Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Latihan Tembak


__ADS_3

Lonceng tanda pulang sekolah. Seperti janjinya, Ken menunggu di perparkiran. Gadis itu berlari-lari datang dengan senangnya. Namun ketika hendak membuka pintu, pria itu menghalangi dengan tubuhnya.


"Apa?" Gadis itu cemberut.


Pria itu menyodorkan telapak tangannya. "Biar aku yang nyetir. Kamu yang ajari."


"Keren. Ok!" jawab gadis itu senang. Ia menyerahkan kunci mobil itu pada pria Jepang itu. Gadis itu meletakkan tasnya di belakang dan duduk di depan. Ia mulai menerangkan pada Ken, apa yang harus dilakukannya. Pelan-pelan, mobil itu pun bergerak mundur keluar dari perparkiran.


Gadis itu terus memberi arahan hingga mobil itu sampai ke rumahnya. Ken memarkir mobil itu.


"Jadi bisa 'kan?" Freya membuka pintu mobil.


"Aku sudah berusaha, jadi Nona juga harus berusaha. Besok harus bangun lebih pagi." Pria itu menyusul keluar.


"Ok, aku coba." Gadis itu mengambil tasnya.


"Ken!"


Pria Jepang itu menoleh.


Jhon datang menyambangi. Sepertinya pria itu menunggu kedatangannya. "Ayo, kita pergi."


"Sekarang?"


"Iya."


"Mau ke mana?" sela Freya ingin tahu.


"Oh, mengajarinya bagaimana menggunakan pistol," ujar Jhon.


"Oh, aku ingin ikut."


"Tidak boleh. Ayah Nona sudah pesan begitu."


"Kok gitu sih ... aku ingin ikut ...," rengek gadis itu.


"Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan perintah."


"Mmmmh." Wajah Freya langsung masam dan berlari ke dalam rumah.


"Ayo, Ken. Ikut aku cepat," ajak Jhon ke arah mobilnya.


"Eh, kenapa? Tapi ... bagaimana dengan Nona Freya?" Walau bingung, Ken tetap mengikuti Jhon.

__ADS_1


"Dia gak boleh ikut dan ayahnya sedang tidak ada di rumah. Kalau dia tahu itu, dia akan menahan kita," terang pria bule itu.


Mendengar itu, ia bergegas masuk mobil Jhon hingga pria bule itu bisa segera membawa keluar mobil itu dari halaman rumah itu.


Dua puluh menit kemudian, mereka sampai ke sebuah gedung luas. Di dalamnya terdapat banyak tempat latihan ketangkasan termasuk menembak.


Ken malah tertarik dengan yang satunya lagi, memanah. "Apa aku boleh coba memanah?"


"Apa? Memanah? Benda itu rumit bawanya, tidak seperti pistol yang bahkan bisa disembunyikan di kaki."


Akhirnya pria itu hanya melihat saja, arena memanah dilewatinya.


"Polisi pakai tempat ini untuk latihan jadi standarnya sama dengan polisi kalau kau bisa menembak."


Sebuah target diletakkan sangat jauh di depan. Ken diberi alat penutup kuping agar letusannya tak memekakkan telinga. Ia diberi instruksi bagaimana cara menggunakan dan kini mendapatkan pistolnya.


Pria Jepang itu konsentrasi. Ia menutup kedua telinga dengan alat peredam suara, mengisi pistol dengan peluru dan mengarahkannya pada papan target. Terdengar letusan beberapa kali hingga peluru itu habis.


Saat target itu ditarik ke depan, Jhon malah kaget. Hanya bulatan di tengah dari target yang kena. "Wah, bagus sekali hasilnya. Ini di luar ekspetasi. Aku saja belum bisa sampai sesempurna ini," ucapnya tercengang.


Namun Ken sepertinya tak peduli. Itu 'kan hasil dari meminta tolong pelurunya, jadi aku bukan jago tembak sebenarnya. "Kalau begitu, aku boleh coba memanah sekarang?" ucapnya sambil melirik ke samping tempat arena memanah.


"Tunggu. Coba dulu kalau targetnya itu pecah." Jhon masih belum percaya dengan kepandaian pria Jepang itu dan meminta Ken menembak di beberapa titik berbeda. Ken terpaksa mengerjakannya.


"Tidak."


"Tapi, bagaimana caranya kau menembak target dengan benar?"


"Hanya konsentrasi."


"Memangnya kau sebagai apa di sirkus itu?"


"Badut."


"Hah?"


----------+++----------


Di dalam karavan Lucille, wanita itu tengah berbicara dengan Bibi Berta. Wanita paruh baya itu adalah bibi Lucille, satu-satunya keluarga yang dia punya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.


"Bibi tolong aku," pinta Lucille pada bibinya. Ia memegang kedua tangan wanita yang semakin tua itu. "Sebaiknya Bibi mengambil alih sirkus ini saja, menggantikanku. Bibi sudah terlalu tua untuk mengurus dapur. Berikan saja pekerjaan itu pada orang lain."


"Lucille, kau tak bisa mengejar Ken. Dia sebentar lagi akan pindah dimensi. Kita ini hanya penyihir. Penyihir itu hanya manusia biasa yang tak bisa ikut dalam perpindahannya."

__ADS_1


"Kenapa tidak? Sebutkan saja mantra sihirnya, agar aku bisa ikut dengannya."


"Tidak bisa, itu tidak bisa. Hanya manusia dengan gen yang telah berubah seperti Ken saja, yang bisa berpindah-pindah dimensi."


"Lalu bagaimana caranya aku bisa mengikuti Ken, Bibi?" tanyanya penuh harap. Lucille memang tak pernah menunjukkan ke publik bahwa ia sangat menyukai Ken. Ia pandai menyimpan perasaannya itu hingga tak ada seorang pun yang tahu selain Bill dan bibinya, Berta.


Bibi Berta menatap kedua manik mata keponakannya itu. "Apa kau benar-benar mencintainya, sebab pria ini adalah manusia setengah dewa, Lucille."


"Aku sangat mencintainya, Bibi. Beri tahu aku bagaimana caranya, agar aku bisa terus mengikutinya ke manapun." Wanita itu menggenggam tangan bibinya dengan erat.


"Di buku kuno sihir, keberadaannya di dunia sudah diramalkan beratus-ratus tahun yang lalu. Manusia setengah dewa, dan kita telah menemukannya. Di sana ditulis, untuk mengikutinya, kau harus memiliki 2 hal.


Satu darahnya. Kau harus minum darah Ken agar bisa pindah dimensi. Dua, bola kristal dan ini bukan bola kristal biasa seperti yang dimiliki umumnya para penyihir. Bola kristal ini didapat dari dalam telaga yang bernama Telaga Warna yang berada di Indonesia.


Bola kristal ini hanya ada tiga di dunia dan salah satunya dipegang oleh gadis yang sering bersama Ken itu. Kalau kau memilikinya kau akan tahu ke mana Ken pindah.


Nah, pikirkan baik-baik apa yang akan kau lakukan sebelum kau menyesal kemudian, karena takdirnya sudah dituliskan. Apa kau masih belum ingin merubah pikiranmu, Lucille?" Ia mengusap wajah wanita muda itu dengan penuh kasih sayang.


Dalam diam, Lucille mengangguk pelan dengan senyum terukir.


--------+++-----------


"Tolong, turunkan saja aku di sini. Boleh 'kan?" Ken menunjuk ke sebuah tempat pada Jhon.


Pria bule itu menoleh pada penginapan sederhana yang berada di pinggir jalan itu. Ketika mobil berhenti, Ken langsung membuka pintu. Jhon meraih lengan pria Jepang itu. "Kau tidak boleh tinggal di sini."


"Oh, bukan. Aku hanya main ke tempat adikku."


"Adikmu?" Pria bule itu mengerut kening.


"Adik angkat. Dia sedang menginap di sini."


"Kau tidak boleh pergi sendirian keluar. Kalau begitu, bawa saja adikmu main ke tempatmu."


"Tapi pulangnya bagaimana? Adikku perempuan."


"Biar nanti di antar pulang."


Ken akhirnya menyetujui. Ia kemudian menjemput Mira. Jhon terkejut melihat gadis yang penampilannya bak boneka. Wajahnya kecil walau tingkahnya seperti orang dewasa membuat ia meragukan umurnya. "Ini sekolah SD?"


Ken dan Mira tertawa.


"Dia sudah SMP," sahut Ken asal, agar Jhon tak mengira Mira masih anak-anak. Ia sendiri tak tahu tingkatan Mira bila di sekolah normal.

__ADS_1


"Kau masih kecil. Apa kau sudah bekerja? Bagaimana kalau kau tinggal dengan Ken saja. Aku bisa tanyakan itu pada, Bos."


__ADS_2