
"Ejiro?" Ken terkejut, tapi kemudian ia sadar dan meralat kata-katanya. "Kak Ejiro."
Mira menurunkan kedua tangannya tapi kemudian bersembunyi dibalik punggung pria pujaannya itu.
"Mira, ke sini!" Ejiro memanggil adiknya dengan suara tegas.
Wanita itu bertahan. Ia bahkan memegangi pakaian Ken.
"Mira ...," panggil mantan Samurai itu mulai kesal.
"Eh, Kak. Ada yang aku ingin bicarakan," sahut Ken dengan suara rendah.
"Aku tak butuh bicara padamu, aku sedang bicara dengan adikku!" bentak Ejiro. Netranya kembali beralih pada Mira yang masih mengintip di belakang punggung pria berambut pendek itu. "Mira!"
Wanita itu kini menyembunyikan kepalanya di belakang leher Ken. Ia tak mau keluar karena takut.
"Bagaimana kalau kita bicara baik-baik?" bujuk pria berambut pendek itu. "Semua akan baik-baik saja kalau kita bisa bicara baik-baik," bujuknya lagi.
Ejiro menepis tangan sang pria yang datang ke arahnya. "Jangan coba-coba membuat adikku membangkang terhadapku, ya!"
"Eh, tidak. Aku malah membawa kabar bahagia untukmu." Ken memasang senyum ramahnya.
"Aku tak akan menikah dengan Pangeran Siau Yang!" teriak Mira yang wajahnya muncul dari balik bahu Ken dengan berjinjit. Ia merengut dengan berpegangan pada bahu pria itu.
"Apa? Apa-apaan ini?" Ejiro tercengang, dan makin dipenuhi amarah. Segera, mantan Samurai itu menghunus pedangnya. "Beraninya kamu mempengaruhi adikku sampai seperti ini, mmh! Beraninya kamu mengacak-acak rencana pernikahannya!" Ia menunjuk-nunjuk ke wajah pria berambut pendek itu dengan pedangnya dengan sangat emosi.
Ken terpaksa mundur bersama Mira menghindari pedang yang mengarah ke leher pria itu. Karena sahutan sang wanita, pembicaraan jadi runyam. Padahal sang pria sedang berusaha memasang strategi untuk berbicara dengan Ejiro. "Tunggu dulu, kau belum mendengar kabar gembiranya. A-aku yang akan menggantikan pangeran itu, untuk menikah dengan Mira," ucapnya dengan senyum mengembang, padahal ujung pedang sudah dekat di urat lehernya.
"Apa?" Kembali kakak Mira itu terkejut mendengar penuturan Ken. Ia berhenti melangkah. "Kamu pikir akan semudah, hah? Kau telah merusak segalanya! Apa dengan ini aku mengampunimu? Bodohnya."
Ken terkejut dengan reaksi Ejiro. "Bukankah kau ingin agar Mira ada yang menjaganya hingga tidak harus ke mana-mana sendiri?"
"Tapi kualitas calon suami adikku! Itu juga penting!" Mata Ej8ro masih melotot garang.
__ADS_1
"Bukankah kau tahu kualitasku, Ejiro. Eh, Kak Ejiro." Pria itu masih saja kesulitan harus memanggil sahabatnya itu dengan 'Kak'.
"Kau memang teman yang baik." Mantan Samurai itu menatap Ken sinis tapi sudah mulai meredakan nada bicaranya. "Tapi untuk menjadikanmu suami Mira, itu adalah hal yang berbeda."
"Lho, kenapa?" Pria berambut pendek itu masih belum mengerti alasannya.
Ejiro tersenyum kecil. "Bagaimana kalau dibalik? Kalau kau punya adik perempuan yang suka padaku. Apa kau akan merestuinya?"
"Tentu saja tidak!" jawab Ken cepat karena ia tahu seperti apa Ejiro itu. "Tapi 'kan, aku dan kamu orang yang berbeda," imbuhnya. Ia menyadari terlalu cepat menjawab sehingga ia terjebak dengan perkataannya sendiri.
"Intinya, aku tak percaya bila harus menyerahkan Mira padamu. Titik. Jadi jangan halangi aku bila harus membawa Mira pergi." Pria berambut panjang yang diikat ke belakang itu, menggerakkan tangannya ke arah samping agar bisa menggapai wanita itu, tapi Ken dengan cepat meraih tangan pria itu.
Mira melihatnya. Betapa pria pujaannya berusaha mempertahankan dirinya. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ken karena bahagia. Ejiro geram.
Sebelum ia sempat marah kembali, tiba-tiba Gojo yang sudah beralih jadi manusia berlari masuk ke dalam kamar itu. Ia mendatangi Ejiro dan menundukkan kepalanya. "Kak, maaf. Rakyat berbondong-bondong datang dan berusaha merubuhkan pagar istana. Sepertinya akan terjadi pemberontakan."
"Aduh, apalagi ini ...."
"Mungkin dia raja yang lalim."
"Ternyata ia tak sesempurna yang kau kira 'kan," ledek pria berambut pendek itu dengan berusaha sopan.
Kakak tiri Mira itu terdiam sejenak. "Kita terpaksa mendukungnya. Ayo semua!"
Ken dan Mira mengekor Ejiro bersama Gojo. Mereka keluar istana melihat apa yang terjadi. Segerombolan orang-orang telah berhasil membuka gerbang pintu pagar kerajaan dengan mendorongnya dengan batang kayu besar. Mereka yang berpakaian petani, pegawai dan orang-orang terpelajar bersatu dengan membawa senjata masing-masing melawan semua elemen kerajaan. Terjadi pertempuran di sana-sini.
Ejiro hanya melihat situasi tapi Ken maju mendekati mereka yang berperang. Mira hampir saja mengikutinya kalau saja Gojo tak menahan dengan meraih lengannya.
"Hei, kenapa kau menyerang kerajaan?" tanya pria berambut pendek itu pada kerumuman paling dekat yang sedang melawan tentara kerajaan.
Ditanya begitu, salah seorang pria berpakaian terpelajar, menyodorkan ujung pedangnya pada Ken. "Hei, kau orang Jepang tahu apa?Negri kami sedang kesulitan pangan karena panen beberapa kali gagal, tapi para menteri tetap membebani kami dengan berbagai macam pajak. Kami tidak punya penghasilan. Bagaimana caranya kami bisa membayar semua itu?"
"Tapi kalian 'kan bisa mengajukan permohonan langsung pada kerajaan?"
__ADS_1
Pria itu tersenyum miring. "Kamu pasti sama saja dengan mereka. Hanya sibuk berpesta dan mabuk-mabukan tiap malam. Mana pernah memikirkan bagaimana susahnya rakyat mengumpulkan uang untuk makan mereka. Jadi bisa seenaknya saja bicara. Ini rasakanlah kemarahan mereka, bagaimana mereka pusing mencari makan untuk keluarganya!" Ia mulai menyerang sang pria berambut pendek, tapi Ken langsung menghindari. Ken segera menghunus pedangnya.
Mira pun langsung ikut berperang melihat pria pujaannya masuk ke dalam lingkaran peperangan. Padahal Ken hanya mempertahankan diri. Melihat Mira ikut dalam peperangan, mau tak mau Gojo dan Ejiro pun menghunus pedang untuk menjaga wanita itu.
"Hei, tunggu! Kita tak bisa berperang melawan mereka, mereka korban!" teriak pria berambut pendek itu menerangkan.
Namun Ejiro dan Gojo tak mengindahkan karena keduanya tengah melindungi Mira. Mau tak mau Ken berusaha menghindar dari orang-orang di depannya. "Maaf, kami bukan musuh kalian. Biarkan kami pergi."
Namun pria di depannya tak memberinya kesempatan hingga pasukan kerajaan turun bersama pangeran.
"Maaf Kak Ken. Tolong bawa pengantinku ke dalam. Aku tidak akan memaafkan mereka, bila sampai berani menggores tubuh calon istriku," pinta pangeran Siau Yang pada Ken.
Ken menurut. Ia menggandeng Mira masuk ke dalam istana. Ejiro tentu saja mengekor, diikuti Gojo. "Tunggu!"
Ken dan Mira menoleh. "Ada apa lagi Kak," sahut Ken.
"Percakapan kita belum selesai. Lepaskan Mira."
"Kak, tolong. Jangan sekarang," pinta pria berambut pendek itu. "Nasib kerajaan sedang genting tapi aku harus menyelidiki siapa yang salah di sini. Bisa saj—"
Ejiro yang kesal. Menendang satu kaki Ken hingga terjungkal jatuh. Ia berniat mengirim pria itu ke dimensi lain hingga menarik tubuh adiknya agar tak ikut bersama pria itu. Namun Mira yang mengetahui siasat licik kakaknya malah menghindar. Kejadiannya begitu cepat dan keduanya menghilang.
"Sial!" Kakak tiri Mira itu mengeluarkan bola kristal dari balik jubahnya. Ia berkonsentrasi. "Pisahkan Ken dan Mira!" perintahnya pada bola kristal itu.
Di tempat lain. Ken terbangun dan sudah berada di sebuah ruangan. Ia sendiri terbangun dalam keadaan duduk di lantai dengan bersandar pada sebuah meja pendek. Menilik dari suasana ruangan, ia masih di jaman kerajaan kuno.
Aku masih di istana yang sama atau .... Ia memperhatikan lagi hiasan dan barang-barang yang ada di ruangan itu. Ruangan itu sepertinya adalah milik salah satu penguasa istana karena barang-barang di sana sangat mewah. Bahkan ada pedang samurai sebagai hiasan dindingnya. Tunggu, pedang samurai?
Tiba-tiba seorang pria dengan berpakaian tentara kerajaan, masuk ke dalam ruangan itu. "Maaf Baginda, permaisuri datang berkunjung." Kepala pria itu menunduk saat berbicara kepadanya.
Baginda? Apa aku seorang raja?
__________________________________________
__ADS_1
Visual Ken yang menjadi seorang raja. Salam, ingflorađź’‹