
"Keluar?" Ken mengerut kening.
"Iya."
"Tapi itu pasti sudah malam sekali, Bos."
"Kemarin kau pergi dengan Bing."
"Tapi itu karena kebutuhan mendesak, Bos. Aku tidak punya pakaian ganti, jadi terpaksa beli."
"Jadi kau tak mau menemani?"
Kalimat wanita itu tidak memaksa tapi menolaknya serasa keterlaluan.
Pria itu menjadi bingung. "Memang Bos ada yang mau dibeli? Apa tidak sebaiknya pergi dengan sesama wanita?"
"Semua orang bekerja seharian, hanya kamu yang tidak. Masa kamu tidak mau bantu? Kamu pasti bisa naik motor 'kan?"
"Eh, iya, Bos."
"Nah, kenapa tidak?"
Bukannya tidak mau bantu tapi segan. Namun Ken tak bisa mengatakannya. Ia menggaruk-garukkan kepalanya.
"Bisa 'kan?"
"Eh, iya," ucap pria kurus itu pelan.
"Ya, sudah. Sampai nanti ya?" Wanita itu meninggalkannya.
Pria itu heran. Padahal biasanya wanita itu lebih nyaman pergi dengan sesama wanita dibanding dengannya. Bukan tak mungkin tapi perkenalan singkat mereka membuat Ken ragu, apa ada hal lain yang ingin dibicarakan wanita itu yang tidak boleh orang tahu? Bukan karena naksir dirinya 'kan?
Ia menepis rasa itu walau kemungkinan itu ada. Apalagi di sejarah hidupnya dan mengingat kutukan itu. Kadang Ken merasa dirinya terlalu berlebihan bereaksi saat berdekatan dengan wanita, mengingat Lucille sangat cantik. Tak mungkin wanita itu menyukainya.
----------+++----------
"Bill! Kau tak ke mana-mana malam ini, Bill?" Anita menyambangi pria bule itu yang hendak masuk ke karavannya.
"Oh, aku sudah punya rencana, maaf," ujar pria Itali itu saat membalik tubuhnya.
Wanita itu merengut. "Sekali-sekali, aku ingin pergi jalan-jalan malam Minggu begini. Ayolah, Bill pergi denganku," bujuk Anita yang sedang mengelus ular kecil berwarna hijau di tangan.
"Oh, kenapa kau tidak pergi dengan yang lain?"
"Sinna, Sin Hye, Jin Li, Costa dan Lisa?" Itu 'kan rombongan anak muda. Kalau kita 'kan beda. Kita rombongan yang serius." Anita mengucapkan kalimat terakhir dengan tersipu. Rambutnya yang bergelombang pendek berwarna coklat keemasan, mempertegas wajah bulenya.
"Maaf, tapi aku benar-benar sudah buat rencana."
__ADS_1
Anita kembali merengut. "Ya sudah." Ia beranjak pergi.
Pria itu menghela napas panjang. Ia sebenarnya tak tega tapi Anita selalu mencari cara untuk mendekatinya padahal ia sudah menolaknya berkali-kali.
Anita memang wanita yang baik, tapi ia juga harus sadar bahwa Bill tak punya perasaan apapun padanya. Sepertinya wanita itu belum sadar juga. Setelah wanita itu menjauh, pria itu kemudian mengendap-endap pergi.
Di tempat lain, Lucille membantu Ken menutup stan popcorn dan kola.
"Eh, sudah, Bos. Aku bisa sendiri." Ken menyatukan gelas plastik di tempat penyimpanan.
"Tidak apa-apa. Berdua 'kan kerja jadi lebih cepat. Daripada sendiri, nanti terlalu malam keluarnya."
Ken akhirnya terpaksa menerima bantuan bosnya itu. Bob, pria kerdil itu akhirnya datang dan mengambil alih tempat itu sehingga Lucille dan Ken bisa pergi lebih dulu.
"Kau mau ke mana?" Wanita itu menahan Ken kembali ke karavan Bill.
"Aku mau beri tahu Pak Bill, aku pergi."
"Tidak usah. Kita 'kan hanya sebentar."
"Tapi ...."
"Sudahlah, tidak apa-apa. 'Kan kamu perginya denganku."
"Tapi tidak enak rasanya ...."
"Biar aku nanti yang bilang." Lucille menggenggam pergelangan tangan Ken. "Lagipula aku sudah mendapatkan kunci motornya." Lucille memperlihatkan kunci motor itu sambil menggerak-gerakkannya di tangan. "Ayo!"
"Kita mau ke mana?" tanya Ken yang mulai duduk di depan. Lucille langsung memeluknya membuat pemuda itu terkejut. Bukan apa-apa, motornya belum lagi jalan.
" Kita jalan berputar-putar saja. Aku bosan di tempat sirkus. Aku ingin merasakan dunia luar yang tanpa sirkus, sebentar saja."
Ken pun iba mendengarnya. "Ok, kita keliling-keliling saja." Ia mulai menjalankan motornya.
Motor mulai memasuki kota, membelah jalan raya yang masih ramai kendaraan, lalu berputar-putar di area pertokoan.
"Kenapa kita hanya berputar-putar di sini?" tanya wanita itu.
"Mmh, maaf, tapi sebenarnya aku tidak tahu jalan. Aku kemarin hanya dibawa sampai sini saja, sama Bing."
"Oh, maaf. Aku lupa kalau kau bukan warga kota ini. Maaf." Lucille menepuk bahu pria itu sambil tertawa.
"Eh, tidak apa-apa."
"Coba kita ke kafe itu."
Ken pun menepi pada sebuah kafe yang ditunjuk wanita itu. Lucille memilih duduk dekat pintu dengan dinding kaca. "Kau mau apa, aku traktir. Pie mungkin?"
__ADS_1
"Eh, tidak. Aku minum saja. Bagaimana dengan cappucino hangat?"
Lucille masih menawarkan yang lainnya. "Bagaimana dengan cake? Atau roti croissant?"
"Tidak, Terima kasih."
Wanita itu merengut manja, kemudian tersenyum. "Baiklah, cappuccino hangat."
Sedikit aneh terlihat bagi Ken tapi ia tak ingin berpikiran macam-macam. Kemudian wanita itu memesan minuman dan makanan. Setelah itu ia menatap pria itu dengan menopang dagu di atas meja.
Ken merasa tak nyaman, lalu membuat keputusan cepat. "Ini sudah terlalu malam, sehabis ini kita pulang saja."
"Boleh," kata wanita itu tanpa protes membuat yang terjadi berikutnya hanya kecanggungan. Wanita itu masih menatap wajah Ken.
"Mmh, ada apa ya, Bos?" Pria itu tak tahan dan akhirnya bicara.
"Jangan panggil aku Bos di sini. Panggil namaku saja."
Pria itu sedikit bingung dengan permintaan wanita itu tapi kemudian ia berdehem sebentar. "Eh, iya, Lucille."
Wanita itu tersenyum lembut. "Sulit ya, jadi bos pemilik sirkus besar seperti aku ini." Ia mulai bicara tentang dirinya. "Kamu akan dituntut bertanggung jawab mengelola sirkus itu sebaik mungkin."
"Mmh, memang begitu 'kan seharusnya?"
Lucille melirik wajah pria di depannya kembali. "Sekarang apa yang kamu lihat tentang diriku, Ken?"
"Aku?" Ken bingung menjawabnya. "Apa maksudmu?" Ia mengerut alis.
"Kamu pasti melihatku sebagai orang besar pemimpin sirkus 'kan?"
"Lho, memang apa lagi?"
"Aku hanya seorang wanita biasa yang bahkan umurku mungkin sama denganmu."
Bola mata kebingungan pria itu, mulai bergerak memperhatikan sosok wanita di depannya. Ya, wanita itu masih muda. Masih sangat muda. Ken yang sudah kembali ke wujud asli umurnya juga merasa seumuran dengannya, tapi dari caranya bicara, seakan wanita itu tak bahagia dengan pencapaiannya itu semua di masa mudanya. "Kau tidak senang?"
"Ini warisan, Ken. Aku melihat sirkus sudah sejak lahir dan aku sebenarnya ingin mengerjakan hal lain selain sirkus tapi tidak bisa. Anak orang tuaku, hanya aku."
"Syukuri saja apa yang sudah kau dapatkan. Aku bahkan tidak punya apapun untuk dibanggakan. Bahkan orang tuaku pun tidak mewariskan apa-apa padaku selain berjuang sendiri dengan yang aku inginkan."
Wanita itu terdiam. Minuman kemudian datang hingga pelayan itu pergi. "Kau benar." Lucille mulai menyendoki pie buah beri di piring di hadapan. "Aku mungkin harus membandingkan diriku pada mereka yang tidak punya apa-apa."
Pria itu mulai menyeruput cappucino-nya.
"Ken, maukah kau jadi pacarku?"
Saat itu juga pria itu tersedak hingga terbatuk-batuk.
__ADS_1
___________________________________________