
Sebelum Ken mengerti apa yang terjadi, sesuatu perubahan besar terjadi di dalam gua yang besar itu. Zombie, para bajak laut, dan manusia setengah kelelawar itu tiba-tiba musnah tak tersisa. Semua orang terkejut tak terkecuali hingga kedatangan seseorang membuat mereka mengerti.
Ternyata Ejiro datang lewat pintu portal lain. Ia sedang mengacungkan tangan dengan sebuah cincin bermata merah tersemat di jari telunjuknya yang ia kepal. Pria itu kini mengarahkan tangannya lurus ke arah Lucille dan mendatanginya dengan sorot mata tajam dan menghujam. Ada jaring dari cahaya yang kini mengurung wanita itu.
Lucille tentu saja ketakutan terperangkap dalam jaring itu, karena ia sudah mencoba menggunakan tongkat sihirnya untuk membuat lagi mahkluk-mahkluk aneh itu, tapi tongkat itu sama sekali tak berfungsi! Ia benar-benar kehilangan kekuatan sihirnya. Sang pria telah menutup kekuatannya lewat jaring cahaya dari cincin itu.
"Kau punya kata-kata terakhir sebelum mati?" tanya Ejiro dengan wajah dingin. Pria itu kini telah berdiri di hadapan Lucille.
"Ma-mati ...?" Netra wanita itu membulat sempurna.
"Walaupun aku mencintaimu, tapi tak ada ampun bagi mereka yang berani melukai keluargaku! Hanya hukuman mati yang bisa menyelesaikan semua ini," ucap Ejiro sinis dengan menyipitkan kedua mata elangnya.
"Eh, Ejiro ... Ejiro ...." Ken mulai membujuknya. "Bisakah kita tunda dulu eksekusi ini. Kita masukkan saja ia ke penjara, sambil menunggu pengadilan negri kayangan berjalan. Sementara itu, kita selamatkan orang-orang yang ada dulu," ucapnya pelan. Ia tahu, Ejiro sedang marah karena Mira diracun dan diculik tapi ia ingin Lucille di penjara agar ia sadar akan perbuatannya.
"Tugasmu adalah menyelamatkan tapi tugasku adalah mengeksekusi, Ken. Jadi tetap berada di jalur masing-masing. Ok!" bentak pria berambut panjang yang dikuncir ke belakang itu tanpa menoleh.
"Ejiro ...."
"Nah, kau tak punya kata-kata terakhir 'kan?" tanya Ejiro sekali lagi pada wanita berambut merah itu.
Dengan wajah nanar, wanita itu mulai bicara. "Eh, Ejiro ... kau ... punya ...."
"Kalau dipikir-pikir lagi, heh! Aku mungkin tak butuh kata-kata terakhirmu!" potong kakak Mira itu setengah mengejek. Ia segera menghentakkan kepalan tangannya dan seketika ada kilat cahaya yang menyambar tubuh wanita itu.
Lucille langsung roboh. Tidak terlihat bekas apapun di tubuhnya, tapi dari wajahnya ia tengah merasakan kesakitan terdalam hingga air mata menetes. Mulutnya masih berusaha berbicara. "Kau ... punya ...." Seketika itu juga wanita itu meninggal dengan mata terbuka.
"Ejiro ...." Ken dibuat syok. Ia tidak menyangka pria itu bisa dengan kejam membunuhnya walaupun menyukai wanita itu.
Ejiro mendekati mayat Lucille. Ia menutupkan mata wanita itu dengan tangan bergetar. Sebenarnya ia berada dalam pilihan sulit tapi ia ingin Mira berbahagia. Ia tahu takkan bisa mendapatkan Lucille jadi miliknya karena wanita itu hanya mencintai Ken. Menghilangkan Lucille adalah jawaban terbaiknya. Tanpa menoleh, ia bicara pada Ken. "Ken, kau urus ibumu dan Mira. Gojo kau bantu mereka. Biar Lucille aku yang urus."
__ADS_1
"Baik, Kak," sahut Gojo.
Ken kembali mendekati ibunya dan berjongkok. "Bola kristal aku harus bagaimana?"
Es itu kemudian mencair cepat. Mira yang berjongkok di samping pria itu ikut melihat perubahan yang terjadi. Air itu kembali berubah menjadi tiga buah bola. Bola-bola kristal itu menggelinding ke arah keduanya. Ken mengangkat salah satu bola dan bola kristal itu memutih dan memperlihatkan sebuah adegan.
Ken melihat dirinya mencoba melukai diri sendiri, lalu ia meneteskan darahnya ke mulut sang ibu. Setelah itu ia membawa sang ibu pada ayahnya. Pria itu terkejut melihat petunjuk dari bola kristal itu dan saling pandang dengan Mira.
Tanpa pikir panjang, ia melakukannya. "Ah!" Ia memicingkan mata menahan ngilu. Padahal lengannya itu baru saja pulih dari luka.
Setelah itu, Mira membukakan mulut Dewi Sri. Darah Ken diteteskan ke mulut sang ibu. Ternyata secara perlahan wanita itu membuka matanya walaupun masih lemah.
"Ibu, aku akan membawamu pulang, Bu," ucap sang pria penuh haru sambil memeluknya. Ken senang hingga menitikkan air mata.
Pria itu kemudian menggendong sang ibu dan membawanya masuk ke pintu portal yang dibuat Gojo. Mira dan pria gondrong itu kemudian mengekor dengan membawa ketiga bola kristal itu.
---------+++---------
Setelah memberi tahu Ryu, mereka sama-sama membawa Dewi Sri ke rumah sakit. Di sana wanita itu diperiksa secara intensif. Selama pemeriksaan, wanita itu bertingkah aneh. Kadang merengut, kadang tersenyum sendiri tanpa ada yang mengajaknya bicara.
"Ibu kenapa, Yah?" tanya Ken heran pada ayahnya.
Pria itu hanya menggeleng. Mira pun ikut berobat di rumah sakit itu. Untungnya ia hanya diberi obat resep dokter.
"Tuan, tangan Anda terluka." Seorang perawat yang melewati Ken sekilas melihat luka di balik lengan baju pria itu.
"Eh, tidak apa-apa." Ken segera menutupi luka dengan tangannya.
"Tapi, sepertinya harus diberi obat, Tuan." Suster muda itu masih bersikukuh.
__ADS_1
Pria muda itu kemudian memperlihatkan bekas luka yang dimaksud. "Lihat, tidak ada 'kan?"
Suster itu tercengang karena memang tidak ada luka sedikitpun di area itu. Ia pun terkejut. Padahal ia yakin tadi melihat ada luka terlihat jelas oleh kedua matanya. Apalagi lengan baju itu robek dan terkena bercak darah, lalu dari mana darah itu sebenarnya berasal? "Eh, maaf." Suster itu akhirnya pamit.
Ken dan ayahnya, Ryu, saling berpandangan. Keduanya tersenyum. Memang sulit untuk manusia biasa mengerti kehidupan manusia setengah dewa seperti mereka, karena mahkluk seperti mereka seharusnya tinggal di negeri dongeng.
Tak lama Mira datang bersama Gojo. Pria berambut gondrong itu menemani sang wanita mengambil obat di apotik.
"Bagaimana, Kak?" tanya Mira yang langsung duduk menempel pada Ken. Mereka kini berada di ruang tunggu.
"Mmh? Belum tahu. Tadi kami menemani Ibu di dalam, tapi kemudian disuruh keluar lagi ketika seorang dokter lain masuk. Mungkin masih ada pemeriksaan lanjutan, jadi kita tunggu saja."
Tak lama seorang suster memanggil mereka untuk masuk dan menemui dokternya. Dokter itu memperlihatkan hasil rontgen pada kepala Dewi Sri. "Agak membingungkan juga kenapa pasien memakai kimono yang berlumuran darah dan robek-robek ya?"
"Oh, tadinya kita mau main hantu-hantuan," sahut Ken membuat alasan sambil bercanda tapi dokter itu melihatnya dengan serius, hinga ia terpaksa menelan ludah dan merapatkan mulutnya.
Dokter itu berdehem. "Hasil rontgen pada kepala menyatakan ada perubahan di sekitar otaknya. Lihat ini!" Ia menunjuk ke arah rontgen yang dilangitkan hingga semua orang bisa melihatnya. "Lihat bagian ini. Ini sepertinya berubah, mungkin karena kepalanya pernah terbentur sesuatu. Kemungkinan pasien hilang akal."
"Apa? Maksudmu ibuku gila?" tanya Ken tak percaya.
"Eh, maaf, tapi kalian bisa periksa pasiennya sendiri."
Keempat orang itu kini menatap Dewi Sri yang kini terbaring di tempat tidur. Wanita itu tengah menaikturunkan selimut di tempat tidur dengan wajah merengut. "Uh, aku lapar."
__________________________________________
Visual Dewi Sri yang jadi gila seusai berperang. Salam, ingflora. 💋
__ADS_1