Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Kaldu


__ADS_3

Ken tak enak dengan Lucas, pegawai lama Balto, tapi juga ia berhutang budi pada pemilik restoran itu. Ia mengusap belakang lehernya. "Bagaimana ya? Terserah Bapak saja." Kali ini ia tak mau banyak berpikir, karena ia masih trauma dengan banyak hal. Ia tengah meluruskan pikiran.


"Ok. Bagaimana kalau kau membuat consomme(kaldu)?"


"Oh, baiklah."


"Kau tahu caranya?"


"Ini mungkin versiku, Pak. Aku tidak tahu apa ini mendekati standar Bapak." Ken meyakini restoran itu adalah restoran yang bagus walau mungkin tidak besar. Ia mengira-ngira dari jenis makanannya yang ditata rapi dan seragam dapur yang harus ia kenakan saat bekerja.


Ia hanya bisa mengira-ngira karena ia belum pernah keluar dari gedung itu. Baru saja ia coba keluar, Lucas sudah melarangnya. Lucas adalah satu-satunya pemegang kunci gedung itu sehingga ketika ia pulang, ia mengunci Ken di dalam gedung itu.


Pria paruh baya itu menautkan ujung bibirnya. "Kalau begitu, aku ingin lihat standarmu." Akhirnya pria bule itu menjadi penonton saat Ken menyiapkan bahan hingga memasak. Ia melihat sang pria Jepang memasak hingga akhir.


Ken mematikan kompornya. "Begitu, Pak."


Pria itu menengok ke dalam panci yang asapnya masih mengepul. Ia melihat warnanya sedikit berbeda dan juga prosesnya tadi. Segera ia meraih sendok dan menyesapnya setelah memberi sedikit tiupan dipermukaan sendok.


Ken terkejut. "Lho, bukannya tidak ada rasanya?"


"Untuk sebagian orang yang tidak mengerti, mereka tidak merasakan apa-apa tapi ada sesuatu yang tertinggal di mulut setelah mencicipinya," ucap Balto yang terdiam sebentar setelah mencicipinya.


"Benarkah?" Pria Jepang itu bahkan tidak tahu.


"Mmh." Balto kembali terdiam. "Bagaimana kalau aku masukkan dalam masakan restoranku?"


"Apa? Eh, tapi itu masakan rumahan bukan masakan kelas restoran," jawab Ken setengah terkejut.


"Aku suka rasanya. Aku ingin mencobakan pada para pelangganku dan aku ingin tahu pendapat mereka."

__ADS_1


Ken memelintir kain lap yang dipegangnya karena khawatir. "Apa bapak yakin? Ini Bapak mempertaruhkan lidah para pelanggan Bapak sendiri lho! Apa itu tidak bahaya?"


Balto tersenyum lebar. "Tidak, karena aku akan menyuruh mereka memilih, menggunakan kaldu yang biasanya dipakai atau kaldu baru yang kami tawarkan."


"Tapi ...."


Pria bule itu mengangkat tangannya. Rambutnya yang memutih hingga janggut, tidak membuat ia terlihat terlalu tua. Bahkan penampilannya yang rapi membuat orang menduga-duga berapa umurnya karena kulit wajahnya yang masih kencang serupa anak muda. "Biarkan mereka yang memutuskan."


Pria Jepang itu tentu saja ketar-ketir karena masakannya belum pernah dipakai untuk keperluan restoran manapun. Apalagi restoran bagus seperti restoran tempatnya bekerja. "Bagaimana kalau ...."


"Pelanggan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri dan aku bertanggung jawab atas keputusanku."


Ken tak bisa berkata apa-apa lagi selain melihat apa yang akan terjadi. Restoran itu tak pernah sepi ketika jam makan tiba. Bahkan kursi duduknya tak pernah tersisa. Pria itu pernah mengintipnya dari pintu yang bisa didorong dari dua arah, menghubungkan dapur dan ruang makan.


Jantungnya berdebar saat tamu-tamu restoran itu mulai berdatangan. Rata-rata mereka adalah pelanggan tetap, karena Ken telah melihat sebagian besar dari mereka datang kemarin. Pakaian mereka terlihat mahal, menandakan mereka orang penting.


Mereka digiring ke tempat duduk yang masih kosong oleh kedua pelayan wanita restoran itu, Irene dan Min Shi. Seperti yang sudah diperintahkan, kedua pelayan itu menawarkan kepada para pelanggan, pilihan kedua kaldu itu. Setelah mendapat pesanan, keduanya mendatangi dapur.


"Meja nomor 15 juga begitu," imbuh Irene.


Keduanya menyerahkan catatan pesanan. Ken merasa lega. Kedua wanita itu bolak-balik ke dapur dan kebanyakan memesan makanan dengan kaldu yang biasa dipakai oleh Balto, hingga akhirnya seorang wanita muda dengan seorang pria datang ke tempat itu. Ia bukan pelanggan restoran itu dan baru mencoba makan di sana pertama kalinya.


"Sayang, bagaimana kalau kita coba resep baru saja? Aku bosan rasa yang itu-itu saja," tanya wanita itu dengan manja. Pakaian dengan belahan leher sampai ke pinggang membuatnya terlihat seksi. Apalagi tubuhnya indah dengan wajah cantik menggoda.


"Terserah kamu saja, Sayang." Sang pria yang berkacamata hitam itu mencubit dagu wanitanya.


Jadilah mereka memesan makanan dengan kaldu buatan Ken. Pria itu resah setengah mati! Setelah pesanan dibuat oleh Lucas dan Balto, makanan dihidangkan. Jantung Ken kembali berdetak saat sepasang kekasih itu mulai makan. Mereka terlihat menikmatinya.


Kemudian datang pesanan lainnya yang juga meminta kaldu buatan Ken. Sejauh ini tidak terlihat ada yang merasa dirugikan saat makan, malah sepertinya mereka penasaran setelah makan makanan yang menggunakan kaldu buatan Ken. Itu terlihat dari mimik mereka saat makan.

__ADS_1


"Sepertinya mereka suka, Ken." Suara Balto yang berat mengagetkan pria Jepang itu yang tengah mengintip. Ia berdiri tepat di belakang Ken.


"Eh, aku tidak tahu, Pak." Sang pria Jepang terlihat gugup.


"Nanti akan kita tanyakan saat membayar nanti."


"Eh, tidak usah, Pak." Ken sendiri ragu antara ingin tahu dan takut berekspektasi.


"Lho, biar tahu pendapat mereka. Pendapat 'kan tidak akan melukaimu."


Pria Jepang itu masih ragu. Lucas yang melihat keberhasilan Ken tentu saja iri. Butuh waktu lama baginya untuk bisa menjadi Chef(ahli masak) seperti sekarang ini. Ia berguru pada Balto selama 2 tahun hingga akhirnya bisa mendapat gelar Chef. Sedang Ken yang baru dua hari bekerja, sudah bisa menawarkan kaldu buatannya pada para pelanggan. Manusia mana yang tak iri?


Akhirnya diketahui, bahwa kaldu buatan Ken sangat alami. Menyatu dengan hampir semua masakan dengan rasa rumahan yang menimbulkan sensasi berbeda. Bahkan sebagian dari mereka ada yang rindu pulang ke rumah orang tuanya atau ingat masa kecil.


Ah, bilang saja makanan kampung! Orang-orang kaya itu hanya terketuk hatinya ingat kampung halaman, karena mereka sudah sangat sibuk dan tak pernah menjenguk orang tuanya. Aku pun bisa membuat makanan kampung seperti itu! Lucas melirik dengan sinis keberhasilan pria Jepang itu. Ia memelintir dengan kencang lap meja yang ada di tangannya saking gemasnya.


Di saat jam makan siang hampir berakhir, datang seorang tamu restoran dengan berpakaian jas lengkap tanpa dasi berwarna biru tua. Ia termasuk pelanggan walaupun jarang datang ke restoran itu. Pria berusia matang sekitar 40 tahun itu tampak mengerut dahi mendengar tawar dari Irene.


Setelah memesan makanan, wanita itu kembali ke dapur. "Dia memesan makanan ini tapi dengan kaldu milik Ken." Ia menyodorkan selembar kertas pada Balto.


Pria itu segera membuatnya. Setelah disajikan, Ken mencoba mengintipnya. Ekspresi pria itu terlihat terkejut. Ia memanggil pelayan Irene yang kemudian bergegas ke dapur. "Pak," ucap wanita itu yang berhenti dan terengah-engah setelah melewati pintu. "Dia mau ketemu Chef-nya katanya, Pak."


"Baik." Balto melepas celemeknya dan berangkat ke meja makan.


Ken terlihat semakin cemas. "Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tahu karena orang itu hanya bilang begitu," ucap Irene yang juga sama tegangnya. "Uh, padahal dia itu pelanggan paling rewel di restoran ini. Dia sering protes kalau makanan kurang matang, atau tidak enak dan Pak Balto terpaksa menggratiskannya."


"Apa?"

__ADS_1


Lucas tersenyum lebar.


__ADS_2