
Ken akhirnya tak jadi menggeser piring berisi telur matang sapi itu, melihat Kakek yang mendelik marah ke arahnya.
"Sudah, tidak apa-apa," sahut sang wanita sambil tersenyum pada pria Jepang itu. Ia mengambil sendiri makanan untuk anaknya.
Melihat situasi yang tak nyaman itu, Ken segera menyudahi sarapannya dengan meminum teh hangat dengan cepat lalu segera berdiri. "Maaf aku harus segera ke kampus, aku ...."
"Ken, bawa aku ke kamar," titah pria bule itu dengan tegas.
Yang dimintai tolong malah kebingungan, pasalnya makanan kakek itu belum sampai separuhnya habis. "Kek, makanan Kakek 'kan belum habis?"
"Kau juga." Pria bule itu menjawab ucapan Ken.
Ken malah semakin serba salah.
"Kau duduk, dan habiskan dulu sarapanmu. Baru kau pergi," pinta sang kakek. Sepertinya kakek itu meminta baik-baik Ken agar menemaninya selama sarapan. Ia saat itu merasa tidak nyaman duduk bersama putrinya.
Mau tak mau, pria Asia itu kembali duduk dan menyelesaikan sarapannya. Perang dingin masih saja ditunjukkan oleh kakek itu, walaupun anak perempuannya berusaha mencairkan suasana.
"Anthony, ayo makan yang banyak seperti Kakekmu," ujar wanita itu
Bocah berambut coklat tua itu menatap ke arah pria yang disebut 'Kakek' oleh ibunya. Bukannya mata itu memandangnya dengan ramah tapi memelototinya dengan tajam.
"Mommy .... " Bocah itu berdiri di atas kursi lalu memeluk ibunya karena takut.
"Tidak apa-apa," sahut sang wanita sambil menenangkan bocah laki-laki itu. "Kakek memang suka bercanda."
Ken tak tahan untuk juga akhirnya untuk ikut bicara. "Aku dibesarkan di panti asuhan di mana sangat jarang ada keluarga yang mau datang ingin mengadopsi atau sekedar menghibur kami. Padahal orang-orang seperti kami sangat merindukan bertemu dengan anggota keluarga, seperti ayah atau ibu. Kadang saat kami melihat seorang anak bersama ayah atau ibu mereka, kami sering membayangkan wajah orang tua kami seperti apa. Bagaimana rumahnya, hidup dengan mereka dan bagaimana kisahnya hingga kami bisa berakhir di panti asuhan.
Kalian punya segalanya dan orang tempat kalian mengadu saat lelah dan butuh teman bicara. Kenapa karena hal sekecil ini, kalian jadi tak saling bicara? Kalian bukan tidak punya siapa-siapa tapi kalian terlalu angkuh untuk mengakui kalian saling membutuhkan satu sama lain. Kegembiraan dan kedukaan harusnya mejadi jembatan agar pertalian darah ini makin dekat, bukan malah makin menjauh."
Pria Jepang itu sudah tak peduli lagi bila apa yang disampaikannya melukai keduanya. Ia sudah pasrah. Bukankah ia memang mengharapkan keluar dari zona tidak nyaman tersebut?
Sarapan pagi itu dilewati dengan hikmat menatap sarapan mereka masing-masing. Setelah itu, Ken pamit.
"Maaf, aku harus buru-buru pulang ke apartemen. Aku harus membantu dosenku, karena ia akan ikut berpidato di pertemuan para dokter ahli."
"Eh, Ken," panggil pria bule itu pelan.
"Ya, Kek?"
"Jangan lupa kembali kemari." Rupanya kakek itu masih mengharapkannya.
"Baik, Ken, tapi aku tak tahu jam berapa bisa kembali."
__ADS_1
"Aku menunggumu."
Pria muda itu menatap Kakek, sebentar. "Baiklah." Ia kemudian pergi.
Setelah kepergian Ken, wanita itu mulai menatap ayahnya. "Daddy ... boleh aku mencukur jenggotmu? Sepertinya jenggot itu tumbuh tak beraturan." Ia mencoba tersenyum.
Pria itu menatap balik putrinya. Ada sedikit keraguan menggelayuti hati tapi ... "Usahakan jangan sampai terluka," ucapnya sedikit kaku. Ia lalu kembali menekuni sarapannya.
Sang wanita tersenyum lebar. "Terima kasih, Daddy. "
-----------+++-----------
Ken buru-buru turun dari motor dan segera melangkah ke arah pintu masuk, tanpa menyadari seorang gadis tengah membawa beberapa bungkus pakaian gantung juga menuju ke arah pintu yang sama. Mereka bertabrakan di depan pintu hingga keduanya jatuh ke lantai.
"Ah!"
"Aduh!" teriak gadis itu.
Pria itu segera berdiri demi melihat gadis itu jatuh dan tertimpa pakaian laundry yang dibawanya. "Oh, maaf." Ia segera membantu menepikan pakaian dan mengeluarkan gadis itu dari tumpukan pakaian. "Mira?" Ia melihat gadis itu di antara timbunan pakaian.
"Mmh ... Kakak, kenapa kau menabrakku," keluh gadis.
"Maaf, maaf. Aku tidak lihat ada orang di samping, jadi aku buru-buru ke pintu." Tak ayal netra pria itu benderang melihat sang gadis. Sudah beberapa bulan ini ia tak bertemu dan sabarnya membuahkan hasil. Gadis itu semakin dewasa dan cantik saja di matanya. "Kau bekerja di laundry lagi?"
Ken membantunya berdiri. "Tidak. aku malah senang bertemu lagi denganmu. Di mana kau bekerja?"
"Ah, pakaian itu," keluh sang gadis. Ia tidak memperdulikan pertanyaan pria itu karena fokus dengan barang bawaannya. "Padahal sudah disetrika dan pemiliknya sedang menunggunya di atas."
"Oh, tidak kotor kok. 'Kan masih di dalam plastik. Ayo, aku bantu kau mengantarnya." Ken memunguti pakaian-pakaian itu bersama gadis itu. Mereka membawanya masuk hingga ke dalam lift. "Kenapa kau membawanya sendirian? Kau 'kan bisa minta tolong yang lain membawakannya. Ini terlalu banyak, kau tak bisa membawanya sendirian."
"Kebetulan hari ini ramai yang minta digosok cepat, Kak. Aku mau tak mau harus mengantarkannya sendirian." Gadis itu memeriksa pakaian itu satu-satu.
"Mmh." Ken masih memandangi wajah gadis itu yang beranjak dewasa. Tangannya tak bisa diajak kompromi untuk menyentuh dagu gadis itu.
"Kakak!" Gadis itu mendelik marah. Di tepisnya tangan sang pria dengan kasar.
Ken tertawa geli.
"Kamu lama-lama mirip Kak Ejiro deh!" ungkap gadis itu kesal.
Pintu lift terbuka dan keduanya keluar. Mira mencari nomor kamar pemesan. "Ah, ini dia." Ia menekan bel kamar itu.
Pintu kemudian terbuka. Seorang wanita mengintip dari samping pintu.
__ADS_1
"Laundry, Nyonya."
"Oh, iya. Pakaianku mana?" Wanita itu membuka pintu dengan lebar. Terlihat seorang anak kecil yang sedang bermain dengan mobil-mobilan di lantai ruang tengah.
Setelah memeriksa, Mira menyerahkan beberapa pakaian gantung dan bungkusan pakaian pada wanita itu.
"Terima kasih," kata sang wanita sambil melirik ke arah Ken sekilas.
"Terima kasih kembali, Nyonya."
Pintu pun kemudian ditutup.
"Ayo, kita ke tempat lain," ajak gadis itu.
"Tapi ...."
Mira menoleh ke arah pria itu. "Ah, 'Kak Ken sedang sibuk ya? Sini, biar kuantar sendiri."
Namun Ken menghindar. "Eh, tidak apa-apa. Masih ada berapa lagi orang yang mau diantar? Ayo, kita sama-sama antar."
"Eh, tapi, Kak ...."
Pria itu menyambar tangan Mira dan menariknya hingga ke depan pintu lift.
"Tapi, Kakak ...." Gadis itu menunduk.
"Kau pasti kerja dekat sini ya? Temani aku ke apartemenku dulu ya, sebelum kamu balik ke tempat kerja."
"Hah?" Gadis itu terlihat terkejut.
Ken mendorong gadis itu masuk ke dalam lift ketika pintu terbuka, kemudian menunggu Mira menekan tombol lantai tujuan. Lalu, lift pun berjalan. Setelah mengirim ke dua tempat berbeda, keduanya lalu menyambangi apartemen sang pria.
"Ini apartemenku. Tunggu aku ya, aku mau mandi dulu. Kalau kamu mau minum, ambil saja di lemari es." Ken bergegas ke kamar. "Oh, ya." Kepalanya kembali muncul di balik pintu. "Kenapa selama ini kerja di laundry, aku tak pernah bertemu denganmu?"
"Oh, aku baru kerja, Kak di laundry itu. Ini semua gara-gara Kak Ejiro."
Pria itu mengerut kening. "Ada apa dengannya?"
Ditanya begitu, Mira malah tertawa terkekeh.
___________________________________________
__ADS_1