Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Kucing Tuan


__ADS_3

Pria itu menegakkan tubuh dan menatap ke arah wanita itu. Kenapa tiba-tiba wanita ini membicarakan hal ini? Mau mengajak perang? Namun Ken kembali ingat akan posisinya dan berusaha abai. Ia kembali mengerjakan tugasnya.


"Kau tak penasaran, di mana aku meletakkannya?"


Ken hanya melirik saja, tapi kemudian melanjutkan tugasnya. Sepertinya dia memang cari gara-gara.


"Aku bisa saja melaporkanmu telah bekerja dengan sebuah organisasi berbahaya ...."


Kalimat menggantung itu membuat pria itu terpaksa berhenti mengerjakan tugasnya. Ia membalikkan tubuhnya dan mulai bicara. "Jadi maumu apa sebenarnya?" ucapnya dengan berusaha menahan emosi.


Wanita itu berdiri dari duduknya dan mendekati Ken. Tentu saja pria itu pelan-pelan mundur dalam kebingungan.


"Mmh, tidak. Aku senang melihat wajahmu. Melihat ekspresi wajah saat senang, kesal atau marah. Apa itu salah?"


Pria itu yang terdesak hingga punggungnya menyentuh dinding, tidak menyurutkan langkah untuk menyuarakan kekesalannya. "Salah, karena mempermainkan kehidupan orang lain. Salah, karena membuat hidup orang dalam bahaya, dan salah, karena ini sama sekali tidak menyenangkan!" ucapnya tegas.


"Mmh, jangan begitu. Aku 'kan hanya bercanda." Gadis itu merengut manja sambil mencubit pipi Ken lembut.


Pria itu menepisnya dengan kasar. "Bercanda katamu? Kamu yang menyebabkan Mira kehilangan bola kristalnya, juga menjual gadis itu pada pria mata keranjang. Apa itu kau sebut bercanda?!" Ia geram karena ternyata Lucille menganggap itu hal yang sepele.


"Apa sih?" Wanita itu tersenyum tanpa rasa bersalah. "Dia 'kan hanya pekerja Ibumu yang disuruh membantumu, iya 'kan? Kenapa kau jadi perhatian berlebihan begitu padanya? Dia hanya pesuruh, tahu gak? PESURUH. Dia tak lebih dari seorang pembantu."


Ken makin kesal mendengar Lucille menyebut gadis itu pembantu. Ia melempar sarung bantal yang sedari tadi dipegangnya ke atas ranjang. "Memang kenapa kalau pembantu? Dia 'kan juga manusia. Kau benar-benar tidak punya punya perasaan, Lucille. Manusia macam apa kamu ini?"


Wanita itu dongkol disebut begitu hingga mendorong Ken hingga jatuh ke atas ranjang. "Yang tidak punya perasaan itu, kamu Ken. Kamu! Aku memberikan segala perhatianku padamu tapi tidak kau indahkan. Apa kamu masih bisa bilang, aku yang tidak punya perasaan?" Ia menghimpit tubuh pria itu. "Lagipula sudah sewajarnya seorang pembantu memenuhi keinginan majikan seperti kau yang seorang pelayan terhadapku." Ia mendekatkan wajah mereka. "Seperti bila aku ingin ...."


Ken mendorong kasar tubuh wanita itu ke samping hingga Lucille terbaring terlentang di atas ranjang. Wanita itu menghela napas kasar sambil memukul ranjang dengan kepalannya, karena aksinya tak berjalan lancar.


Pria itu yang telah terbebas dari wanita itu mendekati wanita berambut merah itu sambil menunjuk-nunjuk wajahnya. "Cara pandangmu itu cara pandang orang egois! Bahkan majikan dan pembantu saja terikat hubungan kerja. Hanya orang egoislah yang menganggap hubungan itu tanpa batas dan menindas yang lemah. Kau ... selama masih egois, takkan bisa mengerti apa yang aku katakan!" Pria itu bicara tegas dengan wajah geram.


Wanita itu merengut.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu diketuk. "Maaf, Nona. Apa ada Ken di dalam?!" teriak Goras. "Ibu Kepala mencarinya!"


"Oh, iya!" teriak pria itu sambil beranjak dari tempat tidur. "Maaf, tapi kau harus tahu, caramu meremehkan orang lain itu sangat tidak manusiawi," terangnya lagi sambil melirik Lucille. Ia kemudian melangkah ke pintu dan membukanya. "Lalu siapa yang akan menyelesaikan tugas mengganti seprei?" tanyanya pada Goras.


"Aku." Goras mengacungkan tangannya.


"Ok." Ken kembali menoleh pada wanita itu. "Permisi, Nona." Ia menganggukkan kepala dan kemudian pergi.


Goras yang masuk ke dalam kamar, sedikit heran dengan keadaan ranjang yang belum dipasang seprei sementara Lucille terbaring di atasnya. Ia menoleh ke arah pintu dan kembali ke arah wanita itu. Ada apa dengan Ken dan Nona Lucille? "Eh, Nona, maaf. Saya mau pasang sepreinya."


"Ya." Wanita itu segera duduk dan bergeser turun.


-----------+++----------


Ken sedang asyik bermain dengan kucing kuning itu di taman belakang dekat dapur, ketika Lucille mendatanginya. Ia yang sedang berjongkok, melepas kucing itu di tanah ketika melihat wanita itu melipat tangannya di dada. "Eh, ada apa, Nona?" Ia bertanya sesopan mungkin dan sedikit ingin tahu juga, karena mereka belum lama ini bertemu dan wanita itu mencarinya kembali. Pria itu beranjak berdiri.


Wanita itu memasang wajah masam karena masih kesal dengan kejadian tadi. Ketika kucing itu mendekati kaki dan menggosok tubuhnya, ia meradang. "Kucing sialan, temanmu ini. Huh!" Ditendangnya kuat-kuat kucing itu hingga melayang dan menabrak pohon besar di depannya. Kucing itu berteriak kesakitan sebelum akhirnya jatuh ke tanah.


"Nona ...." Ibu Kepala mendatangi Lucille dengan tercengang. "Itu 'kan kucing milik Tuan Besar. Bagaimana nanti kalau Tuan pulang? Dia sudah mewanti-wanti kami, kalau sesuatu terjadi pada kucing itu, kami akan dipecat."


Ken terkejut, apalagi Lucille.


"Tapi kenapa kucingnya ditaruh diluar?" tanya Lucille yang benar-benar tidak tahu kalau kucing itu milik orang yang menjadi ayahnya itu.


"Apa Nona lupa, Nyonya alergi kucing? Kucing itu hanya masuk rumah bila Tuan pulang."


Wajah Lucille terlihat pucat. Ken segera mengejar kucing itu. Dilihatnya kucing itu bergerak pelan antara kesakitan dan setengah sadar. Ia mengeong, mengiba. Pria itu berjongkok memeriksa.


"Ken! Tolong!" teriak Lucille yang wajahnya semakin pucat saja. Ia menahan para pelayan mendekati kucing itu.


Ck, wanita ini! Dia yang bikin masalah aku yang pusing dibuatnya. Pria itu kemudian berjongkok dan menggendong kucing itu. Apa aku sanggup menyelamatkan nyawanya? Ia menoleh ke arah sisi gedung rumah itu bermaksud bersembunyi saat mengobati, tapi ternyata ia melihat seseorang yang ia kenal bersembunyi di sana. Orang itu memanggilnya dengan tangan. Ken bergegas ke arahnya.

__ADS_1


"Gojo," bisiknya saat sampai. "Aku harus segera menyelamatkan kucing ini, kalau tidak, akan jadi masalah."


Gojo mengintip ke arah wanita itu yang disibukkan oleh para pelayan yang ingin melihat kucing itu.


"Aku tidak sengaja menendangnya. Tidak keras kok. Mungkin hanya sedikit luka. Dia akan baik-baik saja, percayalah," terang Lucille memberi tahu para pelayan yang bergerak maju. Ia berusaha menahannya.


"Bodoh sekali Lucille itu. Masa tidak tahu kalau ini kucing milik orang tuanya?" komentar Gojo.


"Gojo."


Pria dengan rambut bergelombang itu menoleh.


"Aku sudah berusaha menyelamatkannya. Tulang rusuk yang retak telah aku sambung. Juga organ dalam yang mulai bengkak telah aku pulihkan. Padahal kepalanya yang retak ...."


Gojo langsung menyentuh tangan pria itu yang masih memegang kucing itu di tanah. "Kalau masalah nyawa, tidak ada yang bisa merubahnya. Bahkan seorang dewa sekalipun. Kita mengikuti sistem takdir yang sudah ada."


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Ken bingung.


"Aku akan jadi kucing itu."


"Apa? Apa kau bisa?" Pria Jepang itu tercengang.


"Itu mudah bagiku." Kemudian Gojo berubah menjadi serigala. Ia mulai mengais tanah. "Biar aku kubur dulu kucing itu."


Setelah membuat lubang yang tidak terlalu dalam, Ken meletakkan kucing yang telah mati itu di dalam lubang. Kemudian Serigala itu menguburnya.


Seorang pelayan yang lolos dari perhatian Lucille, mendekati tempat Ken bersembunyi dan ia terkejut.


____________________________________________


__ADS_1


__ADS_2