Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Pertolongan


__ADS_3

Ken tak bisa bicara dengan mulut disumpal seperti itu, tapi ia bisa merasakan perhatian Diego. Walaupun dari luar pria bule itu acuh dengan kalimat yang keras saat bicara, berbeda saat mengobati luka-luka di tubuh pria Jepang itu. Ia sangat peduli.


"Aku belum pernah bertemu orang setulus kamu. Biasanya yang datang padaku, karena mereka membutuhkan sesuatu, tapi kamu datang menolongku tanpa peduli akan keselamatan dirimu sendiri." Pria bule itu melirik Ken. "Tapi kenapa kita tak pernah sepemikiran?"


Ken hanya bisa merasakan pedih saat obat luka itu menyentuh bahunya, lalu lengan, kemudian kepalanya berat hingga ia pingsan. Diego melihat setitik air mata Ken mengalir saat pria itu pingsan.


Diego adalah anak yatim-piatu yang sukses berjualan narkoba tapi bertemu Ken, ia kembali mengingat masa-masa kecilnya dulu. Dulu, ia pernah bermimpi punya kakak seperti pria Jepang ini, yang datang dalam hidup dan menolongnya. Ia baru mengingatnya. Namun, dunia kini berbeda karena ia bukan Diego yang dulu lagi.


----------+++----------


Ken terbangun dan ia masih terikat di atas ranjang dengan mulut tersumpal. Sulit untuk ia bergerak karena tangannya terikat dengan cara direntangkan. Ia juga tidak bisa teriak walau sapu tangan itu telah basah oleh air liur di mulutnya.


Kepalanya sudah terasa lebih ringan dari yang tadi. Lama ia terdiam hingga kesadarannya pulih. Bukankah aku bisa melepas tali ikatan tanganku ini? Tapi aku tidak bisa melihat talinya, apa tali itu tetap bisa mengikuti perintahku?


Ken mencobanya dengan berkonsentrasi. Ternyata tali itu menurut walau ia tak bisa melihat talinya. Dengan cepat ia duduk di atas ranjang dan melepas sumpalan kain di mulut. Kemudian ia memeriksa kepalanya.


Ternyata masih sakit. Akibat dihentikan Diego, pengobatan kepalanya masih jauh dari kata, pulih. Daripada membawa masalah di kemudian hari, ia kini mulai mengobatinya. Dimasukkan kembali sapu tangan ke dalam mulutnya untuk meredam suara teriakan, ia kemudian berkonsentrasi.


"Mmh!" Ia merasakan sesuatu bergerak di kepala dan sangat ngilu, tapi hanya sebentar. Ada aliran sejuk hingga ia merasa lega. Ia menurunkan tangannya dari kepala. Pria itu melepas sumpalan kain pada mulutnya. "Akhirnya ...."


Sebelum Diego tahu ia lepas lagi, sebaiknya ia buru-buru kabur dari tempat itu. Ken menjejakkan kakinya di lantai dan berdiri. Di saat itulah ia baru sadar, kakinya cidera. "Ah!" Otot kakinya sakit saat dipakai berjalan. Aduh, kenapa jadi begini?


Ia kembali duduk di tepi ranjang. Ia bingung, antara mengobati lukanya atau kabur lebih dulu.


Tiba-tiba terdengar langkah kaki di luar. Ken segera berdiri dan bergegas ke arah jendela dengan tertatih-tatih. Ia berusaha agar cepat sampai ke jendela.


"Ken?"


Pria Jepang itu sudah sampai ke jendela tapi tangan Diego juga tak kalah cepat.


"Kau mau kabur lagi, hah!" teriak bule itu menarik tangan Ken dengan kasar.

__ADS_1


"Bukan urusanmu!"


Diego menendang kaki sang pria Jepang hingga jatuh tertelungkup. Ia kemudian menginjak punggung Ken. "Berdiri saja kau tak sanggup, mana mungkin kau bisa lari dariku, mmh?"


"Eh, lepaskan aku. Lepaskan aku."


Pria bule itu membantu Ken berdiri dengan menarik kerah kemeja mahasiswa itu dari belakang dan mendorongnya ke dinding.


"Ah!"


Pria itu mendekatkan tubuhnya pada Ken dan berbisik di telinganya. "Kau takkan bisa semudah itu lari dariku."


"Diego, aku mohon. Tak ada gunanya kau menahanku."


"Mmh, biar aku yang memutuskannya." Diego memiting tangan sang pria ke belakang dan menarik kemejanya kasar, agar bergerak. Namun kaki Ken yang terluka membuat pria itu hampir jatuh. Untung tangan Diego dengan sigap menolongnya. "Lihat! Kau benar-benar keras kepala!" Akhirnya bule itu membantu Ken berjalan ke arah ranjang.


Setelah mendudukkan pria Jepang itu di tepi tempat tidur, Diego mengikat tangannya ke belakang.


"Lihat, tanganmu saja terluka satu! Membuatku bingung bagaimana mengikatmu," omel bule itu lagi.


Terdengar kegaduhan di luar. Diego menajamkan telinga. Terdengar juga suara tembakan. Ia bergerak ke jendela dan mengintip. Sepertinya ada yang menyerbu tempat itu karena melihat beberapa mobil masuk lewat pintu gerbang.


Pria bule itu langsung menarik Ken bersamanya. Ken juga merasakan ada bahaya di tempat itu tapi ia tak bisa berlari.


"Ayo cepat!" teriak Diego tak sabar.


"Aku tak bisa berlari. Tinggalkan saja aku di sini," keluh mahasiswa itu.


Diego meraih pinggang pria itu dan tetap memaksanya berjalan. Akhirnya, mau tidak mau, Ken terpaksa berlari sebisanya dengan pria itu walaupun itu sulit.


"Ah, sakit ...."

__ADS_1


Pria bule itu tak peduli tak dan tetap memaksa Ken pergi dengannya menuruni tangga. Beberapa kali mahasiswa kedokteran itu hampir jatuh dari tangga tapi Diego membantunya lagi.


Untuk berjalan begitu saja, ia butuh kerja keras. Keringatnya mulai mengucur saat sampai di bawah tangga tapi perjuangannya belum selesai. Ia harus mengikuti pria bule itu entah ke mana.


Diego hendak keluar tapi ia ragu-ragu. Kemudian ia membawa Ken ke sebuah ruangan besar. Ternyata di sanalah ia membuat narkoba itu. Di samping ada semacam laboratorium dan tumpukan dus di kiri kanannya.


"Kau lihatlah. Tempat ini yang membuat aku kaya, Ken," ucap bule itu bangga.


"Kau sudah gila, Diego. Pasti sudah banyak generasi muda yang rusak gara-gara ini. Apa kau tak mengerti juga?" terang Ken pada pria muda itu.


"Kalau kita miskin, apa mereka peduli? Aku hanya mengambil sedikit keuntungan dari harta mereka. Mereka pun juga terlihat senang, lalu kenapa kita peduli kalau ini akan menghancurkan mereka?"


"Karena orang baik akan jadi orang jahat kalau ikut-ikutan jahat. Lalu siapa yang akan peduli dengan nasib para generasi muda? Kalau kau orang baik, jadilah terus baik tanpa peduli penilaian orang terhadapmu."


Diego tertawa terkekeh. "Kau memang pantas di kampus, Ken. Dengan cita-citamu."


Tiba-tiba terdengar pintu didobrak. Beberapa polisi mulai masuk ke dalam ruangan itu dengan mengacungkan senjata. Saat itu Diego mengambil pistol dari pergelangan kakinya. Ia mengarahkan mulut pistol ini pada kepala Ken.


"Die— ah!"


Pria bule itu menjenggut rambut Ken agar tak bicara, dan lalu berbicara lantang pada para polisi. "Berani-beraninya kalian masuk ke tempatku! Ini tempat harta karunku. Kau tak bisa seenaknya saja mengambilnya dariku."


"Sebaiknya kau menyerah dan melepaskan tawanan itu, karena tempat ini telah terkepung oleh polisi," sahut salah seorang polisi yang berdiri paling depan.


Tiba-tiba dari arah belakang polisi itu, terdengar tembakan. Seorang polisi roboh. Ternyata masih ada anak buah Diego yang mencoba kabur dan membuat huru hara.


Diego menarik pria Jepang itu ke samping.


"Diego, cepat keluar dari tempat ini. Tempat ini berbahaya!" Ken mengingatkan.


Namun tak semudah yang dikatakan. Ken, Diego dan polisi itu terjebak di dalam ruangan karena ada penembak dari luar. Para polisi bersembunyi di balik pintu dan meja mencari, dari arah mana tembakan berasal.

__ADS_1


Dalam keadaan rumit begitu, Ken mencoba berkonsentrasi. Ia ingin tali yang mengikat tangannya terlepas.


__ADS_2