Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Kucing


__ADS_3

"Kucingnya lucu sekali, Yah." Ken membungkuk dan mengambilnya. Bulunya lebat dan panjang berwarna hitam dan putih. "Apa kita bisa memeliharanya?"


"Bulunya terlalu bagus. Mungkin sudah jadi piaraan orang."


"Mmh, padahal aku suka sama bulunya. Bagus sekali." Pemuda itu mengusap tubuh kucing itu.


"Sudah Kenzie, letakkan."


Ken melepas kucing itu kembali ke tanah.


"Ayo, kita segera kembali. Nona Mirelle sedang menunggu ayah di rumah."


Mereka sampai ke rumah dengan Ken lebih dulu masuk. Sekilas pemuda itu melihat wanita itu menutupi tubuhnya dengan kain membuat Ken terkejut.


"Nona, jangan melepas pakaiannya sebelum anak Saya masuk," protes Jack.


"Baiklah," jawab wanita itu sendu tapi ia sempat melirik lagi pemuda itu yang menaiki tangga.


-----------+++----------


Ken terbangun di malam hari karena mendengar sesuatu di jendela. Ia turun dari ranjang dan menyingkap gorden jendela itu. Ternyata itu adalah kucing yang tadi sore dilihatnya. Kucing itu seperti berusaha masuk tapi terkejut melihat wajah Ken.


"Ah, kamu lagi." Pemuda itu hendak membuka jendela tapi kucing itu lari ke beranda. Terpaksa Ken beralih ke beranda tapi setelah ia buka, ia tidak menemukan kucing itu di mana-mana.


Apa kucing itu terjatuh? Ia melihat ke bawah tapi sulit. Suasana hutan yang gelap di malam hari menjadikan pemuda itu bergantung pada sinar rembulan. Ke mana ya? Apalagi kucing itu berwarna putih dan hitam.


Tanpa pikir panjang, Ken bergegas keluar dan menuruni tangga. Ia tak sadar harus melewati sofa tempat pria itu sedang bergumul dengan Mirelle. "Ah ...." Ia terperangah.


Keduanya pun terkejut karena tertangkap basah, tapi karena Ken teringat kucing itu ia kembali berlari ke pintu dan membukanya.


"Kenzie!" Jack buru-buru berpakaian dan mengejar pemuda itu keluar. "Aduh ...."


Ken masih mencari kucing itu di bawah jendelanya. "Pus ... pus ... di mana kamu?"


Jack berlari-lari datang. "Ada apa denganmu? Apa karena ayah dan Mirelle ...."


Tiba-tiba kucing itu muncul. Ken segera mengambilnya dengan gembira. "Haaa, pus. Kamu tadi ke mana?" Ia mengusap-usap tubuh kucing itu karena khawatir.


"Kucing?"


"Dia tadi ada di jendelaku, Yah, tapi ketika diperiksa, dia menghilang. Aku takut dia jatuh, tapi untung tidak apa-apa." Ken mengusap kepala kucing itu dengan lembut.

__ADS_1


Jack menghela napas. Ia mengira karena apa yang dilakukannya bersama Mirelle, pemuda itu berusaha kabur.


"Boleh aku memeliharanya, Ayah?"


"Ya sudah, ambil saja kalau kau suka. Daripada mengganggumu terus dari jendela." Jack tak mau ambil pusing masalah kucing itu. Asalkan Ken senang, itu sudah cukup baginya.


Ken begitu senang hingga memeluk kucing itu sambil membawa pulang. Ia sempat bertemu Mirelle yang membungkus dirinya dengan selimut tapi Ken tak peduli. Ia begitu senang dengan kucing itu hingga membawanya ke lantai atas.


Jack menggaruk-garukkan kepalanya sambil menatap wanita itu yang rambutnya telah berantakan. "Maaf, mood-ku sudah hilang. Aku tidak bisa meneruskan."


Wanita itu terlihat kesal.


Ken di lantai atas begitu senang. Ia membuka lemari es dan duduk di lantai. "Kau mau apa, mmh?" Ia mencari sisa makanan yang bisa diberikan. Ia menemukan daging kornet dan di keluar sedikit di mangkuk lalu diberikan pada kucing itu. Juga air mineral. Ia menunggu sampai kucing itu menghabiskan makanannya.


"Kenzie, kau belum tidur?" Jack yang naik ke lantai dua melihat pemuda itu masih bersama kucing itu.


"Sebentar, Yah. Kucingnya sedang lapar."


Pria itu mendekati Ken dan berjongkok. Karena terburu-buru, ia bahkan belum mengancingi bajunya hingga terlihat dadanya yang berbulu lebat. Ia mengusap kepala Ken dengan lembut. "Habis ini tidur ya?"


"Aku boleh tidur dengannya 'kan?" Ken mengusap tubuh kucing itu.


"Terima kasih, Yah." Ken tersenyum lebar.


"Mmh."


-----------+++-----------


Ken telah tertidur tapi tidak dengan kucing itu. Kucing itu bergerak dan turun dari ranjang. Ia naik ke kursi dan menatap pemuda itu. Sebentar kemudian ia melihat ke sekeliling ruangan itu. Kucing itu melihat tempat pemuda itu menggantung handuknya lalu ia turun mendekati. Tak lama ia berubah menjadi manusia hingga ia segera mengenakan handuk itu.


Mmh, di sinikah kamarnya? Dia bahkan tak memiliki apa-apa. Jadi bagaimana aku tahu siapa dia? Gojo kembali menoleh ke arah Ken. Aku merasa Ken tidak ada hubungannya dengan orang bule ini tapi bagaimana caranya mereka bisa bersama? Ini sangat membingungkan karena bule ini sepertinya orang biasa dan Ken ....


"Mmh ...." Ken bergerak dan meraba-raba kucingnya tapi tak ditemukan. Ia membuka matanya. "Puss ...." Ia terduduk seketika. Dilihatnya kucing itu menduduki handuknya di lantai. "Pus, kamu kenapa di situ?"


Ken turun dari ranjang dan mengambilnya. Ia membawanya lagi ke atas ranjang. "Kamu kenapa? Gak mau tidur denganku, mmh?" Ia mengusap-usap tubuh kucing itu. Kucing itu malah naik ke bahu pemuda itu membuat Ken semakin senang. "Ayuk, tidur, yuk! Sudah malam."


Pemuda itu merebahkan diri dan meletakkan kucing itu di atas telapak tangannya. Sebentar kemudian, Ken tidur dengan kucing itu.


--------------+++-----------


Pagi itu Ken terlihat merengut.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Ken, kok sarapannya gak di makan?" tanya Jack melihat pemuda itu hanya melihat saja pada rotinya. "Kamu mau omelet?"


Ken menggeleng. "Aku gak enak badan. Kepalaku pusing."


"Mungkin karena kamu keluar malam-malam itu, Ken. Atau karena tidur dengan kucing itu, barang kali."


Ken menatap Jack dengan kesal. "Ayah, jangan usir kucingku, Yah!"


"Tapi ...."


Ken segera membungkuk. Ia segera mengambil kucing itu yang sedari tadi mondar-mandir di kakinya dan membawanya ke kamar. Ia membanting pintu yang membuat Jack cukup terkejut. Ken belum pernah sedemikian marahnya pada dirinya hingga membanting pintu.


Dari sejak kecil Ken jarang melakukan kenakalan karena ia anak penurun. Mungkin karena ia sangat menyayangi kucing itu hingga tak ingin dipisahkan.


Tak lama Jack masuk ke kamar. "Ayah pergi dulu beli alat-alat kebutuhan lukis. Nanti kalau ada Nona Mirelle, tolong bukakan pintu." Ia kemudian keluar.


Ken kemudian keluar dari kamar walau keadaan tubuhnya tidak sehat. Kucing itu mengikutinya. Ia menunggu Nona Mirelle di lantai bawah karena mengingat perintah ayahnya. Setengah jam kemudian, wanita itu baru datang. Ken membukakan pintu.


"Oh, kau anaknya Jack ya?" sahut wanita itu.


"Masuk saja, Nona. Saya ingin naik ke atas," ucap Ken dengan lemah. Baru beberapa langkah, pemuda itu terjatuh dan pingsan.


"Oh, kamu kenapa?" Wanita itu segera menutup pintu dan memeriksa Ken. Dia pingsan, tapi nadinya normal. Ia bernapas seperti biasa. Kemudian wanita itu ingat Jack pernah bercerita bahwa tubuh anaknya lemah dan gampang pingsan.


Wanita itu menatap wajah pemuda itu. Ia menepikan rambutnya. Sebenarnya wajahnya lumayan manis. Tipe pria idamanku malah. Bibirnya, alisnya, semua yang dimiliki olehnya sangat menarik.


Perlahan wanita itu membuka kancing baju pemuda itu tapi kucing itu tiba-tiba datang dan mencakarnya. "Ah, kucing sialan!" Ia melihat lengan yang dicakar kucing yang sempat didorongnya dengan kasar.


Netranya, lalu ia mencari keberadaan kucing itu yang seketika menghilang, tapi kemudian ia tak peduli. apa yang ada di hadapan lebih menggiurkan dari pada sekedar mencari kucing sialan itu. Ia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah pemuda itu.


"Apa yang kau lakukan?" Berdiri di depan pintu, Jack yang terkejut melihat pemandangan di depannya.


"A-aku ...." Wanita itu panik.


Jack menjatuhkan barang bawaannya ke lantai, lalu menutup pintu. Dengan wajah dingin ia menyeret wanita itu dengan menarik bajunya ke arah kamar pria itu.


"Jack! Tunggu, Jack!" Wanita itu memohon.


___________________________________________


__ADS_1


__ADS_2