Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Musium


__ADS_3

Ikatan Ken akhirnya dilepaskan. Pemuda itu buru-buru ke kamar mandi. Setelah itu, tak lama ia keluar.


Irish masih menunggu di tepi tempat tidur. "Itu makan siangmu." Wanita itu menunjuk dengan dagunya.


Dengan sedikit tertunduk, pemuda itu menjawab. "Terima kasih."


Namun wanita itu tak beranjak pergi. Ken kini sudah terbiasa dengan sikap Irish yang selalu bertingkah seenaknya padanya. Selama itu tidak merugikan, pemuda itu hanya bisa membiarkannya saja.


Ken naik ke atas ranjang dan mengambil bungkusan makan siangnya. Ia terkejut karena isinya beda dari yang biasa.


"Itu kebab daging dengan kentang goreng. Aku rasa kau pasti suka."


"Oh." Pemuda itu mulai membuka bungkusnya dan menggigit roti itu.


Wanita itu memasukkan tangannya ke dalam bungkusan itu dan mengambil sepotong kentang goreng. Ia menyodorkan tepat ke depan mulut Ken. Pemuda itu mengerut alis sambil mengunyah. "Aku masih makan."


"Apakah aku terlihat memaksa?" tanya wanita itu sedikit meledeknya.


Ken menatap wanita itu dan terpaksa memakannya.


"Bagus!" Wanita itu mengacak-acak poni pemuda itu. "Kau sedikit gemukan sekarang ya? Jangan sampai gemuk ya, karena nanti susah lewat terowongan pipa itu." Ia mencubit pipi Ken yang sedang mengunyah.


"Bagaimana kalau aku carikan kau, orang yang bisa menggantikanku?" Ken mencoba membujuknya.


Wanita itu melengos melirik ke arah lain. " Itu tidak mungkin, Ken. Melatih orang lain di waktu sesempit ini, itu adalah hal yang mustahil."


"Mungkin aku bisa cari yang sudah berpengalaman?"


Wanita itu menoleh ke arahnya dengan senyum mengejek. "Kau pikir kau bisa menghindariku? Tidak, Ken. Kau tidak bisa."


"Keluargaku pasti mencariku." Ken baru menyadari itu setelah mengucapkannya. Ya, dia pasti punya keluarga.


"Keluargamu?" Wanita itu tertawa mengejek. "Jangan membodohiku, Ken. Aku tahu siapa kamu karena aku sudah mengincarmu sejak seminggu sebelumnya. Kau hanyalah anak panti asuhan, dan kalau kau tak kembali kau dinyatakan telah menemukan kehidupanmu yang baru dan meringankan beban panti."


Astaga ... di sini aku anak panti asuhan lagi ya? Sial! Ken merapatkan gerahamnya. Ia akhirnya menyelesaikan makan siangnya dalam diam. Pemuda itu kembali diikat ke pinggir ranjang setelah selesai makan.


"Ini akibat dirimu sendiri yang tidak bisa dipercaya. Jadi aku terpaksa mengikatmu lagi." Setelah selesai mengikat pemuda itu, Irish memandangi wajah pemuda itu yang berada di bawahnya. Tiba-tiba ia memeluk Ken sehingga kini wajah mereka makin dekat.


Ken terkejut. "Eh, ka-kau mau apa?" gagapnya. Ini di luar dugaan. Wanita itu seperti terniat melakukannya.


Irish tersenyum. "Kau gugup ya? Belum pernah menghadapi wanita?"


"Eh? E ...." Gawat ... wanita ini mau apa sebenarnya?


Irish menatap dalam wajah Ken dan makin mendekatkan wajah mereka.

__ADS_1


Ken makin panik. "A-aku mau tidur siang." Ia mencoba menghindar.


Wanita itu hanya berhenti bergerak maju, tapi bergeming. Ia masih menatap wajah pemuda itu yang tengah kebingungan. "Kadang aku membayangkan kau adalah Farga."


"Siapa Farga?"


"Adikku."


Saat hati pemuda itu mulai lega, ia mendapat kecupan hangat di dahinya. "Eh?"


Wanita itu malah menaikan kedua kaki ke atas ranjang dan kini tubuhnya benar-benar menindih pemuda itu. Ia sedikit menurunkan tubuh agar bisa meletakkan kepalanya di dada pemuda itu.


"Apa ini?"


"Aku ingin tidur bersamamu." Wanita itu memejamkan mata sambil masih memeluk Ken.


"Apa?"


"Sudah, jangan berisik. Mari kita tidur."


"Eh?" Ken tak bisa menggerakkan tangannya. Kalau saja bisa, ia akan mendorong wanita itu menjauh. Apa wanita itu tidak tahu betapa tidak nyamannya tidur seperti itu, tapi Ken tak punya pilihan selain tidur dalam keadaan seperti itu. Hah, sial ....


Walaupun begitu lambat laun pemuda itu akhirnya tertidur juga karena Irish tak bergerak. Wanita itu nyaman tertidur di atas tubuh pemuda itu.


Wanita itu menggelinding ke samping. "Sudah lama sekali aku tidak tidur senyenyak tadi," ucapnya pelan. Ia kemudian membuka matanya. "Rasanya aku tidak sendirian lagi hidup di dunia."


Ken melirik wanita itu. Ia bisa merasakan bahwa wanita itu kesepian sejak ditinggal mati adiknya.


Namun itu tak penting lagi ketika sebagian tubuhnya sedikit kram karena tertindih, dan tidak bergerak dari tadi. Pemuda itu mencoba menggerakkan tubuhnya ke samping. "Aahh ...."


Wanita itu menoleh. "Kau kenapa?"


"Kraaam, ah!"


Irish segera bangun dan melepas ikatan tangan pemuda itu. Ken berusaha duduk dengan merasakan badannya seperti digigit ribuan semut. "Ahh ...." Ia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri agar jalan darahnya lancar dan tubuh kembali normal. "Kau itu, biar kurus tapi berat, hah!" keluh Ken.


Wanita itu tergelak.


--------+++-------


Sehabis makan malam, semua anggota tim kembali berkumpul. Mereka membicarakan lagi kesiapan masing-masing dan mematangkan lagi strategi yang ada. Setelah itu rapat dibubarkan. Jam 12 tengah malam mereka harus berkumpul lagi.


Irish kemudian mengekor Ken masuk ke kamarnya. Ia tak mau sampai kehilangan pemuda itu di saat-saat terakhir, mereka akan melakukan misi. Ken kembali diikat dan wanita itu tidur di sampingnya.


--------+++---------

__ADS_1


Mobil van itu akhirnya berhenti di tempat yang tersembunyi di bawah sebuah pohon besar dan rindang. Irish sibuk membantu Ken memasang peralatan di tubuhnya sedang Devan sedang menatap layar monitor di laptopnya.


Jack mendatangi pintu belakang mobil dan membukanya. "Sudah selesai?"


"Sebentar," sahut wanita itu. Ia memberikan earphone(telepone yang dipasang di telinga) pada pemuda itu dan mulai memberinya tips.


Ken memasang alat itu di telinga.


"Ingat Ken, dengarkan perintah Devan. Kalau kau ragu, tanya saja padanya. Atau mungkin butuh bantuan." ingat Irish.


"Iya."


"Kau mendengar suaraku?" tanya Devan dari samping menyentuh telinganya sendiri.


"Oh, iya. Jelas." Ken menoleh sambil menyentuh earphone di telinganya.


"Kalau sudah, pergilah," ucap wanita itu lagi.


Ken malah terpaku dan masih menatap wanita itu. "Apa benar aku bisa melakukan ini?" tanyanya ragu.


Irish menepuk lengan pemuda itu. "Konsentrasi, dan dengarkan perintah Devan. Ini, pistol untuk menembakkan tali, jadi kau tinggal panjat. Usahakan jangan meninggalkan apapun di mana pun." Tunjuk wanita itu pada salah satu benda yang ada di tubuh pemuda itu.


Ken mengangguk. Ia keluar diantar Jack. Pria itu memberi tahu tempat untuk memanjat. Daerahnya memang sedikit gelap dekat di samping gedung.


Ada Hugo di sana. "Ayo naik pundakku." Pria itu berjongkok.


Ken naik dan pria itu berdiri hingga ia bisa mencapai saluran udara yang tertutup. Pemuda itu kemudian mengambil alat pembuka sekrup otomatis yang berada dipinggangnya. Sekali tekan, sekrup itu berputar dan keluar. Setelah melonggarkan semua sekrup ia melepas tutup saluran itu. "Ini tutupnya bagaimana?" tanya Ken pada Hugo karena hanya ada pria itu di situ.


"Buang saja ke bawah."


Ken melakukannya. Benda itu berbunyi sedikit bising saat jatuh ke aspal.


"Apa kau bisa sedikit mendorongku ke atas?" tanya Ken lagi. Ia tak bisa menemukan alat atau benda yang bisa jadi pegangan untuk menarik tubuhnya ke atas.


Hugo meraih kedua kaki pemuda itu dan mendorongnya ke atas.


Tubuh Ken masuk separuhnya. "Terima kasih!" teriaknya hingga suaranya terdengar menggema ke dalam saluran itu. Ken menutup mulut karena kaget.


Sementara itu, di dalam musium ternyata ada seorang penjaga yang tengah mondar-mandir menjaga keliling di antara barang-barang prasejarah. Ia seperti mendengar bunyi yang menggema, tapi tidak tahu apa. Ia melihat ke atas dengan menyorot senternya karena keadaan ruangan yang temaram.


____________________________________________


Yuk, kepoin novel yang satu ini.


__ADS_1


__ADS_2