
Ken merasa seperti tak bisa berpijak lurus. Awalnya ia pikir, ia sedang pusing dan hendak pingsan hingga terdengar suara bangunan berguncang.
"Kak, gempa!" Gadis berambut panjang itu melompat ke arah pria itu dan memeluknya.
"Ayo kita ke jalan. Jangan mendekati bangunan apa pun."
Saat keduanya melangkah ke jalan, beberapa kendaraan pun berhenti melihat guncangan hebat pada jalan. Saking hebatnya, terdengar bunyi seperti benda patah di beberapa tempat.
Banyak yang keluar berlarian dari rumah mereka dan saling memandangi bangunan sekitar. Tiba-tiba tak jauh dari situ, ada jalanan yang pecah dan merekah hingga trotoarnya naik ke atas. Di beberapa tempat juga terjadi seperti ini.
"Ya ampun, ini gempa besar, ini," komentar Ken melihat fenomena yang terjadi.
"Dan malam-malam saat orang mau tidur," imbuh Mira.
Gempa belum berhenti. Tak jauh dari mereka, ada retakan di aspal yang membuat tidak saja keduanya terkejut, tapi para pengendara mobil juga panik. Masalahnya, ada retakan yang tiba-tiba muncul, membuat amblas sebuah mobil ke dalam tanah. Sebuah mobil lainnya sudah miring karena aspal di roda sampingnya amblas.
Mobil yang amblas tidak terlalu dalam sehingga banyak yang membantu pengendara itu keluar dari situ, tapi mobil yang miring terpaksa harus ramai-ramai ditarik agar bisa menarik roda yang mengambang itu ke jalan.
Gempa berhenti tapi bukan berarti berakhir karena biasanya ada gempa susulan.
Ken menoleh pada gadis itu. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri di sini."
"Aku tidak tahu, Kak, aku harus bagaimana."
Pria itu pun bingung. Ia tidak bisa menelepon karena teleponnya tidak terhubung pada siapapun. "Atau bagaimana kalau kita pergi ke tempat Ejiro? Setidaknya kita bisa memeriksanya juga."
Mira mengangguk. Ia kembali dibonceng Ken naik motor sambil memberi tahu arah. Baru separuh perjalanan, kembali terjadi gempa. Gempa ini masih kuat hingga motor pun berhenti dan menepi.
Ada sebuah gedung apartemen tepat di depan mereka tiba-tiba ambruk sebagian.
"Mira!" Sang pria menarik gadis itu berlari menjauh. Hampir saja mereka terkena pecahan puing, tapi motor Ken tak ayal terkena runtuhan dinding.
Tak beberapa lama, menyusul pecahan kaca dan puing kembali berjatuhan. Keduanya kembali bergerak menjauh karena jatuhnya puing ke sembarang arah. Apalagi apartemen itu cukup tinggi.
__ADS_1
"Kak, bagaimana ini?" tanya Mira bingung. Tak ayal mereka tak bisa menggunakan motor itu karena rusak parah, padahal tempat yang dituju masih jauh.
Sang pria pun tak tahu harus bagaimana. "Apa kita tunggu di sini saja, kita lihat situasinya. Sepertinya berkendara pun sama bahayanya."
Mira menghela napas pelan. Di udara malam yang sedikit dingin ini, mereka harus menunggu di luar, karena menunggu di dalam gedung di manapun sama bahayanya.
"Mira, apa kau mengantuk?" Ken melepas jaket Jeans-nya dan dipasangkan pada bahu gadis itu. "Udara malam sudah mulai dingin. Ini pakailah!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan. "Tolong, tolong kami!" Suara itu berasal dari reruntuhan apartemen.
Beberapa orang yang berada di dekat bangunan ragu-ragu mendekat, karena gempa masih terasa. Demikian pula Ken dan Mira. Gempa pun mereda, tapi tak ada yang berani mendekati apartemen itu karena gedung itu runtuh di bagian atas. Hancur di bagian tengah hingga bagian atasnya turun dan terlihat miring.
Beberapa dari mereka yang berada di dalam gedung berlarian keluar, tapi yang terjebak di atas, mereka kebingungan. Salah satunya membuka jendela dan berteriak minta tolong.
"Tolong!"
Orang-orang yang berada di bawah melongo melihat ke atas. Mereka tak tahu bagaimana menolong mereka yang berada di dalam bangunan yang miring itu, yang kemungkinan bisa setiap saat runtuh di guncangan gempa berikutnya.
"Bagaimana ya?" Ken ragu dan menoleh pada Mira. Ia ingin membantu menolong mereka. "Bolehkah aku menggunakan kekuatanku di sini?"
Sejenak gadis itu terdiam. "Kak Ken harus menyamarkannya agar tak begitu kelihatan."
Mahasiswa kedokteran itu termangu. Tak lama gempa kembali mengguncang. Kali ini lebih parah dari yang tadi. Saat itu apartemen mendapat guncangan hebat kembali, membuat patahan bangunan bagian atas kembali bergeser.
"Tolong! Tolong kami!" Pria itu kembali berteriak dari atas.
Bangunan atas apartemen itu bergerak turun dan hendak jatuh. Di saat itulah Ken berkonsentrasi. Ia melihat bangunan atas apartemen itu jatuh ke bawah.
Orang-orang di bawah berlarian menjauh. Berlari sejauh mungkin, karena tidak ingin tertimpa pecahan bangunan yang kemungkinan jatuh sampai ratusan meter ke depan, akibat bangunan yang terhempas sangat keras ke tanah.
"Kak Ken!" teriak gadis itu, tapi karena melihat pria itu sedang berkonsentrasi, ia dengan berani, berdiri di sampingnya.
Bangunan atas apartemen itu turun tidak dengan cepat seperti sebuah daun yang dengan ringan turun. Bangunan itu mendarat di tanah dengan utuh.
__ADS_1
Tentu saja yang melihat kejadian itu melongo. Seharusnya bangunan itu jatuh dengan cepat dan rusak parah, tapi tidak. Bangunan ini turun dengan selamat sehingga banyak yang bersorak kegirangan. Yang paling dekat bisa turun dengan mudah, sedang yang jauh terpaksa memanjat turun dibantu yang lain.
Ini benar-benar luar biasa. Sebagian menganggap keajaiban, sebagian lagi merasa ditolong oleh hantu, tapi wajah-wajah mereka menyiratkan kebahagiaan. Tidak ada yang berusaha mencari tahu karena gempa masih mengguncang kota.
"Ayo, Kak." Mira menarik tangan Ken menjauh. Ia tidak ingin ada yang mencurigai pria itu karena tidak pergi menjauh saat bangunan itu meluncur jatuh. "Bagaimana kalau kita ke tempat Kak Ejiro dengan berjalan kaki? Rasanya tidak aman hanya berhenti di satu tempat saja."
Dilihatnya pria itu berkeringat. Mungkin karena berkonsentrasi hingga Ken kelelahan. Mira menarik lengan jaket jeans yang ia kenakan untuk menyeka dahi pria itu.
"Eh, tidak usah, Mira." Sang pria memegangi tangan gadis itu. Terakhir gadis itu menyentuh kepalanya, jantungnya berdetak tak karuan. "Mmh, aku lapar."
Keduanya tertawa.
"Ayo, kita cari makanan," ajak Mira.
Keduanya kemudian melanjutkan langkah mereka. Tak jauh dari sana ada restoran burger kecil yang kaca depan restorannya pecah. Seorang pria gemuk dengan memakai celemek berdiri di depannya dan memperhatikan pecahan kaca itu. Lampu di restoran itu masih menyala.
"Apa restorannya masih buka?" tanya Ken karena tidak ada seorang pun di sana kecuali pria itu.
"Oh, mau makan ya? Sebentar, Saya bersihkan pecahan kaca ini."
Ken kemudian membantu pria gemuk itu dengan menyingkirkan pecahan kaca yang besar-besar.
"Terima kasih. Kalian mau pesan apa?"
"Cheese burger dan kentang, Pak. Dua, dengan kola," sahut Mira lagi.
Namun tiba-tiba saja gempa kembali mengguncang.
"Ah, kita keluar dulu saja," ucap pria bule itu sambil buru-buru lari keluar. Ken dan Mira mengikutinya. Jalanan kembali retak.
Tak di nyana, retakannya mengikuti mereka. Ken yang melihat itu, mendorong Mira ke samping dan benar dugaannya, retakan itu mengikutinya. Ia bergerak menjauh dari pria gemuk itu dan retakan itu terus mengikuti.
"Kak Ken!" teriak Mira yang terkejut tapi itu tidak bisa menolong pria Jepang itu. Dengan cepat retakan itu kemudian mendapatkan pria itu. Ken terjatuh ke dalam retakan dan ia melihat ke bawah. Retakan itu jauh dan tak berujung.
__ADS_1