
Ia mengeluarkan tangan Ken dari lehernya dan melepas ikatan tangan pemuda itu. Lalu ia mendorong Ken masuk ke dalam bar.
Di jam segitu, bar mulai sepi. Yang tersisa adalah orang-orang mabuk yang tertidur. Pria bule itu memilih meja dekat dinding yang menggantung sebuah papan dart. Ia kemudian memesan bir.
"A-aku tidak minum bir jam segini," tolak Ken.
Pria itu tertawa. "Kamu ini bocah atau apa? Jam segini, katamu? Hah! Semua anak-anak seusiamu itu ingin terlihat dewasa dengan minum bir dan pergi ke bar. Karena ada aku saja kau bisa masuk ke bar, tapi sebenarnya, kau belum cukup umur untuk masuk ke sini!"
"He he he." Ken mencoba tertawa di tengah kebingungannya. "Kalau begitu, kenapa kita tidak pulang saja," ajak Ken. Ia segera melengos pergi.
Dengan cepat Vicky berhasil menarik kerah kemeja pemuda itu hingga Ken tak dapat pergi.
"Agh!" Ken memegangi leher kemeja yang menjeratnya.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi, mmh? Ayo, duduk!" Pria itu menarik kasar Ken untuk duduk di sebuah kursi kayu. Mau tak mau pemuda itu duduk di sana.
Seorang pelayan wanita membawakan 2 gelas bir berukuran besar dengan bir terisi penuh di dalamnya. Satu gelas didorong ke arah Ken.
"Terima kasih, Manis," goda Vicky dengan kerlingan mata pada pelayan wanita itu.
Dengan kemeja sedikit dibuka di bagian dada dan rok yang lumayan pendek, wanita itu melirik pria itu dengan genit dan lalu pergi.
Vicky menoleh pada Ken. Ia mengangkat gelas bir dan mengkode pemuda itu untuk mengangkat gelas bir itu sama-sama. Kemudian ia nyenggol gelas Ken dengan gelasnya sebelum meneguknya. "Mmh, ayo!"
Pemuda itu terpaksa meminumnya walau sedikit.
"Kau lihat papan dart itu?" Pria bule itu menunjuk pada papan bulat yang bergantung di dinding. "Ayo kita lihat, apa kau sanggup melakukan apa yang aku lakukan." Pria itu berdiri dan mengambil panah-panah pendek yang tertancap di atas papan itu.
Pria itu kemudian berdiri berjarak dari papan dart. Ia mengambil ancang-ancang dengan mengarahkan panah kecil itu ke sana. Dengan cepat, ia melempar panah-panah kecil itu ke arah target dan dalam 3 kali melempar, ia mengenai target yang berupa gambar bulatan, tepat di tengahnya.
Ken terperangah. Bagaimana caranya pria itu melempar ketiga panah kecil itu tanpa keluar jalur? "Bagaimana kau melakukannya?"
__ADS_1
Pria itu hanya mendengus sambil tersenyum. "Kalau kau cukup cerdas, kau bisa melakukannya tanpa perlu kuberi tahu. Iya 'kan?"
"Eh, aku ...."
Pria itu meletakkan 5 panah kecil di atas meja. "Kau punya kesempatan mencoba 2 kali, setelah itu capai target yang sudah ada." Ia kembali ke kursinya dan duduk di sana. "Kalau kau salah satu, kau harus habiskan birmu. Kalau kau salah dua, kau harus menghabiskan birmu dan birku, dan bila kau salah 3 kau tidak hanya harus menghabiskan birmu dan birku tapi juga mengulang permainan ini. Kau mengerti?"
"Eh?" Pemuda itu kebingungan.
"Tapi kalau aku yang kalah, aku akan meminum birmu dan birku dan mengulang permainan ini lagi. Paham?"
"Eh ...." Lidah Ken keluh.
"Sudah, kerjakan!" perintah pria itu.
Pemuda itu melihat ke arah target di papan dart. Di tengah ya? Bagaimana caranya? Ia menoleh pada pria bule itu, tapi pria itu terlihat santai dan acuh.
Aduh ... bagaimana ini. Kacau, tapi ... aku harus mencobanya. Pemuda itu mengambil satu panah kecil dan mulai melirik target. Tadi, bagaimana caranya dia melempar? Sepertinya asal tapi tepat di target yang dituju.
Ken mencoba fokus. Jaraknya kejauhan gak ya? Ia mengukur tempat ia berdiri. Tapi dia melemparnya dalam jarak segini. Mmh ... fokus Ken, fokus! Pemuda itu melihat ke arah titik target dan mulai melempar, tapi meleset.
Ken kembali mengoreksi apa yang ia kerjakan. Melemparnya kalau dari posisi tadi, jatuhnya sedikit miring ya? Mungkin karena pergerakan tubuh saat melempar. Beda dengan pistol yang ditembakkan saat tidak bergerak, panah ini diayun saat melemparnya membuat target bergerak sedikit dari posisi semula.
Mmh, jadi kalau aku dari posisi tadi melemparnya, arah target akan bergeser ke arah sana. Jadi kalau mau pas target, aku harus berdiri sedikit miring agar lemparanku pas di target itu.
Ken siap-siap melempar lagi. Ia coba mengingat-ingat gaya pria bule itu melempar dan memadukan dengan posisinya sekarang. Dan ... ia memantapkan diri melempar. Kembali gagal.
Ah, sial. Kenapa tidak bisa ya? Mendekati target juga tidak. Pemuda itu menyentuh dagunya sambil melirik Vicky yang ternyata tersenyum lebar melihat pemuda itu kebingungan.
"Sudah? Ayo, sekarang lempar," ledek pria itu.
Dalam ragu, Ken sudah terbayang akan kalah. Ia sudah pasrah karena tak punya pilihan. Dengan pelan ia mengambil salah satu panah kecil itu dan fokus pada target. Setidaknya ia sudah berusaha. Baru saja ia akan melempar, seseorang datang ke meja mereka.
__ADS_1
"Wah, melempar dart ya? Aku suka, aku suka! Boleh aku temani?" kata gadis itu bertepuk tangan. Seorang gadis asia berambut panjang yang digerai indah berdiri di hadapan. Ia berpakaian serba hitam dengan bagian atas sedikit terbuka. Baju kaos longgar dengan rok mini dipadukan dengan stocking laba-laba di kakinya.
Vicky mengerut dahi melihat penampilan gadis itu.
"Mi ...." Saking senangnya, Ken hampir menyebut namanya, tapi kemudian ia melirik pada pria bule itu.
Gadis itu langsung mendatangi Ken dan melingkarkan tangannya di lengan pemuda itu. "Aku temani ya? Semangat." Ia bergelayut manja di lengan pemuda itu.
"Hei, jangan ganggu urusan orang! Kamu masih anak-anak 'kan? Pergi sana!" usir Vicky.
Namun Ken malah melindunginya dengan memasang badan di depan gadis itu. "Kenapa kau boleh menggoda pelayan, tapi aku tidak boleh dengannya?"
Pria itu terlihat bingung, sesaat. "Terserah. Ayo, cepat selesaikan taruhan kita." Ia kembali ke kursinya.
Ken kembali berkonsentrasi. Ia mengangkat panah kecil itu, tapi kemudian konsentrasinya terganggu karena Mira terus-terusan menarik lengannya. Pemuda itu menoleh. "Ada apa?" bisiknya. Ia tak mau Vicky curiga kalau mereka saling mengenal.
Gadis itu mendekatkan wajahnya ke telinga Ken lalu berbisik. "Kau bisa menyuruh panah itu mengenai sasaran."
"Hah?"
Gadis itu mengangguk dengan senyum lebar.
"Bagaimana caranya?" bisik Ken. Ia berusaha agar Vicky tidak melihat mereka mengobrol dengan sedikit gerak.
Gadis itu kembali mendekatkan diri ke telinga pemuda itu. "Bersikaplah seperti tadi. Fokus pada papan dart."
Pemuda itu mengikuti instruksi gadis itu.
"Lalu coba pusatkan juga pikiran pada panah itu. Bicaralah pada benda itu dalam hati dan suruh ia mengenai target."
Pemuda itu mengerut kening. Sebenarnya Ken ragu akan kata-kata gadis itu, tapi bukankah Mira selama ini selalu datang untuk menolongnya? Dia 'kan tentara yang dikirim ibu padanya, iya 'kan?
__ADS_1
__________________________________________