
Perlahan-lahan ujung tali itu melepaskan diri, dan melepas lilitannya dari tubuh Ken. Tali itu kemudian teronggok di samping sang pria. Ah, syukurlah. Kemampuan ini tidak ikut-ikutan hilang.
Ken lalu memutar otak bagaimana caranya keluar dari sana. Tidak mungkin dari pintu karena sebentar lagi, Diego pasti kembali. Lagipula, pintu keluarnya pasti susah karena tertutup dan terjaga. Lewat jendela, diluar ada banyak penjaga, tapi itu lebih baik karena kesempatan untuk kabur ada tapi untuk turun dan memanjat ... Ah, seandainya ilmuku tidak dihilangkan setan Shaolin itu ....
Pria itu tak sengaja melihat tali itu kembali. Aha, dengan tali bisa! Ia menjentikkan jarinya.
Ia mengambil tali itu dan mulai memeriksa jendela. Untungnya jendela bisa dengan muda dibuka. Pria itu memeriksa di luar dan ternyata penjaganya bergerak setiap waktu sehingga ia bisa turun saat penjaganya berlalu.
Tempat ia turun itu berada di samping rumah dan dari sana ia bisa melihat pintu gerbang. Pintu gerbang dijaga dengan ketat.
Ken mengikat tubuhnya dengan tali dan memerintahkan tali itu untuk menurunkannya pelan-pelan, sambil melihat situasi. Di daerah itu banyak pohon tinggi hingga dari arah manapun bila ada yang turun dari tempat itu, tidak akan terlihat mencolok.
Saat Ken turun, ada penjaga yang lewat tapi kembali ia beruntung karena penjaga itu tidak menengok ke atas. Ia memerintahkan tali untuk berhenti, dalam hati. Tak lama penjaga itu pergi dan Ken bisa turun lagi.
Sesampainya di bawah, ia membawa tali itu untuk jaga-jaga. Pria itu melihat banyak pohon besar hingga ke pintu gerbang, karena itu ia mengendap-endap mendekati pohon-pohon yang mengarah ke pagar tinggi itu.
Ia kemudian naik pohon menggunakan tali. Tali itu naik sendiri dan mengikatkan dirinya di salah satu dahan besar. Ken tinggal menarik tubuhnya ke atas.
Bertepatan dengan itu, Diego masuk ke ruangan. Betapa terkejutnya ia, Ken menghilang. Ia melihat sekeliling dan mendapati jendela terbuka. Segera ia mendatangi jendela dan ia tetap tak bisa menemukan pria Jepang itu. "Hei! Tahananku kabur! Temukan dia, dia ada di luar!" teriaknya kesal.
Tentu saja kesal, karena begitu banyak penjaga diluar, tak satu pun yang telah menemukan Ken. Penjaga di luar pun juga kalang kabut mendengar bos mereka kehilangan tawanan, dan Ken mendengarnya.
Untuk beberapa saat, pria itu menunda pergerakan. Ia memilih diam sambil melihat situasi. Untuk beberapa saat, penjaga di luar juga sedang kebingungan, bagaimana caranya tahanan bisa kabur keluar tanpa ketahuan. Mereka menyusuri tiap tempat yang bisa menjadi tempat untuk bersembunyi. Ken mencoba naik lebih tinggi agar tak gampang dilihat.
Sempat ada yang melihat ke atas pohon tapi bukan pohon yang di singgahi Ken, sehingga ia selamat. Pencarian selama setengah jam tidak membuahkan hasil.
__ADS_1
Diego sangat marah dan terus menyuruh anak buahnya mencari Ken karena ia yakin, pria Jepang itu masih ada di sekitar situ. Hanya saja tidak ada yang bisa menemukan tempat persembunyiannya.
Pria bule berambut coklat tua dengan bola mata abu-abu itu duduk di tepi ranjang sambil berpikir keras. Ia menatap ke arah jendela tempat Ken kabur. Ia berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah jendela, lalu menoleh ke samping. Bila ingin keluar dari tempat itu, pria Jepang itu harus melewati pintu gerbang yang tinggi dan itu ....
Di tempat lain, matahari tengah terik. Jamnya makan siang dan para penjaga menghilang satu-satu dari pagar. Kesempatan ini diambil sang pria Jepang dengan berpindah dari satu pohon ke pohon lain lewat tali.
Ia meminta tali itu untuk menyangkut di dahan pohon di depannya agar ia bisa bergelayutan pindah ke pohon itu. Ia melakukannya berulang ulang hingga sampai ke pohon terakhir di samping pagar tinggi.
Ia kemudian melempar tali agar tersangkut di atas pagar. Setelah memastikan sangkutannya kuat, ia melompat ke pagar itu dengan suara agak berisik, karena pagar itu terbuat dari besi. Ia bergerak cepat agar mereka yang menyadari, tak bisa mengejarnya.
Namun yang mengejarnya bukan manusia. Beberapa anjing berukuran besar mengejarnya bersama beberapa bodyguard dan Diego. Pria itu mengacungkan pistol ke arah Ken. Terdengar suara letusan pistol yang ditembakan dan pria Jepang itu terjatuh. Ternyata tembakan itu ditujukan pada tali hingga tali itu terputus.
Ken yang jatuh, langsung diserang oleh anjing-anjing itu dengan ganasnya. "Ah!" Pria itu melempar seekor anjing yang menggigit tangannya hingga terpental jauh. Ia juga melawan anjing yang menggigit bahu dan kakinya. "Ah!" Ken berhasil menghalau binatang itu walau tubuhnya berdiri dengan sempoyongan.
"Sudah, hentikan anjing itu!" seru Diego pada anak buahnya.
Semua anjing-anjing itu kemudian diamankan oleh para bodyguard yang lain. Ken yang tergeletak setengah sadar didatangi Diego dengan berjongkok. Ia terlihat lemas tak berdaya.
"Bawa ia kembali ke kamar!" perintah bule itu pada anak buahnya. Seorang bodyguard menggendong Ken dan membawanya ke kamar tadi. Pria Jepang itu dibaringkan di atas ranjang. Diego kembali mendekat.
"Diego ... kalau kau ... lakukan itu. Aku akan ... menggigit lidahku sampai mati," ancam Ken yang sudah lemas.
Pria itu menatap mahasiswa kedokteran itu tanpa bicara. Ia seperti bingung mau bicara apa.
"Kalau tahu kau akan memperlakukanku seperti ini ...." Kalimat Ken terhenti.
__ADS_1
"Apa kau menyesal telah menolongku?"
"Tidak. Walaupun waktu bisa diulang sekali lagi." Ken tertawa miris dan kemudian terbatuk-batuk. "Aku naif 'kan? Dan orang-orang sepertimu akan memanfaatkanku," ucap pria Jepang itu dengan tubuh lemah. Ia masih berjuang dengan kesadarannya.
Diego melihat kemeja di bahu pria itu koyak, tangannya terluka dan celana jeans-nya yang robek, ia beranjak berdiri. "Biar aku ambilkan obat luka dulu," ucapnya sambil berlalu pergi.
Ken mencoba mengangkat kepalanya. Terasa sakit dan pening bercampur jadi satu. Aku harus sembuh, aku harus kabur dari rumah gila ini. Pria itu meletakkan tangannya menutupi kening yang terbentur pagar besi tadi. Sudah ada benjolan kecil yang mulai sakit. Ia menekan dahi itu, berusaha menahan nyeri tapi tak ayal ia berteriak. "Ah ...!"
Diego yang kembali dan melihat apa yang dilakukan sang pria Jepang, segera mengejarnya. Ia menjauhkan tangan itu dari Ken. "Hei, apa yang kau lakukan? Kau mau bunuh diri?" Ia menahan kedua tangan mahasiswa itu.
"Eh, tidak. Lepaskan aku! Lepaskan aku, Diego!"
Pria bule itu memanggil bodyguard-nya. Setelahnya, kedua tangan Ken terikat ke kepala ranjang.
"Diego, lepaskan aku!"
"Kau ini sudah gila ya? Apa yang kau pikirkan cuma bunuh diri, agar terlepas dari masalah?" Kini pria bule itu malah marah pada Ken.
"Dengar dulu ...."
Diego tak mau ambil pusing dengan ocehan mahasiswa itu hingga menyumpal mulutnya dengan sapu tangan.
"Mm mmh mmm mhm."
Bule itu mulai mengobati luka di tubuh Ken.
__ADS_1
_________________________________________