
Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam geladak. Seorang gadis dengan membawa sebuah pedang panjang yang masih dalam sarungnya. Kelihatan cukup berat baginya membawa pedang itu mengingat tubuhnya yang tidak tinggi.
"Mira ...." Ken terkejut.
"He he, Kakak," ucap gadis itu sambil tersenyum. Lucunya ia memakai baju sekolah saat itu.
"Oh, akhirnya kau datang." Lucille meliriknya dengan sebelah mata. Mmh, memegang pedang dengan benar saja dia tak bisa. Apalagi akan menyelamatkan Ken. Yang ada, dia terluka oleh pedangnya sendiri dan menangis. Wanita itu memiringkan bibirnya.
"Mira, hati-hati." Ken pun khawatir, sebab ia belum pernah melihat Mira berkelahi dengan orang lain.
Apalagi anak buah wanita itu, yang tertawa melihat gadis kecil yang memegang pedang panjang itu, serasa melihat seorang anak kecil yang ingin terlihat seperti jagoan padahal itu hanya khayalannya saja.
"Kau ingin menyerang kami?" tanya Lucille setengah mengejek.
"Kalau itu diperlukan. Oya, kembalikan bola kristalku!" Gadis itu melepas pegangannya pada sarung pedang itu hingga terjatuh sendiri.
Ken menghela napas pelan.
"Ajari bocah ini bagaimana caranya berkelahi," titah wanita itu pada anak buahnya.
Para perompak itu tertawa terbahak-bahak. Wajah sangar mereka tiba-tiba berubah geli dipaksa melawan seorang gadis yang berwajah manis itu.
"Bagaimana kalau aku saja sendiri?" Seorang pria bule dengan rambut putih dan tubuh berotot kekar mencoba memulai.
"Boleh." Mira mengangguk.
Pria itu membawa sebilah pisau panjang tapi tidak sepanjang yang dimiliki Mira. Mereka sama-sama meletakkan pedang itu di samping kanan mereka.
Ken mulai ragu. "Eh, Mira. Kalau kau tak bisa ...."
"Diam, Kak!"
Pria itu menelan salivanya. Sedang Lucille hanya menertawakan gadis itu tanpa suara.
Dalam beberapa detik kemudian. "Ayo, mulai," tegur gadis itu karena pria itu tak juga menyerangnya.
Pria itu memutar bola matanya, kesal. "Ok. Tahan ya?" Ia menyerang dengan pelan tapi diluar dugaan gadis itu menangkis pedang itu dengan cepat dan memutar tubuhnya sambil menyabet paha pria itu dengan sekali tebas.
__ADS_1
"Agh!" teriak pria itu jatuh di atas kedua lututnya. Dari pahanya darah segar mengucur deras.
Tentu saja banyak orang tercengang melihatnya. Di saat itulah Mira memotong tali yang mengikat Ken. "Kak, Ken. Serang dia dengan gurita!" teriak gadis itu menunjuk pada Lucille.
"Hah?" Pria itu tak mengerti.
"Keluarkan guritanya, Kak!" Gadis itu mencontohkan dengan menyodorkan telapak tangan pada wanita itu.
Walau tak mengerti, Ken melakukannya. "Keluarlah, gurita!" Dengan serta merta, keluarlah gurita raksasa itu dari tangan pria itu yang langsung menyerang wajah Lucille.
"Ah!" Wanita itu tak bisa melepaskan diri ketika tubuh bagian bawah gurita itu menempel erat pada sebagian wajahnya. Apalagi dengan perlahan tubuhnya dipeluk erat binatang itu hingga tak bisa bergerak. Ia terjatuh di lantai kayu kapal itu.
"Tolong! Tolong bantu aku lepaskan makhluk laknat ini dariku!" teriak wanita itu setengah jijik pada makhluk lengket itu.
Kini giliran Mira berdiri di samping Lucille sambil bertelak pinggang. "Jadi, siapa kini yang kau bilang tidak sanggup melawan, mmh?" Gadis itu berjongkok di samping wanita itu. "Mana itu bola kristalku?"
"Eh, jangan."
Baru saja gadis itu menyentuh tubuh Lucille, wanita itu tiba-tiba menghilang. Bukan itu saja. Kapal itu berubah rusak dan rapuh. Juga anak buah Lucille yang tadi ketakutan melihat kapten kapal mereka kalah, seketika menjadi tulang dan jatuh ke lantai kayu itu. Bahkan ada yang menjadi debu.
Ken terheran-heran melihatnya. Di beberapa tempat di sudut geladak, ada sarang laba-laba yang besar seakan-akan tempat itu sudah lama tak pernah dijamah oleh manusia.
"Sihir," sahut Mira. "Jadi kapal angkatan laut itu hancur dan semua anggotanya mati karena melawan sihir. Melawan yang tak kasat mata."
Ken memandang ke arah kapal angkatan laut itu yang sebagian sudah karam. Di depannya dipenuhi dengan lautan manusia yang memenuhi laut yang berwarna merah dan mati. Begitulah seharusnya yang terlihat, tapi saat itu hanya ada sinar rembulan yang menerangi, menyebabkan warna merah itu menjadi terlihat pekat di malam hari.
"Dan itu semua karena aku," ucap pria itu dengan rasa sesal yang dalam.
"Jangan salahkan dirimu, Kak." Mira memeluk tubuh pria itu. "Semua orang punya suratan yang tak terhindari. Tegarlah selagi menjalani."
Ken mengusap kepala gadis dan mengecupnya. Ia mendekap kepala itu dan menyatukan kepala mereka. "Terima kasih ya, kamu selalu bantu, Kakak. Tanpamu aku tak tahu akan jadi apa. Padahal aku sempat meragukanmu. Maaf."
Gadis itu mengangkat kepalanya. "Tapi sebenarnya aku baru belajar sampai situ aja, Kak."
" Mmh, apa maksudnya?" Pria itu mengerut kening.
"Aku baru belajar tadi, Kak. Jurus yang barusan."
__ADS_1
Ken melepas pelukan dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Mira ... itu bahaya. Bagaimana kalau kamu salah bergerak," geram Ken menahan amarah.
"Itu karena aku melihatmu dalam bahaya. Karena itu aku minta tolong guruku untuk mengajarkan jurus andalannya. Aku sudah berlatih berkali-kali kok sebelum datang," ujar gadis itu menggerak-gerakkan tangannya seperti anak kecil.
"Mira apa kau tak tahu bahaya? Ini lagi. Kenapa rambutmu pendek? Kamu potong ya?"
"Memang kenapa?" Gadis itu merengut sambil memelintir tangannya sendiri saking aktifnya.
"Jelek!"
"Kakak, aku gak minta pendapatmu!" Gadis itu mengerut dahi.
Tiba-tiba kaki Ken dilingkari oleh tangan gurita itu hingga pria itu terkejut. "Eh ...."
"Jangan takut, Kak. Mungkin dia bertanya, sekarang harus bagaimana," terang Mira.
"Oh, begitu." Pria itu menatap gurita itu yang sedikit gelisah. "Kau pulanglah ke laut. Tidak apa-apa. Di situ lebih cocok untukmu."
Gurita itu memegang tangan Ken dengan melingkarkan tangannya di situ, lalu melepaskan. Perlahan-lahan ia bergerak ke arah pagar pembatas di geladak. Ia melewati pagar itu dan langsung terjun ke laut.
Ken melambai pada binatang itu yang muncul kemudian di atas permukaan laut. "Terima kasih sahabat!" Namun kemudian pria itu segera berbalik. "Dia juga yang membunuh anak buahku." Ia mengusap wajah kasar.
"Itu sebenarnya salah paham, Kak. Sepertinya waktu mesin mati, ia lewat di depan mesin itu di saat mesin dihidupkan kembali. Mungkin tangannya terjepit atau bagaimana sehingga dia marah. Lalu ketika petugas datang, ia mengamuk pada petugas itu."
"Mmh, masuk akal juga ceritamu."
"Binatang tidak berpikir serumit manusia. Saat ia dalam bahaya barulah binatang menyerang."
"Iya seperti aku yang marah karena kau memotong rambutmu sampai sependek ini!" Ken membuat mimik wajahnya menyeramkan dengan memperlihatkan kuku jarinya yang pendek hendak mencengkram.
"Kyaaa!" Mira menjerit dan berlari menjauh. Ia berlari ke sisi yang satunya dan melompat ke pantai.
"Mau ke mana kamu, Mira ...," ucap pria itu dengan suara yang dibuat-buat serak menyeramkan.
"Kyaa, Kakak. Aaaa ...." Mira berlari ke dalam pulau.
Ken tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
_________________________________________