Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Bekerja Di Penginapan


__ADS_3

Kenapa dia tahu tentang manusia setengah dewa? Tidak ada manusia yang tahu hal ini kecuali ....


"Kau manusia setengah dewa 'kan? Karena aku juga." Ejiro melepas pitingan dan memutar tubuh pria itu menghadapnya.


Ia kemudian mengarahkan tangannya pada sebuah tanaman semak. Kilatan cahaya keluar dari tangan itu hingga sampai ke tanaman itu. Tanaman itu pun terbakar.


Ken membulatkan matanya karena terkejut. "Oh, kau hebat sekali."


"Kau lebih hebat. Kau datang dari masa depan 'kan?"


Pria berambut pendek itu meliriknya. "Dari mana kau tahu?"


"Dari koin emas yang kau berikan pada Me Hua. Di situ tercetak tahun yang masih beberapa ratus lagi ke depan."


Ken memukul keningnya. "Ah, bodoh. Padahal Gojo telah memperingatkanku," gumamnya.


"Siapa Gojo?" tanya Ejiro penasaran.


"Eh, bukan siapa-siapa." Pria berambut pendek itu menggeleng.


"Kau tidak hilang ingatan 'kan?"


"Oh ... tidak. Maaf." Suasana kemudian terlihat canggung. "Eh, aku sebaiknya pergi."


"Oh, bisakah aku ikut denganmu?"


"Apa?" Ken menatap pria itu. "Tapi kau 'kan punya usaha penginapan. Aku selalu berpindah-pindah, tidak cocok denganmu."


"Aku sudah lama tinggal di sini dan baru menyadari aku tidak cocok tinggal di sini. Semua orang bertambah tua sedang aku tidak. Aku mulai merasa diriku ini berbeda hingga ibuku bercerita tentang siapa aku. Ayahku bukan ayah yang aku kenal. Aku beda dengan saudara-saudaraku yang lain yang bertambah tua sedang aku tidak. Hanya ibuku, dia hanya tahu ayahku seorang dewa tapi dewa apa ia tidak tahu."


"Menikah dengannya masa tidak tahu?"


"Itu ... kecelakaan." Pria bercodet dipipi itu menatap pria berambut pendek itu lekat. "Aku benci diriku karena tidak ada yang menginginkanku. Ibuku membenciku karena seharusnya ia bisa menggugurkanku dalam kandungan. Karena itu aku kini mencari seseorang yang sepertiku dan ingin hidup dengannya."


Ken langsung menyilangkan lengannya di dada. "Eh, aku lelaki normal ya?"


Pria berambut panjang itu tertawa lepas. "Bagaimana kalau kita berteman? Kau tinggal bersamaku dan akan kuajarkan kau ilmu bela diri yang benar, tapi bila kau pergi, ajak aku bersamamu."

__ADS_1


"Tapi penginapanmu bagaimana?"


"Kau tahu, wanita yang duduk di meja pendaftaran itu? Itu adalah keponakanku. Adik perempuanku dan aku yang punya usaha itu tapi kelak aku akan berikan usaha itu untuknya bila aku pergi denganmu nanti. Bagaimana?"


"Tapi tak enak rasanya menumpang di penginapanmu tanpa membantumu. Apa boleh aku juga bekerja di sana?"


Pria itu tersenyum kecil. "Kenapa tidak? Tentu saja boleh." Ia merangkul bahu Ken dan mereka berdua melangkah ke arah kuda miliknya.


------------+++-----------


Pagi-pagi sekali, Ejiro memperkenalkan Ken kepada para pegawai yang lain sebagai pengawas restoran sedang ia hanya mengurusi bagian penginapan saja. Me Hua tersenyum senang karena pria itu akhirnya bekerja di sana. Mulai sekarang ia akan sering bertemu dengan Ken. Dari awal bertemu wanita itu sudah suka padanya, apalagi pria itu sangat sopan.


"Ok, sekarang kau harus mengawasi pegawai berbelanja. Ayo, ikut aku."


Mereka menaiki gerobak yang ditarik 2 ekor kuda. Ken duduk di depan dengan seorang pegawai, sedang pria bercodet itu senang duduk dalam gerobak sambil melihat pemandangan di belakangnya.


Tak butuh waktu lama, gerobak sampai di pasar yang memang tak jauh dari penginapan. Mereka mendatangi tempat-tempat yang jadi langganannya berbelanja. Sedang pegawainya, memperhatikan barang yang dibeli dan dibawa masuk ke dalam gerobak. Setelah selesai berbelanja, mereka kembali ke penginapan.


Sekarang giliran Ejiro yang membawa gerobak dengan Ken duduk di sampingnya. Pegawai itu duduk di belakang di pinggir gerobak hingga bisa menggelantungkan kakinya ke bawah sambil melihat suasana kota.


"Kenapa kau membawa pedang juga saat berbelanja?" tanya Ken melihat pria itu menggantungkan pedangnya di pinggang sambil menghela kuda.


Melihat Ejiro, Ken kembali teringat percakapannya dengan Ibunya waktu itu. Ia begitu ingin kembali ke tempat kelahirannya dan kini ia menyadari ucapan ibunya benar. Seiring berjalannya waktu, mereka akan menganggap Ken aneh karena tidak bertambah tua dan merasa asing, seperti yang dirasakan pria bercodet di pipi itu sekarang. Bedanya, ia punya orang-orang yang mendukungnya di sana sedang Ejiro tidak.


Ketika sampai, pegawainya itu memindahkan barang belanjaan ke dapur dan pria berponi berantakan itu mengajak Ken ke halaman belakang.


"Kita mau apa?" tanya pria berambut pendek itu melihat ada taman yang dipenuhi pohon bambu di sana.


"Aku akan mengajarkan ilmu bela diri menggunakan pedang. Kelihatannya kau payah dengan ini ya?"


"Eh?" Ken melirik pada Ejiro sambil menggaruk-garukkan kepalanya. "Maaf."


Pria bercodet itu memberinya pedang dari kayu. "Kau berlatih dengan ini dulu." Kemudian ia mengajarkan jurus-jurus sederhana untuk memulai.


Ken pun mencobanya.


"Bagus. Latihan terus di sini sampai aku datang lagi."

__ADS_1


"Eh, tapi ... bagaimana dengan orang-orang yang datang sarapan?"


"Hari ini kau tak usah mengurusinya. Besok saja. Kau akan mulai mengawasi mereka yang makan siang saja, bagaimana?"


"Tapi aku belum sarapan?" Ken menunjuk dirinya.


Pria bercodet itu tersenyum geli. "Jangan takut. Nanti akan ada yang membawakanmu sarapan saat selesai masak. Ada pertanyaan lagi?"


Pria berambut pendek itu menggeleng. Ejiro mengacak-acak poni pria itu saking senangnya. Ia serasa seperti punya adik laki-laki. Apalagi Ken terlihat lebih muda darinya.


"Ah, Pak. Jangan begitu!" protes pria berambut pendek itu menepis tangan pria bercodet itu. Ia kembali merapikan poninya.


Ejiro tersenyum lebar. "Lakukan latihanmu, karena aku akan memeriksanya lagi nanti," tegasnya. Pria itu meninggalkan Ken sendirian di sana.


Sepanjang pagi, pria berambut pendek itu berlatih di sana. Ia menyerang dengan pedang kayu dari depan maupun dari samping. "Hea! Hea! Hea!"


Me Hua mengantarkan sarapan untuk Ken.


"Ah, Me Hua. Terima kasih," sahut pria itu.


"Ken, ayo makan dulu. Kebetulan buburnya masih hangat."


Me Hua menemani pria itu sarapan, bahkan latihan. Ejiro memperhatikan Me Hua yang begitu setia menemani Ken. Ken pasti tak bisa menetap. Kalau bisa mungkin mereka berjodoh. Sayang sekali.


--------+++--------


Seminggu berlalu dan Ken makin mahir menggunakan pedang. Ternyata Ejiro pernah menjadi samurai dan menjadi penjaga seorang penjabat. Setelah itu, ia pensiun dan memulai usaha penginapan dengan saudara perempuannya.


Pagi itu di pasar setelah berbelanja, Ken keluar dari sebuah toko dan tanpa sengaja menabrak seorang lelaki tua yang sedang memegang sebuah mangkuk. Pakaian lusuhnya memastikan bahwa ia seorang pengemis. Tabrakan itu menyebabkan keduanya jatuh ke lantai kayu depan toko.


Pegawai penginapan melihat itu dan memarahi pengemis itu. "Hei, kalau jalan pakai mata! Sopan sekali kamu nabrak orang di depan mata!"


Memang posisi lelaki tua itu yang salah karena menabrak Ken dari samping saat keluar dari toko.


"Jangan begitu, Li Nuo. Bapak ini sudah tua. Sopanlah sama yang lebih tua." Ken segera mendudukkan lelaki tua itu yang rambutnya sudah putih semua beserta jenggotnya. Ia memperhatikan wajah pria itu. "Ya ampun, Bapak buta ya?"


__________________________________________

__ADS_1




__ADS_2