
"Pak." Ken menatap nanar pria itu.
"Kenapa? Lakukan saja. Kau termasuk cepat belajar, Ken. Awalnya, aku pikir kau lamban karena keseimbangan saja kau tak bisa, tapi ternyata perkembanganmu lumayan cepat. Sudah, semangat saja. Aku pikir kau pasti bisa."
"Bisa gila!" sahut Ken kesal.
Bill terkekeh. Keduanya kemudian naik kembali ke tiang lewat tangga. Pria bule itu kemudian mencontohkan.
Mereka tidak sadar, seseorang tengah mengintip dari pintu masuk tenda. Dia, Lucille tersenyum. Ken, kau adalah orang yang kucari selama ini. Kau sempurna. Aku sudah lihat garis-garis tanganmu yang dipenuhi oleh pendukung dan dirimu yang sempurna. Aku akan mengikutimu ke manapun kau pergi sampai kau kudapatkan. Lihat saja. Aku takkan menyerah.
Saat makan siang, Ken didatangi Bing. "Bisakah kau menggantikanku belanja untuk keperluan dapur? Aku mau jenguk Alden di rumah sakit. Aku juga mau jaga dia sebentar di sana. Kami gantian temani Alden di rumah sakit."
"Tapi aku tidak tahu tempat belanja kalian di mana."
"Nanti aku kasih tahu. Terus, antar aku ke rumah sakit. Nanti jemput lagi saat aku pulang. Kau tak punya HP ya?"
"Aku tak punya orang untuk dihubungi." Pria Jepang itu tersenyum geli.
"Ya sudah. Ok ya?"
Sehabis makan, keduanya berangkat. Setelah melihat pasar murah daerah itu, Ken mengantar Bing ke rumah sakit.
"Tolong jemput aku malam saja, setelah kau tutup jualanmu. Hari ini kau jualan tiket masuk ya?"
"Ok," sahut Ken mantap. Ia kemudian meninggalkan rumah sakit dan kembali ke pasar murah. Ia sudah mendapatkan daftar belanjanya dari Berta dan mulai berbelanja.
Pria itu sudah mulai selesai belanja, tinggal membeli jeruk sitrun yang dijual di tempat buah. Saat ia memilih jeruk yang segar, seseorang mengambil jeruk yang dipegangnya. Ia menoleh.
"Kalau untuk beberapa hari, beli yang lebih muda biar gak terlalu matang saat disimpan."
"Ibu?" Ken terkejut sekaligus senang.
Seorang wanita dengan pakaian sederhana dengan rambut yang dikepang kecil-kecil dan diikat dua. Wanita itu tersenyum melihat pria itu. "Apa kabar, Ken? Kau sudah bisa beradaptasi dengan kehidupanmu sekarang?"
"Ah, masih beradaptasi." Pria itu masih melihat pada wanita itu tak percaya. Ia kemudian memeluknya karena tak tahan, rindu.
Wanita itu mengusap-usap punggungnya. "Kita main, yuk?"
Pria itu melepas pelukan. Ia sedikit terkejut dengan ajakan wanita itu. Dia 'kan Ibu. Kenapa mengajak main? "Ibu, aku 'kan sudah dewasa. Kenapa Ibu selalu memperlakukanku seperti anak kecil?"
"Bagi Ibu, kamu tetap anak kecil Ibu." Wanita itu mencubit pipi pria itu.
"Aduh, Ibu saakiiit ...." Ken mengusap pipinya yang baru dicubit wanita itu.
__ADS_1
"Ayo, ikut! Selesaikan dulu belanjamu. Kamu kalau tidak mau, ibu pergi nih!" ancam Ibu.
"Iya, iya, jangan. Begitu saja Ibu ngambek." Pria itu meraih tangan wanita itu, membujuknya.
Ken kemudian menyelesaikan belanjanya dan membawa belanjaan itu ke motor, untuk ditumpuk di keranjang belanja di belakang. Setelah itu, "Ibu, kita mau ke mana?"
"Ada taman untuk bermain skateboard dekat sini."
"Naik motor?"
"Iya, nanti Ibu beri tahu."
Mereka kemudian naik motor berdesakan karena ada belanjaan yang diletakkan di kantong, seperti pelana yang berada di kanan kiri motor di belakang.
Motor pun sampai ke tempat yang dituju. Di sana banyak anak-anak muda yang sedang bermain skateboard dan sepatu roda. Ada arena khusus buat sepatu roda dan skateboard yang meliuk-liuk. Mereka mendatangi arena itu.
"Ibu mau apa? Kita tak punya sepatu roda dan skateboard, jadi kita tak bisa main di sini." Pria itu mengingatkan.
"Ibu ingin gelayutan di besi itu. Biasanya di Jepang di taman-taman banyak, tapi di Prancis ini susah sekarang mencarinya." Wanita itu menunjuk besi yang digantung di sudut sebuah dinding yang sedikit miring.
"Ibu, itu tidak bisa. Itu besi untuk orang main skateboard, berpegangan." Ken masih mengikuti ibunya yang terus melangkah ke arah tempat itu.
"Kita 'kan hanya sekali-sekali ke sini, sedang mereka setiap hari. Harusnya mereka mengalah dong."
Pria itu bingung bagaimana menahan ibunya yang hanya akan mencari masalah baru.
Tempat berdiri ibu Ken saja sudah di tengah-tengah arena. Sudah pasti mengganggu hilir mudiknya pemain skateboard dan sepatu roda di arena.
"Kalau begitu, pinjam dulu tempat ini," ucap wanita itu dengan santai.
Seketika, pemain sepatu roda yang di dominasi gadis remaja dan pemain skateboard berkumpul mengelilinginya, terlihat kesal dengan pernyataan wanita itu.
"Kenapa? Tidak suka? Ini 'kan taman umum dan kalian juga di sini gratis alias, tidak bayar."
"Ibu," bisik pria Jepang itu khawatir, tapi Sri mendorong putranya ke samping.
"Tante, kalau mau melakukan sesuatu itu jangan ngambil lahan orang!" Pemuda dengan ikat kepala dan anting diujung bibir itu mulai protes.
"Memangnya ini lahanmu? Kau beli tempat ini?" Sri bertelak pinggang tak kalah galak dengan mata melotot.
Pemuda dengan ikat kepala itu menyeringai mengejek. "Lakukan sesuatu itu sesuai tempatnya ya, Tante. Ini 'kan arena untuk skateboard. Ya wajarlah kami di sini. Kalau Tante, mau apa di sini?"
Walau Ibunya diejek begitu, Ken berusaha menengahi. "Eh, maafkan Ibuku ya, tapi bicaranya jangan seperti itu pada orang tua."
__ADS_1
Anak-anak muda di sana melihat heran pada Ken. Pasalnya Ken terlihat dewasa dan sang ibu hanya terlihat beberapa tahun lebih tua di atasnya. Mereka mulai menganggap pria itu sudah gila.
Namun, Sri segera mengambil alih pembicaraan dengan mendorong pria itu ke belakang. "Pokoknya Saya mau pakai tempat ini! Gantian dong! Namanya juga tempat umum."
"Heh, Nenek tak tahu diri!" celetuk pemuda itu kesal.
"APA KATAMU?!!" Ibu makin melotot.
"Sudah, Ibu," pinta Ken pada ibunya dengan lemas.
Dengan cepat wanita itu menjentikkan jemarinya. "Waktu berhenti!" Seketika, waktu berhenti. Semua orang berhenti bergerak. Bahkan daun sekali pun.
Pria itu terperangah. "Ibu ... apa yang kau lakukan?" tanyanya dalam takjub.
"Ayo Ken, kita main." Wanita itu segera mendatangi besi itu. Karena sedikit tinggi, ia melompat dan tergapai. Ia menarik tubuhnya ke atas.
"Ibu, untuk apa kita ke sini, Bu?"
"Ayo sini, Nak. Temani ibu di atas." Wanita itu tersenyum seolah tidak peduli dengan yang terjadi tadi di bawah. Ia mengulurkan tangan.
"Ck!" Ken terpaksa naik seperti yang ibunya lakukan dan ia duduk di sampingnya. "Ibu ...."
"Lihat, kita bisa melihat keseluruhan taman ini juga jalan raya dari sini. Asyik gak?" Ibu membujuk Ken yang terlihat merengut.
"Tapi kenapa harus bertengkar dengan orang lain, Bu. Banyak cara menikmati sesuatu dari ketinggian dan tidak harus bertengkar dengan orang lain. Misalnya, kita bisa naik gunung."
"Kau punya waktu untuk naik gunung dengan ibu?" tanya ibu lembut memandang anak semata wayangnya.
"Mmh, tapi kita bisa juga pergi ke tempat lain. Misalnya pergi ke kafe."
"Aku lebih suka pergi ke tempat terbuka seperti ini."
"'Kan ada kafe yang tempatnya di luar, Bu."
Ibu menatap Ken lama dengan pandangan yang entah.
"Kenapa, Bu?" tanya Ken lugu.
"Eh, tidak." Ia memandang ke depan. "Kenapa ibu tak boleh berada di sini, Ken?"
"Eh, bukan begitu, Bu." Pria itu tak tahu harus bagaimana lagi mengatakan pada ibunya. Ia hanya tidak ingin ibunya bertengkar dengan orang lain, itu saja.
Wanita itu mengambil satu tangan anaknya ke pangkuan. Ia menggenggamnya dengan kedua tangan. "Maafkan ibu ya, yang tidak pernah mengurusmu." Kepalanya tertunduk dengan wajah sendu.
__ADS_1
____________________________________________