Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Rahasia Tangan


__ADS_3

"Kau cukup panggil namaku saja."


"Eh, tapi tadi katanya kau lebih tua dariku. Kau juga yang mengajariku. Apa bisa aku memanggil namamu begitu saja?" tanya Ken hati-hati.


"'Kan aku akan jadi patnermu, sama dengan yang lain. Aneh rasanya, kau memanggilku dengan 'Nona'. Coba, kau panggil namaku." Wanita itu menunggu.


"Irish(baca : airis)," jawab Ken pelan dengan sungkan.


Wanita itu tersenyum. "Bagus. Ayo, kita ke atas."


Mereka masih membawa belanjaan mereka di tangan hingga ke kamar Ken.


Ken heran karena wanita itu masih membuntutinya hingga ke kamar. "Eh, ada apa?"


"Eh, ya. Aku lupa." Wanita itu mengeluarkan sabun mandi, sikat gigi, dan keperluan mandi lainnya dan diserahkan pada pemuda itu.


Ken mengambilnya dalam satu kantong tapi wanita itu masih berdiri di sana. "Eh, ada lagi?"


"Tidak ada."


"Ok, aku tutup pintunya ya?"


"Oh, iya." Irish tersenyum kaku menyadari. Ia kemudian melangkah pergi.


Ken kemudian menutup pintu dan meletakkan barang belanjaannya di atas ranjang. Setelah memilih, ia kemudian ke kamar mandi.


Setelah usai membersihkan diri, pemuda itu ke luar tapi alangkah terkejutnya ia, Irish tiba-tiba sudah ada di dalam kamarnya. "Irish, untuk apa kamu ke sini?"


"Aku ingin melihat bekas pukulanku tadi pagi."


"Oh, itu sudah tidak apa-apa," ucap pemuda itu cepat.


"Benarkah?"


"Iya, benar."


"Coba aku lihat."


Ken yang sudah terlanjur mendekat, mendadak mundur. "Tidak usah. Lagi pula sudah malam," tolaknya dengan mengangkat kedua tangan.


Wanita itu bergerak maju membuat Ken terpaksa berjalan mundur. "Coba aku lihat."


"Tidak usah."


"Lihat sedikit saja, untuk memastikan."

__ADS_1


"Tidak. Aku, ah!" Punggung pemuda itu menyentuh dinding. Ia merasakan nyeri di punggung hingga memejamkan mata.


Wanita itu sudah tahu, karena itu ia tidak berani memeluk punggung pemuda itu tadi di taman karena pasti ia kesakitan. "Ken, coba ke sini." Irish mengulurkan tangannya.


"Gak apa-apa, cuma sakit sedikit kok," elak Ken.


"Ken." Wanita itu menghela napas kasar dan meraih lengan pemuda itu. Ia menariknya ke tepi ranjang. Wanita itu duduk di belakang punggung Ken dan menyingkap baju pemuda itu. Ada biru kemerahan di satu sisi yang tak begitu kentara. Wanita itu segera mengoleskan salep pada bekas memar itu.


"Ah ...." Ken merasakan nyeri tapi tak sehebat kemarin. Pasalnya ia tak tahu separah apa lebam di belakang punggungnya karena ia tidak bisa melihatnya. "Sudah ...," katanya tidak betah diobati.


Bukan apa-apa, ia tak nyaman dengan kedatangan wanita itu yang selalu datang tiba-tiba ke kamarnya seolah ia tak punya privasi.


"Iya, sudah." Wanita itu menutup botol salep itu dan beranjak berdiri.


"Terima kasih."


Wanita itu hanya melirik sekilas. "Mmh." Lalu pergi.


Ken menghela napas. Kenapa dia memukulku lalu kemudian mengobati? Pemuda itu tak habis pikir dengan sifat wanita itu yang kadang jahat dan kadang baik padanya.


Sementara di pintu luar, Irish terlihat diam lalu tak lama kemudian pergi. Ia tak sadar seseorang tengah mengamati.


Ya, siapa lagi kalau bukan Vicky. Ia jelas penasaran dengan hubungan Irish dengan Ken. Karena sejak wanita itu mengenal Ken, Irish mengabaikan dirinya. Ya, hampir setiap saat, tidak ada waktu untuk dirinya padahal ia sempat dekat dengan Irish sebelumnya.


----------+++---------


Sebuah sentuhan lembut di bahu membuat pemuda itu membuka mata, dan mendapati wanita itu ada di kamarnya kembali. "Oh, Irish." Ia bangun dan memaksakan diri untuk duduk. Sambil mengucek-ngucek matanya, ia berusaha mengumpulkan kesadaran.


"Keluar, yuk!"


"Sepagi ini?" tanya pemuda itu tak percaya.


"Nanti kubelikan sarapan. Aku ingin lari, pagi ini."


"Ah, tidak mau. Aku mau tidur saja." Pemuda itu kembali merebahkan diri dan menarik selimutnya tinggi, tapi wanita itu meraih tangannya.


"Ayo ... temani aku."


"Hah ...," rengek pemuda itu karena tidurnya terganggu. Rambutnya kembali berantakan. Matanya sulit terbuka karena masih ngantuk.


Wanita itu mencubit pipi Ken dan menggoyang-goyangkannya. "Ayo jangan malas."


"Tidak bisakah kau pergi dengan yang lain?" keluh Ken.


"Tidak, karena hanya kau yang bisa ku-bully." Irish bertelak pinggang menatap pemuda di hadapan dengan senyum lebar.

__ADS_1


Ken dengan mata yang masih mengantuk, menengadah menatap wanita itu. "Ck, iya ...." Ia kembali mengucek mata dan turun dari ranjang. Dengan menguap ia menutup mulutnya seraya berjalan ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, pemuda itu menemani Irish berlari di pagi itu dengan setengah hati. Sebentar-sebentar ia berhenti dan lalu menyusul wanita itu. Ia tak bisa menolak karena wanita itu sudah seperti guru baginya. Ia kesal tak bisa mengunci pintu kamar karena ia tidak memiliki kuncinya.


Pemuda itu merasa lega ketika wanita itu mampir ke sebuah kedai mobil di pinggir jalan yang kebetulan ramai dengan antrian. Kedai itu menjual sandwich daging yang terlihat lezat. Mata Ken langsung terbuka.


"Kau mau makan apa?"


"Aku mau sandwich daging itu. Sepertinya enak." Pemuda itu menelan air liurnya sendiri karena karena membayangkan rasanya.


Wanita itu tersenyum. "Minumnya?"


"Ice tea."


Ternyata porsinya sangat besar hingga mereka hanya membeli satu dan makan berdua. Mereka sarapan di taman terdekat. Sebuah tangga pendek menuju lapangan rumput yang juga didatangi burung-burung liar.


"Maaf, aku hanya ingin separuhnya saja. Satu sepertinya terlalu banyak untuk sarapan," sahut pemuda itu.


"Tidak apa-apa. Aku juga tidak sarapan banyak. Untung ada kau yang bisa membantuku menghabiskannya."


Mereka sarapan sambil memperhatikan burung-burung yang bergerombol datang dan pergi. Ken bahkan memberi beberapa remahan roti pada burung-burung itu dari telapak tangannya.


Satu saat ada burung kecil yang tak sengaja mematuk keras pada telapak tangan Ken dan burung itu menghilang. Pemuda itu terkejut. Untung saja wanita itu tidak melihat kejadian itu karena sibuk mengunyah makanannya.


Saat itu, dengan sembunyi-sembunyi pemuda itu berusaha mengeluarkan burung itu dari dalam tangannya dengan menghempas tangan itu berulang kali karena panik. Setelah beberapa kali percobaan, burung itu berhasil keluar.


Ken ketakutan, burung itu mati atau tak bisa keluar lagi dari dalam tangannya. Padahal saat itu, ia tidak merasakan apa-apa pada tangan itu seakan tidak pernah terjadi apapun selain ilusi. Ken berusaha menormalkan detak jantung yang berpacu tiba-tiba karena kejadian ini.


"Ken? Kau kenapa?" Irish melihat wajah pemuda itu yang sedikit pucat.


"Eh, tidak apa-apa." Ken menyembunyikan tangan kanannya di pangkuan.


"Mmh?" Wanita itu melirik tangan pemuda itu yang disembunyikan di sela kedua paha Ken. "Ada, apa dengan tanganmu?"


"Eh, tidak ada," jawab Ken cepat.


"Coba aku lihat?" Irish menyodorkan tangannya.


Pemuda itu perlahan memperlihatkan tangannya. Wanita itu memeriksa tangan pemuda itu dan mulai menyentuh telapak tangannya.


____________________________________________


Kuy, baca novel keren satu ini.


__ADS_1


__ADS_2