Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Rasa Tak Pernah Salah


__ADS_3

Dengan mudahnya Ejiro memanggul gadis itu di bahu.


"Turunkan aku, Kak!"


Pria berpakaian kimono itu menoleh ke arah Ken. Ia menendang pria mabuk itu hingga jatuh terjerembab ke lantai. "Ah!"


"Kakak! Kamu sudah keterlaluan!" teriak Mira geram tapi ia tak bisa berbuat apa-apa dengan tubuh yang sudah dibuat tak berdaya oleh kakaknya itu. "Kak Ken! Kak Ken, tolong aku!"


Namun sia-sia saja. Pergerakan Ken yang lambat membuat ia kehilangan gadis itu. Saat ia bangun, tak ada siapa pun di dalam kamar itu. "Mmh? Aku tadi dengar suara apa? Apa aku bermimpi? Aku bermimpikah ...." Sekali lagi ia melihat kembali ruangan itu. Ia memang sendirian. Kemudian ia merebahkan dirinya lagi ke lantai dan tidur.


--------+++----------


Lucas terkejut melihat Ken pagi-pagi sudah menguliti kentang. Apalagi kemudian disusul Min Shi dan Irene yang datang bersamaan. Mereka saling berbisik dan Lucas mencuri dengar. "Benar, semalam aku bertemu dengan pacarnya. Cantik juga. Aku pikir dia mengada-ada saat menyebut nama wanita lain, tapi ternyata pacarnya datang menjemputnya."


"Oh ...." Irene mendengarkan cerita temannya.


Pacar? Hah ... ada saja yang mengganggu rencanaku, batin pria bule itu kesal.


Tak lama Balto datang dan memeriksa persiapan. "Ken, tolong buat kaldu lagi seperti kemarin."


"Apa? Tapi itu 'kan hanya percobaan saja karena itu bukan menu restoran ini," ucap Ken melongo sambil beranjak berdiri.


Pria paruh baya itu menyentuh kedua rahang dengan jemarinya. "Aku berniat untuk memasukkan kaldu itu dalam menu makanan restoran ini jadi aku juga menunggu kreasimu, Lucas. Aku ingin anak buahku di dapur kreatif. Ken dengan kaldunya dan Lucas entah dengan masakan apalagi. Aku memberikan kesempatan yang sama pada kalian berdua."


Lucas makin kesal. Memangnya mudah membuat kreasi yang dibutuhkan restoran? Sangat sulit dan Ken dengan bantuan bos mereka mendapatkan kreasi dengan mudah. Balto tinggal bilang dan Ken membuatnya. Sedang ia, kini harus kebingungan dengan kreasi yang harus dibuatnya. Bos mereka bahkan tidak membantunya memberikan petunjuk sama sekali. "Baiklah."


"Kamu punya waktu seminggu ya?"


"Iya, Pak." Lucas lemas.


Menjelang siang kaldu buatan Ken sudah jadi bersamaan dengan kaldu buatan Balto, bos mereka. Ken kemudian mulai melanjutkan mengupas kentang. Tak ada yang tahu, sejak minum bir semalam, tubuh pria itu kurang sehat. Ia sedikit mual dan pusing. Apalagi saat mencium kaldu yang dia buat. Namun pertahanannya runtuh juga saat duduk dan mengupas kentang. Ia berlari ke toilet karena ingin muntah.

__ADS_1


"Ken, kamu kenapa?" Balto yang melihat pria itu berlari ke toilet, khawatir.


Tak lama terdengar suara air mengucur deras. Ken keluar dari toilet dengan mengusap mulutnya.


"Kau kenapa, Ken?" Pria bule itu bertanya, tapi belum sedetik berlalu, Ken kembali ke toilet. Ia menoleh pada Lucas. "Ada apa dengannya? Apa dia mabuk semalam?"


"Oh, iya. Dia mabuk semalam. Dia ikut kami ke bar dan minum paling banyak," terang Lucas pada bosnya.


Pria bule paruh baya itu mengangkat kedua tangannya. "Hah, dasar anak muda. Dia pasti teringat masalahnya itu lagi, heh!" Bule itu menunggui sang pria Jepang di depan toilet, sementara Lucas mendekati kaldu buatan Ken.


Saat itu, para pelayan sedang di ruang makan. Dengan cepat pria berbadan kekar itu memasukkan sesuatu ke dalam kaldu buatan Ken, dan lalu menutupnya kembali. Detik itu juga ia merasa lega.


Pria Jepang itu keluar dari toilet dengan wajah pucat.


Balto menyentuh dahinya. "Kau demam, Ken. Sebaiknya kau minum obat dan tidur."


"Tapi, bagaimana dengan pekerjaan di sini?" jawab Ken khawatir karena takut menyusahkan banyak orang.


"Tapi kentang-kentang itu ...," ucap sang pria Jepang sambil menunjuk pada kentang yang masih banyak dan belum dikupas.


"'Kan ada banyak orang di sini, karena sebelum itu juga kau belum ada. Kami sudah terbiasa tanpamu dan sekali lagi tanpamu, jadi ambil saja waktu istirahatmu dan pergi tidur. Ayo, aku beri kau obat supaya cepat sembuh."


Ken mengikuti Balto ke kantornya, sementara Lucas kembali mendekati panci yang berisi kaldu buatan Ken. Ia menyempatkan diri untuk mengaduknya dengan mulut tersenyum puas.


-------+++---------


Ken terbangun. Ia melihat jam di meja menunjukkan pukul 12 lewat lima menit. itu tandanya jam makan siang sudah dimulai. "Oh, aku tak boleh terlambat."


Ia segera membuka selimut dan bergeser turun sambil mengucek-ngucek matanya. Pria itu tak mau ketinggalan untuk membantu apa saja di dapur restoran saat ini.


Setelah mencuci wajahnya dengan bersih, ia berlari-lari menuruni tangga menuju ke dapur. Tubuhnya yang kembali bugar membuat ia semangat lagi untuk bekerja.

__ADS_1


Tak sengaja ia melirik ke arah ruang makan dan melihat pria itu lagi. Yah, Tuan Ramires. Kali ini ia datang lebih awal dari kemarin. Pria itu tengah menunggu makan siang di meja favoritnya yang berada di tengah.


Sepertinya ia tipe orang yang suka keramaian, memperhatikan orang lain, dan juga menjadi pusat perhatian. Bukan apa-apa, pria itu memang tampan. Bukan hanya karena hidung mancung dan kulit putih, serta alisnya yang tebal, tapi wajahnya yang serupa patung dewa yunani memang wajar untuk dipuja. Apalagi raut mukanya menyiratkan pria matang membuatnya tampak berwibawa.


Ken masuk ke dapur saat Irene membawa makanan dan minuman dalam sebuah baki ke luar.


"Ah, Tuan Ramires yang memesan pertama kaldu buatanmu, Ken," ujar wanita itu bersemangat sambil melewatinya.


"Oh."


Lucas tersenyum licik dengan cara sembunyi-sembunyi dari meja tempat ia memisahkan bahan makanan. Rasakan, Ken. Tuan Ramires akan memarahi Pak Balto karena anak buahnya tidak beres bekerja lagi, seperti aku dulu. Semoga saja Pak Balto sadar, jangan sembarangan memakai kaldu murahan dari seorang pemula untuk menu restorannya. Begitulah akibatnya.


Benar saja. Tak lama Irene masuk dengan terburu-buru dan mencari Balto. "Pak, maaf. Tuan Ramires memanggil bapak lagi."


"Ada apa lagi itu orang ...." Pria itu mendengus kesal. Bukan apa-apa. Pesanan lagi banyak-banyaknya, pria itu malah memanggilnya. "Kali ini harus penting, karena panggilannya ini sudah sangat mengganggu." Ia melepas celemeknya dan keluar.


Ken dan Irene mengintip dari balik pintu dua arah itu, ingin memastikan ada apa. Ken pun khawatir karena ada kaldunya ikut masuk dalam masakan pria itu. Terlihat Balto mencoba masakannya dan ia mengerut kening. Tiba-tiba saja jantung pria Jepang itu berdebar kencang.


Apalagi, Balto kembali ke dapur. Ia tanpa bicara apa-apa langsung mendekati panci yang berisi kaldu buatan Ken. Ia membuka tutup panci dan melihat kaldu itu berwarna sedikit gelap dari sebelumnya. Pria itu mengambil sendok dan mencicipinya. Kembali ia mengerut dahi.


Ken mendekat. Ia pun heran melihat warna kaldunya sedikit gelap. "Lho, kenapa warnanya jadi begini?"


"Lho, memang tadinya tidak begini?" tanya pria bule itu terkejut.


"Tidak, aku yakin karena aku menyaring lemak di atasnya sampai bersih."


"Kaldu ini tidak bisa dipakai, Ken karena rasanya sudah berubah. Untuk sementara kita hentikan dulu menggunakan kaldumu sebelum pelanggan yang lain mengeluh." Ia menoleh pada Irene. "Tolong beri tahu Min Shi, kita pakai menu sebelumnya."


Ken masih terperangah. Seumur hidup ia tidak pernah bermasalah dalam membuat kaldu, kenapa kali ini ia gagal? Pria itu berbalik arah. "Aku akan minta maaf pada Tuan Ramires."


"Hei, Ken. Kau tak boleh ke sana!" teriak Lucas memperingatkan.

__ADS_1


__ADS_2