
Dia ... dia pasti bukan manusia. Atau setidak-tidaknya, setengah manusia. Kucing itu masih melongo. Dari tangannya keluar koin emas ... seberapa banyak koin emas yang ada di dalam tangannya? Ini pasti bukan sulap, ini nyata. Kucing itu menyentuh lengan Ken.
"Mmh? Kenapa, Pus? Kamu mau apa?"
Kucing itu menatap nanar pada pemuda itu. Perlahan-lahan ia mundur.
"Pus ...." Ken terduduk karena heran.
Saat itulah kucing itu berubah pelan-pelan menjadi manusia. Pemuda itu sampai mengucek-ngucek matanya karena percaya dengan apa yang dilihatnya, tapi kemudian ia menutup wajahnya sambil mengintip di sela-sela jemari karena pria di hadapannya tak memakai kain penutup selembar benang pun.
Gojo segera mengambil handuk Ken dan melilit di pinggangnya. "Maaf, aku mengagetkanmu."
"Go-jo ...." Pandangan pemuda itu masih nanar.
"Aku ...." Pria itu bergerak maju membuat Ken bergerak mundur karena ketakutan. "Jangan takut, bukankah kamu juga bukan manusia?"
Ken terlihat masih syok.
"Atau setengah manusia?"
"Ah ...." Perlahan pemuda itu bergerak tapi bingung menentukan sikap.
"Aku hanya ..." Gerakan Gojo yang kembali ke depan membuat Ken yang masih bingung, bergerak lagi ke belakang. "Ok, ok." Ia berhenti bergerak dan mengangkat tangannya agar Ken tidak takut dan bingung. "Aku cuma ingin bertanya. Dengar ya? Aku adalah anak dewa binatang dan manusia. Aku setengah dewa. Apa kau juga sama?"
Ken masih melongo tapi pria itu coba menyadarkannya dengan menyodorkan tangannya.
"Kamu?"
"Aku setengah dewa juga," ucap Ken pelan.
"Dari?"
Tiba-tiba Ken teringat akan ucapan ibunya, agar tidak sembarangan menyebarkan informasi tentang dirinya karena banyak yang tidak percaya akan keberadaan mereka tapi yang percaya biasanya punya niat jahat padanya.
Ia melirik ke samping. Dengan serta merta Ken berusaha meloloskan diri dengan menjatuhkan dirinya ke samping tapi pria itu tak kalah cepat dengan meraih tubuh pemuda itu hingga keduanya jatuh berguling di lantai. Pemuda itu berusaha melepaskan diri tapi Gojo mendekapnya erat. Ken hampir berteriak jika saja Gojo tidak memperingatkannya.
"Kau ingin Jack tahu siapa diri kita?" bisik Gojo lagi tepat di depan wajah Ken. Ia mengangkat telunjuknya ke depan mulut.
Pemuda itu kembali melihatnya nanar.
"Apa kau tidak senang punya teman dari kaum yang sama denganmu, setengah dewa? Aku senang. Aku menantikan saat-saat ini karena aku tinggal lama di hutan itu tanpa teman. Akhirnya aku bisa bertemu teman yang bisa mengerti diriku. Siapa aku." Perlahan ia bangkit dan duduk di samping pemuda itu.
"Tapi kalau keberadaanku mengganggumu aku siap pergi." Pria itu baru saja akan beranjak berdiri ketika tangan Ken menahannya.
"Ma-maaf." Pemuda itu kemudian duduk di lantai. "Aku sebenarnya masih baru dengan duniaku yang satu ini. Setengah dewa. Ibuku memperingatkanku agar tak sembarangan memberitahukan tentang identitasku pada orang lain, sehingga aku bingung mengambil sikap ketika bertemu dengan orang yang sama denganku, setengah dewa juga. Aku masih belum tahu siapa lawan siapa kawan."
"Ibumu benar. Jangan gampang percaya tapi aku bukan orang jahat. Percayalah. Aku hanya ingin berteman denganmu."
__ADS_1
"Mmh." Ken melihat handuk yang dipakai Gojo sedikit longgar. "Coba tolong, handuk itu." Ia menunjuk handuk di sekitar pinggang pria itu.
"Eh, maaf." Pria itu merapikan lagi lilitan di pinggangnya.
"Apa kau mau berpakaian? Kau bisa pakai, pakaianku. Eh, tadi kau bilang kau anak dewa binatang? Jadi kau, bisa berubah jadi binatang apa saja ya?" tanya Ken penasaran.
"Jadi ular bisa." Dan seketika pria itu berubah jadi ular berwarna hitam dan putih. Ular itu mengeluarkan lidahnya dan menatap ke arah pemuda itu.
Ken langsung menepi karena ketakutan. "Ah, jangan yang itu aku takut!" serunya.
Ular itu kemudian berubah menjadi serigala.
"Eh, sepertinya ... ini juga sama." Pemuda itu melihatnya dengan khawatir.
Terdengar suara langkah orang di depan pintu. "Kenzie, kamu tidak apa-apa?" Pintu pun terbuka. Jack melihat pemuda itu duduk di lantai dengan kucingnya.
Ken melirik ke arah kucingnya sekilas. "Ada apa, Yah?"
"Ayah dengar ribut-ribut dari bawah."
"Aku hanya bermain dengan kucingku, Yah."
"Ini sudah malam, Kenzie. Cepatlah tidur. Jangan bergadang kalau tidak mau penyakitmu kambuh."
"Iya, Yah."
"Nanti terinjak ayah."
Pria itu terkekeh. "Sudah tidurlah." Ia baru mencondongkan tubuhnya, ketika Ken protes dengan apa yang ingin ia lakukan.
"Ayah, jangan cium-cium aku. Aku sudah besar."
Pria itu tersenyum lebar. "Baiklah." Ia mengacak-acak poni Ken. Jack kemudian bangkit dan keluar dari kamar.
Ken melirik kucing itu yang sedang menahan tawa dengan menutup mulutnya. Pemuda itu menyatukan telunjuk dan jari tengah mengarah ke dahi kucing itu. "Aku sentil nih!"
"Eh, enggak. Maaf, Ken. Miauw."
-------------+++-----------
Ken menceritakan pada Gojo bahwa Mira adalah tentara bayaran sang ibu. Hanya karena umurnya yang masih kecil, ia iba padanya.
"Yang bener itu, Ken? Ngak ada maksud lain?"
"Maksud lain, maksudnya?" Pemuda itu menatap kucing itu dengan kening berkerut.
"Lebih dari sekedar teman?"
__ADS_1
"Yaaa, aku menganggapnya seperti adik," ucap pemuda itu dengan santai.
Kucing itu menatapnya tak percaya.
"Kenapa?" tanya Ken melihat gelagat kucing itu.
"Yakin, gak ada yang lain?"
"Ck, kucing ini lama-lama sok tau ya?"
Kucing itu terkekeh hingga terguling ke belakang.
Pintu terbuka dengan tiba-tiba. "Kenzie, kalau sudah bangun, ayo turun. Waktunya kamu sarapan. Jangan bercanda terus dengan kucingmu nanti lama-lama dibilang orang gila lagi, kamu. Bicara dengan kucing saja." Jack sudah di pintu.
"Eh, iya, Yah."
Pemuda itu mengikuti Jack turun. Sekarang di rumah baru mereka, dapur ada di lantai satu.
"Mau cream soup, Kenzie?"
"Mau, Yah."
Jack mengambilnya ke dapur. Saat itu, kucing itu sedikit curiga dengan gerak gerik pria itu, karena itu ia mengikutinya ke dapur. Benar saja. Setelah pria itu menuangkan sup ke mangkuk, ia menaburkan sesuatu di atas mangkuk itu dari sebuah lipatan kertas.
Kucing itu berlari ke meja makan. Saat bertemu dengan Ken, pemuda itu malah mengangkat tubuh kucing itu dan didudukkan di atas kursi di sampingnya.
"Itu, Ken ...." Namun kucing itu belum sempat bicara, Jack sudah datang dan meletakkan mangkuk itu di hadapan Ken.
"Makasih, Ayah."
"Mmh."
Ken mengambil sendok, tapi saat ia menyendokkan sup itu. Kucing itu mengeong. "Meow."
Pemuda itu menoleh. "Mmh? Kau mau sup ini? Nih!" Ia menyodorkan pada kucing itu. Tak dinyana, kucing itu malah mendorong tangan Ken hingga sup di sendok tumpah ke pangkuan. "Yaaa ...."
"Kenzie! Ayah sudah bilang, jangan main-main dengan kucingmu itu. Beginilah jadinya!" Pria itu kesal hingga mengusap mulutnya dengan serbet dan melemparnya ke atas meja.
"Eh, sebentar, Yah. Aku ganti baju dulu." Ken beranjak berdiri, dan berlari menaiki tangga bersama kucing itu.
Jack melirik mangkuk cream soup Ken dengan hati dongkol. Saat Ken berganti pakaian di kamar, kucing itu menyentuh kaki pemuda itu. "Apa?"
"Kau jangan makan makanan itu ya? Makanan itu diracun."
"Kau bilang apa?"
"Ayahmu meracunimu."
__ADS_1