Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Terpisah


__ADS_3

"Aku tidak merasa sia-sia bersamamu, Kak. Aku ini sahabatmu. Itulah gunanya sahabat." Mira berusaha tersenyum walau hatinya serasa teriris melihat keadaan pria itu yang makin hari makin kurus saja. Mengingat Yumi saja sudah sangat menyedihkan, apalagi melihat Ken yang membiarkan dirinya tersiksa oleh ketidakmampuannya melawan takdir. "Kita tidak bisa menyesali karena itu sudah suratan takdirnya."


"Aku ini manusia tidak berguna, Mira. Sebaiknya kau tinggalkan aku sekarang, daripada kau juga akan ketiban sial jika terus bersama orang sepertiku!" keluh Ken.


"Kak, sadarlah. Tidak ada orang pembawa sial, yang ada adalah orang yang sedang tidak beruntung. Bersabarlah, karena di dunia ini tidak ada yang abadi. Ketidakberuntunganmu suatu saat akan berganti dengan keberuntungan dan kesedihanmu suatu saat akan berganti dengan kebahagiaan." Gadis itu menasehati dengan bijak.


"Untuk apa bersabar, hah? Untuk apa? Yumi takkan kembali dan semua akan tetap sama. Lalu apa gunanya lagi bersabar? Untuk apa?" ucap Ken dengan nada suara yang makin meninggi. Ia lalu berdiri dengan linangan air mata.


Ejiro kesal mendengar Ken marah-marah pada adiknya. Ia juga kesal pada gadis itu yang terus saja menemani pria itu yang tak memikirkan perasaan Mira.


Ia sering melihat gadis itu terlihat sedih dan menangis sendirian tapi Mira menyembunyikannya dari semua orang. Kadang-kadang ia melihat gadis itu melamun sambil memandangi Ken. Ejiro tak ingin adiknya mengemis cinta pada Ken kalau pada akhirnya pria itu hanya memandang sebelah mata saja pada Mira.


Ia mendatangi gadis itu dan meraih lengannya. "Sudah cukup! Aku tidak mau lagi mendengar rengekannya." Ejiro kemudian mengarahkan pandangan pada pria yang mulai terlihat pucat wajahnya itu. "Kau, kalau mau mati, mati saja sendiri! Siapa yang menyalahkan siapa? Kamu hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri, tanpa berpikir ada hal yang harus dilewati tanpa harus bertanya kenapa.


Kamu apa tahu, kenapa Yumi harus mati dan kamu harus hidup? Itu baru pertanyaan yang harus kamu pikirkan ... dan kami juga harus memikirkan kenapa juga kami harus bersusah payah membujukmu untuk hidup kalau kamu memilih mati!" Pria itu tertawa miris. "Sekarang aku berubah pikiran. Kami akan pergi kalau itu maumu dan jangan pernah cari Mira kembali, apapun alasanmu!"


"Kakak!" teriak Mira yang sudah berdiri, kesal. Kakaknya itu bicara sudah sangat keterlaluan dengan Ken. Kondisi pemimpin mereka sedang tidak stabil tapi Ejiro malah memarahinya.


Kakak gadis itu dengan kasar menarik tangan adiknya dan mendekatkan wajah mereka. "Dengar baik-baik, aku tak suka ada orang yang menghinamu seperti ini. Kau ikut aku, kau tak boleh membantah!" ucapnya geram pada Mira.


"Kakak!" Mira berusaha melepaskan tangannya tapi pria itu menggenggamnya dengan erat. "Kakak!" teriak gadis itu.


Gojo hanya bisa melihat saja. Ia tak tahu harus membela yang mana.


"Ayo kita pergi!" Kalimat Ejiro lebih mirip perintah daripada ajakan. Ia mulai menarik tangan gadis itu.

__ADS_1


Mira menoleh pada Ken. "Kak Ken!" Namun pria itu seperti mati. Ia tidak bereaksi apa pun.


Saat Ejiro menarik tangan gadis itu, dengan cepat Mira menarik sesuatu dari leher pria pujaannya itu dan terpaksa pergi mengikuti kakaknya itu. Ken sempat melihat apa yang diambil gadis itu. Semula ia ingin protes tapi kemudian ia biarkan.


"Ken apa kau tidak ingin ... mengejarnya?" Gojo bicara pada Ken sambil menunjuk Mira.


"Ah, sudahlah ...." Pria berwajah pucat itu tidak peduli dan kembali duduk. Ia kembali murung sambil menghapus air matanya di pipi.


Gojo yang tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa duduk diam di samping pria itu. Ejiro merampas bola kristal Mira dan membuat pintu. Kemudian keduanya menghilang.


----------+++----------


Entah sudah berapa lama mereka berada di situ, waktu tak bisa dihitung karena dunia di sana selalu gelap. Ken mulai bergerak. Ia tidak bicara apa-apa pada Gojo tapi mulai berjalan tanpa henti. Pria China itu mengikutinya.


Ken meninggalkan pedangnya dan melewati hutan belantara dan padang ilalang yang luas. Ia bahkan melewati lembah hingga naik ke sebuah bukit terjal. Ia bergerak tanpa bicara. Lalu pada saat ia kelelahan ketika bergelantungan di dinding batu yang curam, ia melepas pegangannya.


Tak butuh waktu lama buat Gojo untuk turun dan mencarinya, tapi pria itu hilang seperti asap. Apa Ken pindah dimensi lagi? Mau tak mau pria Cina itu harus kembali dan melapor pada Dewi Sri, ibu Ken.


-----------+++---------


Ken membuka matanya. Ia berada di sebuah ruangan kecil dan sederhana. Ia seperti berada di rumah kos. Ia mencoba mengangkat kepalanya yang sedikit berat.


Mmh, kenapa aku di sini? Yang aku ingat ... mmh aku mencoba bunuh diri di tebing. Iya, benar. Dan seharusnya aku mati tapi .... Ia melihat tubuhnya tak berpakai di dalam selimut.


Eh, aku sedang apa ... Namun kemudian Ken membulatkan matanya. Eh, aku telah melakukan apa? Ia menyilangkan kedua tangan di depan tubuhnya. Jangan-jangan aku telah ... eh, dengan siapa?

__ADS_1


Tiba-tiba pintu terbuka. Sang pria panik. Ia menarik selimutnya tinggi-tinggi hingga ke leher. Seorang pria berusia matang sekitar 40 tahun masuk dan berdiri di depan Ken. Ia bertelak pinggang.


"Ho ... enak benar tidurmu ya, setelah aku selamatkan. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" ejek pria itu sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Eh? Selamatkan?" Ken kebingungan tak mengerti mendengar pria berbahasa Prancis itu bicara.


"Bukannya kau berusaha bunuh diri terjun ke sungai dari jembatan? Kau harusnya bersyukur telah aku selamatkan. Kenapa kau, putus cinta? Dunia tak seindah khayalan, Nak. Kalau ditolak gadis itu, besok kau pasti dapat yang baru."


"Sok tahu," gumam Ken kesal.


"Apa kau bilang?" Pria itu membesarkan volume suaranya.


"Eh tidak, tidak, tidak." Sang pria Jepang berusaha untuk tidak cari masalah.


"Kau tahu, dunia berputar. Kau putus cinta, kehilangan orang tua, atau teman yang meninggal dunia, dunia tetap berputar. Kau pincang, kau buta, atau bahkan tidak bisa berjalan, dunia tetap berputar. Begitulah kehidupan. Kita ditantang untuk melihat diri dan lingkunganmu berganti. Itulah kehidupan. Kehidupan itu bergerak, tidak berhenti. Kalau kamu berhenti berarti kau sudah mati."


"Aku berusaha mati, kenapa kau menolongku?"


Pria bule itu terkejut mendengar ucapan Ken. Ia mendekati pria muda itu hingga sampai di tepi tempat tidur. "Apa kau tahu, banyak orang yang telah mati sebenarnya berharap untuk hidup kembali?


Mereka ingin pulang ke rumah bertemu anak istrinya, bertemu orang tuanya, bertemu pacarnya atau bahkan bertemu adik kesayangannya karena dunia itu indah. Mereka bersedia bertukar dengan siapa saja, yang mau bertukar tempat dengan mereka tapi mereka tidak bisa. Itu sudah takdir mereka."


"Tapi sudah tidak ada lagi yang menantikanku kembali. Sudah tidak ada lagi." Ken menitikkan air mata sambil menggeleng.


"Bohong! Pasti ada. Cari orang itu. Pasti ada orang yang menantimu kembali. Kau jangan egois dengan orang yang sudah mati. Pasti ada orang yang masih hidup yang sedih melihatmu begini. Apa aku salah?"

__ADS_1


__________________________________________



__ADS_2