
"Kenzie, kau dengar tidak?" tanya pria itu tapi dengan nada suara lebih rendah dari yang tadi. Ia tahu Ken terkejut saat ia marah-marah di hadapan anaknya itu.
Pemuda itu terlihat masih bingung sehingga pria itu mendirikan pemuda itu yang sedang berjongkok di depan lemari es dan mendudukkan di kursi. Ia memeluk tubuh Ken. "Maaf ya, ayah tidak berniat mengasarimu tapi kamu nakal, berulang kali mencoba apa yang ayah larang. Makanya ayah suka panik sama kamu, Kenzie." Ia mengusap-usap punggung pemuda itu.
"Memang aku sakit apa?" Pemuda itu mendongak.
Pria itu seperti kebingungan. "Orang-orang menyebutmu Idiot atau terbelakang tapi bagi ayah, kamu hanyalah anak yang butuh perhatian khusus. Karena itu jangan bermain dengan anak-anak lainnya. Cukup tinggal di sini sama ayah biar kamu tidak diledeki oleh mereka. Mengerti, mmh?" Ia menurunkan wajahnya menatap Ken.
Pemuda itu mengangguk.
Pria itu menangkup wajah Ken dan menggoyang-goyangkannya karena senang. "Begitu dong, anak ayah."
Kemudian pria itu mengambil botol kopi dingin yang ia taruh di atas meja dan meletakkannya kembali ke dalam lemari es. "Tunggu ya, ayah masak dulu. Mau tambah jamur 'kan omeletnya?" Ia memperlihatkan jamur yang diambilnya, lalu kembali ke dapur.
Idiot? Apa aku anak berkebutuhan khusus, tapi kenapa cara berpikirku masih seperti orang normal?
Ken kemudian kembali ke kamar. Ia mencari cermin untuk melihat dirinya. Walaupun sedikit takut dengan apa yang akan ia lihat, ia memberanikan diri.
Sesosok pemuda tampil dengan rambut yang berponi lurus membuat ia terlihat seperti pemuda bodoh dan ketinggalan jaman. Namun kalau diperhatikan, ini hanya masalah penampilan luarnya saja. Ketika Ken memiringkan sedikit poninya seperti biasa ia berdandan, ia terlihat normal. Apa benar ia tak normal seperti yang pria itu katakan?
Belum selesai ia memandang dirinya di cermin, pria itu kini memanggilnya.
"Kenzie!"
Ken buru-buru kembali. 'Iya, Yah." Ia langsung duduk dikursi yang disediakan dan mengambil garpu. Ia memotong omelet itu dengan garpu dan menyuapnya. "Mmh, enak."
Pria itu tersenyum. Ia memperhatikan poni Ken yang menyamping, lalu meluruskannya. "Habiskan ya?"
"Mmh." Pemuda itu mengangguk.
Pria itu juga telah menuangkan Ken segelas jus. "Nanti bantu ayah kerja ya?"
"Kerja apa?"
Pria itu kembali tersenyum. "Seperti biasa."
Aku membantu dia bekerja? Bekerja apa? Bukankah aku anak idiot? Apa aku bisa membantunya bekerja?
Semua itu terjawabkan setelah Ken menyelesaikan sarapannya yang sudah telat itu. Ia dibawa ke lantai satu rumah itu yang sedikit berantakan. Ruangan itu mirip studio. Ada sebuah kanvas besar yang masih putih bersandar di dinding dan beberapa kaleng cat berukuran besar dengan warna-warna yang berbeda berada di lantai.
"Apa ini, Yah?" tanya Ken.
__ADS_1
"Cat, masa kamu lupa? Kamu akan membantu ayah mencat lukisan."
"Aku mandi dulu ya, Yah?" ucap pemuda itu hendak kembali ke atas.
"Lho, tidak perlu. Kamu lebih baik begitu saja."
"Hah?" Pemuda itu tidak mengerti kalimat terakhir yang diucapkan pria itu.
Pria bule itu mendirikan Ken di depan kanvas. Ia kemudian membuka salah satu kaleng cat dan mulai menyendoknya dengan sendok besar lalu menyiramnya ke arah pemuda itu.
"Ayah?" Ken terkejut. Kenapa ia tiba-tiba disiram cat?
"Jangan bergerak, Kenzie. Ayah sedang membuat bayangan."
"Hah?"
Pria itu kembali mengambil sesendok besar cat dan menyiramkan ke tubuh pemuda itu di sisi yang lain. Cat itu menyiprat hingga ke kanvas di belakangnya.
Ken masih bingung tapi ia tetap tegak berdiri. Ia tak mengerti kenapa pria itu menyiraminya dengan cat yang banyak seperti itu.
"Jangan bergerak ya, Ken." Pria itu mengingatkan. Ia mengganti warna cat dan kembali menyirami anaknya dengan cat itu di bagian tubuhnya yang lain. Sesekali ia memperhatikan Ken dan lalu menyiraminya lagi hingga akhirnya pria itu selesai. "Sudah, Kenzie. Lukisannya sudah jadi."
Pemuda itu bergerak bergeser tapi pria itu menariknya. Pria itu membalik tubuh Ken agar bisa melihat lukisan yang telah dibuatnya. "Lihat lukisan ayah."
"Bagus 'kan lukisannya?"
"Mmh?" Ken tak mengerti tapi ia mengangguk untuk menyenangkan hati pria itu.
"Ya sudah, kamu boleh mandi."
Ken kemudian naik kembali ke lantai dua dan masuk ke kamar mandi, tapi sebelum menutupnya pria itu ikut masuk ke sana, membuat pemuda itu terkejut. "Ayah?"
"Sini ayah bantu bersihkan wajahmu."
"Aku bisa sendiri, Ayah."
"Tidak, kamu tidak bisa karena di kamar mandi tak ada cermin."
Selagi wajahnya dibersihkan, bola mata Ken berputar melihat sekeliling. Benar saja, kamar mandi itu tak punya cermin. Pria itu membersihkan wajah pemuda itu hingga leher dengan sabun.
"Untung langsung dibersihkan jadi gampang membersihkannya." Pria itu lalu keluar. "Tinggal bilas wajahmu. Kaki dan tanganmu, kamu bisa sendiri 'kan?"
__ADS_1
"Iya, Yah." Pemuda itu kemudian membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian Ken turun. Pria itu sedang melanjutkan lukisannya dengan tambahan yang lain. Ia melihat pemuda itu melangkah keluar.
"Pergi dulu, Yah!" teriak Ken menghampiri pintu depan.
"Kau mau ke mana?"
"Mmh? Jalan-jalan saja."
"Kau tak boleh ke tempat ramai. Kau pergi ke hutan saja."
Mmh? Hutan? "Kenapa hutan, Yah?"
"Ck, kau tak dengar kata ayah? Kalau kau tak pergi ke hutan, kau di rumah saja."
Hutan? Itu 'kan bukan tempat yang menyenangkan untuk dilihat. Kenapa harus ke hutan sih? Apa hutannya gelap dan lebat seperti di pulau waktu itu?
"Kau dengar kata ayah, Kenzie?" Pria itu mulai meletakkan kuas yang dipegangnya ke atas kaleng cat.
"Eh, iya, iya," ucap pemuda itu cepat, daripada tidak diizinkan sama sekali oleh pria itu.
"Hutan adanya di belakang rumah kita ya?"
"Iya, iya."
"Nanti kalau lama, ayah susul. Kau 'kan suka nyasar, biasanya."
Ken akhirnya bisa keluar. Ia yang sedikit bingung dengan keadaannya sekarang, ingin keluar untuk menghirup udara segar. Padahal di daerah situ banyak yang bisa dilihat. Rumah-rumah bagus seperti rumahnya dan sepertinya ia tinggal di perumahan kelas menengah. Ia ingin melihat keluar tapi ia ingat pria itu tak mengizinkannya. Alhasil, ia mengitari rumah dan memasuki hutan.
Yang disebut hutan ternyata tidak begitu monoton seperti yang pernah ia lihat waktu itu sebab ternyata hutan di sana adalah hutan pinus. Pemandangannya sangat indah dan ada danau dengan air yang tenang di sana.
"Oh, bagus ternyata," gumam pemuda itu. Ia kemudian menelusuri tempat itu sendirian.
Tanpa disadari, seorang pria tengah memperhatikan gerak geriknya di tempat itu. Ia mengikuti terus ke mana Ken pergi.
Aduh, kenapa kepalaku pusing lagi ya? Pemuda itu menyentuh keningnya. Tiba-tiba semua terlihat gelap dan Ken jatuh pingsan ke tanah.
Pria itu masih mengamati dan menunggu. Apa orang itu akan menjemputnya lagi?
Lama ia menunggu tapi tak ada yang datang. Pria itu kemudian mendatangi tubuh Ken dan menggendongnya.
__ADS_1
____________________________________________