Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Memilih


__ADS_3

"Ayah tahu, karena itu ayah datang. Ayah datang menjemputmu, Kenzie."


Pemuda itu mendongakkan kepalanya menatap pria bule itu yang tengah tersenyum balik padanya. "Ayah tidak marah padaku, 'kan?" tanyanya memastikan.


"Tidak. Aku mengerti situasimu, karena itu ayah datang menjemputmu."


Ken segera berdiri dan memeluk leher pria itu. "Ayah aku rindu padamu." Ia memeluknya erat.


Seperti yang kuduga, Kenzie. Kau tidak berubah. Kau masih mempercayaiku. Itu lebih penting dari apapun.


Pemuda itu melepas pelukan. "Ayah, kenapa Ayah marah-marah?"


"Kata siapa ayah marah-marah. Ayah hanya mencarimu tapi mereka tidak mengizinkanku. Wajar 'kan?" ucap Jack dengan senyum lebar. Ia berusaha membuat pemuda itu tidak stres melihat keadaan. "Ayo, kita pulang." Ia menarik lengan Ken.


"Tapi, Ayah. Ibu pasti tidak mengizinkan."


Pria itu tetap menarik Ken bersamanya. "Kata siapa? Dia itu tidak benar-benar peduli padamu."


Mereka kemudian melewati tempat pesta.


"Jack, kau tak bisa membawa Kenzie. Kau bukan keluarganya!" teriak Chihiyo.


Ketika pria itu menoleh, wanita itu bersembunyi di balik punggung suaminya.


"Kita bukankah sudah membuat kesempatan dan kesepakatan itu selesai setelah kau memintaku 'MEMBUANG' KENZIE?!" ucap pria itu dengan tegas pada Chihiyo.


Wanita itu melirik cemas pada Ken yang terlihat bingung. Istri pertama Erick mengukir senyum sinis di bibirnya saat melihat pemandangan ini.


"Tapi walau bagaimanapun, kau tidak ada hubungan darah dengannya, Jack!" seru Erick lagi.


Ketua mafia itu tersenyum miring. "Lalu, kau apa bedanya?"


"Chihiyo berhak menentukan apa yang terbaik buat anaknya."


"Kenzie sudah berumur di atas 18 tahun. Ia sudah berhak memilih apa yang ingin dia lakukan. Dia ingin bersamaku, kau mau apa?" tantang mafia itu pada pria paruh baya itu.


"Kau belum bertanya padanya, iya 'kan?"

__ADS_1


Ketiganya menoleh ke arah Ken.


"Kenzie, kau ingin tinggal dengan siapa?" tanya Erick pada Ken sambil menangkap arah mata pemuda itu yang kebingungan dengan pilihan yang disodorkan padanya.


Belum sempat pemuda itu menjawab, ia melihat gerakan seseorang yang bersembunyi dari sebuah kerumunan dan ia melihat orang itu memegang belati. Dengan cepat belati itu dilempar ke arah Jack.


Seketika Ken maju dan menjadi tameng bagi pria itu. "Agh!" Belati itu tepat menancap di bahunya.


"Kenzie!" teriak ketiganya.


"Dia sudah memilihku!" teriak kepala mafia itu. Ia mengambil pistol dari belakang pinggangnya dan menyodorkan pada kerumunan tempat pengirim pisau itu bersembunyi.


Kerumunan dengan sendirinya menepi meninggalkan pria yang telah berani melempar pisau itu sendirian di sana. Terdengar letusan kecil yang tak terlalu terdengar karena menggunakan peredam suara dan seketika pria itu roboh.


"Tolong bawa anakku, cepat!" perintahnya pada anak buahnya.


Ken kemudian dibawa 2 orang pria bertubuh kekar ke dalam rumah. Jack, sambil mengikuti mereka, menodongkan senjata ke arah semua orang yang hadir di pesta itu.


"Kalau kau teruskan, kau akan diburu!" teriak Erick geram. Ia merasa serangan salah satu bodyguard-nya telah membuat rancu pilihan Ken. Lagipula, Ken masih di bawah 21 tahun di mana ibunya juga berhak menuntut keadilan untuk mengasuhnya. Ia akan melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan pemuda itu kembali.


Di dalam mobil, pria itu menatap Ken yang bersandar lemah dengan belati masih tertancap di bahunya. Ia membuka kemejanya, lalu mencabut belati di bahu pemuda itu, pelan-pelan.


"Agh, Ayah ...." Ken memicingkan mata menahan sakit.


"Tahan ya?" Pria itu kemudian menutup luka itu dengan lipatan kemeja agar tidak banyak darah yang keluar. "Cepat carikan klinik terdekat untuk pengobatan!" ujarnya pada anak buahnya yang sedang menyetir.


"Baik, Bos."


"Tidak usah, Ayah," ucapnya pelan sambil menahan rasa ngilu di bagian bahu. Tubuhnya lemas tak bertenaga.


"Tidak usah, bagaimana? Ini luka serius, Kenzie!Harus segera diobati."


Hah, kenapa aku reflek menolongnya dengan menjadikan tubuhku tameng sih? 'Kan aku bisa menyuruh belati itu untuk tidak mengenai siapapun. Kenapa aku bodoh sekali hari ini, ah!


Ken menatap netra Jack yang begitu terlihat khawatir padanya. Padahal kalau luka seperti ini, aku bisa menyembuhkan diriku sendiri dalam sekejap tapi kalau waktuku masih panjang dengannya, ini akan menyulitkanku. Ah, kenapa hari ini aku begitu bodoh membiarkan diriku sampai terluka.


Mobil kemudian menepi di sebuah klinik yang berada di pinggir jalan. Begitu juga rombongan mobil anak buah pria itu. Ken kemudian dibawa ke sebuah ruang praktek dan kemudian diperiksa.

__ADS_1


"Agh ...." Pemuda itu masih merasakan ngilu.


"Sepertinya harus dijahit sedikit," ucap seorang perawat pada Jack.


"Mmh."


Wah, gawat. Aku tak mau dijahit. Itu malah akan merusak tubuhku, bagaimana ini? Ken panik. Saat Jack dan perawat itu melihat ke arah lain, ia segera turun tapi ia tidak melihat ada kabel melintang.


Ia tersandung dan reflek melindungi bahunya, tapi tetap saja sakit saat jatuh karena tangannya menekan luka. "Agh!" Ia memejamkan mata. Namun perlahan rasa sakit itu hilang berganti dengan rasa panas. Sekujur tubuhnya terasa panas bahkan ia merasa hampir dehidrasi. Ia berpikir bahwa ia pasti sudah pindah dimensi lagi.


Benar saja. Saat ia bangun, ia berdiri di atas pasir. Bahunya tanpa luka tapi udara terik karena kini ia sedang berada di ruang terbuka. Siang hari saat udara sedang panas-panasnya. Ia berkeringat dan tak sanggup menatap matahari yang demikian silaunya bersinar saat itu.


Namun ia tak sendirian. Ia bersama beberapa pria lain berada di dalam sebuah lubang di padang pasir. Di pada pasir? Memangnya ia ada di mana? Apa yang aku pikirkan saat aku pindah tadi, ah ....


Terdengar suara orang yang sedang berbicara dalam bahasa Arab dan Ken mengerti.


"Eh, maaf. Kita menunggu apa ya?" tanya Ken pada orang-orang yang sebagian besar berkulit hitam. "Menunggu ada yang menolong kita?" Rasanya kalimat itu basa basi karena bila mau berusaha, menaiki pundak temannya pun mereka bisa keluar.


"Tentu saja menunggu ada yang membutuhkan kita. Kita 'kan budak. Orang yang di atas itu yang menjual kita," ucap seorang pria berkulit hitam yang masih sangat muda.


"Apa? Budak? Kita?" Ken menunjuk dirinya.


"Jangan karena kamu berkulit putih lalu kamu mengira lebih hebat dari kami, karena kalau kamu budak ya ... sama saja dengan kami. Iya 'kan teman-teman?" tanyanya pada pria yang lain.


Tentu saja teman-temannya tertawa.


Jadi aku budak. Budak yang diperjualbelikan? Ken menyeka keringatnya.


Terdengar derap langkah kaki kuda yang berjalan ke arah tempat itu. Orang-orang mulai menajamkan telinga dan berharap ada orang yang akan membeli mereka. Mereka bersiap berdiri.


Tiba-tiba rombongan pengelana yang mendekati tempat itu, berbicara dengan penjual budak. Kemudian salah satu dari mereka mencoba mendekati lubang itu. Ia menengadah ke bawah. Pria itu berkulit asia dengan pakaian Mongolia.


Beberapa budak saling berbisik tapi Ken melongo. Tentu saja, karena ia sangat mengenal pria itu tapi ia tak tahu harus bersikap apa. Mengenalnya, atau pura-pura tidak tahu?


___________________________________________


__ADS_1


__ADS_2