
Mereka akhirnya sampai di sebuah belokan. Belokkan menuju kota Nagoya, kampung halaman keduanya. Ken ingin sekali membelikan Mimi baju baru, karena baju yang dikenakannya sudah hangus terbakar sebagian, tapi kembali lagi ia ingat ia tak punya uang Yen. Mau tak mau ia harus pergi ke tukang pembuat perhiasan yang diberi alamatnya oleh pegawai bank.
Ken kemudian mengambil secarik kertas dari saku celana dan memeriksa alamatnya. Ternyata ia tahu daerah yang tercantum di alamat itu. "Mimi. Kita jalan-jalan sebentar, yuk, temani Kakak."
"Iya."
"Kamu gak kedinginan, 'kan, bajunya sedikit terbuka begini?" tanya pria itu karena salah satu lengan baju gadis itu sudah tak ada.
Mimi menggeleng. Ia kembali mendekap Ken. "Ayo, jalan-jalan lagi, Kak," ucapnya dengan gembira. Ia senang, akhirnya bisa bertemu kembali dengan orang yang dikenal dan disayanginya, mengingat apa yang dilakukan wanita yang mengadopsinya itu. Wanita itu merebut mainan kalung yang diberikan pria itu dengan paksa, lalu membuangnya.
Lalu saat melihat wanita itu pingsan dan tubuhnya terbakar api. Ia sempat syok. Hanya dengan mendekap Ken, rasa takutnya berkurang. Ia berharap takkan terpisahkan lagi dengan pria itu.
Ken mulai mengayuh sepeda, karena tempat yang dilewatinya banyak rumah penduduk. Hingga mereka sampai ke sebuah daerah yang banyak pepohonan di dekat sungai. Pria itu akhirnya menemukan rumah orang yang dimaksud di alamat pada secarik kertas yang dipegangnya. "Ah, ini dia."
Keduanya turun dan Ken memarkir sepedanya. Ia mengetuk pintu sambil menggandeng Mimi.
Seorang wanita muda membuka pintunya. "Ya, ada apa?"
"Saya mencari wanita bernama Rien Anoda."
"Iya, itu Saya."
"Benarkah? Ah, syukurlah," ucap Ken dengan senang.
Wanita mengerut kening. "Kenapa?"
"Bukankah Anda pembuat perhiasan emas itu?"
"Iya, benar."
Ken mengeluarkan sebuah koin emas dan menyodorkannya pada wanita itu. "Bisakah aku menukar koin ini dengan uang Yen karena aku kehabisan uang."
Wanita itu meraih koin itu dan menelitinya. Ia menggigitnya. "Oh, ok. Silakan masuk."
Ken duduk di sofa ruang tamu sambil memangku Mimi karena ia harus menutupi tubuh gadis kecil itu yang setengah terbuka.
Wanita itu masuk ke dalam kamar. Tak lama ia keluar. Ia mengeluarkan sejumlah uang dan disodorkan pada Ken. "Koin itu seharga ini. Aku sudah menimbangnya."
Ken hampir berurai air mata. Setelah pusing mencari tempat untuk menguangkannya akhirnya ia mendapatkannya juga. "Apa boleh aku menukar satu koin lagi?" ucap Ken setelah menghitung uangnya.
__ADS_1
"Oh, boleh." Wanita itu sedang memperhatikan Mimi sedari tadi. "Kenapa anak ini pakaiannya seperti ini?"
"Oh, iya. Aku juga ingin membelikannya pakaian, karena itu aku menukar koin ini." Pria itu menyodorkan lagi sebuah koin emas pada wanita itu.
Sang wanita memeriksa koin emas itu. "Tapi ini bukan barang musium 'kan?" tanyanya karena koin itu mencantumkan tanggal diberlakukannya koin.
"Oh, tidak," sahut Ken cepat. Walaupun seharusnya masuk musium, batinnya.
Kenapa kamu kehabisan uang Yen?" tanya wanita itu penasaran.
"Oh, aku habis pulang dari Perancis dan hanya mengantungi uang Franc."
Rien terkejut. "Benarkah? Coba mana lihat?"
Sedikit bingung, akhirnya Ken mengeluarkannya dari dompet. "Ini."
"Ah, kebetulan! Aku mau ke Perancis minggu depan menghadiri pameran. Apa kau mau menukarkan uang ini padaku?"
"Oh, tentu saja." Ken senang, karena tidak menyangka uangnya bisa ditukar pada wanita itu.
Tak lama mereka pamit. Sedikit bingung wanita itu melihat Ken hanya berkendara sepeda, ia melambaikan tangan pada keduanya.
Keduanya kemudian ke toko pakaian anak-anak. Ken membelikan gadis itu pakaian baru.
"Sebentar," ucap Ken yang menggoda gadis kecil itu dengan mencubit dagunya. Ia sedang merapikan pakaian yang dikenakan Mimi. "Ya, sudah. Kita beli begini saja ya?"
Pihak toko pun setuju, pembeli ingin langsung mengenakannya. Pasalnya, pakaian yang lama memang sudah tidak layak pakai. Pakaian lama itu pun dibuang ke tempat sampah.
Ken kemudian mengitari tempat itu bersama Mimi mencari tempat makan. Daerah itu memang terkenal sebagai daerah pusat pembelanjaan. Jarang sekali mereka dapat ke sana, karena di sana banyak sekali benda menarik untuk dibeli.
Dulu saat masih tinggal di panti asuhan, Ken harus menabung karena setiap ke sana, tidak bisa hanya satu barang saja yang ia beli. Rugi rasanya datang ke sana hanya dengan belanja sedikit.
Ken dan Mimi berdiri di depan sebuah family restaurant. "Kau mau makan di sini 'kan?"
"Tapi kata Kakak, mahal makanannya." Ia menoleh ke arah pria itu.
"Tidak apa-apa, Kakak ada uang. 'Kan katanya kamu suka hamburger steak. Di sini ada, yang katanya rasanya sangat enak. Bagaimana, kamu mau coba?"
Mendengar namanya saja sudah membuat gadis kecil itu hendak meneteskan air liur. Ia meloncat-loncat. "Mau, Kak, mau!"
__ADS_1
Ken tertawa lepas. "Ayo!"
Dan benar saja. Mimi memakannya dengan lahap. Tidak sia-sia ia makan sedikit telat karena makanannya sangat enak, lembut dengan saus yang sedikit manis. Ia makan dengan wajah bahagia. Sesekali pria itu merapikan mulut gadis itu karena terkena saus hamburger.
"Mmh, enak Kak!" Mimi mengunyah sambil memperlihatkan ibu jarinya. Kaki yang menggunakan sepatu baru, bergoyang-goyang di bawah meja.
Ya, tanpa sengaja Ken melihat sepatu berwarna hitam yang sesuai dengan ukuran kaki gadis kecil itu. Dengan kaus kaki berwarna biru bergambar matahari, kaki kecil itu terbungkus dengan indahnya. Padahal gadis itu belum pernah punya sepatu. Setiap saat selalu dibelikan sendal dengan alasan belum sekolah.
"Mimi, sayurnya dimakan."
"Iya, Kak." Gadis kecil itu kembali menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung di kursi.
"Habis ini kamu mau makan apa lagi? Es krim?" tanya Ken lagi.
"Mmh, sudah kenyang, Kak." Kembali mulut gadis kecil itu terkena saus sehingga bernoda di ujung bibirnya. Pria itu kembali membersihkannya dengan tisu.
Seusai makan mereka keluar dari restoran itu. Mimi memperhatikan Ken yang sejak tadi memakai penutup kepala. Ia penasaran tapi tak berani bertanya. Namun akhirnya rasa penasaran mengusiknya ketika ia diajak pergi ke tempat lain.
"Kak Ken."
"Mmh."
"Kenapa dari tadi Kakak kepalanya ditutup terus?"
Ken yang tengah menggandengnya berhenti dan menoleh. "Oh, Kakak hanya malas bertemu dengan teman-teman Kakak. Nanti mereka mengganggu kita berdua lagi. Apa kamu mau teman-teman Kakak ikut bergabung bersama kita?"
Gadis itu menggeleng.
"Nah sekarang kamu mau beli mainan atau boneka?"
"Aku gak mau itu semua. Aku hanya mau bersama Kakak selamanya."
Pria itu tersenyum lebar. Ia berjongkok di hadapan Mimi. "Mimi, kamu akan tumbuh menjadi wanita dewasa dan suatu hari akan bertemu dengan pria yang membuatmu jatuh cinta. Kakak akan menunggu saat-saat itu, Mimi."
"Tidak mau." Gadis kecil itu langsung memeluk leher Ken. "Aku ingin menikah dengan Kakak saja."
Ken kembali tersenyum lebar. "Iya, iya, iya."
Gadis itu melepas pelukan. Ia menatap wajah Ken. "Kakak janji mau nikah sama Mimi?"
__ADS_1
Pria itu tak bisa untuk tidak tersenyum lebar. Bahkan karena Ken tak memberi jawaban, gadis itu menakup wajah sang pria dan mengecup bibirnya.
Ken mengecup balik bibir gadis kecil itu. "Kakak makin sayang ... sekali sama kamu," ucapnya gemas. "Ayo sekarang kita mau ke mana?"