Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Tes Masak


__ADS_3

"Eh, tentu tidak. Aku hanya memasak untuk hari ini saja," sangkal Ken pada keduanya.


Dante menyorot pria Jepang itu untuk memastikan.


"Sungguh. Aku baru selesai kursus dan akan menjadi pegawai restoran Tuan Ramires," terang Ken.


"Oh, jadi ini ujiannya?" Koki itu bertanya lagi.


"Mungkin."


"Baiklah, tapi biarkan aku di sini. Aku ingin melihat kau memasak."


Sang pria Jepang itu sebenarnya keberatan karena ia memasak di depan Koki yang nantinya akan mengatur bagaimana cara ia memasak. Ia melirik Ladi yang hanya mengangkat bahu. "Tidak apa-apa, asal kau tidak mengusikku."


"Ok, aku terima itu, tapi kalau ada masalah tanggung sendiri ya?" Pria tinggi tegap itu melipat tangannya di dada dan membuang wajahnya ke samping. Ia mengerucutkan mulut dengan mata menyipit. Terlihat sekali ia ingin memberi bantuan yang tidak diinginkan Ken.


"Maaf," ujar pria Jepang itu pelan.


Tak lama Ken sibuk memotong bahan. Para pelayan membantunya mencarikan alat-alat dapur. Dante dan Ladi menonton di sudut ruangan. Saking tegangnya tangan sang pria Jepang sempat teriris pisau dan mengeluarkan darah. "Aduh," gumamnya.


Ladi buka suara. "Eh, Ken. Tangan—"


"Tidak usah." Ken cukup menggenggam jari yang teriris itu untuk beberapa saat dan kemudian mulai bekerja lagi. Tak ada yang memperhatikan kalau jari itu telah sembuh seperti sedia kala.


Karena ada beberapa masakan, Ken cukup kerepotan melakukannya sendiri tapi karena dari kecil sering membantu ayahnya memasak di panti, ia bisa melewati dengan baik. "Ah, syukurlah ...."


Baru saja ia bernapas lega, seorang pelayan mendatangi dapur dengan terburu-buru. "Tuan Ramires sudah datang. Kita harus menyiapkan makan malam. Apa makan malamnya sudah siap?"


"Oh, sudah," sahut pria asia itu.


"Baiklah kami akan menyiapkan meja makan."


Terlihat pelayan mulai sibuk menyiapkan piring dan gelas. Ken pun juga terpaksa menata makanan di piring dan menghiasnya. Setelah itu ia baru bisa beristirahat. Ia duduk di samping Ladi di sebuah meja kecil di sudut ruangan. Dante bergerak ingin mencicipi masakan pria Jepang itu yang masih ada di atas kompor.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Ladi pada Ken.


"Aku tidak tahu, tapi aku sudah maksimal memasak, hah ...." Sang pria Jepang menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Aku lelah sekali. Padahal tadi aku juga ujian praktek di kelas." Ia mengusap keringat di dahi dengan lap yang ada di atas meja.


Ladi terkekeh.


Setengah jam kemudian, Ramires mengajak istri dan anaknya makan malam di ruang makan.


"Ayah, aku bilang aku tak ingin makan malam karena aku sedang diet, ayah." Seorang gadis cantik bertubuh langsing merengut mengekor ayah dan ibunya menuruni tangga.


Ramires tertawa. "Untuk apa kamu diet. Kamu sudah cukup kurus, Millea."


"Aku masih harus menguruskan pinggangku lagi." Gadis itu menyentuh tubuhnya di bagian pinggang.


"Ayah punya tukang masak baru dan masakannya pasti enak. Kau harus coba," ujar pria tampan itu pada anaknya dengan lembut.


"Aduh, Ayah. Itu apalagi," keluh gadis itu dengan mulut makin mengerucut.


Sang istri hanya tersenyum melihat suaminya malah makin menggoda anak mereka.


Wanita cantik dengan gaun yang sangat indah itu, menutup mulutnya menahan tawa karena mendengar candaan suaminya. Sedang sang gadis masih terlihat kesal.


"Ayolah. Tukang masak ini hanya ada hari ini saja lho!" bujuk Ramires pada putrinya.


Mereka kemudian duduk melingkar di kursi meja panjang itu dengan Ramires berada di tengah. Pelayan mulai melayani mereka. Makanan satu-satu mulai dihidangkan. Mereka menikmatinya terutama Millea, putri Ramires. Ia sangat menyukai steak ayam yang dibuat Ken.


"Mmh, Ayah." Gadis itu terlihat malu-malu.


"Apa, Sayang?"


"Boleh 'kan aku tambah makan steak-nya?"


Kali ini, wanita cantik dengan rambut yang di gelung ke atas itu tak dapat menahan tawanya. Ia kembali menutup mulut karena takut anak perempuannya mendengar ia tertawa. Namun tak ayal tawanya terdengar juga oleh gadis itu.

__ADS_1


"Ibu ...." Millea makin merengut mendengar ibunya tertawa.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu tidak akan gemuk hanya karena makan steak ayam sekali lagi," terang Ramires.


Namun kalimat itu malah makin membuat gadis itu menggulung bibir bawahnya.


Setelah makan malam, Ken dipanggil ke meja makan. Ken datang saat anak dan istri Ramires menaiki tangga. Millea melirik pria Jepang itu dan menyukainya. Ia menoleh pada ibunya. "Ibu, apa itu tukang masaknya?"


Wanita cantik itu melirik pada Ken. "Oh, mungkin, Sayang." Ia mengusap kepala anaknya yang masih duduk di bangku SMA dengan lembut. "Ayo, jangan lupa selesaikan tugasmu sebelum tidur."


"Iya."


Ken kini berhadapan dengan Ramires. Namun pria itu tidak membicarakan masakan yang dibuatnya sedari tadi tapi tentang perkara lain.


"Aku ingin membuka lagi restorannya dalam waktu dekat dan aku ingin mengubah menu yang ada. Aku minta kamu dan pegawai lainnya memikirkan menu yang akan dicantumkan sebagai makanan restoran itu. Tentunya tidak semuanya dan kemungkinan nama restoran diganti juga ada, karena itu aku butuh kerja sama tim."


"Tapi aku tidak tahu makanan apa saja yang dijual di sana. Apa tidak sebaiknya pegawai lama restoran itu saja yang memikirkannya?" sahut Ken. Ia takut ikut campur dengan masalah restoran lama sebab ia melihat para pegawai itu menjaga jarak dengannya.


"Karena aku memasukkan kamu ke sana, kau harus terlibat dalam semua pekerjaan di sana."


"Tapi, Tuan. Aku masih hijau dengan masalah ini, dan lagi tidak berwenang mengurusi penggantian menu."


Ramires menegakkan tubuhnya dan melipat tangan di dada. "Siapa bilang kamu tidak punya wewenang dalam penggantian menu? Bukankah sebelumnya kaldu buatanmu ditawarkan sebagai sebagai menu tambahan di restoran Chef Balto?"


Ken menggaruk-garuk dahinya. Kenapa jadi begini ceritanya sih? Itu 'kan tidak sengaja. Ini gara-gara Pak Balto, semuanya jadi membingungkan. "Begini, Tuan. Itu terjadi, tidak sengaja. Itu hanya resep kaldu yang di uji coba, dan bukan bagian dari menu restoran."


Pria kaya itu memperhatikan wajah pria di depannya dengan teliti. Orang ini, apa ia tidak sadar bahwa dirinya mampu? Tidak mungkin 'kan Chef Balto mengambil resiko, pada para pelanggannya yang sangat pemilih itu, kalau tidak karena ia sangat yakin rasanya sangat menjual.


"Ken, apa kau tahu? Chef Balto itu sangat pemilih. Tidak mungkin ia memasukkan bumbu sembarangan ke dalam masakannya kalau ia tak yakin. Chef Balto sangat terkenal dan pelanggannya tidak sembarangan. Apa kau mau bilang penilaian 'Beliau' salah?" Ia sengaja menekankan kata Beliau agar pria Jepang itu mengerti.


Kembali Ken menggaruk-garuk dahinya yang tidak gatal. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku melakukannya berdasarkan penilaian Chef Balto dan aku lihat malam ini kau juga mampu melakukannya. Lalu apa lagi alasanmu untuk mundur? Aku hanya memintamu menambah menu, apa itu sulit?"

__ADS_1


"Eh, iya." Ken terpaksa mengiyakan walaupun ia sendiri tidak mengerti. "Akan aku coba."


Pria itu tidak sadar ada seorang gadis mengintipnya dari balik pintu di lantai dua. Millea tengah mengagumi wajah pria Jepang itu dari jauh.


__ADS_2