Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Merawat


__ADS_3

Seorang pria bule berperawakan kurus dan sudah tidak muda lagi, dibantu Ken diberi obat luka di sekitar betis. Lukanya tidak parah tapi ia sempat terinjak-injak tamu lain karena orang-orang panik mendengar tembakan. Tubuhnya lemas, dan hanya berbaring di sebuah brankar di luar ruangan.


Menurut cerita kakek itu. Pernikahan ini pernikahan antar konglomerat yang tidak berjalan mulus, karena penghianatan yang dilakukan mempelai wanita. Namun, sang wanita juga tak bisa disalahkan, karena mencintai pria lain dari awal dan tak mau dijodohkan. Pernikahan paksa inilah yang menjadi awal bencana di pesta itu.


Ken mengangguk-angguk mendengarkan cerita kakek itu. "Mmh, begitu ya, Kek?" Ia menyudahi pekerjaannya. "Aku sudah selesai mengobati, Kakek. Apa kakek mau tinggal di rumah sakit? Tapi belum tentu dapat kamar. Mungkin kakek harus tinggal di luar karena semua kamar penuh."


"Apa kau tidak bisa mencarikan kamar untukku. Aku ingin menginap sebab di rumah, tidak ada orang yang akan merawatku. Anakku, yang satu tinggal di luar kota. Yang satu lagi sedang perjalanan kerja. Aku tidak punya siapa-siapa di rumah kecuali pelayan."


Pria Jepang itu tersenyum. "Pelayan bahkan lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Aku tinggal di apartemen dan aku hanya tinggal sendirian."


Tiba-tiba terlintas ide di kepala pria tua itu. "Bagaimana kalau aku tinggal denganmu?"


"Apa?" Ken meneliti lelaki tua yang diajaknya bicara itu. Pria itu pasti sangat kaya karena pakaian yang walaupun terlihat sederhana tapi ia memakai kemeja dan sweater tanpa lengan merek terkenal. Namun kenapa ia lebih memilih tinggal di luar ketimbang tinggal di rumahnya yang pastinya bak istana?


Tidak mungkin 'kan, pesta para konglomerat dihadiri oleh para tamu undangan yang berasal dari kalangan biasa-biasa saja? Pastinya mereka punya tamu yang selevel atau setidaknya satu level lebih tinggi darinya, itu yang masuk akal.


Ken kembali tersenyum. "Kek, apartemenku biasa-biasa saja. Bahkan mungkin menurut Kakek, jelek dibanding rumah besar Kakek. Jadi sebaiknya Kakek pulang saja ke rumah ya, jangan ke apartemenku," bujuk Ken. Ia merasa kakek itu mulai mengada-ada. Mungkin karena rasa kesepian dan tak punya siapa-siapa untuk diajak bicara.


Kakek itu terlihat ngambek. Ia tak bisa membujuk Ken.


"Ken!"


Pria itu menoleh. Siapa lagi kalau bukan Lucille yang memanggilnya.


"Ayo, kamu mau pulang 'kan? Mobilku akan mengantarmu pulang. Aku ingin tahu kau tinggal di mana," ucap wanita itu dengan senyum lebarnya. Ia begitu bersemangat dengan bola matanya yang bercahaya.


"Eh, aku masih harus membantu yang lain." Ken mulai mencari-cari alasan.


"Kau 'kan datang ke sini hanya untuk melihat pasien operasi. Selebihnya kamu tidak boleh melakukan apa-apa bahkan mengobati pasien luka, karena itu melanggar perjanjian. Kalau itu diteruskan, kamu tidak bisa mendapatkan gelarmu karena kamu akan dicekal," terang Lucille memberi tahu.


"Eh, aku hanya .... "

__ADS_1


"Ayo, pulang!"


"Aku punya motor. Aku bisa pulang sendiri."


"Aku mau dibonceng," pinta wanita itu, berikutnya.


"Tapi aku ...."


"Akan memboncengiku."


Ucapan pria tua itu membuat Lucille dan Ken menoleh ke arahnya.


"Aku sudah membayar mahal dia untuk merawatku di rumah," imbuhnya sambil mencoba untuk duduk.


Lucille menatap ke arah pria Jepang itu tak percaya.


"Ya, eh aku ...."


"Tolong bantu aku, aku ingin pulang sekarang." Pria tua itu menyodorkan tangannya ingin menggapai Ken.


"Oh, tidak. Aku benar-benar menyuruhmu tinggal di rumahku. Jadi itu tawaranku berikutnya. Kalau kau ambil, berarti kau akan tinggal di rumahku merawatku."


Ken kini bingung, tak lagi bisa berkelit. Kalau ia menolaknya, ia akan berhadapan lagi dengan Lucille. "Tapi sehari-hari aku sibuk kuliah, Kek."


"Tidak apa-apa, tapi setelah itu kau harus ada di rumah merawatku."


Ken masih terus mendorong kursi roda itu ke arah meja bagian administrasi. "Tapi aku juga harus berada di sini untuk tugas dari dosenku, bagaimana ini?"


"Setidaknya kau pulang dulu sebelum ke tempat lain, hanya itu permintaanku. Aku tidak mau dirawat oleh orang lain selain dirimu."


"Tapi aku bahkan bukan dokter atau suster, Kek. Apa sebaiknya, Kakek menyewa tenaga yang profesional saja? Itu lebih baik, Kek. Setidaknya mereka punya ijazah untuk profesinya."

__ADS_1


Pria tua itu menyentuh tangan Ken hingga pria Jepang itu menghentikan kursi roda. "Aku telah memilihmu, apa kau benar-benar tak mau membantuku? Merawatku pasti takkan lama. Aku janji takkan menyusahkanmu," ucapnya dengan wajah sedikit murung.


Ken terjepit karena iba dan pria itu juga telah menolongnya dari Lucille. Dengan berat hati, akhirnya ia mengiyakan permintaan pria tua itu. "Baiklah. Aku akan merawatmu."


Pria itu terlihat gembira karena keputusan Ken. Ia kemudian segera membayar pengobatannya di rumah sakit itu dan pulang menggunakan motor pria Jepang itu.


"Maaf ya, Kek. Motornya jelek," sahut Ken dari depan.


"Jelek apanya, ini motor masih baru."


"Tapi tidak sebagus merek kendaraan di rumah Kakek."


"Kalau itu yang kau bilang bagus, mungkin, tapi yang kupunya bukan keluaran terbaru seperti motor ini."


Dengan bantuan kakek itu, mereka sampai ke sebuah rumah besar dan mewah di daerah elit dan mentereng di kota itu. Pintu gerbang segera dibuka setelah mengetahui siapa yang membonceng di belakang Ken. Motor itu kemudian berhenti di depan pintu utama.


"Ini rumahku. Ayo, masuk," ajak kakek itu pada Ken.


Setelah menggantung helmnya pada motor, Ken memapah pria tua itu masuk rumah karena berjalan sedikit pincang. Pintu depan dibuka oleh seorang pelayan wanita. Terlihat rumah besar yang dimasuki, bergaya rumah mewah ala koboi tempo dulu. Rumah besar dengan langit-langit yang tinggi.


"Kamarku di sana." Pria itu menunjuk sebuah pintu kamar tak jauh dari ruang tamu.


Sang pria Jepang membawa pria itu menuju kamarnya, ketika tiba-tiba pelayan tadi mendorong sebuah kursi roda pada keduanya.


"Sudah terlambat, Abbie," sahut pria tua itu mendengus kesal.


Ken berusaha membesarkan hati pelayan itu. "Eh, tidak apa-apa. Ini bagus untuk sehari-hari kalau jalannya masih susah. Tidak punya tongkat 'kan?"


"Eh, tidak, Tuan," sahut pelayan itu.


Ken menoleh ke arah pria tua itu. Aneh juga kakek ini. Sepertinya dia tipe pria yang susah didekati tapi kenapa dia memilihku untuk merawatnya ya?

__ADS_1


Kakek itu terlihat kesal. "Ya sudah." Dengan wajah merengut. Ia kemudian duduk di kursi itu dan Ken mendorongnya.


Kamar pria itu sangat besar. Terlihat sekali bahwa sehari-hari ia biasa berkegiatan di dalam ruangan itu. Ada televisi besar yang ditempel di salah satu dinding dan sebuah tempat permainan golf kecil. Apa kakek ini tidak pernah keluar rumah sama sekali? Padahal kondisi tubuhnya sehat dan tak memakai tongkat jika bukan karena kejadian hari ini, tapi kenapa ia hanya tinggal di dalam kamar saja? Apa ia punya penyakit yang berbahaya?


__ADS_2