Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Latihan Mudah


__ADS_3

"Kau ...."


"Namaku Irish," sahut wanita itu.


"Apa yang kau lakukan. Ah ...." Ken menahan ngilu karena wanita itu mengoles sesuatu di kulit lebamnya. "Tolong hentikan," pintanya dengan suara rendah. Ia kemudian memutar tubuhnya ke samping.


"Ini supaya lebammu cepat sembuh," ucap wanita itu setengah berbisik. Ia kembali mengoles obat pada kulit di sekitar perut pemuda itu.


"Ah, sakit ... perih. Hentikan," pinta Ken. "Aku tak tahan."


"Tahan, sabar."


"Aku tak kuat."


"Kamu laki-laki bukan sih? Masa sama yang beginian saja takut!" bentak Irish.


Ken terkejut melihat wanita itu, yang baru berubah lembut, kini berubah kasar kembali. "Kau tidak merasakannya makanya bisa bilang begitu. Sakit tahu," rutuk pemuda itu masih dengan suara rendah. "Sudah ...." pintanya memohon.


Andai wanita itu tahu ia bisa menyembuhkan lukanya sendiri, mungkin keadaan akan jadi tambah runyam. Namun kini tangannya terikat pada besi ranjang, sulit untuknya menyembuhkan luka lebam itu.


Benar sekali apa yang dikatakan ibu. Jadi orang yang biasa-biasa saja, masih saja ada yang ingin memanfaatkannya, apalagi kalau jadi manusia super. Tak terbayangkan kehidupan macam apa yang akan ia arungi kelak.


Wanita itu selesai mengoles obat pada luka lebam pemuda itu. "Sudah." Ia menutup botol salep dan menatap ke arah Ken.


"Kalungku ... kembalikan," pinta pemuda itu lirih.


"Kenapa?"


"Itu milikku, tentu saja ...."


"Kalau aku ... buang?" Wanita itu memberi pertanyaan nakal yang mengesalkan.


"Jangan, tolong. Kenapa kau buang?"


"Kenapa?" tanya wanita itu dengan wajah datar.


"Tentu saja karena itu milikku."


"Itu hanya koin lama yang sudah jelek. Buang saja. Beli saja kalung baru yang lebih bagus. Kalau kau membantuku, aku akan beri kamu uang yang banyak."


"Tidak, kalung itu tidak bisa diganti!" tegas pemuda itu. "Tolong kembalikan padaku. Itu kalung kenangan. Kalung itu hanya satu-satunya," pinta Ken.

__ADS_1


"Benarkah? Kenapa?" Irish penasaran.


"Adikku pernah memakainya, tapi kini ia sudah tidak ada lagi di dunia ini."


Irish mengerut dahi. Kenapa ia punya kenangan yang sama denganku? Kalau adikku masih hidup, pasti dia seumuran Ken. Tanpa sadar wanita itu menyentuh wajah Ken. Ia mengusap pelipis hingga pipi pemuda itu lembut.


Ken terkejut tapi tak mampu menghindar hingga ia ingat ramalan tentang kolam cinta itu. "Eh, Nona. Sebaiknya kau tidur, ini sudah sangat malam."


Wanita itu seperti tersadar kemudian berdiri. Ia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Ken.


"Eh, Nona. Tolong kembalikan kalungku."


"Aku akan mengembalikannya setelah kau melakukan tugasmu," ucap wanita itu tanpa menoleh dan wanita itu pun pergi.


Mencuri? Yang benar saja! Walaupun andilku hanya sedikit, tetap saja aku telah mencuri dan semiskin apapun, aku takkan mencuri. Sesak rasanya, terlibat dengan orang-orang seperti mereka ini. Kalau begitu, kenapa ia ada di tempat ini? Apa yang harus ia lakukan?


-------------+++------------


Ken terbangun di pagi hari saat sinar mentari masuk dari jendela kaca tanpa gorden, menyentuh kulitnya. Hangatnya sinar itu menyentuh punggung karena ia membelakangi jendela. Kemudian mengalir di tubuhnya hingga energi terasa penuh untuk berjuang hari itu saat udara cerah. Sayang, saat ia tidur telentang, tangannya masih terikat. Hah ....


Tak lama wanita itu datang membawa sebotol air mineral. "Mmh, kau sudah bangun ya?" Ia membungkuk dan melepas ikatan tangan Ken. "Kau mau sarapan apa?"


pemuda itu mencoba duduk dan melihat ke arah bungkusan semalam. "Aku mau itu saja." Ia meraihnya.


"Tidak. Aku tidak ingin buang-buang makanan." Ken mengigit kentang goreng yang sudah dingin.


"Ya sudah. Itu minummu." Wanita itu menunjuk dengan dagunya, botol yang ia letakkan di atas ranjang. "Setengah jam lagi kita mulai."


"Mulai apa?"


"Mulai latihan."


"Ah, aku tidak mau!"


Wanita melambai sambil membelakangi pemuda itu menuju pintu.


Ken kesal hingga memukul ranjang, tapi tak berguna karena wanita itu sudah pergi. Adapun ia tak berdaya menolaknya. Yang bisa ia lakukan adalah sarapan pagi itu. Ia sangat lapar.


Sehabis sarapan, Ken hendak ke kamar mandi. Ia turun dari ranjang tapi kemudian terjatuh. "Agh!"


Ada apa ini? Setelah diperiksa ternyata pergelangan kakinya terkilir karena bengkak. Ia baru menyadarinya karena sejak jatuh dari lantai 2, ia belum mencoba berdiri. Ini bukan luka atau retak, apa aku bisa menyembuhkannya?

__ADS_1


Ken meletakkan telapak tangannya menutupi pergelangan kaki. Sedikit berkonsentrasi ia merasakan uratnya seperti ditarik. "Awh ...." Ia coba menahan nyeri. Tak lama rasa itu menghilang sendiri.


Pemuda itu melepas pergelangan kakinya. Ia coba mengangkat kaki itu sedikit ke atas dan menggerakkan telapak kaki hingga urat di pergelangan bergerak. Tak ada masalah. Ia mencoba lagi dengan berdiri.


Pria itu begitu senang. Ternyata ia telah sukses menyembuhkan diri sendiri tanpa bantuan orang lain.


Mira, kau harus saksikan ini. Aku telah menyembuhkan diriku sendiri, Mira. Namun kemudian ia bingung sendiri, kenapa ia malah teringat pada Mira di saat-saat seperti itu. Ia kemudian melangkah ke kamar mandi.


Di kamar mandi, ia tak sengaja menoleh ke arah cermin dan terkejut. Wajahnya. Ia baru sadar kenapa orang-orang memanggilnya anak kecil, karena memang wajahnya kembali muda, bahkan lebih muda dari umur yang sebenarnya. Astaga. Ia menyentuh wajahnya.


Beberapa saat kemudian, Ken kembali keluar. Oh, perutku yang habis kena tendang kemarin. Ia tiba-tiba teringat hal itu karena kesulitan membungkuk tadi di kamar mandi.


Dilihatnya memar di perut yang mulai membiru. Birunya pun sedikit memudar, mungkin akibat salep yang diberikan Irish semalam sehingga keadaannya membaik. Namun Ken masih merasa ngilu walau tidak sesakit semalam. Untung pria Meksiko itu tidak menendangku keras-keras. Namun pemuda itu tetap berusaha menyembuhkan bekas lebamnya karena tak nyaman bila tak sengaja disentuh.


Tak lama Irish datang bersama Hugo dan Ben. "Ayo!"


"Kita ke mana?" tanya Ken kebingungan.


"Ah, sudah. Ikut saja," sahut Hugo. Pria itu menarik pemuda itu dengan paksa. Ken mau tak mau mengikuti.


Mereka mendatangi ruangan yang lainnya. Tepat di ujung koridor ada sebuah ruangan tertutup dan mereka masuk ke sana. Ruangannya sedikit gelap karena jendelanya ditutup gorden. Ketika lampu dinyalakan, barulah terlihat isi ruangan itu.


Di dekat dinding ada kardus-kardus yang menandakan ruangan itu bekas gudang. Namun yang menarik adalah, di tengah-tengah ruangan ada 2 tiang besi yang dihubungkan dengan besi di mana di tengahnya ada tali yang digantung hingga lantai.


"Ini latihanmu pertama," terang Irish.


"Apa?" Ken masih kebingungan bahkan ketika kedua pria itu diperintahkan mengikat tangan dan kakinya oleh wanita itu. "A-apa ini?"


Ken kemudian digotong mendekati tali lalu digantung terbalik di tali itu. "Hei, kau mau apakan aku?"


Setelah digantung terbalik dengan tangan tak bisa menyentuh lantai, ikatan tangan pemuda itu dilepas.


"Kita mulai ya," ucap wanita itu lagi.


"Apa maksudnya ini?" Ken berusaha menggapai lantai tapi tangannya tak sampai.


"Tugas pertamamu mudah. Panjati tali ini sampai di atas. Di tiang besi di atas sana, ada tombol berwarna merah. Tekan tombol itu, untuk memberi tahu aku kalau kamu sudah menyelesaikan tugas pertamamu."


"Apa?"


___________________________________________

__ADS_1



__ADS_2