
"O-oh, iya."
Pemuda itu melambai sebelum pergi dengan sepedanya. Ken membelokkan sepeda mendekati nenek tua itu. Ia berdehem sebentar sebelum mulai bicara. "Eh, Nek. Mau bonceng pulang?"
Nenek tua itu hanya menoleh. Pemuda itu baru kali itu melihat wajah nenek itu dari dekat. "Kau ... kau batuk, Ken?"
"Eh?"
"Nanti nenek buatkan sup ayam ya? Jangan makan goreng-gorengan dulu."
Pemuda itu sedikit terharu. "Eh, Nenek naik saja. Biar cepat sampai." Ken menggaruk-garuk kepalanya.
Dengan pelan nenek itu naik dengan duduk menyamping.
"Pegangan, Nek, nanti jatuh."
"Mmh." Nenek itu memeluk pinggang Ken dengan satu tangan. Tangannya begitu hangat.
Ken mengayuh sepedanya. Ia belum pernah merasakan punya nenek. Apa begini rasanya punya Nenek? Dari nada bicaranya saja, terdengar jelas bahwa nenek itu sangat menyayangi cucunya.
"Hei!" Punggung Ken ditepuk wanita tua itu.
Pemuda itu menoleh.
"Kita mau ke mana, kok rumah dilewati?" Wanita tua itu menunjuk ke arah sebuah rumah yang dilewati 2 rumah oleh Ken.
"Oh, maaf, Nek. Ngelamun." Ken tersenyum lebar.
Nenek itu turun dari sepeda diikuti pemuda itu. Keduanya berjalan ke arah rumah mereka. Dengan sigap nenek itu masuk dan membuka pintu. Rumah gaya lama Jepang memang tak punya kunci di mana hampir semua pintunya pintu geser.
Mereka memasukki sebuah ruangan luas dengan meja pendek di tengahnya. Di sana tak ada kursi karena meja itu khusus untuk mereka yang duduk di lantai dengan bantal untuk duduknya.
"Ken, kamu mau mandi? Nenek siapkan air panasnya ya?"
"Eh, tidak usaha, Nek. Nenek 'kan masih capek. Aku mau istirahat di kamar saja." Namun kemudian, pemuda itu bingung karena ada beberapa pintu di sana. Yang mana, kamarku ya? Ia nekat membuka salah satu pintu pertama yang ditemuinya.
"Eh, Ken. Kamu kenapa ke kamar Nenek?" Wanita tua itu menghampiri.
Keruan, Ken panik. "Eh ... mau minta obat batuk, Nek, kalau ada."
__ADS_1
Nenek mendorong Ken ke kamar yang satu lagi. "Sudah, tidak usah minum obat-obat. Bukannya kamu tidak suka obat? Obatmu cuma sup ayam Nenek dan kamu pasti sembuh. Bukankah kamu percaya itu?"
"Eh, iya." Pemuda itu membuka pintu.
"Dan kalau kamarmu berantakan, biarkan saja. Nanti nenek rapikan setelah makan malam." Nenek kembali ke dapur.
Ken terkejut. Kamarnya seperti kapal pecah. Ia tidak mengira, kamarnya seberantakan itu. Ada buku dan cela*na dal*am di atas tempat tidur. Baju tidur berantakan di lantai dan ada bau asap rokok membuat pemuda itu membuka jendela karena tak tahan baunya dan terbatuk-batuk. Bagaimana caranya orang itu tidur di kamar seberantakan dan sebau itu, Ken hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Sebentar kemudian, ia merapikan buku dan mengumpulkan baju-baju kotor untuk dicuci. Ia membawa pakaian itu keluar. "Eh, Nek. Mesin cuci di mana, Nek?" ucapnya sambil membawa setumpuk pakaian kotor di tangan.
"Itu di sana." Nenek menunjuk sambil melongo. Sejak kapan cucunya peduli untuk mencuci bajunya sendiri?
Ken memasukkan pakaian dan deterjen ke mesin cuci lalu menyalakan mesin. Kemudian ia menepuk-nepuk tangannya karena sudah selesai. "Nenek mau dibantu?"
"Apa?"
-----------+++----------
Nenek itu menghidangkan berbagai macam masakan dari sayuran yang dipetik di kebun. Mereka mengobrol sambil makan berdua.
"Nenek masih belum punya uang buat kamu sekolah di Universitas, tapi mudah-mudahan panen beras berikutnya ditambah kiriman dari orang tuamu pasti bisa untuk membayar uang masuknya nanti. Makanya berjuang buat dapat negri ya?"
Ken terkejut, orang yang digantikannya ternyata bercita-cita sekolah tinggi walaupun termasuk anak yang nakal. Ia termenung sejenak. "Eh, bagaimana kalau aku cari kerja part-time, Nek?"
Ken geram sendiri. Kenapa orang yang digantikannya begitu tak punya perasaan pada neneknya sendiri, hingga menyuruh wanita tua ini membelikan barang yang tidak perlu. Dari rumah ke sekolah 'kan dekat. Bisa membonceng temannya lagi, kenapa harus beli sepeda baru?
"Teruskan saja cita-cita ayahmu untuk bisa sekolah di Universitas agar kamu tidak susah payah cari kerja seperti mereka. Sudah, kamu tak usah kerja, Ken." Nenek itu menepuk-nepuk tangan pemuda itu yang berada di atas meja.
Ken makin geram. Ternyata masuk Universitas juga bukan dari keinginan sendiri. Bagaimana kalau pemuda yang ia gantikan itu ogah-ogahan sekolahnya, mengingat pemuda itu juga tidak pintar. Bisa-bisa ia malah tidak lulus ujian masuk universitas sementara uang di tangan telah habis. Ken merengut memikirkannya.
"Tidak apa-apa, Nek. Aku bisa belajar sama teman saja cukup, tidak perlu ikut les."
"Tapi nanti kamu tidak lulus masuk Universitas, Ken, sayang 'kan?"
Justru lebih sayang lagi kalau uang orang tuanya dihamburkan percuma. Ia harus cari akal untuk membantu perekonomian keluarga ini karena anak yang digantikan Ken sangatlah tak berguna. "Aku akan berusaha, Nek bekerja part-time dan belajar."
"Asal kamu jangan kecapean saja, Ken."
"Tidak, Nek."
__ADS_1
Nenek itu dengan pandangan lembut dari wajah tuanya menyangsikan ucapan cucunya.
"Tidak, Nek, sungguh." Pemuda itu meraih tangan kasar hasil kerja keras wanita tua itu seharian dan menggenggamnya erat.
------------+++------------
"Booos ...!" Pemuda berambut pink itu lagi mendahului sepeda Ken.
"Ada apa Hideo." Ken tersenyum melihat tingkah pemuda yang sama-sama berambut pink itu berputar-putar di depannya karena ia mengkayuh sepedanya pelan.
"Jadi 'kan habis pulang sekolah, Bos."
"Jadi apa?"
"Nyerang SMA yang di bawah itu nanti di depan gang?"
"Hah?" Ken sampai menghentikan laju sepedanya karena terkejut.
"Hei, Bos. Kenapa berhenti?" Hideo menghampiri.
"Hari ini?"
"Iya. 'Kan kita sudah janjian sama preman sana."
Astaga ... bagaimana ini? Aku 'kan tidak bisa berkelahi. Pasti ... kalah.
"Apa memang harus hari ini?" tanya Ken sambil mengayuh sepedanya menghindar dari pemuda itu.
"Memang kenapa, Bos? Mau pacaran?"
"Apa?" Ken kembali terkejut dan berhenti.
"Iya, sama pacar, Bos."
"Pa-pacar?" Ken hampir tak percaya orang yang digantikannya punya pacar.
"Iya, Yukie. Cewek yang baru kerja di bar depan." Pemuda itu menunjuk bar yang letaknya tak jauh dari situ.
Ken semakin geram tapi ia tak tahu cara mengeluarkan amarahnya. Ia mengepal kedua tangan di depan wajahnya. "KENAPA SIH RAMBUTMU SAMA DENGANKU!!!"
__ADS_1
Pemuda itu kaget tapi hanya sebentar. "Eh, iseng saja, Bos. Ya sudah, besok kuganti ungu, biar sama dengan Akibara." Kemudian Hideo mengayuh sepedanya dengan santai mendahului Ken. "Jadi hari ini kencan dengan Yukie ya? Ok, nanti aku kabarkan sama orang sana."
Uh ... kenapa kepalaku makin pusing saja dengan orang ini. Kenapa punya nama sama tapi menyusahkanku? Heh, ingin aku ce*kik rasanya orang itu, Ken terlihat gemas.