
"Tapi ibu, aku tidak akan cocok dengan siapapun. Aku hanya cocok dengan Mira."
"Mira itu umurnya terlalu kecil. Sebenarnya banyak kandidat lain yang lebih profesional kerjanya, tidak seperti Mira ini. Ibu terpaksa meluluskannya karena ibu sudah menerima dia dari sejak masih usia 2 tahun. Padahal dia sebenarnya tidak masuk dalam kandidat orang yang akan ibu kirim untuk menolongmu. Gadis-gadis lain itu, cantik-cantik dan dewasa."
"A-aku tidak suka gadis dewasa dan cantik, Ibu. Aku tidak ingin terlibat dengan mereka," kilah Ken.
"Tapi juga harus profesional. Mira sejak ibu ambil, dia ingin sekali masuk program ini. Membantumu saat pindah-pindah dimensi."
"Tapi Ibu jangan pecat dia, Bu. Kasihan," pinta Ken. Ia sudah bisa membayangkan kalau dirinya tak lagi bisa bertemu dengan gadis itu. Tubuhnya lemas.
"Baiklah, ibu akan pindahkan dia ke tempat lain."
Ken ingin kembali bicara, tapi tak bisa. Ia sangat ingin bertemu Mira.
"Kamu sabar ya? Nanti ibu akan kirim orang lagi untuk membantumu." Ibu kemudian pamit.
Ken mengantar ke pintu tapi ketika Dewi Sri ingin membuka pintu, pria itu menahannya. Ia bertekad untuk mencoba membujuk ibunya sekali lagi. "Ibu ... bisa tidak kalau Mira saja."
"Mmh, maksudmu?"
"A-aku hanya ingin Mira saja, Bu. Aku sudah merasa cocok dengannya. Rasanya sulit kalau harus mengulang lagi dengan yang lain karena aku nyaman dengannya. Eh, biarkan bola kristal itu juga jadi tanggung jawabku. Aku janji akan menjaganya ... kalau bersama Mira." Pria itu sampai mengangkat tangannya, bersumpah.
Wanita itu memiringkan kepalanya dengan senyum tersembunyi di ruangan yang sedikit temaram itu. Ia kemudian memunculkan wajah ragu dengan sedikit kesal pada anaknya itu. "Mmh ... biar ibu pikirkan ya?"
"Kalau ibu tetap ingin menggantinya, pikirkan sekali lagi ya, Bu. Aku mohon." Pria itu sampai menggenggam tangan ibunya untuk meyakinkannya.
"Mmh."
Ken membuka pintu. "Ibu hati-hati ya?"
"Ya," ucap wanita itu sambil melangkah keluar.
"Pikirkan sekali lagi ya, Bu."
"Iya."
__ADS_1
"Sekaliii lagi."
"Mmh."
"Ibu, terima kasih." Ken menutup pintu.
Wanita itu menutup mulutnya sambil menahan tawa.
-----------+++------------
Pantai terdekat ternyata sebuah pulau. Penumpang kapal itu kemudian diturunkan di sana. Walaupun sebuah pulau tapi dengan fasilitas yang memadai dan dengan penduduk yang cukup padat. Kapal bersandar di sana.
Ken sempat berjalan-jalan di sekitar pantai. Biasanya kalau kapal bersandar, mereka bisa menetap sampai 10 hari.
Hah ... coba kutahan ibu. 'Kan bisa jalan-jalan dengannya di sini, sesal Ken. Ia ikut rombongan anak buahnya ke sebuah restoran terbuka pinggir laut sementara sebagian lagi pergi berbelanja. Ia bersantai bersama Kapten Higarashi sambil menikmati es kelapa langsung dari kelapanya. "Aduh, udara panas sekali ya, Pak?" Ken memiringkan topi jeraminya menutupi wajah dan bersandar di sebuah kursi dipan.
"Mmh." Kapten kapal itu juga duduk di kursi dipan, telah lebih dulu bersandar dengan menutup wajahnya. Mereka hanya duduk terpisah oleh sebuah meja kecil dengan 2 buah kelapa berisi minuman di atasnya.
"Kau tak makan siang, Ken?"
Higarashi membuka topi di wajahnya. "Oh, ada. Makanan di Indonesia banyak juga yang mirip dengan Jepang. Bukannya kamu satu-satunya orang yang bisa bahasa Indonesia di kapal kita, masa kamu tidak tahu itu?" tanyanya heran.
Ken segera menyingkap topinya. "Eh, iya. Maksudku, mmh ... apa ada mi Jepang begitu. Restoran Jepang maksudku." Ia meralat ucapannya.
"Mmh, mungkin ada tapi aku tidak tahu. Pulau ini terlalu kecil untuk punya banyak fasilitas. Kemungkinan besar tidak, aku rasa." Pria yang berjenggot tipis itu kembali menutup wajahnya.
"Hahh, nanti sajalah." Ken ikut-ikutan menutup wajahnya dengan topi jerami.
-----------+++----------
Hari-hari begitu membosankan bagi Ken. Terutama karena tak ada Mira di sisinya. Rasanya ingin setiap hari ada masalah dan kekacauan agar ibu bisa mengirim Mira ke sini. Ken menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Ibu ... aku ingin ibu memaafkan Mira sekali ini saja, Bu. Sekali ini saja. Maafkan dia. Aku sepi di sini tanpanya.
Setelah beberapa hari berlalu, kapal pun kembali berangkat. Kali ini kapal akan kembali ke Jepang setelah 6 bulan perjalanan keliling dunia.
Sebulan di dalam kapal begitu membosankan. Ia kadang ikut anak buahnya bermain kartu atau olahraga ping pong atau adu panco. Kadang juga ia iseng membantu di dapur membuat banyak orang kagum padanya.
__ADS_1
"Bapak banyak bisanya ya? Ping pong jago, panco sering menang, masak makanannya enak," puji salah satu anak buahnya yang mencoba masakan Ken.
"Ah, tidak begitu. Hanya tidak ingin diam saja tanpa melakukan apa-apa." Padahal sebenarnya Ken sangat kesepian. Ia rindu rumahnya di panti asuhan, ayahnya Ryu, Ibu, tapi terutama sekali Mira. Ada rasa bersalah yang tidak bisa ia ungkapkan.
Seandainya takdirnya tidak seperti ini. Menjadi manusia biasa dan punya adik Mira. Punya ayah dan ibu yang lengkap dan ia bekerja sambil memanjakan adiknya, betapa bahagia dirinya pasti saat itu. Namun takdir berkata lain. Mira adalah orang lain. Orang lain pengganti kehilangan Yumi.
Yumi? Apa aku menempatkan Mira sebagai pengganti Yumi tapi Yumi masih hidup, dan aku harus mencarinya. Ken mulai bersemangat lagi.
----------+++--------
Kapal baru akan keluar dari perairan Indonesia tapi tiba-tiba saja cuaca buruk. Badai dan petir menyebabkan laju kapal sengaja dihentikan.
"Kita harus menghemat listrik dan jangan sampai mesin kapal rusak karena petir," ucap Kapten Higarashi.
Namun cuaca semakin buruk. Badai membuat kapal besar itu terombang-ambing dan terhempas gelombang beberapa kali. Bahkan badai menyeret kapal itu entah ke mana.
Ken yang berada di dalam kamar terpaksa harus hati-hati. Beberapa kali kamar itu bergoyang sangat keras hingga menjatuhkan barang-barang di kamarnya. Kursi dan meja jatuh terbalik. Lemari terbuka hingga isinya berhamburan keluar berjatuhan. Hanya tempat tidur saja yang terpaku di tempatnya.
Sudah sejam berlalu bahkan tidak ada tanda-tanda berhenti. Karena penasaran, ia keluar. Ia ingin pergi ke anjungan untuk melihat situasinya tapi tiba-tiba saja mati lampu. Ia bergegas ke tempat itu dalam gelap.
Di anjungan cukup terang karena ada cahaya dari kaca jendela tapi tidak banyak orang di sana. Ada Kapten Higarashi juga di tempat itu.
"Ada apa, Pak?" tanya Ken.
"Listrik tiba-tiba mati, aneh. Karena itu, sekarang sedang diperiksa."
Ken hanya bisa menunggu sementara udara berangsur-angsur membaik. Badai pergi meninggalkan gerimis yang tidak berarti.
"Monitor 1, di sini sebenarnya tidak ada masalah tapi sepertinya harus memeriksa dari luar kapal. Mungkin ada sesuatu yang tersangkut di propeller kapal sehingga merusak mesin," ucap suara dari penghubung kapal di bawah.
"Bagaimana, Pak?" Pria yang berada di depan monitor bertanya pada Higarashi.
"Kalau mereka keluar, siapkan senjata. Kemungkinan ada binatang yang tersangkut di sana."
___________________________________________
__ADS_1