
Ken memasukkan tangannya ke dalam melalui kaca jendela yang telah ia bolongi dan membuka kunci jendela itu dari dalam. Ia kemudian menggeser jendela kaca itu.
Di seberang jalan, Vicky yang bosan di dalam mobil, menatap ke arah jalanan. Sebuah motor yang dikendarai seorang wanita lewat di depan mobilnya dan berhenti di depan rumah mewah itu.
Penampilannya sungguh luar biasa karena wanita itu memakai motor balap yang keren berwarna putih kuning sedang ia berpakaian baju cheongsam berwarna hitam. Sungguh sangat kontradiktif membuat pria itu penasaran.
Apalagi berhenti di depan rumah mewah itu, apa urusannya? Di mana semua tamu datang dengan mobil mewah, wanita itu datang dengan sebuah motor balap. Siapa dia?
Ketika wanita itu turun dari motornya, pria itu mengerut kening. Rasanya ia pernah melihat wanita itu, entah di mana.
Karena temaramnya lampu di sekitar penjagaan pagar, sulit untuk Vicky melihat wajah wanita itu dengan jelas tapi ia terus memikirkannya. Dia ... dia mirip seperti ....
Sementara itu, di dalam ruangan setelah Ken melompat masuk, ia mendatangi lukisan di dinding itu. Lukisan itu adalah lukisan seorang wanita muda yang sedang memangku seorang anak laki-laki. Mungkin, anak laki-laki itu adalah pria tadi karena wajahnya mirip dengan pria pemilik rumah itu tapi entah kenapa, Ken teringat ibunya. Ibu yang melahirkannya. Adakah ibu pernah merindukannya saat ia kecil dulu?
Pemuda itu menggeser lukisan itu dan melihat ke arah brangkas yang tertanam di dinding itu. Ia mencoba mengingat kembali nomor kunci itu dan lalu mencoba menekan tombolnya ... 9, 5, 5, 5. Ketika ditarik, pintu brangkas itu terbuka.
Ken lalu mencari berkas-berkas dan memeriksanya. Padahal ada banyak emas batangan di dalam tempat itu beserta uang kertas dolar yang masih tersegel tapi pemuda itu bergeming. Ia hanya mencari berkas yang diminta. "Ah, ketemu!"
"Ada, Ken?" tanya Devan yang mendengar ucapan pemuda itu lewat earphone.
"Iya, ada."
"Ok. Ambil berkas itu dan letakkan sisanya ke tempat semula. Setelah itu, kau keluar dari tempat itu."
"Baik." Ken melakukan apa yang diperintahkan pria itu, tapi baru saja ia meletakkan lukisan itu, pintu kembali terbuka.
Wanita pacar pemilik rumah itu datang dan terkejut. "Hei, siapa kamu?" Ia mengerut kening.
Ken yang mengetahui seseorang datang, segera menyembunyikan berkas itu di belakang punggungnya. "Eh, aku mencari toilet."
Wanita itu curiga. "Apa yang kamu sembunyikan di belakang punggungmu itu?"
Ken memperlihatkannya. "Oh, ini? Aku menemukannya di atas meja."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Oh, iya." Pemuda itu melemparnya ke atas meja kerja di depan lukisan itu.
Namun wanita itu tak sengaja melihat jendela yang terbuka itu karena udara di dalam ruangan itu sedikit dingin dengan gorden melambai ditiup angin. "Kamu ... pencuri ya?"
"Eh ...." Ken panik.
"Kau pasti pencuri!" Baru saja wanita itu ingin menekan sebuah tombol di dinding di sampingnya, sebuah tangan menghentikannya. Tangan Irish!
"Cepat keluar dan bawa berkas itu, Ken!" teriak Irish.
Sementara Ken mengambil berkas itu kembali, Irish berkelahi dengan wanita itu. Ternyata wanita itu juga jago berkelahi. Terdengar suara berdebam setiap kali tangan dan kaki mereka saling beradu, hingga pemuda itu begitu kebingungan melihat situasi itu.
Ketika pemuda itu memilih untuk keluar lewat jendela, wanita bule yang berambut kemerahan itu menghalanginya, membuat Ken bingung harus keluar lewat mana. Lewat depan rasanya tak mungkin, karena banyak tamu di sana dan itu sama saja dengan bunuh diri.
Irish dengan masih berkelahi dengan wanita itu, ia berusaha membuat Ken bisa keluar lewat jendela tapi yang ia hadapi memang lawan yang tangguh. Sulit baginya memberi kesempatan itu pada Ken.
Di tengah-tengah kebimbangan. Pria pemilik rumah itu datang menyambangi. Ia tadi lupa menghidupkan tombol sinar X sehingga menyuruh wanitanya untuk menyalakan, tapi kemudian ia ingin menanyakan sesuatu hingga menyusulnya.
Ken terkejut. "Mira?"
"Eh, apa? Mira?" Irish begitu penasaran dengan wanita bernama Mira itu hingga ia menoleh.
Seorang gadis berwajah mungil dengan dandanan yang aneh dipadukan dengan pakaian cheongsam berdiri tepat di depan pintu. Irish ikut terperangah melihat penampilan ajaib gadis itu seakan-akan ia sedang berhadapan dengan sebuah manekin.
Di tempat lain, Devan juga ikut terkejut karena ia mendengar lewat earphone. "Mira? Bukankah itu ...." Ia menegakkan punggungnya.
"Mira ...," gumam Vicky. "Oh, Mira!" Ingatannya kembali.
Pria pemilik rumah itu tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selagi semua orang kebingungan, ia bergerak keluar dan membuka kotak kaca yang berada di depan kamar itu dan lalu menekannya. Terdengar suara sirine yang menggema di dalam ruangan. Tamu-tamu terkejut dan panik mendengarnya lalu berlarian keluar.
Pria itu tertawa senang. "Kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini. Pintu depan, belakang, serta jendela akan tertutup dengan pintu pagar besi. Kalian takkan bisa keluar sampai polisi datang kemari." Kembali ia tertawa dengan kerasnya.
__ADS_1
Ken menoleh ke arah pintu depan. Pintu depan yang terbuka itu kini mulai tertutup pintu dari besi yang berada di luar pintu depan. Tamu-tamu banyak berlarian ke arah pintu depan agar tidak terkunci di dalam gedung itu. Sayangnya pintu itu ada di lantai satu dan mereka masih di lantai 2.
Gadis itu mengulurkan tangannya. "Ayo, Kak, cepat! Kita tak punya waktu lagi. Kita turun lewat pagar tangga!"
Namun Ken punya pemikiran lain. Ia mengambil pistol tali yang berada di pinggangnya lalu menyerahkan berkas itu pada Mira. "Tolong, pegang sebentar." Ia kemudian mengarahkan pistol itu pada lampu gantung kristal yang ada di langit-langit lantai 2.
Tali, tolong berpeganglah pada lampu gantung, ia berusaha fokus meminta. Saat pemuda itu menembakkan lampu gantung itu dengan tali, anehnya ujungnya membelit besi lampu itu. Ia meraih pinggang gadis itu.
"Eh?"
"Ayo, Mira. Kita kabur dari sini!" Ken melompat dengan membawa gadis itu bersamanya. Ia dan Mira pun lolos ketika pintu darurat itu hampir saja menutup akses mereka keluar dari rumah itu. Pemuda itu melepas pistol tali yang terjepit di antara pintu.
"Bagaimana caranya kita kabur dari sini, sekarang?" Kini Ken menoleh ke arah gadis itu.
"Ikut aku, Kak." Mira menarik tangan pemuda itu ke parkiran.
Di parkiran, terlihat kacau. Semua orang yang telah lolos keluar, berusaha untuk keluar dari area rumah itu hingga timbul kemacetan dan antrian panjang menuju ke pintu keluar.
Ken kaget waktu melihat kendaraan yang ingin mereka naiki. "Motor?"
"Ini, Kak." Mira menyerahkan kembali map berkas ke tangan pemuda itu dan ia menaiki motor. Saat ia naik motor itu, belahan rok cheongsam yang tinggi itu memperlihatkan paha mulus gadis yang masih belia itu.
Pemuda itu menahan napas saat melihatnya.
"Ayo, Kak, naik."
"Apa tidak sebaiknya ...."
"Naik!" bentak gadis itu membuat pemuda itu terkejut.
"Eh, iya, iya."
Segera setelah Ken naik, gadis itu ngebut hingga terpaksa pemuda itu memeluk pinggang Mira erat-erat.
__ADS_1
___________________________________________