
Ken menempati kamar yang lumayan besar dengan pemandangan jendela ke arah kota yang ramai. Ia sedari tadi memperhatikan orang yang lalu lalang di sana dengan segala kesibukannya.
Ia pasti telah pergi ke jaman yang lebih jauh lagi dari yang sebelumnya karena di jaman itu tidak ada kendaraan yang bergerak kecuali kuda atau keledai. Keledai biasanya dipakai untuk mengangkut barang.
"Hei, jangan pernah berpikir untuk kabur dari jendela. Awas saja." Pria dengan ikat kepala itu muncul dengan mengacungkan genggaman tangannya. Walau pria itu masih muda dan tidak berwajah garang tapi Ken sangat sebal padanya. Ia terus-terusan mengancamnya agar ia tak berani kabur mengingat pria itu juga punya anak buah. "Ayo kita turun untuk makan siang!"
Ken menuruni tangga mengikuti rombongan itu sambil memegang pagar tangga itu karena tubuhnya masih lemah. Karena itu ia tertinggal di belakang. Kepala Perampok itu kemudian memilih satu meja besar agar semuanya bisa duduk bersama makan di sana. Mereka memesan makanan dan tuak. Hanya Ken yang memesan air putih.
Pria dengan ikat kepala itu mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. "Hei, kau itu seperti anak kecil saja, memesan air putih!" Ia tergelak membuat yang lain tertawa. "Hei, kau cobalah tuak agar bisa lebih dewasa sedikit ...." Mereka kembali tertawa.
Ken diam saja. Ia tak ingin terlalu terlibat jauh dengan pembicaraan mereka. Walaupun diejek, ia berusaha menahan perasaan kesalnya.
Tak jauh dari sana, pria pemilik penginapan itu sedang memperhatikan meja mereka. Walaupun suasana restoran cukup ramai, tapi hanya meja yang diduduki para perampok itulah yang menjadi perhatiannya.
Entah kenapa, yang awalnya tidak peduli dengan kehadiran pria itu di penginapannya, kini pandangannya berubah setelah begitu banyak ejekan yang mengarah ke diri pria itu, ditanggapinya dengan kepala dingin. Laki-laki ini sepertinya orang yang cerdik. Mmh, menarik juga. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan setelah ini. Apa ia akan mencoba kabur?
Benar saja. Setelah makan, perampok itu mabuk-mabukan dengan tuak. Mereka menggoda pelayan wanita di sana. Pria bercodet itu mendatangi mereka karena sudah mulai keterlaluan.
Bahkan nasehat Ken saja tidak digubrisnya. "Ah, Ketua Anda mabuk. Tolong jangan begini." Ia berusaha memisahkan Kepala Perampok dan anak buahnya yang mulai menarik seorang pelayan wanita yang sedari tadi dibujuk untuk duduk bersama mereka. Wanita itu sedikit ketakutan dan akhirnya berlindung di belakang punggung Ken.
"Hei, kau jangan mengganggu kesenangan kami. Pergilah, kalau kau tak ingin bergembira bersama kami di sini!" usir pria dengan ikat kepala itu yang kembali meminum tuaknya.
"Hei, kalian sudah keterlaluan di sini!" Pria bercodet itu meraih tangan Kepala Perampok itu karena kembali berusaha menjamah tubuh pelayan wanita itu. "Kalau kalian butuh wanita penghibur, aku bisa sewakan untuk kalian."
Kepala Perampok yang matanya mulai memerah itu, tersenyum mendengar penawaran dari pria itu. "Kenapa tak bilang dari tadi, mmh? Ok, aku butuh di kamar sekarang. Aku pesan 7 orang untuk di kamar kami masing-masing."
Anak buah pria itu bersorak kegirangan. Hanya Ken yang terkejut. "Eh, tidak, tidak. Aku tidak butuh itu."
"Baik. Aku akan meminta mereka membawa kalian ke kamar masing-masing." Pria pemilik penginapan itu kemudian pergi ke arah dapur.
__ADS_1
"Ah, tidak, tidak. Aku tidak mau." Namun tangan Ken ditahan oleh Kepala Perampok itu. Ia tak bisa berbuat apa-apa ketika rombongan wanita cantik keluar dari arah dapur bersama pria pemilik penginapan itu. Mereka mendekati meja para perampok dan mulai dipilih oleh para perampok itu.
"Ah, Sayang. Antar aku ke atas ya?" ujar Kepala Perampok yang memilih wanita yang paling cantik untuk menemaninya di kamar. Wanita itu tersenyum malu sambil menyentuh hidung merah pria itu, menggodanya. Ia kemudian menuntun pria itu menaiki tangga.
Satu persatu perampok menaiki tangga, dan yang terakhir mencoba menggandeng Ken tapi pria itu menarik tangannya. Ia menyusul para perampok itu dengan wanita itu mengikuti di belakangnya.
Pria pemilik penginapan itu hanya tersenyum melihat Ken yang dikejar-kejar wanita itu. Ia melipat tangan di dada dengan memasukkan kedua tangan ke dalam kantong lengannya.
Di kamar, Ken kebingungan. Wanita itu juga masuk ke dalam kamarnya. "Eh, Nona, maaf. Aku tidak ingin melakukan apapun denganmu."
"Apa? Apa karena aku jelek? Huuu ...." Wanita itu mulai menangis.
Ken malah semakin pusing dibuatnya. "Eh, eh, bukan begitu, Nona. Aku hanya tidak ingin melakukan hal itu pada sembarang orang," katanya berusaha mendiamkan wanita itu.
"Tuh 'kan ... Pasti karena aku jelek ...." Tangisnya malah makin menjadi.
"Eh, bukan begitu ... bukan begitu, Nona. Kamu cantik. Siapa bilang kamu jelek. Kamu sangat cantik."
"Oh, e ... karena aku sudah punya orang yang istimewa di hatiku."
"Oh, senangnya, punya pacar yang setia. Dia pasti wanita yang beruntung." Wajahnya masih merengut. "Tapi bagaimana denganku? Mereka membayarku untuk menemanimu tidur. Bila aku tidak tidur denganmu sepertinya aku tidak akan mendapat uang untuk kubawa pulang hari ini," ucapnya sedih. Ia menghela napas pelan. "Aku sepertinya harus pinjam uang lagi ke tetangga."
Ken iba mendengarnya. "Memang di rumahmu tidak ada yang bekerja untuk keluargamu?"
"Aku punya 2 anak dan orang tua yang harus aku nafkahi. Kedua orang tuaku tidak punya pekerjaan."
"Ke mana suamimu?"
"Orang miskin sepertiku mana bisa punya suami."
__ADS_1
Kalimat itu membuat pria itu merasa miris dengan kehidupan wanita cantik yang berada di hadapan. Pastinya, anak yang dimiliki wanita itu entah siapa pria yang menanam benih karena itu hasil dari pekerjaannya.
"Apa kau tak bisa berpura-pura telah 'melakukannya' denganku?" tanya Ken.
Wanita itu menggeleng. "Tidak bisa karena pasti ketahuan pemilik penginapan ini. Pria itu sangat tegas dan kalau kami ketahuan bohong, kami akan dipecat."
"Hebat sekali pria itu. Bagaimana ia tahu itu? Apa ada CCTV di sini?" Pria itu celingak-celinguk melihat sekitar.
"Eh, apa? CCTV?" Wanita berambut panjang terurai itu terlihat bingung.
"Eh, oh, tidak apa-apa." Ken baru menyadari, jaman itu belum ada teknologi seperti itu. Ia memukul keningnya.
Ken memutar otak berusaha memecahkan masalah ini. Tiba-tiba saja ide itu muncul dan menarik wanita itu untuk duduk di tepi pembaringan. "Begini saja. Kau mengaku saja terus terang bahwa kau memang tidak tidur denganku."
Seketika wanita itu kembali cemberut dan melengoskan wajahnya ke samping.
Pria itu meraih tangan wanita itu. "Eh, tapi dengar dulu, ceritaku belum selesai."
Wanita itu mendengarkan.
"Biar aku yang membayarmu."
Wanita itu terkejut dan menoleh padanya. Ken memperlihatkan punggung tangannya dan ditepuk dengan tangannya yang lain. Ketika ia mengangkat tangan itu, ada sebuah koin emas di punggung tangan itu.
Wanita itu membelalakkan matanya.
"Ini untukmu." Ken menyodorkan koin emas itu pada wanita itu.
"Untukku?" Wanita itu makin membulatkan matanya tapi kemudian ia mengerut kening.
__ADS_1
___________________________________________