekarang berprofesi sebagai pembunuh bayaran." Pria berambut gondrong itu menatap Ken dengan sungguh-sungguh.


"Maksudmu, kita mengintip dia beraksi lagi?"


"Ping pong!"


Ken terkekeh. "Kenapa kamu ketularan orang Jepang dengan suara bel seperti itu?"


"Kamu 'kan orang Jepang."


"Oh, iya."


Keduanya terkekeh dan melangkah pulang. "Aku pikir kita harus ke sana lagi, tapi ternyata tidak," sahut Ken.


"Ya, tidaklah."


"Lalu, apa kau tahu target selanjutnya?"

__ADS_1


"Apa misinya kemarin berhasil?"


"Tidak."


"Biasanya Mira akan melakukan segala cara agar bisa menyelesaikan misinya itu. Kau tahu tempatnya 'kan?"


"Sepertinya itu rumah seorang pejabat."


"Mmh."


--------+++--------


Ken dan Gojo mengintip rumah itu sejak sore. Rumah besar itu kini dijaga ketat di luar semenjak kejadian percobaan pembunuh di malam sebelumnya. Tidak ada kejadian apapun hingga menjelang tengah malam, membuat Ken dan Gojo terlihat mulai bosan mengintip.


"Gojo, apa kira-kira perkiraanmu salah? Kita sudah mengintipnya dari sore tadi, tapi tidak ada perubahan apa-apa," omel Ken yang setengah suntuk. Mereka mengintip dari seberang rumah itu yang berupa pepohonan yang rimbun.


"Apa mungkin dia ganti strategi?" gumam pria gondrong itu menyentuh dagunya.


"Pastilah. Karena yang sebelumnya pasti mudah dipatahkan," jawab pria Jepang itu santai yang membuat dirinya kaget sendiri. "Eh, iya, benar. Kenapa ini tak terpikirkan olehku." Ia menyadarinya. "Lalu, ia akan melakukan apa?"


Baru berkata begitu, dua buah anak panah meluncur ke arah rumah itu, tepat mengenai pria incaran Mira yang baru saja keluar ke taman. Kedua anak panah itu tepat mengenai punggung sang pria hingga ia kesakitan dan jatuh ke atas bebatuan. Tempat itu langsung ramai oleh pengawal yang ribut bagaimana mereka tetap kecolongan sementara mereka sudah memperketat penjagaan.


Ken dan Gojo tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam rumah itu karena pagar tembok yang tinggi, tapi mereka bisa melihat dari arah mana panah itu berasal. Ya, Mira berada diatas pohon paling tinggi, sehingga bisa dengan mudah mengarahkan panah itu karena ia bisa melihat semuanya dari atas sana.


"Dia di atas ternyata. Ayo kita kejar!" seru Ken pada sang sahabat.


Mira segera berlalu dari tempat itu dengan melompat-lompat dari satu pohon ke pohon yang lain, dan kedua pria itu mengejarnya. Kedua pria itu terus mengejarnya hingga gadis itu turun dari pohon. Gadis itu baru menyadari ia tengah dikejar dua orang itu dan langsung menyerang. Ia masing menggunakan topeng setengah wajah seperti waktu itu.


Gojo hanya memperhatikan saja, Mira meluapkan emosinya pada Ken. Ia tahu, keduanya pada akhirnya harus bicara.


"Aku bilang, jangan ganggu aku! Aku tak ingin bertemu denganmu!" teriak gadis itu pada pria Jepang yang diserangnya.


"Mira! Ada apa denganmu. Kenapa kau menyerangku!" Ken mulai kesal.


Bunyi besi yang beradu sedemikian berisiknya, bisa menjelaskan betapa ada emosi yang tengah meluap dan menemukan muaranya.


"Mira!" Ken menangkis begitu banyak serangan. Ia kaget dengan perkembangan ilmu silat yang dipunyai gadis itu. Gadis itu bukan gadis lemah seperti yang dikenalnya dulu. Ia kini sudah menjadi ahli ilmu silat yang bisa menggegerkan dunia persilatan bila ia terus berada di jalur hitam. "Ah!" Ken terkena sabetan pedang gadis itu di lengan atasnya, merobek lengan baju. Menetes darah dari bekas robekan itu.


Saat itu Mira berhenti menyerang. Ada sesuatu yang menyadarkan saat itu.


"Mira ...."


Gadis itu kembali menyerang. Ia tidak membiarkan Ken bicara. Terpaksa pria itu kembali bertahan.


"Mira!" Ken coba membentaknya tapi gadis itu makin brutal menyerangnya kembali. Ia makin kepayahan. "Mimi!"


Seketika gadis itu kembali berhenti. Gerakannya tertahan, tapi kemudian mencoba menyerang lagi.


Terdengar suara pedang terjatuh di tanah. Ya, Ken menjatuhkan pedangnya dan sudah pasrah jika gadis itu ingin melampiaskan segala kekesalannya pada dirinya kini. Ya, ia takkan melawan.

__ADS_1


"Hei! Cepat ambil pedangmu itu, sialan!" umpat Mira pada Ken.


"Bukankah pada akhirnya kau ingin menumpahkan semua kekesalanmu padaku? Kau takkan bisa melakukannya kalau aku masih memegang pedang, karena itu aku melepasnya. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan." Suara pria itu terdengar melemah seiring ia mengatur napasnya yang tidak beraturan.


"Jangan bertindak seolah kau orang suci, brengsek!" Kembali gadis itu mencercanya.


"Aku bukan orang suci, Mimi. Kau sangat tahu itu."


"Aku bukan Mimi! Aku Mira!" teriak gadis itu parau. Sepertinya ada isak tangis dibalik topeng setengah wajah yang berusaha di tahannya itu.


"Lalu kenapa kamu pakai nama yang aku berikan, kalau aku memang seberengsek itu?"


Mira terdiam. Gerakannya meragu. Ken membuka kedua tangannya mengarah pada gadis itu. "Mimi ... sini peluk Kakak," ujar Ken pelan.


Pelan tapi pasti, gadis itu mendekat. Mendekat dan semakin mendekat. Pedangnya pun luruh jatuh ke tanah seiring pria itu mendekapnya.


"Mimi, apa kau tahu? Dunia serasa runtuh waktu kakak mendengar kecelakaan itu. Aku pikir kau tak selamat hingga Ibu menyuruhku untuk menyelamatkanmu. Aku baru tahu kau selamat dalam kecelakaan itu dan itu membuatku senang." Pria itu makin mengeratkan pelukan. "Maafkan aku, Mimi yang tak menyadari keberadaanmu selama ini dan kita masih bisa bersama 'kan, dengan saling memiliki."


Gadis itu memeluk erat pria itu. Sebuah pelukan hangat yang begitu ia rindukan. Ken bahkan mengecup kening gadis itu. Ia menaikkan topeng gadis itu ke atas. Betapa terkejutnya Ken melihat wajah gadis itu yang kini berubah dewasa dan cantik. Pria itu bahkan harus menelan ludah saat melihat gadis itu menatap kedua bola matanya.


"Kakak ...."


Tiba-tiba terdengar suara gaduh orang ramai datang.


"Mereka datang, ayo kita pergi!" ajak Gojo yang memungut pedang yang dijatuhkan keduanya.


Mira memeluk pinggang Ken dan mulai naik ke atas pohon. Ia meloncat dari pohon ke pohon, sedang Gojo berlari menghindari tempat itu. Mereka kemudian mendatangi rumah Gojo.


Mira kemudian mendudukkan Ken di sebuah dipan panjang. "Sudah ya?"


Namun kemudian pria itu meraih lengannya. "Ah ...." Ia meraih lengan gadis itu dengan tangan yang lengannya terluka.


"Ada apa lagi, Kak?"


"Jangan pergi. Jangan kau teruskan lagi pekerjaan itu."


"Tapi ...."


"Aku mohon."


"Aku sudah tidak bertugas lagi menjagamu, Kak. Aku sudah tidak bekerja lagi pada Mami."


"Kalau begitu, biar aku yang menjagamu."


Gadis itu menoleh pada Gojo. Ia terlihat bingung. Kembali ia beralih pada Ken. "Kak Ken ...."


"Izinkan aku melakukannya, Mira."


__________________________________________

__ADS_1



Visual Mira yang telah berubah dewasa. Salam, ingflora💋


__ADS_2