Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Saudara


__ADS_3

“Mana?” Pria berambut gondrong berombak itu segera berdiri menghampiri gadis itu.


“Itu yang Bersama Ken.” Gadis itu menunjuk pria yang sedang latihan dengan pria berambut pendek itu.


“Mungkin. Bukankah dia ada kemarin ya? Bersama Ayahmu, Menteri Pertahanan.”


“Oya, benar. Pantas aku serasa pernah melihatnya.”


“Mira.”


Keduanya menoleh ke belakang.


“Mami! Ayah!” Gadis itu menghampiri pria berbadan kekar itu dan bergelayut manja dipelukan.


Gojo membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada keduanya, Dewi Sri dan Dewa Matahari.


“Apa anak ayah sudah makin dewasa sekarang?” tanya pria itu dengan lembut pada Mira.


Gadis itu malah tertawa kecil. Ia memeluk tangan pria itu dengan manja.


“Hei, sudah. Malu sama teman sekerjamu. Katanya kamu sudah dewasa, mmh?” Pria itu menjepit dengan jari, dagu gadis itu dan digoyang-goyangkan dengan cibiran yang menggoda.


“Iya,” jawab Mira malu-malu. Kemudian ia melepas pelukan dan beralih pada Dewi Padi. Ia memeluknya hangat. “Mami.”


“Mmh, sudah. Mami mau ngobrol sebentar.” Wanita itu melepas pelukan.


“Apa, Mami?"


“Ayo, kita keluar.” Wanita itu menjentikkan jarinya. “Waktu berhentilah.”


Berempat mereka keluar menemui Ken dan Ejiro. Ken tentu saja terkejut melihat keempat orang itu keluar dari kediaman Mira, apalagi ada ibu beserta mereka. Ia melihat pelayan itu telah kaku menjadi patung dan ia lega. Sedang Ejiro, ia tidak mengenal siapapun yang dilihatnya.


“Ibu …,” desah pria berambut pendek itu.


“Ibu?" ulang pria bercodet itu, menoleh pada Ken. Ia kembali memperhatikan keempat orang itu. Ia bisa memastikan seorang wanita cantik yang rambutnya tergerai itulah, pasti ibu Ken, tapi … wanita itu terlihat masih muda. Setelah mereka mendekat, ia memberi hormat dengan membungkuk.


Ken berinisiatif memperkenalkan mereka semua. "Oh, Ejiro. Perkenalkan, ini ibuku, Dewi Padi." Ia mengarahkan pada ibunya. "Dan ini Mira."


Gadis itu memberi senyum datar.


"Ini Gojo."


Pria berambut gelombang itu sedikit menganggukkan kepalanya.


"Dan ini, aku tidak tahu," terang Ken dengan polos.

__ADS_1


Pria berambut putih pendek dan sedikit santai dengan wajah yang masih tampak muda itu, tersenyum geli mendengar ucapan pria bertubuh kurus itu. Ia menoleh pada Dewi Sri.


"Kita sedang terburu-buru. Boleh aku bicara sebentar, Ejiro, " sahur Dewi Padi yang mengejutkan pria bercodet itu.


"Aku?" Netra Ejiro membulat sempurna.


"Iya. Bertiga."


"Mmh ...." Ken yang tidak mengerti apa yang terjadi, ditarik Mira yang diikuti Gojo, menjauh. "Ada apa?"


"Aku tidak tahu. Ayo minum teh ke tempatku, Ken."


"Oh, ok."


Ejiro terkejut melihat semua orang pergi kecuali Dewi Padi dan pria bertubuh tegap itu. Ia juga bingung melihat pelayan Ken menjadi kaku tak bergerak.


"Aku telah menghentikan waktu, Ejiro," sahut Dewi Padi pada pria bercodet itu.


"Oh."


"Ayo, ke sini, Ejiro." Wanita itu membawa pria itu bersama Dewa Matahari menepi ke sebuah meja kayu di taman dan mereka duduk bersama. "Kau tahu aku Ibu Ken, 'kan?"


"Iya,Nyonya." Pria bercodet itu meletakkan pedang yang sudah masuk dalam sarung di sampingnya. Ia kini duduk berhadapan dengan kedua orang itu. Pria berbadan kekar itu memasukkan kedua tangan ke dalam kimononya.


"Ini adalah Dewa Matahari, ayahmu." Dewi Padi memperkenalkan pria yang ada disampingnya.


Melihat pandangan pria yang bercodet itu yang tajam terhadap Dewa Matahari, Dewi Padi pun pamit. "Aku bersama anak-anak dulu ya?"


Setelah Dewi Padi pergi, barulah Dewa itu bicara. "Silahkan, kalau ada yang kau ingin tanyakan padaku." Pria itu berbicara dengan santai.


"Kenapa kau tiba-tiba datang?" ucap Ejiro dengan perasaaan yang hampir ingin meledak.


"Aku baru mengetahuinya. Kau anakku."


"Jangan pura-pura padaku." Tatapan pria bercodet itu masih tajam.


"Aku bicara sungguh-sungguh. Demi mengetahui kau anakku, aku datang ke sini."


"Kau baru mengakuiku setelah selama ini? Apa aku terlihat bodoh percaya dengan perkataanmu?" Ego pria itu masih bermain. Berusaha kuat.


Dewa itu hanya diam.


"Kenapa diam?Kau mau berkelit 'kan?"


"Aku dan ibumu ...." Pria itu berhenti dan mendesah resah. "Sebaiknga kau tak perlu tahu kisah masa lalu." Ia mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah aku hasil dari masa lalu itu?"


Pria berbadan kekar itu kembali menatap anaknya. "Ejiro, aku bukan seperti yang kau bayangkan. Aku ke sini mengatakan bahwa aku ayahmu. Bahwa ...." Ia mencondongkan tubuhnya, akan tetapi pria bercodet itu menghunus pedang dan mengarahkannya pada leher Dewa Matahari.


"Bahwa apa? Bahwa setelah itu kau akan mengatakan kau tidak mengharapkanku dari awal? Lalu buat apa kau beritahukan itu padaku. Aku tak perlu itu semua. Itu semua tak penting bagiku!" Butir-butir air mata Ejiro mulai jatuh. "Kau tahu rasanya tidak punya ayah? Semua orang mengejekku. Ibu selalu menganaktirikan aku dibanding saudara-saudaraku yang lain. Bahwa ia menyesal harus membesarkanku karena tak bisa menggugurkanku selagi dalam kandungan. Kau lihat luka di pipiku ini?Ini aku goreskan sendiri disaat ia meninggal dunia, memberi tahu diriku bahwa aku adalah beban baginya hingga saat kematiannya. Apa kau tahu rasanya itu?" Air mata itu sudah tak lagi bisa dibendung, tumpah membasahi pipi.


Dewa Matahari terdiam sejenak. Ia memperhatilan pria bercodet itu dan kemudian tegak berdiri. Ia mendekati Ejiro walaupun tahu pedang itu tengah mengarah ke lehernya.


"Berhenti! Aku bilang berhenti!" Pria bercodet itu mundur demi mengetahui pria berbadan kekar itu mendatanginya. Ia masih terus menakut-nakuti pria itu dengan pedang itu walaupun ia sendiri tak berani melukainya. "Berhenti, kataku!"


Dewa Matahari berhenti. Ia menyodorkan kedua tangannya. "Ayo sini, peluk ayah."


Pria bercodet itu terdiam. Tiba-tiba saja pedangnya jatuh. Dewa Matahari mendatangi pria itu dan memeluknya. Ejiro menangis dipelukan pria itu.


"Aku berjanji kau akan mendapatkan hidup yang lebih berarti karena kau punya ayah."


Ejiro mulai memeluk pria itu.


Di dalam kamar Mira, mereka sibuk mengobrol. Ken penasaran dengan apa yang terjadi di luar. "Ibu, pria itu siapa, Bu?"


"Dewa Matahari. Dia ayah Ejiro."


Mira terkejut, begitu juga Gojo. Setahu pria itu Dewa Matahari itu adalah ayah Mira. Berarti keduanya bersaudara walaupun itu hanya saudara tiri.


"Akhirnya Ejiro bertemu ayahnya," ucap pria berambut pendek itu senang.


Gadis itu menoleh ke arah jendela.


"Kau melihat siapa, Mira?" tanya Ken.


"Ah, tidak."


Di luar, kedua pria itu duduk di kursi panjang berdampingan.


"Ada satu hal lagi yang perlu kau tahu. Kau punya keluarga lain," ujar Dewa Matahari.


"Ibu tiri?"


"Ibu Mira juga telah meninggal."


"Mira?" Pria bercodet itu mengangkat alisnya sebelah.


"Iya, gadis tadi itu adikmu."


Gadis yang disukai Ken? "Oh."

__ADS_1


"Akur-akurlah dengannya. Jaga dia. Ibunya meninggal ketika melahirkannya, jadi dia saudaramu satu-satunya." Pria berbadan kekar


itu bersandar pada meja. "Kalau ingin apa-apa, bicara saja padanya. Aku orang sibuk. Bahkan untuk menengok anak saja, aku tak punya waktu, tapi kalau kau mencariku, aku akan menyediakan waktu untukmu. Kalau kau kesulitan bertemu Mira, berdoalah di depan bunga teratai yang telah mekar. Pasti aku akan datang mencarimu." Pria berbadan kekar itu menatap Ejiro seraya tersenyum. "Pasti itu."


__ADS_2